
Pulang dari rumahnya Arsyad langsung mengantar Nisa pulang.
"Nis, besok ada pertandingan basket antar sekolah. Kamu ikut aku ya? untuk dukung team ku. Besok itu finalnya, semoga team ku menang. "
Nisa mengangguk." Boleh saja, sekolah ku juga masuk final."
"Oke besok aku jemput kamu. "
Hm.
,,,,
Mereka pun sampai di rumah.
Arsyad mengatar Nisa hingga di depan pintu, ia pun bermaksud untuk berpamitan pada Nando dan juga Mala sebelum pulang.
Setelah berbasa basi, Arsyad langsung pulang.
Nisa masuk ke dalam rumah tersebut. Namun, merasa ada yang aneh.
Om dan tantenya tak seperti biasanya, mereka tak memarahinya. Tak juga menatap sinis ke arahnya.
Justru mereka tersenyum serta menyapa Nisa dengan ramah.
"Baru pulang ya Nisa? " tanya Mala ramah.
"I-iya tante," jawab Nisa gugup, tak biasanya tantenya tersebut bicara dengan lemah lembut.
"Sudah makan belum? " tanya Mala lagi.
"Sudah Tante, Nisa masuk kamar dulu, " ucap Nisa ia pun segera menuju kamarnya.
"Iya silahkan." Mala dan Nando saling melempar senyum.
Nisa mempercepat langkahnya, ia justru jadi semakin takut dengan perubahan yang terjadi pada paman dan tantenya tersebut.
***
"Bagaimana Papi, si frans setuju? "tanya Mala ketika melihat suaminya sedang berbalas chat pada seorang pengusaha muda.
"Katanya dia mau bertemu Nisa Mami, ia juga akan memberi mahar besar jika wajah asli Nisa sama cantiknya seperti di foto. "
"Klau gitu kita pertemuankan saja mereka. Kita bujuk Nisa untuk bertemu dengannya."
"Ehm, Bagaimana jika kita undang Frans untuk makan malam di rumah kita nanti malam. Jangan sampai Nisa tahu duluan jika dirinya di jodohkan oleh Frans, Papi takut nanti dia kabur dan menghubungi Anaknya pak Aldi "Nando.
"Setuju Papi. Kita dandan Nisa, pakaikan ia pakaian yang cantik dan mahal pasti si frans itu akan terpesona melihat Nisa. "
"Hm. Baiklah kalau begitu Papi telpon si frans dulu."
Nando pun menjauh sedikit dari Mala.
Selamat sore, pak Frans.
"Selamat sore pak Nando. Ada apanih? " Frans
"Tidak ada hal yang terlalu penting, hanya saja saya sekeluarga bermaksud untuk mengundang anda, pada perjamuan makan malam bersama keluarga kami, bagaimana menurut anda? Anda juga bisa melihat Nisa secara langsung. " Nando.
"Ha ha ha, Ada tahu saja jika saya sudah tak sabar untuk bertemu dengan calob istri saya. " Frans.
"Ha ha, tahu dong. Saya kan juga pernah muda. " Nando.
"Baiklah pukul tujuh saya tunggu di rumah."
"Ok, kalau begitu selamat sore. "
"Selamat sore. Pak Nando. "
Nando menutup telponnya.
"Yes, Pak Frans setuju Mami, " Nando.
__ADS_1
"Bagus !kalau gitu kita siap-siap Papi. Yang terpenting Nisa juga harus terlihat cantik. "
"Harus itu. "
Kalau gitu Mami persiapkan Nisa
terlebih dahulu.
"Gladis! Gladis! " teriak Mala.
Gladis datang menghampiri Mala.
"Ada apa Mami? " tanya Gladis.
"Kamu pilih baju kamu yang terbaik, pinjami Nisa. Tapi jangan terbuka, dia pasti tak suka pakaian terlalu terbuka. "
"Ehm, untuk apa Mami? "
Mala mendekatkan wajahnya ke arah Gladis.
Ia pun membisikan rencana yang sudah ia susun bersama suaminya.
Mendengar rencana tersebut, Gladis tersenyum.Sainganya untuk mendapatkan Arsyad pelan-pelan tersingkir.
Gladis menuju kamarnya dan memilihkan midi dres terbaik untuk Nisa, begitu pun beberapa aksesories yang akan di kenakannya.
Setelah itu ia memberikannya kepada Mala.
Mala menghampiri Nisa yang beada di kamarnya. Kebetulan saat itu Nisa tengah mandi bersiap untuk sholat magrib.
"Nisa! Nisa! " Panggil Mala sambil mengetuk pintu kamar Nisa.
Nisa membuka pintu, dan langsung di sambut senyum ramah dari Mala.
" Nisa kamu sudah mandi? "tanya Mala seraya masuk ke kamar Nisa.
"Iya Tante. "
Mala menyodorkan mini dress berwana biru tua dengan motif bunga-bunga.
"Ehm, memangnya ada apa Tante? " tanya Nisa heran.
