
Keesokan harinya Alia turun untuk sarapan pagi, rencananya pulang dari bekerja ia akan menjenguk Bagas.
"Selamat pagi Ayah-Bunda," ucap Alia seraya mencium kedua orang tuanya.
"Selamat pagi sayang," jawab keduanya serempak.
Alia menarik kursi untuk sarapan meski dirinya saat itu tak berselera.
Alia menarik sepotong roti dan dan memolesnya, kemudian memasukan ke dalam mulutnya dengan terpaksa.
Semua terasa hambar, bahkan selai kacang yang begitu manis dan nikmat terasa pahit melewati kerongkongan Alia.
Alia meminum susu untuk mendorong potongan roti yang terasa sulit untuk lolos dari kerongkongannya, ia mencoba bersikaf baik-baik saja, meski pun saat itu ia sedang kacau, karna dilema yang melandanya seperti memilih cinta atau hukuman mati.
Tak hanya Bagas, tapi Alita juga akan terluka, Alia juga khawatir jika Alita berprasangka dirinya telah merebut Ghael dari dirinya.
Aira melihat gerak-gerik yang tak biasa dari putrinya tersebut.
"Kak, pulang jam berapa nanti sore?"tanya Aira.
"Jam lima Bun," jawab Alia datar seraya mengusap tanganya dengan tissue.
"Setelah pulang, Bunda ingin bicara sama kakak," ucap Alia sambil melihat reaksi Alia.
"Iya Bun," Alia mengangguk tanpa melihat kearah Aira.
"Assalammualaikum, " seseorang mengucapkan salam yang datang dari arah luar.
"Waalaikum sallam," Ketiganya menjawab.
Kemudian tampaklah pria tampan yang bergaya eksekutif muda.
"Eh Abang, sini sarapan,"ajak Aira.
"Tumben Bang awal datang, sudah sarapan?"tanya Aira.
"Sudah Bun, sengaja mau ngantar Alia ke kantor,"ucap Bagas.
Aira dan Aldi tersenyum simpul sementara Alia masih merenung dengan tatapan kosong.
"Kak!" panggil Aira untuk membuyarkan lamunan Alia.
"Iya Bun, kenapa?"tanya Alia yang menoleh ke arah Aira.
"Sudah selesai sarapannya?"tanya Aira lagi.
__ADS_1
"Iya Bun,"Alia.
"Sudah di tungguin sama abang Kak, abang sengaja datang pagi-pagi untuk menjemput kamu."
"Iya Bun, mulai sekarang biar Abang yang ngantar dan menjemput Alia kemana saja," ucap Ghael.
Alia melirik sinis kearah Ghael.
Apa? kalau abang yang mengantar dan menjemputku, aku pasti kan akan bisa bertemu dengan Bagas lagi.
Aira melirik kearah Alia yang tampak cemberut dengan bibir yang mengkerucut.
Aira tersenyum kearah Ghael," Wah Abang romantisnya, Bunda jadi iri,"ucap Aira.
"Hm iri apanya, bukannya Ayah selalu ngantar jemput Bunda," sahut Aldi spontan.
"Iya Yah, tapi Ayahkan sudah mau kadar luasa, sekali-kali Bunda pengen di jemput cowok ganteng kayak Abang, " canda Aira.
Ia sengaja membuat suasana hangat agar Ghael tak tersinggung dengan sikaf Alia yang berubah tiba-tiba terhadapnya.
Ghael tersenyum mendengar guyonan Aira tapi tidak Alia, wajahnya tetap saja cemberut.
"Kalau Bunda mau, Abang bisa kok antar- jemput Bunda," tawar Ghael.
"Ah ngak Bunda sama Ayah saja, biar sudah mau kadar luasa, tapi masih cryspi kok, iya kan Yah," ucap Aira seraya mengusap punggung suaminya.
"Tuh, udah tua Yah, ngak usah tersinggungan " Aira.
Ghael tersenyum lagi, ia jadi ingat dengan kedua orang tuanya yang selalu bucin di rumah.
Semoga rumah tangga aku dan Alia kelak akan berbahagia,seperti rumah tangga kedua orang tua ku, selama ini aku tak pernah melihat mereka bertengkar selalu harmonis.
***
Di dalam mobil Alia hanya diam seribu bahasa.
