Kenapa Harus Menikah Dengan Mu

Kenapa Harus Menikah Dengan Mu
Rencana


__ADS_3

Tari datang membawa sebungkus nasi padang untuk Romeo.


"Nih, Rom nasinya," ucap tari sambil menyodorkan nasi tersebut ke Romeo.


Dengan senyum manis Romeo pun menyambut nya.


Tari melihat tangan Romeo berlepotan oli, ia pun menarik tangan tersebut.


"Ya ampun Rom, tangan kamu kotor banget!" ucapnya sambil mengangkat tangan Romeo.


"Namanya montir ya kayak gini," ucapnya pasrah.


Tari mengeluarkan milk cleanser dan toner dari tas ransel miliknya.


Ia menuang milk cleanser dan menyapukanya ke seluruh permukaan telapak tangan kanan Romeo, kemudian menyapunya dengan kapas, karna belum sepenuhnya bersih, ia pun mengulanginya kembali, setelah itu, Tari membasahi kapas dengan face toner dan membersihkan sisa milk cleanser.


Romeo hanya tersenyum melihat apa yang di lakukan Tari, begitu pun dengan Doni, ia hanya nyengir, tanpa berani bersuara.


"Dah, bersih, lo bisa pegang sendoknya sekarang." kata Tari yang melepas tangan Romeo.


"Gini aja Tar, ngak di kasi bedak sama lipstik lagi kah di tangan gue," ucapnya sambil melihat tanganya yang sudah kinclong kembali.


"Udah kamu ngak usah bawel, ini Don, gue juga beli untuk lo." Tari menyodorkan nasi bungkus yang satunya lagi kepada Doni.


"Ngak usah untuk loh aja, sahut Doni, gue bagi aja sama Romeo, kita udah bisa makan sepiring berdua," sahut Doni.


" Gue Ambil piring dulu untuk kalian."


"Gak usah piring Don, nampan aja, biar lebih lebar dua bungkus kita bagi bertiga," cetus Tari.


"woke," sahut Doni, ia pun masuk kedalam rumahnya dan membawa pesanan Tari.


Beberapa menit kemudian Doni keluar dan membawa tiga sendok, satu nampan kecil beserta satu teko es sirop dan dua gelas.


Tari menuang kedua nasi bungkus tersebut ke dalam nampan.


"Dah yuk, kita makan," ajak Tari sambil membagi sendok ke masing-masing mereka.


Romeo bengong melihat nasi yang ada di atas nampan.


"Kok kita kayak kucing ya, makan diatas nampan rebutan bertiga lagi," cetus Romeo.


"Udah jangan kebanyakan protes loh, ngak keluar modal juga," sahut Doni dan mereka pun mulai menyendokan makan ke mulut masing-masing.


"Tar, tadi loh mau curhat apa?" tanya Romeo sambil mengunyah.


"Ehm, tadi gue gabut aja, dua hari ini gue di cuekin sama Aldi, telpon ngak di angkat, pesan ngak di balas, kan gue jadi sebel," jawab nya sambil mengunyah makanan.


"Si Aldi sibuk, Nyokapnya datang dari Brunei dan ntar sore, giliran bokapnya sama bunda Maya yang datang," sahut Doni sambil mengunyah makanan.


"Iye gue tahu Don, makanya gue gabut, gue merasa kesepian, nyokap dan bokap gue keluar kota, Adek gue, ngak bisa di ajak ngobrol, dia lebih sengang main game on line, dari pada dengar curhat gue." ujar Tari dengan vibra sedihnya.


"Gue ngak nyangka aja, akan seperti ini hubungan gue sama Aldi, gue ngerasa di gantung sama dia, padahal gue udah bangga-banggain Aldi ke seluruh anggota keluarga gue, ke tante dan om gue, gue termakan bujuk rayunya Aldi, katanya cintanya cuma untuk gue,"ucapnya sedih.


"Udahlah Tar, cowok kan ngak cuma Aldi doang, masih mending lo pacaran di selingkuhin sama dia, coba kalau lo dah nikah, di selingkuhin sama dia, kan lebih sakit hati lagi," ucap Doni.


Tari berhenti sejenak mengunyah makanan nya, ia pun memikirkan penuturan Doni.


"Iya, ya Don, benar juga kata loh, dunia belum beakrhir, kalau gue putus sama Aldi, kan ada lo bedua yang menemani gue," sahutnya.


"iya kalau loh gabut, kesini aja, gue sama Romeo standby di sini, dari pulang kuliah sampai malam, kecuali malam minggu, waktu untuk ayang beb," sahut Doni.


Sementara Romeo hanya jadi pendengar setia, ia sibuk menyuap dan mengunyah makananya.


"Iya deh, gue seneng kalau lo mau nerima kehadiran gue di sini." Tari pun melanjutkan makan nya.


"Eh Rom, kok lo diam aja?" Doni.

__ADS_1


"No comen," sahutnya sambil menyuap nasi.