"Malam ini ada tamu spesial, teman bisnis Om kamu, akan ikut makan malam bersama dengan kita. Jadi kita semua juga harus tampil spesial." Mala.
Nisa menggangguk patuh ia pun meraih dres tersebut dari tangan Mala.
***
Nisa berdandan ala kadarnya, hanya menggunakan bedak bayi dan memoles bibirnya dengan lip balm.
Rambutnya mengenakan bandana yang berwarna senada dengan gaun yang ia kenakan.
Suara dering telpon terdengar di atas nakasnya, Nisa sudah tahu jika telpon tersebut dari Arsyad. Karna hanya ada nama Arsyad di dalam kontaknya.
Nisa tersenyum menatap layar smartphone-nya yang memajang gambar Arsyad di sambungan video callnya.
"Hai Nisa cantik sekali, "ucap Arsyad ketika melihat wajah Nisa yang tampak berseri.
Nisa hanya tersenyum.
"Kamu mau pergi ya? " tanya Arsyad lagi.
"Ngak, Malam ini ada tamu spesial Om ku, jadi kami semua harus tampil berbeda malam ini. " Nisa.
"Hm, tamunya cowok ya? " tanya Arsyad dengan nada cemburu.
"Sepertinya ia, mitra bisnis Om."
"Nisa! Nisa! " teriak Mala dari luar ruangan.
"Syad, aku tutup telponnya dulu ya. "
__ADS_1
"Yah, baru saja aku telpon sudah di suruh matiin saja. " dengus Arsyad.
"Hm, besok kita ketemu lagi. Aku tak ingin tante sampai tahu jika aku punya hand phone."
Nisa pun langsung memutuskan sambungan video call-nya.Ia berlari kecil menuju pintu dan membukanya.
"Ayo Nisa, makan malam sudah siap, tamunya juga sudah datang. "
"Iya Tante." Nisa menutup pintu kamarnya kemudian membuntuti Mala.
Keduanya turun, Frans langsung terpesona melihat wajah ayu nan polos dari Nisa.
Gadis tersebut terlihat polos sesuai dengan usianya yang masih belia.
Pandangan Frans tak beranjak. Nando tersenyum puas melihat Frans yang tak berhenti menatap Nisa.
Keduanya oun mendekat ke arah tamu mereka.
"Pak Frans, pekernalkan ini keponakan saya."
Frans tersenyum ke arah Nisa yang tersenyum tipis ia pun menyodorkan tangannya.
Nisa menyambutnya tanpa curiga.
"Siapa namanya? " tanya Frans.
"Nisa Om," jawab Nisa.
"Jangan panggil Om dong. " Frans.
Nisa hanya tersenyum simpul seraya melepas kan jabatan tangannya.
Sementara Frans terus memandangnya seraya tersenyum dengan tatapan mata yang berbinar.
"Ayo pak Frans, kita mulai saja makan malamnya " Mala.
"Ayo. "
Mereka pun menuju meja makan.
Makan malam berlangsung tenang, tak ada pembicaraan apapun yang terjadi.Namun sesekali Frans terus menatap ke arah Nisa sementara Nisa terlihat menikmati hidanganya tanpa sadar, sepasang mata menatapnya mesra.
Makan malam sudah selesai.
"Nisa! Gladis! Jessica! " Kalian masuk ke kamar masing-masing. Karna kami para orang dewasa ingin bicara serius, dan kalian tak boleh mendengarnya.
Mereka pun menurut. Termasuk Nisa yang langsung menuju kamarnya.
Sepeninggalan Nisa dan anak-anaknya.Mala pun mulai membuka obrolan.
"Bagaimana Pak Frans? sepertinya anda tertarik dengan keponakan saya?" Mala.
"Iya saya tertarik.Sayangnya dia masih sekolah.Jika tidak, besok lusa saya pasti melamarnya. " Frans.
Mala dan Nando tersenyum.
"Itu semua bisa di atur. Saya tak ingin Nisa terbawa pergaulan bebas. Jika anda ingin menikahinya, maka saya saran kan untuk menyegerakannya. Masalah sekolah bisa di atur. Kita lakukan pernikahan siri,yang terpenting Nisa sudah resmi menjadi milik anda, " ucap Mala.
Frans tersenyum."Apa Nisa akan setuju? " tanya Pria berusia dua puluh delapan tahun tersebut.
"Tentu saja dia setuju, memangnya ada kesepatan lebih baik, selain menjadi istri dari pak Frans, "rayu Mala.
"Ehm kalau gitu saya setuju. Katakan saja, kapan pun saya siap, "ucap Frans yakin.
"Bagaimana jika minggu depan? kita lakukan akad nikah di luar kota." Mala.
Frans tersenyum puas. "Saya setuju," ucapnya sambil menjabat tangan Mala dan Nando.
Bersambung. Berikan dukungannya ya.
Dengan like, komen dan vote.
__ADS_1
Uh karna sebentar lagi novel ini akan selesai. Author punya rekomendasi novel terbaru author. Jangan lupa mampir ya.