Kenapa Harus Menikah Dengan Mu

Kenapa Harus Menikah Dengan Mu
Saling memuji


__ADS_3

Matahari bersinar cerah, langit yang biru tanpa ada sedikit pun awan yang mengabu, secerah wajah kedua insan yang tengah berada di dalam mobil.


Suasana tenang dan hening begitu kentara di alam ruangan sempit tersebut, namun tak memudaran rasa bahagia yang ada di dalam hati Tari.


Entah kenapa seorang gadis tomboy dan galak seperti dirinya bisa jinak oleh seorang pria yang dulunya sempat menjadi musuhnya.


Ada yang bilang cinta dan benci itu setipis kulit ari, atau ada juga yang menggatakan jika cinta dan benci tak ubahnya seperti ungu dan violet.


Entalah apa itu cinta, yang jelas cinta telah mengubah kedua orang tersebut ,berubah menjadi seratus delapan puluh derajat ngak pakai celcius ya.


Romeo,


Seorang badboy sepertinya bisa menjadi seorang mellowboy, seorang yang pendiam dan bisa mempunyai rasa kesetian terhadap wanita yang sebelumnya tak pernah ia lakukan, banyak cinta datang dan pergi di hidupnya. tapi tak seperti cintanya terhadap Aira, tetapi cinta memanglah tak harus memiliki dan bukan menjadi alasan bagi nya untuk tak membuka hati.


Saat ini ia sedang mencoba membuka hati pada wanita yang ada di sampingnya kini.


Suasana semakin sepi, entah kenapa saat mengetahui Tari memiliki perasaan khusus terhadapnya, sikaf Romeo jadi berubah, ia tak pernah membenci Tari meski sebelumnya memang ia tak menyukai gadis galak yang pernah mempermalukanya tersebut, baginya wanita tak layak di jadikan lawan, dan seperti apa pun yang terjadi pada masa lalunya, tak sedikit pun ia merasa dendam terhadap Tari.


Bahkan saat Tari mengunggkap kan perasaannya, Romeo justru merasa simpaty terhadapnya.


Tari,


Benci jadi bucin, mungkin itulah yang terjadi pada Tari saat ini, sebelumnya Tari begitu membenci pria yang bernama Romeo Vernando tersebut, tak pernah terlintas di benaknya akan menjadi pacar apalagi sampai menikah dengan pria yang pernah ia ludahi tersebut.


Melihat dari penampilan luar Romeo tak ada yang menarik baginya selain ketampanannya, tapi bukan kah tampan itu relatif, ada yang bilang tak kenal maka tak sayang, seperti itu juga yang di alaminya saat ini, semakin ia mengenal Romeo semakin ia terporosok pada perasaanya yang terdalam, dari hanya sekedar menggagumi, perasaan tersebut kini berubah menjadi ingin memiliki.


Romeo memutar sebuah lagu yang ada di audio mobilnya, lagu dbagindas tersebut cukup memecah kesunyian diantara mereka karna irama yang sedikit ngebeat.


*Hati ku berkata,


ingin katakan cinta, tapi aku malu untuk mengawalinya,


Jantung ku berdebar


saat kau melihat ku,


Jadi salah tingkah,


bicara sama kamu,


Bibir ku terbungkam, melihat senyummu, aku tak kuasa ada di dekatmu..


Sebenarnya aku ingin menggungkapkan rasa, tapi mengapa aku slalu tak bisa...


Bagaimana caranya agar dirimu bisa tahu bahwa aku suka ...suka ...suka ..suka sama kamu.


intro....


* Suka sama kamu, dbagindas


"Ih lagu ini kok gue banget ya?" Guman Tari tapi tak terdengar jelas oleh Romeo.


Romeo menyerikkan dahinya mencoba memikirlan apa yang baru saja keluar dari mulut Tari.


"Loh barusan ngomong apa Tar?"tanya Romeo sambil melirik kearah Tari sebentar


"Eh ah engak , gue bilang AC nya kurang gede, jadi gerah, ucap Tari sambi mencari cara untuk memberi alasan pada Romeo, ia tak menyangka jika Romeo mendengar gumananya.


