Kenapa Harus Menikah Dengan Mu

Kenapa Harus Menikah Dengan Mu
Di penjara


__ADS_3

Aira dan Aldi membereskan pakaian mereka, karna kondisi Aira mulai membaik, ia pun berniat membawa Aira pulang ke rumah mereka.


Setelah melakukan Administrasinya Aldi pun mendorong kopernya menuju pintu keluar.


Di depan pintu langkah mereka tercekal oleh dua orang pria yang berseragam polisi.


"Selamat siang Pak," ucapnya lelaki tersebut dengan tegas.


"Selamat siang juga pak," jawab Aldi dengan gugup, begitupun Aira yang ketakutan saat tatapan kedua polisi tersebut mengarah ke padanya.


"Kami akan meminta keterangan dari nona Aira sebagai tersangka, dan kami harap Anda dan Nona Aira bisa ikut kami ke kantor polisi sekarang," ucap Polisi tersebut dengan tegas.


Aira melirik kearah Aldi," Mas, Aira takut mas," ucap Aira gugup, ia pun mengait lengan Aldi dengan lenganya.


Aira merasa gelisah, seketika tubuhnya menjadi dingin, rasa takut kini secara perlahan menjalar keseluruh bagian saraf-sarafnya.


Aldi melirik ke arah Aira, " Ngak usah takut sayang, mas Aldi ada bersama kamu," ucap Aldi dengan menggenggam erat tangan Aira mereka pun menuju mobil polisi.


Di kantor polisi, Ratna, Edo dan pengacaranya sedang memberi keterangan di kantor polisi.


"Saya tidak terima suami saya di bunuh, hukum saja pembunuh itu dengan hukuman yang berat, " cecarnya di depan penyidik.


"Tenang bu, ini masih dalam proses penyidikan, apalagi tersangka anak di bawah umur." sangah polisi.


"Cuih, di bawah umur apanya, dia yang merayu suami saya, ayahnya saja sering datang minjam duit dengan suami saya, suami saya kasihan saja sama mereka," sarkas nya dengan suara yang lantang.


"Ini tidak adil Pak, kenapa tersangka tidak di penjara saat penyelidikan berlangsung, dengan tersangka berkeliaran, tersangka bisa bebas menghilang kan barang bukti, dasar tak berguna semua kalian," ucapnya lantang, dengan menepak meja.


"Sabar bu, jika ibu bersikaf seperti itu kami bisa memperkara kan ibu, dengan pasal perbuatan tidak menyenangkan dan pencemaran nama baik lembaga kami," gertak si polisi yang tersulut emosi.


Ratna pun diam sejenak.


Aira dan Aldi sampai di ruang penyidik, saat itu Aira sedang down, tubuhnya kembali panas dengan keringat dingin yang mengucur seluruh tubuhnya.


Melihat kedatangan Aldi dan Aira, emosi Ratna yang sempat terredam, kini kembali berada di ubun-ubunnya.


"Oh jadi ini perempuan sun*dal yang telah menggoda suami ku," sarkas Ratna, matanya membesar membulat sempurna.

__ADS_1


Aldi sudah siap pasang badan untuk menjadi tameng bagi istrinya.


Ratna melangkah dengan geram seperti banteng marah, ia pun berusaha menjambak rambut Aira.


Tapi kemudian tangannya di tepis oleh Aldi," Sekali saja anda menyakiti istri saya, maka saya akan buat anda sengsara seumur hidup," ucap Aldi.


Mata Aldi tajam tersorot kearah perempuan yang berbaju merah tersebut.


Edo juga mengantisipasi, serangan Aldi, Aira semakin ketakutan saat melihat Edo.


Edo memicing kan matanya ketika melihat Aira, "Rianty jadi kamu yang membunuh bapak ku?"Tanya Edo, tatap matanya tajam kearah Aira.


Aira hanya diam, wajahnya semakin tertunduk.


Aldi heran kenapa Edo mengenal Aira.


Rianty adalah panggilan Aira di sekolah, dulu Aira sering diantar dan di jemput oleh Edo saat masih bersekolah.


Meski tak ada komitmen apapun diantara mereka, tapi Edo pernah berniat melamar Aira setelah ia selesai kuliah.


Edo sendiri tak menyangka jika gadis impianya lah yang telah membunuh ayah kandung nya.


