
Flashback
30 tahun yang lalu.
Seorang remaja mengenakan seragam putih abu-abu sedang berlari dan mencari sesuatu di terminal
Hilir mudik orang orang yang lewat membuat Satria harus jeli megedarkan pandangannya ke sekeliling tempat itu.
Pandanganya tertuju pada gadis yang ayu menggunakan baju kemeja putih dan Rok flared.
"Maya!" Teriakan Satria membuat gadis yang di panggil tersebut menoleh.
"Satria? Kenapa kamu ada di sini?" Tanya Maya ketika melihat Satria yang datang menghampirinya.
"Maya kenapa kamu ngak bilang kalau keluarga kamu akan pindah?" tanya Satria nafasnya memburu.
"Emang kenapa Sat?" tanya Maya.
Satria mengatur nafasnya karna habis berlari.
"Karna aku cinta sama kamu Maya, dan aku belum bisa berkata Jujur," ucap Satria dengan manik mata yang menatap teduh pada lawan bicaranya.
Maya terhenyak, sebenarnya ia juga memiliki perasaan yang sama, tapi selama ini ia mengira jika Satria hanya menganggapnya teman, maklum saja Satria punya banyak penggemar dan ia hanya bisa menjadi pengagum rahasia Satria.
Netra teduh milik Maya perlahan berembun menatap pria yang selama ini selalu mengisi hatinya.
"Tapi aku harus mengikuti orang tua ku Sat, selamat tinggal Sat," ucap Maya sambil menepuk pundak Satria.
Satria perlahan meneteskan air matanya ketika melihat Maya gadis kecil teman bermainnya tersebut harus meninggalkan kota ini.
"Maya!" Teriak Satria sambil berlari kecil menghampiri Maya.
Maya pun menoleh kebelakang ia sendiri tersentak kaget saat Satria memeluknya.
"Jangan pergi Maya, jangan tinggalkan aku Maya," ucap Satria lirih.
"Maya!!!!"
Teriakan Satria mebangunkan temannya.
"Satria..Satria.." ucap Hadi yang menepuk pipi Satria untuk membuatnya sadar.
Ha ha Satria tersadar dan langsung bangkit, tubuhnya mengeluarkan keringat dingin.
"Lo mimpi lagi Sat?" Tanya Hadi sahabat Satria.
Satria mengatur nafasnya yang terengah-engah.
"Akh ternyata hanya mimpi,"guman Satria.
Satria melirik petunjuk waktu yang berada di dinding kamarnya.
"Kamu mau kemana Di?" Tanya Satria pada Hadi.
"Mau menemui Suci," sahutnya.
Eh si Suci kan sudah punya laki kenapa loh masih mau menemui dia?"
"Biarin saja aku belum bisa move on," sahut Hadi.
"Alah cewek banyak kok, gangguin istri orang aja loh," cetus Satria.
"Kalau sudah cinta susah man, oh suci wajah mu bagai rembulan malam yang bersinar menerangi hati ku yang gelap ini," ucap Hadi.
"Ah banyak omong," timpal Satria yang berlalu.
"Eh Sat, lo mau kemana?"
"Mau tau aja loh," ucap Satria sambil berlari menaiki motor honda bebek yang sedang tren saat itu.
Satria melaju menuju pasar, ketika di tengah jalan yang sepi ia melihat mobil mogok ia pun menghampiri mobil tersebut.
Seorang gadis mengipas ngipas tubuhnya karna gerah.
"Aduh kenapa lagi sih Pak?saya harus buru-buru nih, saya ngak boleh terlambat saat syuting," dengus perempuan cantik dan seksi itu.
"Tapi mbak mobilnya kempes ngak bisa di paksain," sahut sopir tersebut dengan hormat.
"Kalau non Rita buru-buru biar saya pesanin taxi atau ojek saja, biar lebih cepat sampai."
"What? ojek? Oh no nanti kulit saya hitam terpapar matahari," Rita memanyunkan bibirnya.
Si sopir telah berupaya mencari taxi namun karna tempat tersebut sepi tak ada taxi yang melintas.
Rita semakin gelisah, berkali-kali ia melirik jam tanganya.
__ADS_1
"Aduh pak, saya ngak boleh terlambat, ini syuting pertama saya sebagai artis sinetron." Keluhnya.
"Ya sudah naik ojek saja Non, nah tuh ada motor lewat."
"Bang berhenti bang," ucap sang sopir menghentikan motor Satria.
"Ada apa pak?" Tanya Satria yang langsung berhenti.
"Maaf bang bisa tolong antar nona saya ketempat syuting?" Tanya sopir tersebut kepada Satria.
