Kenapa Harus Menikah Dengan Mu

Kenapa Harus Menikah Dengan Mu
Pagi yang cerah


__ADS_3

Matahari baru saja muncul di ufuk timur, suasan pagi yang terasa dingin, dimana embun pagi perlahan menetes pada dedaunan hijau, yang membuat sekelilingnya terasa begitu sejuk.


Tetapi tidak untuk kedua insan yang sedang bergelut di bawah selimut tebal, Aldi dan Aira memainkan peranyanya masing-masing, adegan demi adegan mesra mereka lakukan tanpa skenario, hanya mengikuti naluri dan hasrat yang begitu menggebu.


Tubuh Aira tergunjang saat Aldi melakukan gerakan-gerakan yang menghentak-hentak, membuat keduanya seperti terbang ke atas nirwana, merasakan surga dunia yang sudah hampir setiap hari mereka rasakan.


Gerakan Aldi semakin cepat ketika mendekati klimaxnya dan dengan sekali hentakan saja, tubuhnya tumbang di atas tubuh Aira.


Senyum manis selalu terbit di bibir Aldi, merasakan kepuasanya, ia pun mencium kening sang istri sebagai ungapan kasih sayang yang tulus.


Aira membalas senyum manis dari Aldi, meski tanganya masih gemetar karna pertempuran sengit mereka yang menghabiskan banyak tenaga, Aira menyentuh lembut wajah Aldi dan menyapu keringat pada wajahnya, meski ia pernah merasakan kekecewaan itu terhadap Aldi, nyatanya selama mereka menikah, Aldi selalu bersikap baik, lembut, bahkan Aldi terkesan lebih mengalah dalam hal apa pun terhadapnya.


Tubuh Aldi tumbang di sisi Aira, ia mencoba mengatur nafasnya yang terengah-engah, setelah nafasnya kembali normal, ia pun kembali memeluk tubuh bugil sang istri.


Entah mengapa sejak menikah, Aldi tak pernah sekali pun berniat untuk menduakan Aira, padahal dulunya ia adalah seorang Aldi yang tak bisa hidup hanya dengan satu cinta, Aldi haus akan cinta, di mana orang-orang yang ia sayang, pergi meninggalkanya, di saat ia masih membutuh kan bimbingan dan perhatian dari kedua orang tuanya, tapi kemudian, dahaganya akan cinta tak pernah ia rasakan kembali, sejak kehadiran Aira dalam hidupnya, setiap harinya akan ada telaga cinta dari Aira, yang selalu memenuhi hasratnya, dan mejadi tempat ia berbagi dan mencurahkan kasih sayangnya.


Tingkah Aira yang semakin hari semakin manja, justru membuat Aldi semakin menyanyanginya, semakin mengerti tentangnya, dan semakin berusaha untuk membahagiakanya,baginya Aira adalah teman, saudara, kekasih dan istri yang begitu ia sayangi.


Setiap harinya, saat pergi bekerja ia selalu ingin cepat pulang menemui istrinya, mungkin saja, itu karna mereka masih merasakan suasana pengantin baru, semuanya masih terasa hangat, tapi bisa jadi itu adalah sebuah cinta yang tulus, yang tak pernah Aldi berikan pada siapa pun.


Aldi kembali merangkul Aira dalam dekapanya, seraya menciumi leher sang istri, di sana ia bisa merasakan aroma khas dari tubuh istrinya, yang membuatnya kecanduan, meski saat itu tubuh Aira berkeringat.


"Mas Aldi jahat, Aira jadinya harus mandi dua kali pagi ini," ucapnya dengan manja, sambil meraba wajah tampan suaminya.


"Siapa suruh bangunin macan tidur, kan sibuyung ikutan bagun," kelakarnya.


"Lihat saja nanti si buyung Aira potong, di kuliti, direbus, di kasih ragi, biar jadi tapai sibuyungnya," ucapnya dengan bibir yang manyun.


"Emangya singkong apa," sahut Aldi yang tertawa terekeh mendengar ucapan spontan dari Aira.