"Kenapa kau tega lakukan itu Rianty? bukan kah ayah ku selalu bersikaf baik terhadap mu?" Tanya Edo dengan tatap mata tajam.


Aira menghindari tatapan mata Edo, dengan bersembunyi di balik tubuh Aldi, tanganya menggenggam erat tangan Aldi.


Edo menurun kan pandanganya, rasa kecewa menghampirinya, Edo berfikir sejenak, apa yang di lakukan ayahnya sampai Aira berani melakukan hal nekad tersebut.


Pihak penyidik menyediakan kursi, Aira di bawa masuk kesuatu ruangan dan hanya ia sendiri berada di ruangan tersebut.


Aldi mondar-mandir di depan ruangan pemeriksaan Aira, setelah berjam jam Aira pun keluar, keringat dingin mengucur di sekujur tubuhnya.


Aira tertunduk lesu, "Ayo nona Aira, anda kami aman kan di sel tahanan sampai menunggu keputusan hakim." polisi


Aira kaget, begitupun Aldi," Tapi kenapa istri saya harus di tahan, tak bisakah penahanan nya di tangguhkan?" tanya Aldi panik, Aldi semakin panik saat melihat Aira terlihat gusar.


"Istri anda resmi menjadi tersangka Pak," papar Polisi tersebut, mereka pun membawa Aira menuju bui.

__ADS_1


"Tapi pak, saya tidak terima jika istri saya di bui pak," cegah Aldi, ia pun menarik tangan Aira.


"Maaf pak, ini sudah prosedur dan kami hanya menjalani tugas,"papar Polisi tersebut.


Aira menangis hingga segegekuan," Mas Aldi Aira ngak mau di penjara, Aira takut," ucapnya dengan bibir membiru dan gemetar.


"Tenang sayang, Mas Aldi akan upayakan jaminan untuk kamu," ucap Aldi.


Polisi langsung membawa Aira menuju bui, sebelum keputusan pengadilan, Aira akan di titipkan di bui polsek setempat.


"Pak istri saya jangan di bawa pak, saya akan menjaminnya," cegah Aldi, ia menahan langkah kedua polisi.


Rita tersenyum puas melihat Aira di bawa ke penjara, sementara Edo, menjadi ragu, ia sendiri mengenal Aira dengan baik, menurutnya Aira adalah gadis yang lugu.


"Itu bukan wewenang kami pak, bapak bisa tanyakan langsung kepada bapak kapolsek yang turun langsung menangani kasus ini," papar salah satu polisi, mereka pun menarik tangan Aira agar mengikuti kedua polisi tersebut.


"Tapi pak, saya mohon pak, istri saja baru saja pulih pak, tolong istri saya jangan di tahan, saya akan berikan uang jaminan berapa pun, asal istri saya di bebaskan." Aldi mememohon kepada polisi tersebut, sementara Aira terlihat tabah.


"Sudahlah mas Aldi, Aira juga sudah siap untuk mempertanggung jawabkan perbuatan Aira," ucap Aira sambil menangis pasrah.


Aira pun mengikuti kemana polisi tersebut membawanya, hingga tibalah ia di sebuah ruangan yang terbuat dari sekat jeruji besi, hati Aldi hancur saat melihat Aira di bawa masuk kedalam ruangan yang pengap tersebut bersama beberapa narapidana wanita yang lainya.


Setelah memasukan Aira, kedua polisi tersebut pun keluar dari bilik yang terbuat dari jeruji-jeruji besi.


Aira berdiri di depan pintu keluar penjara, kedua tangganya menggenggam erat pilar yang terbuat dari besi tersebut.


Aldi mendekati Aira, "Aira kamu tenang saja ,mas Aldi akan usahakan agar kamu secepatnya keluar dari sini,"ucap Aldi.


"Iya mas," ucap Aira sambil menghapus jejak Air matanya.


Aldi binggung, ia pun menelpon pengacaranya, menelpon Heru dan lainya, saat panik Aldi memang tak bisa berpikir jernih, apalagi ia melihat Aira yang terlihat sedih dan ketakutan, Aira tak beranjak dari tempatnya berdiri, tanganya dingin menggenggam erat tangan Aldi.


Aldi sendiri binggung, rasanya ia tak tega meninggalkan Aira sendiri di tempat itu


Bersambung dulu ya guys.


Semoga kamu tetap semangat mendukung author, sampai tamat.

__ADS_1


Di tunggu like, komen dan vote,nya ya,


__ADS_2