Satria melihat Rita sekilas, gadis itu membuang mukanya saat
Satria meliriknya.
"Hm" Rita membuang wajahnya.
"Gadis yang sombong," dengus Satria.
"Ngak bisa pak! saya buru-buru," tolak Satria karna kesal melihat gadis sombong tersebut.
Mata Rita melotot mendengar penolakan Satria.
"Apa! baru kali ini ada cowok yang menolak untuk mengantar ku, seorang artis papan atas bernana Rita Melati sukma candra Dewi sekar mewangi sepanjang hari." Dengus Rita, iya kembali mengibas-ngibas tubuhnya dengan kipas di tangan.
"Tolong lah bang, ini syuting pertama nona saya,"bujuk Satria.
Meski merasa kesal, tapi Satria tak tega.
"Kalau gitu ayo mbak saya antar," ucap Satria.
Dengan wajah angkuhnya Rita naik diatas motor Satria.
"Sudah siap?" Tanya Satria sebelum melaju.
"Sudah," sahut Rita ketus.
Satria pun melaju membawa artis terjenal tersebut.
"Mbak sepertinya saya pernah melihat mbak?"tanya Satria basa-basi.
"Ya iyalah saya kan artis sinetron yang terkenal, bintang iklan dan model international," ucapnya dengan nada angkuh.
Satria memanyunkan bibirnya mendengar kesombongan wanita yang di boncengnya.
"Oh iya, saya pernah lihat mbak di sinetron si Doel anak jalanan."
"Iya mbak, mbak yang jadi munaroh itu ya?" ucap Satria dengan maksud meledek.
"Munaroh! Sembarangan Mas, saya itu pemeran utama sinetron Tersandung, yang episodenya panjang itu loh,"papar Rita.
"Oh, ngak tahu saya mbak, ngak pernah lihat," sahut Satria.
Rita cemberut mendengar ucapan Satria yang menyinggungnya.
Sekian lama dalam perjalanan mereka habiskan untuk diam, Rita penasaran terhadap sosok Satria yang cuek, selama ini setiap lelaki yang melihatnya pasti akan terpesona dengan kecantikanya, tapi sepertinya tidak bagi Satria.
Setelah menempuh perjalanan hampir setengah jam, mereka pun sampai, dandanan Rita sedikit berantakan karna menggunakan motor.
Rita turun dengan wajah angkuhnya ia pun menyodorkan pecahan uang lima puluh ribu, yang saat itu sudah sangat besar jumlahnya.
"Nih ongkosnya," ucap Rita menyodorkan uang tersebut.
"Maaf ya Mbak saya bukan tukang ojek, simpan saja uangnya saya iklas," tolak Satria sambil kembali menghidupkan mesin motornya.
Rita semakin geram dengan tingkah pria yang ada di hadapanya.
Namun ia merasa penasaran terhadap pria tersebut, apalagi ia melihat wajah tampan yang di miliki Satria membuat Rita berdebar-debar manja.
"Permisi mbak," ucap Satria kemudian berlalu dari Rita.
Itulah pertama kalinya Rita bertemu dengan Satria dan kini mereka sedang merencanakan pernikahan.
Rita jatuh hati pada Satria, meski banyak teman seprofesinya menginginkannya, namun hatinya telah tertambat pada pria sederhana bernama Satria.
Meski hubungan cinta Satria di tentang oleh keluarganya, namun Rita tetap kukuh mempertahan kan Satria.
"Mas Satria kapan Mas Mau melamar aku?" Tanya Rita.
Gleak..
Satria menelan salivanya, ia dan Rita baru tiga bulan bertemu dan baru sebulan berpacara,itu juga Rita yang menyatakan cintanya pada Satria.
Entah pesona apa yang di miliki oleh Satria, hingga gadis angkuh dan sombong sepertinya bisa tertarik dan jatuh hati pada lelaki sederhana yang memiliki wajah tampan dan rupawan di zaman mereka.
"Kamu yakin mau menikah dengan ku?" Tanya Satria sambil menyeritkan dahinya.
__ADS_1
"Yakin, seyakin-yakinya Mas," sahut Rita.
"Baiklah jika kau memang yakin, aku dan orang tua ku akan melamar mu," ucap Satria.
Rita tersenyum bahagia ia pun menghambur memeluk Satria.
"Baiklah, sebelum kamu melamar ku, aku akan memberitahu keluarga ku terlebih dahulu Mas." Rita.
Satria menggangguk, ia pun pulang kekampunya untuk menemui kedua orang tuanya, kebetulan bulan depan Satria dan Hadi sudah wisuda.