"Aira ngak sayang apa sama sibuyung? kalau ngak sayang nanti mas Aldi kasih ke orang cewek lain aja."


"Coba aja kalau berani? Aira suntik kebiri nanti, biar ngak idup-idup lagi." sahut Aira sambil tersenyum kearah Aldi.


Aldi tertawa terkekeh mendengar ucapan Aira, yang bernada galak, tapi tak menakutinya sama sekali.


"Eh Aira, nanti malam kita jalan yuk, mas Aldi akan bawa Aira ke mall, udah lama mas Aldi gak jalan-jalan, sibuk terus dengan kerjaan, tapi ngak apalah, sekarang kan mas Aldi sudah punya istri, sudah seharusnya bertanggup jawab, sekarang tinggal Aira yang belum memberi mas Aldi anak, kita program hamil ya, sayang ya," bujuk Aldi.


"Nanti dulu ya mas, setahun lagi lah, Aira belum siap secara mental dan fisik, hamil itu kan ngak gampang mas, nanti kalau Aira mati saat melahirkan bagaimana?"


Mendengar kata kata dari Aira membuat Aldi berfikir sejenak, memang benar yang di katakan Aira, ia tak bisa memaksa Aira untuk hamil, jika Aira sendiri belum siap, biar saja ia mencari alasan yang lain agar sang mama tak memaksanya untuk menceraikan Aira.


"Mas kenapa melamun ?" tanya Aira yang melihat Aldi terdiam beberapa saat.


Lamunan Aldi seketika buyar saat telapak tangan Aira menyentuh wajahnya, diraihnya telapak tanggan yang imut itu kemudian di ciumnya dengan lekat," Kita mandi yuk sayang, setelah itu Aira temani mas Aldi sarapan," ucapnya sambil menyibak rambut panjang istrinya.


Aira pun mengganguk, Aldi bangkit dan berdiri meraih handuk untuk Aira, sementara ia sendiri, masuk kamar mandi dalam kaeadaan bugil.


Sebelum menuju kamar mandi, Aira berhenti di depan cermin di meja riasnya, Ia melihat belas kecupan Aldi yang membuat tanda pada bagian dada dan lehernya, belum pudar tanda yang satu, Aldi kembali meninggalkan jejak yang lainya.


Aira pun melirik kearah kalender yang ada di dinding, di samping meja riasnya.


"Sekarang sudah tanggal dua lima ternyata," gumanya.


"Tapi kok aku belum datang bulan juga, padahal biasanya kan sebelum tanggal dua puluh, sudah datang, kalau belum datang juga, kapan aku istirahnya," guman Aira lirih, ia pun langsung menyusul Aldi ke kamar mandi.


Cukup lama mereka menghabiskan waktu di kamar mandi, sambil bercanda-canda di dalam bathub yang terisi air hangat, setelah cukup lama berendam mereka pun mengguyur tubuh mereka kembali dengan air dingin.


Aira menyiap kan pakaian Aldi, ia juga membantu Aldi mengenakan dasi dan jasnya, setelah menjalani rumah tangga selama hampir dua bulan, Aira pun mulai mengerti tugas nya sebagai seorang istri.


"Mas jangan lupa ya nanti malam katanya mau ngajak Aira jalan-jalan, Aira tunggu loh," ucap Aira sambil merapikan dasi Aldi.


"Iya, sayang, mas Aldi ngak akan lupa lah," ucap Aldi sambil mencubit pipi Aira.


"Aldi!, Aldi!" panggilan itu menggema di luar kamar Aldi.


"Mama, kenapa pagi-pagi mama sudah ada di sini?" tanyanya panik.


Aira mengangkat bahu, ia sendiri tak suka dengan kehadiran mertuanya.

__ADS_1


"Aira kamu jangan keluar ya, mas Aldi ngak mau jika mama menyakiti kamu dengan lidahnya, kamu di sini saja ya sayang, biar mas Aldi yang menemui mama," ucap Aldi sambil mencium kening Aira.


Aldi langsung keluar dari kamar dan merapatkan kembali pintu kamarnya.


