Kenapa Harus Menikah Dengan Mu

Kenapa Harus Menikah Dengan Mu
Rumah Baru.


__ADS_3

Deru mobil membelah jalan raya, hari ini jadwal bagi Tari untuk melakukan pemeriksaan USG, selain ingin memastikan jenis kelamin dari calon anak mereka, mereka juga ingin mengetahui perkembangan dan pertumbuhan janin mereka.


Karna ini adalah cucu pertama dari keluarga Satria, kedua orang tua Tari juga Heru ingin melihat langsung penampakan janin yang tumbuh di rahim Tari.


Senyum selalu terlukis di wajah Tari, ia begitu merasa bahagia karna kini usia kandungannya sudah memasuki usia lima bulan.


"Rom setelah kita mengetahui jenis ke*lamin anak kita, kita belanja keperluan untuk lahiran ya Rom."


"Iya, tapi sebelum itu gue punya kejutan khusus buat kamu Tar, " sahut Romeo.


"Hm, kejutan apaan Rom?"tanya Tari dengan nada manja, ia pun menyandarkan kepalanya pada bahu Romeo.


"Kalau di beri tahu sekarang, bukan kejutan namanya," sahut Romeo.


"Aku senang deh sekarang, kamu suka banget bikin penasaran, jadi gemes pingin cium," ucap Tari seraya mencium pipi suaminya.


"Dasar modus," ucap Romeo seraya tersenyum.


"Biarin itukan cuma milik ku," sahut Tari yang kembali mendaratkan kecupan di pipi Romeo.


Sementara Romeo hanya tersenyum melihat istrinya yang semakin hari semakin bucin.


Beberapa lama dalam perjalanan mereka pun sudah sampai di praktek dokter kandungan


Maya, Satria dan Heru juga ikut membuntuti mobil Romeo.


"Mama ngak sabar banget Pa, melihat wajah cucu kita," ucap Maya.


"Ternyata gini ya Pa, bahagianya punya cucu, sama seperti saat mama mengandung Heru dulu." Ucap Maya seraya menggandeng mesra suaminya sementara Heru berjalan di belakang mereka.


"Iya Ma, bahagianya sama seperti punya anak untuk pertama kalinya," sahut Satria.


Mereka pun duduk di kursi tunggu ruang pemeriksaan, begitu pun Heru, mata Heru menangkap seseorang yang begitu ia kenal.


Miranda Clarisa, Gadis yanng selama tiga tahun menjalin LDRan dengannya, namun mereka lost kontak sejak setahun yang lalu.


Hati Heru terasa sakit, selama ini ia mempertahan hubungan dengan sebuah ketidak pastian, menanti waktu tiga tahun bukanlah hal yang mudah, tapi hari ini bisa Heru pastikan jika penantiannya adalah sia-sia.


Heru coba menahan rasa sakit tersebut, ketika melihat Miranda sedang bergandeng mesra bersama seorang pria dengan perutnya yang sudah membuncit.


Heru mendengus kesal, memicingkan matanya menatap kearah Miranda.


Awalnya Miranda tak menyadari kehadiran Heru, tapi setelah melihat Satria dan Maya, Miranda berusaha mengalihkan pandanganya kearah lain, berharap kedua orang tua Heru tak menyadari keberadaanya.


Namun tanpa sengaja Miranda justru melihat Heru yang sedang menatap nya lekat.


Miranda merasa gerogi, karna tak mampu membalas tatapan Heru, ia hanya bisa tertunduk malu.

__ADS_1


Heru terus mendengus, mengatur napasnya, agar bisa menjadi Rileks kembali,Heru terlihat sangat gelisah ia benar-benar kecewa dan patah hati saat itu.


"Ma, Pa, Heru tunggu di mobil saja "ucap Heru.


"Kenapa Heru? bukan nya tadi kamu semangat sekali ingin melihat calon keponakan kamu?"tanya maya.


"Enggak Ma, Heru lihat hasil photonya saja, "ucap Heru langsung berlalu dari tempat tersebut.


Sementara Miranda ia merasa bersalah, Miranda pun tanpa sadar menitikan air matanya.


Andai saja kamu tahu Heru, apa alasan ku di balik semua ini, batin Miranda menangis.


Waktunya pemerisaan bagi Tari, senyum terus terlukis pada kedua pasangan itu saat tranducer menempel di kulit bagian perut Tari.


Dimana mereka melihat image anak mereka di layar monitor


"Semuanya dalam keadaan baik dan normal , jenis kelamin janin anda laki-laki," papar dokter tersebut.


"Laki-laki," semua merasa senang, meski apapun jenis kelamin anak dan cucu mereka, tetap membahagiakan.


Tari bangkit di bantu oleh Romeo, karna merasa senang tanpa sungkan Romeo langsung memeluk istrinya.