"Oh... tapi ini udah full Tar, "sanggah Romeo.


"Eh em iya, udah kok, udah pas ACnya," sahut Tari gelalapan karna ia asal jawab saja tadi.


Sejenak mereka pun kembali hening, lagu tersebut pun berhenti karna akan mengganti lagu lainya, Romeo mengecilkan volume suara audio mobilnya karna ia memilih untuk berbincang dengan Tari.


"Oya Tar, tadi kamu bilang kamu mau ngantar makanan untuk aku dan Doni ya?"tanya Romeo sambil melirik Tari sekilas.


"Iya Rom, gue masak telur balado, perkedel kentang, sama capchai seafood," jawab Tari.


Romeo tersenyum smirk sambil menatap jalan yang mereka lalui.


"Loh ngak perlu repot Tar, tadinya gue juga mau ngajak loh makan siang di luar, tapi karna loh sudah masak, kita ke bengkel dulu saja makan siang bersama Doni," ucap Romeo tanpa melihat Tari.


Dari ekspresi wajahnya Romeo masih terlihat datar, Tari sendiri sering binggng melihat ekspresi wajah Romeo yang sulit di tebak tersebut.


"Gue ngak pernah merasa kerepotan Rom, justru gue merasa senang dan di hargai jika kalian mau dan dengan senang hati menyantap masakan gue,"paparnya.


hm, senyum meringai,


"Ya senanglah, apalagi gratis, tapi bukan karna itu yang membuat gue senang, gue senang karna elo yang masak Tar, lo pasti udah repot baget tuh," ucap Romeo kemudian tersenyum simpul saat melihat Rona merah pada pipi Tari.


Hati Tari semakin berbunga-bunga mendengar ucapan dari Romeo.


"Ngak kok Rom, gue malah senang, apalagi melihat kamu dan Doni semangat sekali menyantapnya," sahut Tari dengan tersipu.


Romeo kemudian kembali melajukan mobilnya menuju bengkel, tak ada obrolan lagi setelah percakapan terakhir tersebut, mereka berdua tiba-tiba menjadi sosok pendiam dan pemalu.


Sesampainya di bengkel, Romeo memarkirkan mobilnya tepat di depan Ruko Doni, melihat kedatangan Romeo dan Tari Doni yang tengah melakukan aktifitasnya langsung berhenti dan segera menghampiri mereka.


Doni tersenyum ketika melihat benda yang di tenteng oleh Tari sebuah rantang susun empat.


"Aduh jadi ngak enak nih, makan gratis lagi kita hari ini, ucap Doni ketika Romeo dan Tari menghampirinya, tanpa basa-basi Doni langsung menghampar tikar untuk mereka lesehan.


Tari tertawa kecil melihat penyambutan dari Doni.

__ADS_1


Setelah mengelar tikar Doni langsung duduk bersila," Kepedean baget loh Don langsung menghampar tikar saja," dengus Romeo yang juga langsung duduk di sampinngnya.


"Bukan kepedean Rom. tapi gue sebelumnya sudah di calling sama Tari, katanya dia mau ngantarin makanan ke mari," sahut Doni.


"Erik, bawa piringnya sama nasinya kemari ya?"titah Doni.


"Eh siapa tuh? pegawai baru ya," tanya Romeo.


"Oh dia Erik, adek sepupu gue lagi magang, anak STM dia," sahut Doni.


"Lagian gue juga memang mau cari orang, loh kan mulai sibuk Rom ngurusin pernikahan loh," sahut Doni.


Tari tersenyum mendengar spontanitas dari Doni, ia pun melepaskan pengait dan menyajikan hidangan untuk mereka semua, sambil mendengar obrolan Doni dan Romeo.


"Iya lagi pula maaf ya Don, bukanya gue menyepelekan kerjaan bengkel, tapi jika sudah berkeluarga gue harus cari kerjaan yang lebih bisa memenuhi kebutuhan materi gue, karna kan gue ngak sendiri lagi, " ucap Romeo.


"Iya gue ngereti kok Rom, loh udah melamar kerjaan?"tanya Doni.


