
Aldi menghampiri rumah Alia untuk menjemput keduanya, seperti biasanya
Kedatangannya selalu di sambut hangat oleh Alia.
Alia yang sudah rapi mengenakan seragam sekolah, berlari kecil ketika mendengar mobil Aldi yang berhenti di depan rumahnya.
"Ayah!"seru Alia berlari menghambur memeluk Aldi.
"Sayang, ceria sekali pagi ini?"sambut Aldi seraya menggendong Alia.
"Iya Ayah, Alia senang karna kakek ngak marah sama Ayah lagi." paparnya dengan polos.
"Oh ya, Kakek ngak marah lagi sama Ayah?"tanyanya seraya mencium pipi sang putri kecil.
"Iya Ayah, tapi ayah kapan Ayah menikah dengan Bunda, Alia tak sabar untuk tidur di kamar Alia yang baru," celotehnya seraya mengelayut manja di gendongan Aldi.
"Secepatnya sayang," jawab Aldi singkat seraya mencium pipi empuk sang putri kembali.
Aldi menggendong Alia membawanya masuk.
Tak hanya Alia, kehadirannya pagi itu juga sudah di tunggu Pak Tarman.
Aldi masuk seraya mengucapkan salam.
"Assalammualaikum." Aldi.
"Waalaikum sallam," sahut pak Tarman.
Setelah berjabat tangan dengan calon mertuanya, Aldi duduk berhadapan dengan pak Tarman.
" Maaf pak sebelumnya kedatangan saya kemari untuk menyatakan masud saya untuk menikahi Aira Pak, nanti malam saya akan membawa keluarga besar saya untuk melamar Aira secara resmi, tapi sebelum itu saya ingin bertanya kepada bapak, tentang mahar dan apa saja syarat yang harus saya penuhi untuk melamar Aira?, mengingat saya tak ingin menunda-nunda waktu lagi." Aldi.
Pak Tarman tersenyum simpul, "Apa kau sungguh-sunguh ingin menikahi Aira kembali?"tanya pak Tarman seraya menatap mata teduh Aldi.
"Tentu saja pak, jika saya tak bersunguh sunguh, saya tak akan menunggu waktu hingga enam tahun lamanya untuk mencari mereka, saya hanya ingin menyatukan keluarga kami pak," papar Aldi seraya menatap wajah Pak Tarman lekat.
Pak Tarman melihat kesungguhan di mata Aldi.
"Iya Aldi, bapak merestuinya, bapak tak menentukan maharnya, karna bagi bapak Aira dan Alia tak ternilai harganya, semua bapak kembalikan kepada kamu saja, yang terpenting bagi bapak, kamu bisa menjaga dan melindungi Alia dan Aira selamanya,"papar pak Tarman dengan mata yang berkaca-kaca.
"Pasti pak, saya akan jaga mereka dengan baik, karna saya lebih menyayangi mereka dari pada diri saya sendiri," ungkap Aldi tak kalah haru.
"Iya, kalau begitu kau bawa saja keluarga mu untuk melamar Aira."pak Tarman.
Aldi merasa senang, ia menghampiri pak Tarman serata belutut di hadapan orang tua tersebut.
"Terima kasih Pak karna telah merestui hubungan kami, dan maaf atas kesalahan saya yang dulu, jika pernikahan saya sebelumnya terjadi hanya karna saya kalah dalam taruhan, maka kali ini saya menikahi Aira karna saya mencintainya dengan sungguh-sungguh dan niat saya tulus dalam hati ingin membangun rumah tangga yang sakina mawarda warohma untuk selama-lamanya dan bukan untuk setahun atau dua tahun, saya berjanji kali ini hanya mautlah yang akan jadi pemisah antara kami," ucap Aldi seraya menitikan air matanya bersimpuh di hadapan pak Tarman.
Pak Tarman menarik tangan Aldi agar ia berdiri.
"Duduk Aldi." Pak Tarman menepuk kursi di sampingnya.
Tak hanya keduanya, Aira yang berada di dalam kamar ikut haru melihat kesungguhan Aldi yang memohon restu pada Ayahnya.
__ADS_1
"Lalu kapan rencana kalian menikah?"tanya pak Tarman.
"Rencana resepsinya bulan depan pak, karna saudara saya juga akan mengadakan resepsi pernikahan mereka bulan depan."
" pada hari sabtu minggu pertama
bulan depan, kami akan melakukan akad nikahnya pada pagi hari, dan sorenya langsung di lanjutkan dengan resepsi." Aldi.
Sementara resepsi pernikahan saudara saya jatuh pada hari minggu kw esokan harinya, terang Aldi.
Pak Tarman menyerit kan dahinya seraya memijit pelipis.
"Bulan depan?.apa tak terlalu singkat untuk mengelar resepsi pernikahan?"tanya pak Tarman meragu.
Aldi menyunggingkan senyumnya, "Ngak Pak, saya sudah merencanakan ini jauh-jauh hari sebelumnya, sebelum kehamilan Aira saya sudah memesan gaun pengantin untuk Aira, souvenir dan perlengkapan pesta lainnya, karna saat itu saya memang ingin meresmikan pernikahan kami dan membuat pesta pernikahan impian Aira."
Semua sudah saya siapkan secara diam-diam untuk memberi kejutan pada Aira, namun sayang sebuah tragedi harus memisahkan kami kembali, dan semuanya tetap saya simpan dengan rapi, karna saya yakin suatu saat nanti, kami pasti bisa melangsungkan resepsi kamu yang tertunda," papar Aldi dengan bola mata yang memerah.
Pak Tarman tersenyum, ia begitu mengagumi kesungguhan Aldi yang begitu mencintai putrinya.