Ia lebih banyak mengalihkan pandangannya ke luar jendela, suasana pun hening di dalam mobil.
"Alia nanti malam kita makan di luar yuk," ajak Ghael yang mencoba untuk mencairkan suasana.
"Lihat saja nanti Bang, Alia capek," jawabnya lirih.
"Hm ngak apa, aku ngerti Alia kamu masih canggung dengan hubungan kita saat ini, makanya aku ingin kita lebih sering menghabiskan waktu bersama,"ucap Ghael.
Hm, Alia melirik ke arah Ghael.
__ADS_1
"Memangnya hubungan apa yang kita jalani saat ini, sedangkan aku belum putus dengan Bagas," ucap Alia ketus.
"Alia, Abang tahu keadaan kamu saat ini, tapi cobalah kamu beri kesempatan untuk aku masuk ke dalam hati kamu Alia." Ghael.
"Abang sudah lama ada di hatiku, aku menyayangi Abang, tapi bukan sebagai kekasih, hubungan ini terasa aneh, kita bukannya makin dekat tapi semakin jauh, aku ngak tahu Bang bagaimana caranya mengatakan pada Alita, pada Bagas, aku ngak tega menyakiti hati mereka, hiks hiks," Alia kembali menangis.
Ghael terdiam mendengar penuturan Alia, suasana pun kembali hening, sesekali ia melirik ke arah Alia yang sedang menghapus air matanya.
Ghael merasa dirinya terlalu egois, tapi cinta memang kadang membuat orang bersikaf egois.
"Lalu apa mau kamu Alia?"tanya Ghael.
"Aku ngak tahu Bang, kenapa Bunda dan Ayah begitu menolak Bagas, aku tak ingin menyakiti hati kedua orang tua ku, aku butuh waktu untuk menyelesaikan hubungan ku dengan Bagas, serta menjelaskan semua ini pada Alita, agar tak terjadi kesalah pahaman antara kami, aku tak ingin persahabatan ku dan Alia retak," papar Aira seraya menghapus air mata yang selalu menetes.
"Jadi maksud Kamu?"tanya Ghael ingin memastikan.
"Pulang kerja aku ingin menemui Bagas, jika abang ngak bisa mengantar aku akan naik taksi saja," ucap Alia.
Ghael kaget dan langsung menoleh ke arah Alia.
"Alia! mana ada calon suami yang mengijinkan calon istrinya bertemu dengan pacarnya."
"Terserah Bang, yang jelas aku tetap akan menemui Bagas, sampai aku siap untuk memutuskan hubungan ku dengan Bagas!" Alia.
"Alia! Kamu_"Ghael.
"Bang! Abang ngak bisa protes, Abang hadir setelah aku dan Bagas menjalin hubungan, jika memang dari dulu Abang menyukai ku, atau mencintaiku kenapa tak dari dulu Abang mengatakannya, mungkin dari dulu aku bisa menerima Abang dan aku juga tak pernah terlibat cinta dengan Bagas, Alita juga ngak akan berharap pada perasaan terhadap Abang!"
Ghael diam beberapa saat, memang benar apa yang di katakan Alia andai saja dari dulu ia berani menggungkapkan perasaannya tentu tak akan banyak hati yang terluka.
Mereka sampai di kantor Alia, Alia merapikan riasannya yang berantakan karna guyuran air mata.
Ghael melirik ke arah Alia, "Pulang kamu jangan kemana-mana, biar Abang yang akan mengantar kamu menemui Bagas," ucap Ghael.
Alia membuka pintu kemudian turun dari mobil tanpa berucap satu kata pun kepadanya.
Bruk.. bunyi pintu mobil di banting oleh Alia.
Ghael menyandarkan dirinya pada sandaran jok mobil menghempas nafasnya dengan kasar.
"Sepertinya untuk merebut hati Alia aku harus banyak bersabar huh," dengusnya.
"Apa cinta memang seperti ini? kadang aku menyadari jika aku memang egois, tapi cinta juga butuh perjuangan, dan aku masih harus berjuang untuk mendapatkan hatinya."
Ghael mengusap wajahnya dengan kasar. kemudian menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Hah masa' iya aku harus mengantar calon istriku menemui pacarnya, ini gila!" dengus Ghael ia pun pergi dari tempat tersebut.
Bersambung