Aldi buru-buru menghampiri Rita yang sedang mengobrol bersama Heru.


Mereka duduk bertiga di meja makan, entah apa yang di perbincangkan mereka berdua sebelumnya, Aldi hanya melihat, Heru yang mengkerutkan keningnya saat berbicara pada mamanya.


Karna penasaran Aldi pun bertanya apa yang mereka obrol kan.


"Lagi ngomongin apa sih?" tanya Aldi iseng.


"Lagi ngomongin perjodohan antara kakakmu Heru dan Tari," ucap Rita dengan tegas.


Mendengar penuturan mamanya, Aldi yang tengah menyerup susu hangat menjadi tersedak.


Ehk, ehk,


"Apa Ma, menjodohkan Mas Heru dengan Tari?" tanya nya dengan mata melotot.


"Iya kenapa?" sahut Rita tak kalah melotot.


"Tapi kan Tari?"


"Tapi kenapa? apa yang salah, apa karna Tari itu mantan pacar kamu? jadi Heru ngak boleh menikahinya?" Tanya nya dengan suara yang semakin kencang.


"Tapi asal usul Tari itu masih ngak jelas ma, Tari itu kan anak angkat?" trus golongan darah o negatif itu kan langkah, Aldi, Heru dan papa, kami semua bergolongan darah O negatif, jadi Aldi pikir siapa tahu aja, Tari itu anak dari hasil hubungan gelap papa sama wanita lain," ucap Aldi tegas.


Heru yang awalnya terlihat santai, kini mengalihkan perhatianya pada Aldi.


"Kok, berani ngomong seperti itu sih Di?" tanya Heru.


"Eh Mas, papa itu kan waktu mudanya playboy, siapa tahu juga Tari itu anak papa dengan istrinya yang lain, bisa jadi kan?"


Rita melotot kearah Aldi, ia semakin geram dengan kata-kata Aldi.


"Iya tuh, eh setahu mama, papa kamu itu cuma punya dua istri, dua istri saja ia ngak


bisa bersikaf adil, apalagi jika punya istri lagi," ucap Rita dengan mencibir.


"Mulai deh mengunggkiti masa lalu," cetus Aldi.


"Bukanya kamu sendiri yang mulai, lagi pula mama ngak ada urusan sama kamu, urusan nya setelah Si Aira itu melahirkan," semprot Rita kepada Aldi.


"Heru, kamu mau kan bunda jodohin sama anak dari saudara angkat bunda?" tanya nya dengan nada membujuk.


"Tapi Bun, Heru sudah punya pacar, dan Miranda sedang menyelesaikan pendidikanya di luar negri," tolak Heru halus.


"Jadi kamu ngak suka dengan pilihan bunda?" ucap Rita dengan nada kecewa.


Heru merasa tak nyaman, mendengar kata-kata Rita, sebenarnya ia dan kekasihnya sudah hilang kontak sejak setahun yang lalu.


"Iya deh, nanti Heru pikirkan kembali," ucap Heru, ia pun menghabiskan sarapanya.


Aldi semakin heran melihat keanehan pada Rita, Kenapa tiba-tiba mama terkesan memaksa Heru untuk menikahi Tari sih, aneh banget, guman Aldi pelan.


Setelah sarapan Aldi dan Heru berangkat bersama, sementara Rita juga pergi dari rumah tersebut.


Dikamarnya, Aira sedang membereskan tempat tibur, tiba-tiba ia merasa seperti ada sesuatu yang mengaduk-aduk perutnya, seketika ia berlari ke kamar mandi dan memuntah kan isi perutnya hingga tubuhnya terasa lemas.


"Duh, kenapa tiba-tiba kepala ku terasa pusing?"ucapnya sambil menyentuh keningnya.


Aira berjalan longkai menuju tempat tidur, seketika tubuhnya merasa meriang, ia pun tertidur kembali.


Karna melihat Aira yang tak kunjung turun untuk sarapan, Mbok Jum pun merasa khawatir, ia berinsiatif untuk membawa sarapan ke kamar Aira.