Anak kita laki-laki Tar," ucap Romeo bahagia.


"Iya Rom, moga saja anak kit ngak nakal dan playboy seperti kamu," canda Tari.


Keluar dari ruang pemeriksaan rona wajah mereka semakin memancarkan kebahagiaan.


"Mama- papa, Tari sama Romeo mau pergi belanja keperluan baby kami, jadi mMama sama Papa duluan saja," ucap Tari.


"Aduh Tar, masih lima bulan juga, pamali ngak boleh loh belum tujuh bulan," cegah Maya.


Ehm, padahal kita udah ngak sabar saja milih-milih baju untuk calon anak kita nanti," ujarnya.


"Sudalah Ma, biarin saja itu mah jaman kita dulu, sekarang sudah modern, biarkan saja mereka menikmati kebahagiaan nya," papar Satria.


"Ehm, iya deh, mama juga ngak sabar pilih-pilih baju untuk anak kalian, uh senangnya sebentar lagi bisa gendong cucu, "ucap Maya bahagia.


"Kalian hati-hati ya, Rom kamu jaga baik-baik istri dan calon anak kamu ya."Maya


"Iya Ma, kami pergi dulu,"sahut Romeo.


Maya dan Satria kembali ke mobil dan melihat mata Heru yang terlihat memerah.


"Heru kamu kenapa Nak?"tanya Maya heran karna Heru terlihat seperti habis menangis.


"Ngak apa-apa, "sahut Heru seraya menundukan wajahnya.

__ADS_1


Romeo dan Tari berada di dalam mobil, senyum selalu terlukis di wajah keduanya, Romeo yang menyetir sesekali mengusap perut buncit istrinya, yang menunjukan rasa sayangnya terhadap calon anak mereka.


"Kita kemana nih Rom?"tanya Tari ketika mereka melewati komplek perumahan sederhana yang sepertinya baru di bangun.


"Ada deh, "sahut Romeo seraya melempar senyum simpul.


Mobil mereka pun berhenti di sebuah halaman rumah dengan tipe 45 tersebut.


Setelah memakirkan dan mematikan mesin mobilnya, Romeo mengajak Tari untuk masuk kedalam rumah tersebut.


Romeo merogoh kunci pada saku celananya.


Setelah mendapatkan benda tersebut, ia membuka pintu kunci yang ada di tangannya.


Mereka masuk setelah daun pintu terbuka.


"Ini rumah siapa Rom?"tanya Tari seraya mengedarkan pandanganya, melihat rumah yang terlihat baru selesai di bangun, bahkan bau catnya saja masih tercium menyengat.


"Ini rumah kita Tar, maaf aku cuma mampu mampu membeli rumah ini, itu juga harus di cicil selama dua puluh tahun," ucapnya dengan jujur.


"Tapi ini murni dari hasil keringat ku sendiri Tar, "ucap Romeo.


"Itu juga kalau kamu mau tinggal dengan ku disini,"imbuhnya lagi.


Tari tersenyum dan langsung memeluk suaminya.


"Tentu gue mau, terima kasih ya Rom, kamu pasti sudah bekerja keras untuk mendapatkan ini semua, gue terharu banget, "ucap Tari seraya menitikan air mata harunya.


"Iya kita akan mulai semuanya dari nol di rumah ini, dari yang kecil, aku akan berusaha bekerja lebih keras lagi, bagaimana caranya agar rumah kecil ini bisa jadi besar, hingga cukup untuk anak-anak kita yang banyak," ucap Romeo seraya menakup kedua telapak tanganya pada pipi Tari.


"Oh ya, kamu mau punya anak berapa?"tanya Tari.


"Ehm, sebanyak-banyaknya, biar rumah kita yang sepi ini jadi rame, sahutnya.


Oke, siap,"sahut Tari seraya kembali menghambur memeluk suaminya.


"Gue seneng banget Rom, punya rumah sendiri, meski sangat jauh dari rumah yang kita tinggali saat ini, tapi ini rumah kita, istana kita, tempat yang akan kita habis kan bersama dalam mengarungi rumah tangga kita dalam keadaan suka dan duka," ucap Tari bahagia, saking bahagianya ia kembali menitikan air mata harunya


"Iya Tar, asal kamu ngak mengeluh saja, karna jika kita tinggal di rumah ini, kita harus siap menjalani hidup sederhana, "ucap Romeo.


"Kenapa harus mengeluh, jika kebahagiaan ini sudah sempurna bagi ku."Tari.


"Kalau gitu kapan kamu siap pindah?"tanya Romeo.


"Secepatnya, "sahut Tari.


Keduanya pun saling melempar senyum.

__ADS_1


Bersambung dulu ya guys, jangan lupa tinggalin jejaknya, terima kasih banyak buat kalian yg susah setia dannselalu mendukung author, author terharu 😭


__ADS_2