Tari yang melihat Romeo makan, ia pun tersenyum.


"Rom lo kayaknya laper banget?" tanyanya sambil menyuap nasi.


"Iya lapar gue, kerjaan kayak gini cukup nguras tenaga, kelihatan nya aja gampang." Romeo.


"Hm, kenapa lo harus kerja kayak gini sih Rom, nyokap bokap lo kan orang berada tinggal minta saja sama mereka?" Tanya Tari.


"Kalau gue minta sama mereka, mereka akan mengira gue seperti Romeo yang dulu, Romeo yang manja, pingin apa saja tinggal menadahkan tangan ke orang tua, kalau gue cari duit sendiri, mereka akan yakin jika gue orang yang bertanggung jawab, lagi pula gue punya rencana untuk menikah di tahun depan, dan gue harus nabung mulai sekarang, gue akan melamar dia dengan hasil keringat gue sendiri, jadi orang tua gue juga yakin, jika gadis yang gue nikahin adalah gadis yang benar-benar gue sayang, karna gue belum pernah seperti ini sebelumnya, banyak gadis yang gue bawa ke rumah dan bilang sama ortu gue, jika dia pacar gue, mau kencan aja minta sama mereka, nah jika suatu saat gue bawa Aira kerumah, mereka akan yakin kalau gue serius, dan bisa bertanggung jawab dengan pilihan gue sendiri," papar Romeo dengan nada serius.


Tari dan Doni, tergamam mendengar jawaban spontan Romeo.


"Gue, salut sama lo bro, lo banyak berubahnya," ucap Doni sambil menepuk pundak Romeo.


Gue salut sama Romeo, seorang yang tengil seperti Romeo, bisa sungguh-sungguh memperjuangkan cinta nya, andai saja perasaan Aldi ke gue, sama kayak perasaan Romeo, gue pasti bahagia dan terharu, gak nyangka sama sekali, Romeo bisa berubah karna Aira, batin Tari.


Aira berada di depan meja riasnya, saat itu mbok Jum sedang menyisir rambutnya.


"Non, kok diam aja kayaknya ngak seneng banget, bukanya sebentar lagi tuan Satria dan nyonya Maya sampai di sini non?"


Aira mengambil nafas panjang dan menghempaskanya dengan berat.


"Aira capek mbok, kalau setiap hari cuma berdandan, pakai make-up, Aira jadi ngak sempat main game, ngak sempat nonton darakor," keluhnya.


"Sudah lah Non sabar saja, non harus belajar mulai sekarang, belajar jadi istri yang baik, istri yang soleha, sebentar lagi Non Aira menikah, dan semua waktu dan diri non Aira akan jadi milik Mas Aldi sepenuhnya." papar simbok.


"Kok gitu sih Mbok?" tanya sambil mengkerutkan wajahnya.


"Iya Non, Non Aira, wanita yang sudah menikah itu sepenuhnya akan milik suaminya, bahkan suaminya itu lebih berhak dari orang tua non sendiri, Non Aira harus bisa melayani suami non dengan baik, karna itu tanggung jawab non sebagai istri, dan Non Aira harus bisa memuaskan hasrat Mas Aldi dan menjaganya jangan sampai Mas Aldi selingkuh, karna tak mendapatkan pelayanan yang baik dari istrinya, dan kalau sampai itu terjadi, non Aira juga akan menanggung dosanya," tutur si mbok sambil menyisir rambut Aira.


Aira menelan saliva nya, ia kaget dengan penuturan si mbok, Aira tak menyangka jika tugas menjadi seorang istri itu tak segampang yang ada di pikiranya.


"Karna mas Aldi masih muda, ganteng lagi, non Aira harus bisa melayaninya dengan baik, terutama saat di atas ranjang, dan jangan pernah menolak ajakan suami non, karna kalau non Aira menolak ajak suami di atas ranjang, bukan hanya suami non yang kecewa, tapi juga dapat murka dari Tuhan, dan Non akan dilaknat malaikat dari malam hari sampai subuh, non Aira bayangkan sendiri, betapa besar dosa dan akibat yang akan terjadi," ungkap si mbok.


Aira tertegun menatap wajah si Mbok, perlahan air matanya menetes.


Aira merasa ketakutan dengan ancaman yang di ucapkan si mbok.


"Maka dari itu belajarlah mencintai mas Aldi dari sekarang, non Aira harus terima segala sifat buruk dan sifat baiknya, apalagi non Aira sudah mengandung anak Mas Aldi, non Aira juga ngak boleh ngobrol sarma lelaki lain tanpa sepengetahuan mas Aldi, apalagi sampai mesra-mesraan dengan pria lain, ingat ya non, wanita mendurhakai suaminya ngak akan mencium bau surga," ucap si mbok.


Kali ini air mata Aira semakin deras,


Jadi jika begitu, bearti aku ngak boleh berhubungan dengan bang Romeo lagi selama aku menjadi istri Mas Aldi.


