
Selesai operasi Tari di bawa keluar dari ruangan operasi, keadaannya cukup stabil meski belum sadarkan diri.
Melihat menantu mereka keluar dari ruangan tersebut dengan selamat, Pak Hadi dan Suci tak henti-hentinya mengucap syukur.
Begitu pun Ghael dan Farel yang sudah gelisah, menunggu kabar sang ibunda.
Romeo tersenyum seraya mencium bayi munggilnya yang kemerahan.
Begitupun kedua orang tua dan anak-anaknya, mereka begitu bahagia menyambut hadir nya anggota baru keluarga mereka.
"Alhamdullilah Rom, apa jenis kelamin anak kamu?"tanya Suci seraya menyambut bayi munggil yang di sodorkan Romeo.
"Laki-laki Ma," ucap Romeo bahagia, ia pun meneteskan air matanya.
"Alhamdullilah Rom, laki-laki atau perempuan sama saja, yang penting sehat, iya kan Pa?"tanya suci.
"Iya, Ma, anak itu titipan Tuhan, toh nantinya jika mereka menikah kalian juga dapat menantu perempuan," Hadi.
"Ini sayang, Ghael sama Farel sayang ngak sama adek?"tanya Suci seraya mendekatkan bayi tersebut kepada kedua saudaranya.
"Sayang Oma," ucap keduanya serempak mereka pun mencium adiknya tersebut.
"Ayo kita ke kamar perawatan Mama," ucap Romeo seraya memimpin kedua anaknya.
Mereka pun tiba di kamar, saat itu Tari mulai menerjab nerjabkan matanya.
"Mama sudah sadar!"teriak Ghael mereka pun menghampiri Tari.
"Mama," ucap Ghael sedih melihat wajah pucat sang ibunda.
"Kamu kenapa nangis Nak?"tanya Tari.
" Ghael khawatir sama Mama," ucap Ghael.
"Mama ngak kenapa-napa sayang, Mama baik-baik saja," ucap Tari lirih.
"Mana adek baru kamu?"tanya Tari, suaranya masih lirih.
Romeo menghampiri Tari," Ini Tar anak kita,"ucap Romeo seraya menyodorkan bayi tersebut mendekat ke wajah Tari.
Dengan tetesan air mata harunya, Tari mencium bayi tersebut," Dia ganteng seperti kamu Rom, " ucap Tari haru, ia kembali mencium bayinya.
"Iya Tar, tapi kamu ngak kecewakan jika anak kita laki-laki kembali?"tanya Romei.
Tari menangis,"Mana mungkin aku kecewa dengan anugrah yang di berikan oleh sang pencipta," ucapnya seraya menguecup pipi bayi tersebut.
Romeo tersenyum ia pun meletakan bayi itu di dada Tari, agar Tari bisa mendekapnya.
"Mau kasih nama apa Tar?"tanya Romeo seraya mengusap kening Tari, ia pun mengecupnya.
"Ngak tahu Rom, aku hanya menyiapkan nama anak perempuan," jawabnya lirih.
Romeo tersenyum, "Mungkin anak kita yang ke empat bakalan perempuan Tar, kamu masih mau hamil lagi kan?" tanya Romeo lirih.
Tari tersenyum, "Tentu saja Rom, aku bahagia melahirkan buah cinta kita," ucapnya seraya haru serta menahan sakit pada sekujur tubuhnya.
Terima kasih Tar, karna telah melahirkan buah hati kita, I love you," ucap Romeo seraya berbisik di telinga Tari.
Lagi-lagi Tari merasa bahagia, I" love you too," balasnya.
Romeo terharu dan kembali mencium kening istrinya.
Suci dan Hadi ikut bahagia melihat keharmonisan rumah tangga mereka, terlihat banyak sekali perubahan dalamndiri Romeo sejak dirinya menikah dan punya keluarga.
Mereka pun mendekat untuk ikut merasakan bahagia kedua pasangan tersebut.
"Rom, kamu sudah beritahu orang tua Tari, mama Maya dan mama Nova?"tanya Suci.
"Sudah Ma, tapi kedua saudaranya belum, Romeo ngak sempat." Romeo.
"Kalau begitu beri tahu mereka Rom,"Suci
"Iya Ma," ucap Romeo.
Ia pun menjauh dari tempat tidur Tari untuk menghubungi keluarga Tari.
