
Aira membuka matanya dan melihat sekeliling yang terlihat aneh, dirinya seperti melayang karna melihat langit-langit yang berjalan seolah mengikutinya, pikiranya terbang, ia sendiri tak tahu kemana ia akan di bawa, Aira merasa ada tangan kokoh yang menggenggamnya saat itu, ia pun melirik pria yang dengan erat menggenggam tanganya tersebut.
Mas Heru, batin Aira.
Dimana aku? kenapa aku ada di sini? kenapa Mas Heru seperti habis menangis, batin Aira, Aira masih belum sadar sepenuhnya, mulutnya seperti terkunci ia tak bisa menggerakan bibirnya, apalagi sampai mengeluarkan suara.
Aira melihat dirinya kini memasuki sebuah ruangan yang ia sendiri tak tahu tempat apa itu.
Dua orang berpakaian putih mendorong hospital bednya ke sebuah sudut di ruangan tersebut.
"Aw sakit, "ucap Aira sambil meremas bajunya.
"Aira kamu kenapa?" Heru dan kedua perawat tersebut menghampiri Aira.
"Perut Aira keram mas, " ucap Aira sambil merintih mehahan sakit.
"Tenang Aira, mas Heru ada disini," ucap Heru sambil menggenggam erat tangan Aira kembali.
"Tenang ya Bu, atur nafas anda dengan baik, itu adalah reaksi obat yang kami berikan untuk meluruhkan sisa-sisa jaring yang masih menempel di rahim ibu." papar seorang perawat.
Pandangan Aira beralih pada wanita yang mengajaknya bicara tersebut, kemudian ia berpaling dan menatap Heru kembali.
"Aira kenapa Mas?" tanya Aira lirih.
"Aira tekanan darah kamu tinggi hingga menyebakan pendarahan pada kehamilan kamu." papa Heru.
"Maksudnya apa mas?" tanya nya semakin lirih.
"Aira kamu kehilangan janin kamu," ucap Heru lirih,
Bulir bening pun menetes di sudut netra sipit milik Heru.
Aira menengadakan kepalanya berusaha menghela nafas yang terasa sesak di dadanya, lagi-lagi kabar buruk yang ia terima.
Aira kembali mengerang kesakitan, hingga keringat dingin mengucur deras, wajahnya pun terlihat pucat.
Melihat Aira yang menggerang Heru jadi ikut panik, ia tak tahu harus bagaimana.
"Akh, sakit mas," erangnya lagi.
"Aira, kamu sabar ya, sebentar lagi Aldi akan datang, "ucap Heru sambil mengatup telapak tangan Aira dengan kedua telapak tangan nya.
__ADS_1
Hanya itu yang bisa Heru lakukan dan hanya kata itu yang bisa ia ucapkan.
Heru merasakan tangan Aira yang begetar saat menahan sakit, wajahnya memerah dan nafasnya terputus-putus.
Heru sudah tak kuat melihat orang yang ia cintai selalu menderita, apalagi yang menyakitinya adalah Aldi adik kandungnya sendiri.
Sejak pertama melihat Aira, Heru sebenarnya sudah menaruh hati padanya, tapi perasaan itu coba di sembunyikanya di balik lubuk hatinya yang terdalam, agar tak pernah sekali pun terucap pada bibirnya, berkali-kali ia mengubur rasa yang tumbuh itu dengan menyembunyikan di balik topeng persaudaraan nya, tak ada yang salah dengan cinta, selama ia bisa menyembunyikan nya dari Aira dan Aldi.
Tubuh Aira kembali gemetar, tanganya tak mampu lagi menggenggam erat tanggan Heru, Aira menarik nafasnya panjang dan menghempaskanya.
Semakin lama semakin terasa sakit," Mas Heru, Aira ngak kuat lagi,"ucapnya sambil mengerang kesakitan tanganya pun gemetaran dengan nafas yang terengah engah.
Heru menggenggam tangan Aira kembali, tubuh Aira mengeliat melawan rasa sakit, saat itu air mata Heru terus mentes melihat penderitaan Aira, ia tak kuat melihat Aira yang mengerang kesakitan.
"Sabar Aira, kamu harus kuat, mas Heru ada di sini bersama kamu, " ucapnya menggenggam erat tangan Aira, bola mata Aira turun naik, dengan kepala yang tengadah, nafas nya memburu dengan denyut jantung yang berbacu.
Aira menarik nafasnya dan menghembuskan nya kembali, injeksi yang di berikan di infusnya adalah obat peluruh agar jaringan-jaringan yang melekat pada rahimnya bisa luruh bersamaan keluarnya embrio yang masih baru beberapa centi tersebut.