Aira pun menangis, kini pilihanya semakin berat, jika ia menikah dengan Aldi, itu bearti ia harus mengubur perasaanya terhadap Romeo, dan jika ia memilih Romeo, ia harus membantalkan pernikahanya dengan Aldi.


Aira binggung, ia masih mempertimbangkan keputusanya, ia tak sanggup jika harus berpisah dengan Romeo, tapi Aira juga tak sanggup mengkhianati Aldi, Aira merasa ia sudah terlalu banyak berhutang budi pada Aldi, dan semuanya takkan sanggup ia bayar, terkecuali menuruti Aldi, yaitu harus menikah denganya.


"Kenapa aku harus menikah dengan mu Mas Aldi," ucapnya lirih sambil menangis.


Simbok melihat Aira yang menangis pun, kembali menyapu air matanya dan menutupnya kembali dengan spon bedak.


"Non, non Aira kenapa menangis, maaf Non, simbok bukan bermaksud menakuti non Aira, simbok hanya menasehati non Aira saja," ucap si mbok yang ikut sedih.


Aira masih menangis, "Kenapa Aira ngak bisa memilih jodoh Aira sendiri mbok," ucapnya sambil memeluk si mbok.


" Sabar non, iklasin saja, masalah cinta ngak cinta urusan belakangan, yang penting simbok udah memberi nasehat, toh nantinya cinta itu bisa tumbuh setelah kalian menikah dan menjalani hidup bersama," ungkap simbok sambil memeluk Aira.


"Aira!"


Panggil Aldi,


" kamu sudah siap, mereka sudah tiba Aira?"


"Sudah Mas," sahut Aira, ia pun bangkit dan menghampiri Aldi.

__ADS_1


"Ayo kita sambut mereka, ingat kamu harus tetap menjaga rahasia kita berdua ya." Aldi


"Iya Mas,"


Mereka pun menuruni anak tangga menuju pintu.


Aldi berjalan lebih dahulu untuk membukakan pintu kedua orang tuanya.


krek... pintu terbuka.


Aldi langsung memeluk pria paruh baya yang masih terlihat muda tampan itu.


"Aldi, Papa kangen sama kamu,"ucap Satria dengan haru.


"Aldi juga kangen Pa," balas Aldi, mereka pun melepaskan pelukanya.


"Bunda," sapa Aldi.


"Aldi, sini peluk bunda Nak," ucap Maya merentangkan tangannya.


Aldi pun memeluk Maya.


Setelah melepaskan pelukan mereka pun masuk ke dalam termasuk Heru.


Sebenarnya Maya menyanyangi Aldi seperti ia menyayangi Heru, hanya saja karna hasutan dari Rita, Aldi selalu mengganggap Maya adalah ibu tiri yang jahat.


"Di mana istri Di?" tanya Maya.


Aldi menarik tangan Aira, dan membawanya kehadapan mereka.


"Ini calon istri Aldi,"


Aira menundukan kepalanya, ia takut akan mendapat perlakuan sama seperti Rita.


"Oh, ini calon istri kamu Di, cantik, masih muda lagi," ucap maya sambil mengangat dagu Aira.


"Lihat Heru, Aldi saja sudah punya calon istri, kamu kapan?" tanya Maya.


"Belum Ma, seorang kakak emang harus mengalah sama adeknya, kalau Aldi sudah membina rumah tangga, bearti tugas Heru sudah selesai," jawab Heru.


Mereka pun duduk di kursi.


"Iya Heru, kamu memang kakak yang baik," sahut Satria.


"Jadi Aldi, rencananya kapan kalian akan menikah?" tanya Maya.


"Harusnya secepatnya Ma, karna saat ini Aira sudah menggandung anak Aldi," sahut Heru.


"Kasihan Aira jika terlalu lama, perutnya akan semakin besar." tambah Heru lagi.


Aira menundukan wajahnya, ia begitu malu mendengar penuturan Heru kepada ke dua orang tuanya, ia seperti gadis murahan di hadapan kedua orang tersebut.


Sejenak semua hening, mata mereka ertuju pada Aira.


"Sebenarnya kedatangan Papa di sini hanya untuk mengatur tanggal pernikahan kalian, tapi berhubung kamu sudah curi star duluan Aldi, pernikahan kalian akan di langsungkan dalam beberapa hari lagi, nanti malam, kita atur rencananya, kamu undang Mama kamu dan orang tua Aira," Satria.


"Dan kamu Heru, kamu undang ketua Rt di sini ya, nanti malam kita langsung tetapkan hari pernikahanya."


Hati Aira hancur saat semua orang benar-benar mengganggapnya hamil di luar nikah, ia tak bisa menggangkat kepalanya, Aira hanya bisa pasrah dan menuruti perintah Aldi.


Terima kasih ya reader, author tunggu dukunganya.


Like


komen


vote dan

__ADS_1


hadiahnya,


Tanpa dukungan reader, apalah aku ini.


__ADS_2