***
__ADS_1
Kesibukan sudah terjadi di rumah
Aldi , mereka berencana mengadakan acara syukuran untuk tujuh bulanan Aira.
Tenda sudah terpasang di rumah mewah itu, kesibukan dan hilir mudik sudah terhadi dua hari yang lalu.
Rencananya mereka akan mengundang anak-anak dari beberapa yayasan yatim piatu.
Selain itu Aldi juga sibuk mengawasi renovasi kamar untuk calon bayi mereka.
Bertema ala-ala bajak laut, sebuah boxbayi berbentuk kapal bajak laut pun sudah terpasang rapi, lengkap dengan kelambu dan gantungan mainan di sana.
Aira tersenyum bahagia melihat kamar yang sudah di persiapkan suaminya tersebut untuk menyambut kelahiran putra mereka.
"Ayah kamu semangat sekali Nak, mendekorasi kamar ini untuk kamu," guman Aira seraya mengusap perutnya.
Melihat kehadiran sang istri Aldi yang membantu tukan memasang wallpaper mendekat ke arah Aira.
"Dek, lihatlah Ayah sudah dekorasi kamar ini untuk kamu, kamu pasti senangkan?" tanyanya sambil menempelkan telinganya di perut bunci sang istri.
Aldi merasakan janin tersebut bergerak menendang-nendang perut Aira.
"Bunda, bergerak Bunda," ucap Aldi.
"Iya lah Yah, itu tandanya dia seneng tuh, Ayahnya sibuk dekorasi untuk kamar dedek," ucap Aira seraya menghapus keringat yang mengucur pada wajah Aldi.
Aldi rela menghabiskan separuh waktunya bekerja demi mendekorasi sendiri kamar calon putra mereka.
"Terima kasih Bunda," ucap Aldi serayaencium pipi sang istri yang telah menyapu keringatnya.
Aldi kembali mendekatkan wajahnya pada perut buncit Aira.
" Dek, nanti malam Ayah jenguk lagi ya?"tanya Aldi yang seolah bicara pada janinnya.
"Ngak mau Yah jenguk teyus tapek," ucap Aira dengan gaya bicara cadel menirukan suara anak kecil.
Janin tersebut kembali menendang, Aldi pun merasa senang.
"Tuh Bun, boleh katanya, dua ronde juga ngak apa-apa," canda Aldi dengan senyum mesumnya.
"Itu sih katanya Ayah saja Yah,"dengus Aira.
Mereka menuju gudang untuk menyimpan bingkisan yang akan di sumbangkan besok.
"Bunda, coba lihat persiapan apa lagi yang kurang?"tanya Aldi.
Aira melihat kelengkapan untuk acara mereka besok, mereka menghitung bingkisan yang akan di bagi untuk anak yatim dan panti jompo.
Tak lupa Aldi juga mempersiapkan ribuan paket sembako yang di salur kan untuk penduduk miskin.
"Ehm, apalagi ya Yah?" Tanya Aira ketika merasa semuanya tak ada yang kurang.
Ketika mereka tengah sibuk beres-beres tiba-tiba saja terdengar dari suara panggilan dari hand phone Aldi.
Aldi meraih handphonenya yang ada di atas meja.
"Hallo," sapa Aldi pada sambungan telponnya.
"Hallo Di, gue mau kasih kabar gembira, Tari sudah melahirkan dengan selamat, meski lewat operasi," ucap Romeo.
"Alhamdullilah Rom, bagaimana keadaan Tari sekarang?" Aldi.
"Alhamdullilah sehat, sekarang tinggal masa pemulihannya saja," sahut Romeo.
" Syukurlah kalau begitu, Oh iya jenis kelamin anak loh apaan?"tanya Aldi.
"Alhamdullilah laki-laki lagi Di"Sahut Romeo dengan tawa kecilnya.
"Wah makin rame jagoan loh, ok sekarang juga kita ke sana," ucap Aldi seraya menutup telponnya.
"Dari siapa Yah?"tanya Aira.
"Romeo Bun, katanya Tari sudah melahirkan lagi," papar Aldi.
"Melahirkan? Alhamdullilah, anaknya laki-laki atau perempuan Yah?"
"Laki-laki lagi Bun, Alhamdullilah anak dan ibunya selamat meski harus melakukan operasi cesar." Aldi.