Aira masih mengatur nafasnya yang tersengal, tubuhnya masih berguncang dan ini terakhir kalinya ia mengerang sebelum ia merasa sesuatu yang mengalir dari bagian intimnya.
Nafas Aira terengah-engah, matanya mengedar mencari sesuatu.
Heru masih setia di sampingnya, masih menggenggam erat tanganya sembari menyapu keringat di kening Aira.
"Aira haus mas," ucapnya dengan nafas yang terengah engah.
Heru melepas genggaman tanganya ia bangkit dari kursi dan menju dispenser yang ada di ruangan itu.
Heru membawa segelas penuh air putih dan memberinya ke aira, dengan tangan gemetar, Aira meraih gelas yang di berikan oleh Heru.
Melihat tangan Aira yang bergetar, Heru mendekat kan gelas tersebut ke bibir Aira agar ia bisa meneguk minuman tersebut.
Aira meneguk habis air yang di sodorkan Heru kepada nya, meski nafasnya masih memburu, namun Aira merasa sudah cukup tenang, ia tak lagi merasa sakit pada bagian perutnya.
Aira membaringkan tubuhnya nya sambil kembali mengatur nafasnya, meski merasa sedih karna telah kehilangan janinnya, Aira berusa untuk iklas, mungkin semua ini adalah jalan yang terbaik untuk nya dan Aldi.
"Aira ," suara lembut tersebut membuyarkan lamunanya.
"Aira, mas Heru keluar sebentar ya, mas Heru mau telpon Aldi."
Heru pun bangkit tapi, tanganya di tarik oleh Aira.
__ADS_1
"Jangan Mas, jangan telpon Mas Aldi."
"Tapi kenapa Aira? Aldi itu suami kamu, dia harus tahu keadaan kamu saat ini."
Aira menggeleng lemah," Hubungan Aira dan mas Aldi hanya sebatas anak yang ada di rahim Aira, jadi jika saat ini sudah tak ada lagi janin di rahim Aira, itu bearti Aira tak ada hubungan lagi dengan Mas Aldi." papar Aira sedih.
Heru kembali duduk dan menenangkan Aira , ia kembali mengusap kepala Aira, "Dengar Aira, bukan seperti itu maksud Aldi, saat itu Aldi tengah emosi, dan orang yang emosi bisa mengucapkan kata apasaja tanpa di pikir dahulu, kamu masih istri sah Aldi."
"Ngak mas, Aira ngak mau Mas Aldi menerima Aira hanya karna kasihan, sudahlah hubungan kami sampai di sini saja, Aira ingin sendiri mas, janggan ganggu Aira," ucapnya lirih sambil menitikan air mata sedihnya.
Heru menggangguk, ia mencoba mengerti keadaan Aira saat itu.
"Iya, kamu istirahat saja, mas Keluar sebentar, kalau kamu butuh sesuatu kamu panggil Mas ya," ucap Heru yang kemudian berlalu.
Aira hanya diam, ia merasa begitu sedih dan kecewa, apalagi yang mampu ia lakukan selain menangis.
Heru keluar dari kamar perawatan Aira dan menutup pintunya.
"Bagaimana keadaan Aira mas?" tanya seseorang yang mengejutkanya dari belakanh.
"Aldi," kamu baru sampai.
"Baru saja mas, aku mau lihat keadaan Aira sekarang," ucap Aldi sambil menarik handle pintu.
"Of, jangan Di, " ucap Heru menahan Aldi dengan menarik tanganya.
Aldi heran, ia mengerutkan dahinya nya ketika melihat Heru.
"Jangan temui Aira dulu Di, dia ngak mau bertemu dengan kamu untuk saat ini," papar Heru.
"Tapi kenapa Mas?" tanya Aldi dengan sedikit emosi.
"Karna_"
Karna bersambung dulu ya guys, insya Allah sore author up lagi, jangan lupa ya, dukung author dengan like dan komen sebanyak-banyaknya.
Eh ada referensi baru buat kalian guys, mampir yuk
Untuk yang suka genre romantis dan gak ada ehem-ehemnya. Cocok nih sama novel ini.
__ADS_1
Cerita tentang Reka Mahasti yang harus berjuang dengan sang bunda untuk bisa bertahan hidup setelah kebangkrutan restoran mendiang sang ayah. Reka yang merupakan keturunan betawi asli, bertemu dengan laki-laki yang pernah ia tolong 2 tahun silam.
Tak disangka, pertemuan kedua justru membawa mereka untuk menjalin hubungan spesial. Terlebih saat istri Zikri meninggal dunia dan juga meninggalkan seorang putri cantik bernama Melody. Mampukah Reka menjadi ibu untuk Melody dan istri untuk duren sawit itu?