"Bokap gue sih menyarankan gue untuk kerja di salah satu instalasi pemerintahan, tapi gue ngak mau, gue mau usaha sendiri, lagi pula kalau gue pakai nama bokap gue untuk masuk di salah satu instalasi pemerintahan, ntar bokap gue nepotisme lagi." papar Romeo.


"Ah sok suci loh Rom," cetus Doni.


"Bukanya sok suci Don, tapi gue takut aja kalau kinerja gue buruk, bokab gue yang terkena imbasnya," papar Romeo.


Obrolan mereka berhenti ketika melihat kedatangan Erik yang membawa piring untuk mereka.


Erik meletakan piring di tengah bersama nasi dan aneka lauk yang di bawa oleh Tari.


Tanpa menunggu lama, mereka semua duduk bersila mengitari hidangan yang ada di depan mereka saat itu.


Setelah makan siang , Romeo dan Doni duduk bersila bersandar pada kursi, Doni menyodorkan rokok kepada Romeo, "Rokok Rom?"


Romeo meraih rokok yang di sodorkan oleh Doni, kemudian menyalakannya dengan matchis.


Doni menyesap dan menghisap asap rokok kemudian menghembuskanya melalui hidung dan juga mulutnya," Ah kenyang gue, habis makan merokok mantap banget nih jadi pingin tidur gue, " ucap Doni sambil menghisap dan membuang kepulan asap rokoknya ke udara.


"Gue udah jarang merokok Don, abisnya kalau gue merokok pasti langsung batuk, dan kalau gue batuk bukan nya keluar dahak tapi keluar lintah," cetus Romeo sambil tertawa kecil.


"Hah serius loh Rom, jangan-jangan loh kena santet lagi," ucap Doni sambil tertawa terkekeh.


Tari yang kembali membereskan rantang ikut tersenyum mendengar kedua sahabat tersebut ngobrol, mereka berdua memang terkenal lucu dengan guyonan spontan mereka.


"Kalau gue sih ngak bisa Rom berhenti merokok, sesedih-sedihnya di tinggal kekasih, lebih sedih lagi habis makan ngak ngerokok, Rom, pedih banget batin gue serasa cinta tak berbalas," selorohnya kembali.


Ha ha ha," Ntar gue laporin sama Dasti loh Don, kalau sepuntung rokok sehabis makan lebih bearti dari dirinya," ancam Romeo.


"Es jangan Rom!," Doni menegakkan tubuhnya," Mampus gue, kalau udah ngambek susah bujuknya tuh perempuan," cegah Doni.


"Gue bukan takut di tunggalin sama Dasty. gue takut ngak bisa move on aja Rom, kayak lo, " ucap Doni sambil tertawa terkekeh.


Hus, Romeo memonyongkan bibirnya kearah Tari, "Nanti dia dengar, "ucap Romeo lirih, meski belum memiliki perasaan cinta terhadap Tari, tapi sebisa mungkin Romeo berusaha menjaga sikafnya agar tak menyakiti perasaan Tari.


Setelah semua beres, Tari dan Romeo melanjutkan tujuan mereka sebelumnya yaitu fitting baju pengantin untuk mereka.


Di dalam mobil,


"Kita fitting bajunya di mana Rom?".tanya Tari sambil melihat jalanan yang mereka lalui.


"Mama ku merekomendasi kan butik langganannya, tapi jika kamu punya pilihan lain boleh juga."Romeo.


"Hm boleh juga, butik langganan mama kamu saja," gumannya.


Setelah perbincangan tersebut mereka kembali diam hingga tiba di tempat tujuan.


Romeo menepikan mobilnya saat mereka sampai di sebuah butik.


Setelah memarkiran dan mematikan mesin, mereka pun keluar dari mobil.


Dari etalase butik tersebut Tari sudah bisa melihat gaun-gaun pengantin yang mewah dan beberapa kebaya yang cocok di gunakan untuk akad nikah.


Setelah menunggu Romeo yang mengunci pintu mobilnya, mereka beriringan masuk menuju butik tersebut.


Saat memasuki ruangan yang berdinding kaca tersebut, sambutan ramah menyapa keduanya.