__ADS_1
"Ayo Bun sekarang kita pergi kerumah sakit." Aldi.
"Iya Yah, kita siap-siap dulu " Aira.
Setelah mandi dan bersiap, mereka pun segera pergi, ketiganya masuk kedalam mobil menuju rumah sakit.
Karna terburu-buru, Aldi membawa sebagian pakaian bayinya untuk di hadiahkan pada keponakannya.
Sesampainya di sana mereka bertemu dengan Heru dan Tania.
Perut Tania juga sudah buncit seperti Aira.
"Hai, mbak apa kabar," ucap Aira bercupika-cupiki bersama Tania.
"Baik, kamu sudah berapa bulan?"tabya Tania.
"Tujuh bulan, besok acara tujuh bulannya," Aira.
"Mbak Tania?" sudah memasuki delapan bulan, makanya pulang takut melahirkan di sana, ngak ada keluarga di sana." Tania.
"Iya Mbak, mending di sini, kita kumpul bareng-bareng, "ucap Aira.
"Iya, tahun ini keluarga Satria di karuniai kebahagiaan yang melimpah, "tutur Tania.
"Sekali mau nambah cucu sampai tiga," ucap Aira lagi, mereka pun tertawa.
Kedua wanita berperut buncit tersebut mendekat ke arah Tari, setelah salam dan cupika-cupiki nya mereka pun duduk di samping Tari, begitupun para suami mereka yang sedang ngobrol, saling memberi kabar gembira.
Tak lama berselang, Maya dan Satria hadir di tengah-tengah mereka, semakin menambah semarak kebahagian keluarga mereka.
Kedua menantu yang berperut buncit tersebut langsung menghampiri Maya.
"Bunda, kapan datangnya?" tanya Aira.
"Bunda langsung datang ketika dengar kamar baik ini, langsung pakai helikopter priabadi," ucap Maya bahagia.
"Syukurlah, karna besok Aira akan mengadakan acara syukuran tujuh bulanan," papar Aira.
"Iya, Bunda kayaknya ngak pulang selama beberapa bulan kedepan, sampai kamu melahirkan Aira, karna bulan depan Tania juga melahirkan, dan bulan berikutnya kamu yang melahirkan, aduh Bunda jadi ngak ingin pulang lagi, pingin tinggal di sini saja mengurusi cucu-cucu," papar Maya.
"Pensiun dong Bunda,"ucap Aira.
"Kalau ada yang mau menggantikan," ucap Maya tertawa kecil.
Ia pun menemui Tari, melihat ibundanya seketika Tari menangis haru.
"Mama," ucap Tari seraya merentangkan tanganya kearah Meminta pelukan.
"Tari sayang, cup-cup," Maya mengecup dan mencium pipi Tari, ia pun menangis haru.
"Anak Mama memang hebat, kamu wanita yang kuat Tari," sanjung Maya.
"Alhamdullilah Ma, berkat doa Mama, " ucap Tari.
"Iya sayang, Mana selalu berdoa untuk kamu," ucap Maya.
"Mana cucu mama?"tanya Maya, saat itu cucunya menjadi rebutan antara Aldi, Heru dan Satria.
Kebahagian sungguh terasa di keluarga tersebut.
"Mas Heru sudah USG?" tanya Aldi.
Mereka tertawa.
"Kamu gimana sih Di? emangnya mas Heru yang hamil?" protes Heru.
"Iya lupa, maksudnya, mbak Tania sudah di USG, anak kalian berjenis kelamin apa.." tanya Heru.
"Sudah Di, menurut perkiraan dokter, anak mas Heru laki-laki," ucap Heru.
"Alhamdullilah kalau begitu sama dong, mereka juga besarnya nanti sama-sama, wah kebayang keluarga kita jadi keluarga besar ya Mas," ucap Aldi.
"Apalagi kalau anak kita sudah menikah dan punya anak, wah makin rame!" seru Heru.
"Lahiran saja belum mas, " sahut Aldi terkekeh.
"Iya, habisnya senang banget lihat keluarga kita jadi keluarga besar, ngak seperti kita dulu Di, cuma berdua aja," papar Heru.
__ADS_1
Mereka pun menikmati waktu kumpul keluarga tersebut.
Bersambung guys, tetap dukung sampai tamat ya