Satria adalah anak pengusaha kerupuk di daerahnya, orang tuanya memiliki perusahaan kerupuk kulit dan pabrik dengan ukuran mikro , tentu tak srbanding dengan kekayaan yang di miliki kedua orang tua Rita yang memiliki usaha pengolahan kayu.
-
-
-
"Tidak Rita! Kami tak akan menyetujui pernikahan kalian! Kamu itu artis terkenal, kamu bisa mendapatkan lelaki yang lebih baik dari dia, apa yang kamu harap dari pria tersebut, dia tak sebanding dengan kita," ucap seorang lelaki yang ternyata adalah ayah Rita.
"Tapi Pa, aku hanya mencintai Satria, jika papa tak menyetujui hubungan kami, aku akan melakukan hal nekat pa, Papa akan menyesal!" ancam Rita.
Rita pun berlalu dari hadapan pria tersebut.
Pria tersebut mendengus kesal karna pertengkaranya bersama Rita.
"Sudahlah Pa, biar kan saja dia menikahi dengan pria pilihanya, lagi pula mama lihat Satria itu lelaki yang baik dan bertanggung jawab, meski memang kekayaannya tak sebanding dengan kita Pa," kata mama Rita.
Hari hari berlalu, Satria pun datang menemui kedua orang tua Rita.
"Satria? ini benar rumah calon menantu bapak?" tanya pak bejo.
"Ckck, Wah mewah sekali ya, apa mereka mau menerima pinangan kita Nak?" tanya Bejo lagi.
"Bismillah aja Pak, namanya juga usaha, kalau di terimaya syukur, ngak di terima ya kita kabur," ucap Satria dengan nada nyelenehnya.
Mereka pun menuju pintu rumah yang megah tersebut.
Sambutan dingin di terima oleh keluarga Satria, setelah mempersiah kan duduk, Dermawan ayah Rita tanpa berbasa basi menanyakan maksud kedatangan keluarga Satria.
"Apa maksud kedatangan anda kemari?" tanya Dermawan dengan mata yang menatap tajam kearah Bejo.
"Maksud kami kemari mau melamar putri bapak yang bernama Rita pak," ucap Bejo dengan sedikit gugup karna orang yang di hadapanya terlihat angkuh.
Dermawan membuang mukanya seolah meremeh kan Bejo.
Melihat itu Bejo menelan salivanya.
"Mahar apa yang bisa kalian berikan untuk melamar putri ku?"
Satria dan Bejo saling memandang.
"Kami cuma punya 3 hektar sawah, 100 kambing, 50 ekor sapi, rumah dan mobil pak, terserah mau yang mana maharnya?" tanya Bejo dengan polos.
Mendengar ucapan Bejo, Dermawan tertawa dengan suara barotonnya.
haha, haha...
"Eh Pak, emangnya situ kira anak saya gadis kampungan apa? jangan ngimpi kalian bisa mempersunting anak saya, sekarang juga kalian keluar!."
Satria dan Bejo pun menggangguk, sebenarnya Satria memang tak yakin bisa melamar Rita, ia hanya ingin menghargai Rita yang dengan tulus mencintainya, jauh di lubuk hati Satria ia masih mendambakan Maya, gadis kampung yang selama ini masih ia cari.
Mereka pun memutuskan untuk pergi dari rumah itu.
Teriakan seorang gadis yang berlari dari arah tangga membuat Satria dan Bejo menghentikan langkahnya.
"Tidak!papa! kenapa Papa tolak mas Satria,!
suara Rita menangis memenuhi seluruh ruangan tersebut.
"Rita! apa-apaan kamu?" bentak Dermawan.
"Kalian pergi dari sini!" seru Dermawan sambil menujuk keduanya menuju pintu keluar.
Satria dan Bejo pun keluar dari rumah tersebut sementara, Rita masih menangis.
"Rita kamu jangan bodoh! laki-laki itu tak pantas untuk kamu!" bentak Dermawan.
"Sudah papa akan carikan lelaki yang lebib pantas untuk kamu!"
"Tidak jika papa menolak untuk merestui kami,maka papa akan lihat mayat ku besok hari," ancam Rita.
"Alah kamu pikir papa takut," tukasnya dan berlalu menunggalkan dan mengunci Rita.
Keesokan paginya seorang pemnantu rumah mereka menemukan Rita dengan mulut berbusa, karna panik mereka membawa Rita ke rumah sakit, dengan memberi pertolongan pertama terlebih dahulu.
__ADS_1
Karna sikaf keras kepala dan nekadnya Rita, akhirnya orang tua Rita pun mengalah dan terpaksa menikah kan Rita dan Satria
Bersambung