"Selamat siang mbak-Mas, ada yang bisa saya bantu?"tanya seorang wanita yang menggunakan kebaya ala tradisional.


Tari melihat kearah Romeo, ia sendiri malu untuk mengungkapkan maksudnya.


"Kami mau fitting baju penggantin, sudah ada janji dengan tante Hana sebelumnya." Romeo.


"Oh... jika begitu silah kan masuk, bu Hana telah menunggu kehadiran anda," ujar wanita tersebut sambil menunjukan jalan bagi mereka untuk menemui si pemilik butik.


Sambil berjalan menuju ruangan bu Hana, Tari melirik-lirik beberapa gaun, dan ada beberapa gaun yang ia taksir.


Mereka pun masuk kedalam sebuah ruangan dan di sana seorang Wanita paroh baya yang memiliki kecantikan klasik tersenyum menyambut kedatangan mereka.


"Silahkan duduk," ucapnya sambil menunjuk dua kursi yang ada di hadapanya.


Tanpa menunggu lagi Tari dan Romeo duduk di kursi yang sudah di persiapan.


Ruang tersebut sangat nyaman, meski tanpa AC hanya mengandalkan pentilasi udara yang cukup banyak dan dengan ruangan pencahayaan langsung dari sinar matahari yang tembus melalui kaca-kaca.


Tari mengedar pandangannya melihat seisi ruangan beberapa penghargaan berupa tropy mau pun piagam berupa medali berjajar di memenuhi dinding.

__ADS_1


"Ada yang bisa saya bantu?"tanya Hana dengan senyum manisnya.


"Kami ingin memesan gaun pengantin untuk pesta dan acara ijab qabul," ucap Romeo secara gamblang.


Tari memperhatikan wajah Romeo yang terlihat datar ketika bicara pada wanita tersebut.


Wanita tersebut tersenyum sembari menunjukan layar laptopnya yang di arah kan pada mereka


"Ini rancangan terbaru saya, dan sebelumnya belum pernah saya buat, jika anda tertarik anda sangat beruntung, karna anda dan pasangan anda yang pertama kali menggunakan rancangan saya," ucap Wanita tersebut.


Tari dan Romeo melihat kearah layar, setelah mengamati mereka berdua saling memandang.


Rancangan tersebut memang unik namun terlihat sederhana dan sepertinya Tari mengukainnya.


"Bagaimana?"tanya Romeo kepada Tari.


"Ehm, menurut mu? tanya Tari balik, ia takut jika Romeo tak menyukainya.


Romeo tertawa mengguman," Kenapa tanya pada ku, bukan kah kau yang akan mengenakannya?"


"Ehm, Menurut mu, apa aku pantas mengenakanya?" tanya Tari dengan jantung yang berdebar manja, saat matanya bertentang langsung pada manik mata Romeo.


"Terserah, menurutku kau cantik mengenakan pakaian apa saja," ucap Romeo spontan.


Tari tak mampu menahan gelora dari rasa bahagianya, karna itulah pertama kalinya Romeo memuji dirinya sendiri, Tari menggigit lembut bibir bagian bawahnya, sementara tanganya meremas rok midi yang ia gunakan, ia berharap raganya tak akan terbang saat itu.


"Ya, baik lah kalau begitu, "ujarnya dengan wajah yang merona, kemudian ia kmbali tertunduk karna tak sanggup menahan perasaan bahagianya saat itu."


"Ya kami gunakan rancangan tersebut," ucap Romeo.


"Ok, lalu untuk acara ijab kabulnya bagaimana?" tanya Hana.


Mereka berdua kemudian saling memandang, karna sama-sama binggung, Suci sendiri sengaja membiarkan mereka berdua untuk memilih gaun dan kebaya untuk pernikahan mereka, selain untuk mempererat hubungan keduanya, Suci ingin Romeo bertanggung jawab atas pilihan ia dan calon istrinya.


Melihat keduanya yang terlihat binggung, Hana berinisiatif menawarkan koleksinya.


"Kami punya koleksi kebaya terbaru, mari saya tunjukan, " ucap Hana sambil menuju salah satu walk-in closetnya.