"Baiklah Aldi, jika memang kami sanggup mempersiapkan pernikahan kalian selama sebulan, Bapak tak keberatan sama sekali."
"Terima kasih pak, "ucap Aldi.
Aira merasa bahagia mendengar pembicaraan tersebut.
"Ya Tuhan terima kasih karna telah mempermudah urusan kami, semoga dengan di awali niat baik dan restu dari kedua orang tua, pernikahan kami akan langgeng untuk selamanya, Amin." Ucap Aira seraya menadahkan tangan mengusap wajahnya.
Setelah berpamitan dengan pak Tarman, Aldi dan Aira mengantar Alia sekolah.
Di dalam mobil.
"Sayang setelah mengantar Alia sekolah, kita berziarah ke makam mama."
ajak Aldi.
"Iya mas, Aira juga ingin berziarah ke makam mama mas, tapi apa tidak sebaiknya kita bawa Alia saja, Alia hatus tahu di mana makam Omanya," usul Aira.
"Hm benar juga sayang, siapa tahu doa Alia untuk mama di kabulkan oleh Allah."
Aira tersenyum seraya mengangguk.
"Setelah itu kita langsung cetak undangan."
"Cetak undangan?!"tanya Aira kaget.
"Tapi mas kita belum menentukan tanggal
pernikahan kita."Aira.
"Sudah sayang, Bapak kamu sudah setuju jika kita menikah bulan depan, di minggu pertama." Aldi.
Aira tersenyum, "Ngebet banget sih," cetusnya seraya menyunggingkan senyum tipisnya.
__ADS_1
"Habisnya sudah ngak tahan sayang, sibuyung ngak sabar pingin di jepit-jepit lagi," serolohnya.
Aira tertawa kecil," Jepitikan saja ke pintu Mas," sahut Aira dengan tawa kecilnya.
Alia menyimak obrolan kedua orang tuanya, "Bunda si buyung itu apa sih?"tanya nya polos.
Aira dan Aldi saling melirik, mereka binggung harus menjelaskan pada Alia.
"Ngak usah di bahas sayang, Ayah asal bicara saja."Aira.
***
Setelah pulang sekolah, Aldi membawa Aira dan Alia berziarah ke makam Rita.
Setelah membeli taburan daun pandan dan melati, Aldi menggendong putrinya menuju makam sang ibunda, dengan menggunakan kaca mata hitamnya, wajah Aldi semakin tampan, apalagi rona bahagia selalu terpancar dari wajahnya.
Aira mengembangkan payung hitam untuk melindungi mereka dari teriknya matahari, dengan menggandeng mesra tangan Aldi, mereka melewati beberapa makam hingga tibalah ia di pusara sang ibunda.
Aldi berjongkok seraya menurunkan putrinya dari gendongannya, begitu pun Aira yang berjongkok seraya memayungkan Aldi dan Aira.
Aldi mengeluarkan sebuah buku yang mengandung surat Yasin.
Ketiganya berdoa dengan khusuk, titik demi titik air mata Aldi jatuh menetes perlahan, mengenang kepergian sang bunda.
"Amin!" ucap mereka serempak ketika selesai berdoa.
Aldi menyentuh batu nisan sang bunda.
"Ma, maaf Aldi baru sempat ziarah ke makam mama, namun Aldi tak pernah lupa mendoakan mama setiap kali Aldi bersujud menghadap Tuhan."Aldi.
"Ma, Aldi berniat akan membangun rumah tangga Aldi kembali, meski mama dengar atau tidak, Aldi hanya ingin mama merestui dan mendoakan Aldi dari tempat peristirahatan mama saat ini."
"Doa kan Aldi, semoga Aldi bisa menjadi suami dan ayah yang baik untuk keluarga Aldi, Maafkan Aldi karna selama mama hidup Aldi belum sempat berbakti pada Mama, tapi mama ngak usah khawatir, segala yang mama usahakan di dunia tidak lah sia-sia Ma, sebagian harta mama sudah Aldi wakafkan atas nama Mama, agar menjadi amal jariah Mama di sana, tiada kata seindah doa Ma, semoga mama tenang di sana dan Aldi juga bisa merasakan kebahagian Aldi kembali, dengan bersatunya keluarga kami Ma." Aldi terus menitikan air matanya.
"Aldi tetap sayang sama Mama, meski mama sudah tiada, terima kasih atas apa yang sudah mama berikan kepada Aldi, kasih sayang yang begitu tulus, hingga akhir hayat Mama, mama ingin selalu bersama Aldi, "paparnya lagi.
Aira meremas pelan pundak Aldi, memintanya agar tak berlebihan menangis di atas kuburan.
Aldi menggangguk kemudian berdiri, "Sayang, ayo tabur kembangnya ke makam Oma, "ucap Aldi pada Alia seraya menyerahkan keranjang yang berisi potongan daun pandan dan kelopak bunga bunga.
Alia dan Aira menabur bunga tersebut, tepat di atas pusara Rita.
Setelah selesai menabur bunga, Aldi menghampiri Alia.
"Sayang, Alia harus jadi anak yang sholeha ya, agar bisa mendoakan Ayah, Bunda, Oma dan Opa, karna hanya doa anak sholeha yang terima oleh Tuhan," ucap Aldi.
"Iya Ayah, Alia akan menjadi anak yang soleha, biar doa Alia di terima oleh Allah," sahutnya.
Aldi memeluk putrinya haru, "Terima kasih sayang," ucapnya seraya memcium pipi sang putri.
Bersambung guys, author ada pantun nih.
Sayur lodeh, daun singkong,
__ADS_1
bagi votenya dong,