Hana mengambil beberapa contoh kebaya model terbaru dan menunjukanya pada mereka.


Beberapa model kebaya dari berbagai model maupun bahan di tunjukan Hana kepada mereka berdua.


Hana meletakan kebaya tersebut pada rak gantung dari besi sehingga Tari lebih mudah untuk memilihnya.


"Bagusnya yang mana Rom?" tanya Tari yang memegang dua hangers dengan dua kebaya yang tergantung di kedua tanganya.


"Hm, terserah kamu Tar, dua-duanya bagus," ucap Romeo setelah melihat dan mengamati benda yang di tunjuk oleh Tari.


"Ehm, begitu ya, tapi kali ini aku ingin kau yang memilihnya untuk ku Rom,"ucap Tari.


Hah, Romeo sedikit kaget, ia binggung harus memilih yang mana.


"Ehm, yang mana ya?"guman Romeo sambil mengamati dengan seksama kedua kebaya tersebut.


Setelah menimbang dan memilih, pilihan Romeo jatuh pada kebaya berwarna peach berbahan Tile yang lembut.


"Yang ini saja Tar," tunjuk Romeo.


Ehm, Tari mengangguk seraya tersenyum, karna pilihan hatinya juga sama dengan pilihan Romeo.


"Baiklah yang ini, aku coba ya," ucap Tari sambil menggantungkan kembali kebaya yang batal ia pilih.


Tari menuju kamar pas, dengan di bantu oleh asisten Hana Tari mencoba mengenakan kebaya tersebut.


Romeo menunju di kursi tunggu sambil berbincang dengan Hana, Hana menanyakan busa pria yang akan ia kenakan saat hari pernikahanya.


Hana menunjukan beberapa koleksi jas deskap kepada Romeo, untuk acara akad nikahnya, sedangkan untuk acara resepsi sendiri ia hanya akan menggunakan stelan jas yang formal.


Beberapa saat kemudian Tari keluar dengan menggunakan kebaya pilihan Romeo, sebelumnya Tari merasa senang karna melihat dirinya dari cermin yang telihat sangat berbeda dari biasanya.


Dengan irama jantung yang tak beraturan, Tari berjalan berlenggok mendekati Romeo, seketika senyumnya mengembang saat melihat Romeo yang melihat kearah dirinya.


"Cantik sekali, "sebuah kalimat yang lolos dari bibir sensual Romeo, ketika ia melihat calon penggantinnya menggenakan busana pilihanya, lagi-lagi Tari tak mampu menutupi rasa gugupnya dan tersipunya, saat pujian tersebut berembus langsung dari mulut seseorang yang bersikaf dingin terhadapnya selama ini.


Beberapa detik berlalu setelah itu dan mereka bungkam, Tari berusaha munutupi Rona wajahnya dengan menunduk.


"Wah, sangat serasi jika anda memilih jas beskap yang ini, " ucap Hana sambil menunjukan pakaian yang tergantung di hanger tersebut.


"Bagaimana menurut mu, cocok ngak sama jas yang ini?" tanya Romeo menanyakan pendapat dari Tari.


Tari tersenyum simpul sambil mendekati Romeo, ia meraih jas tersebut dan menempelkanya ke tubuh Romeo.


"Hm menurut ku, kau pakai pakaian apa saja tetap ganteng,"ucapnya keceplosan,


ops, ia pun kembali menggigit bibir bagian bawahnya ketika tanpa sadar mulutnya memuji Romeo di hadapan Hana dan asistennya.


Sementara kedua orang asing tersebut tersenyum simpul melihat keduanya yang terlihat masih sama-sama sungkan.


Keduanya saling melempar senyum kemudian tertunduk lagi.


Cie...cie hari ini kalian saling memuji ya, besok saling apa lagi ya,


Bersambung dulu ga guys, kepanjangan epiodenya rugi view author hehe😆, jgn lupa tetap dukung author ya, karna nantinya akan ada kisah lucu, sedih romantis yang bikin kalian laper..., baper maksunya, plis like, komen vote dan hadiah, untuk karya receh author

__ADS_1


__ADS_2