Tubuh tua Mbok Jum tetap telaten menapaki setiap anak tangga, melihat Mbok Jum yang sering mengeluhkan sakit pada bagian tungkai kaki nya, Aira sudah melarang Mbok Jum untuk turun naik tangga, tapi karna merasa ia punya tanggung jawab untuk menjaga Aira, Mbok Jum pun terpaksa melangkah kan kakinya.


Mbok Jum membuka pintu kamar Aira yang tak terkunci, ia melihat Aira yang sedang terpulas tidur.

__ADS_1


"Non, bangun Non, kok ngak sarapan?" tanya Mbok Jum sambil mengoyang-goyangkan tubuh Aira.


Bi jum meraba kening Aira yang terasa hangat," Non, non Aira sakit ya?" tanya nya sambil mengusap kening sampai pucuk kepala Aira.


Aira perlahan membuka matanya," Ngak kok mbok, Aira masuk angin bisa aja," sahutnya lirih.


"Iya sarapan dulu Non, nanti si mbok pijitin," ucap Mbok sambil menyodorkan semangkuk bubur ayam, dan segelas susu coklat untuk ibu hamil yang sudah di stok oleh Heru untuk Aira.


"Ngak ah Mbok, Aira udah sarapan daging mentah milik mas Aldi," sahutnya sambil bercanda.


"Alah non, yang sarapan daging mentah itu kan mulut bawah, mulut ataskan belum di isi, wajar aja Non meriang, ngak belends jadinya," kelakar si mbok.


"Tetap saja ngak ***** mbok, Aira pingin muntah, apalagi minum susu yang di stok sama mas Heru, kapan habis nya tuh susu mbok, udah neg Aira minumnya."


"Ya sudah, mbok kerok dulu ya?" ucap mbok sambil mengambil uang koin dan minya telon.


Aira membuka baju kaosnya dan menutupi tubuhnya dengan handuk.


"Wah, udah di kerok mas Aldi duluan Non," canda simbok melihat tato merah kebiruan yang ada di sektar leher dan dada Aira.


"Mas Aldi ganas juga ya Non?" tanya Mbok sambil mengerok punggung Aira.


"Iya mbok, meski ngak kerja apa pun, kalau udah di begituin setiap hari, rasanya capek juga mbok, Mas Aldi kayak ngak ada bosan-bosanya," gerutu Aira.


"Hus ngak usah gitu Non, justru bahaya jika mas Aldi bosan melakukanya pada Non Aira, Non Aira mau, jika mas Aldi melampiaskanya kepada perempuan lain,?"


"Ngak mau lah mbok, mana ada perempuan yang mau di madu, termasuk Aira," sahut Aira.


"Makanya layani saja suaminya dengan baik, ngak usah mengeluh, melayani suami itu banyak pahalanya non."


"Iya mbok kadang ngak mood aja," keluh Aira.


"Si mbok tahu non, biar Non Aira bisa bergairah," sahut simbok.


"Ngak usah kasi Aira suplement itu lagi ya mbok, tiga hari Aira merasakan keter-keter sendiri, badan capek, tapi ***** jalan terus,"sungutnya.


Simbok tertawa terkekeh melihat kepolosan Aira, Aira memang tak mengerti masalah rumah tangga, hanya pada simbok ia dengan bebas mencurahkan keluh kesahnya.


"Non, kalau mau tetap bergairah dalam melayani suami, nontonya ngak usah, tom and Jerry, spongebob, atau upin-ipin."


"Jadi nonton apaan mbok?" tanya Aira.


"Nanti si mbok kirim linknya ya Non, tapi ngak usah nonton sendiri, tunggu mas Aldi pulang, " ucap si mbok sambil tertawa geli.


"Mbok simbok ngak ngerjain Aira lagikan?"


"Ngak non, si mbok juga udah coba, dan hasilnya memuaskan," papar si mbok.


"Si mbok sendiri udah coba?" tanya Aira kurang yakin.


"Kan si mbok udah tua, ngapain juga nonton yang begituan?"


"Eh, non Si mbok mah, rangka aja yang tua, jiwa mah masih tetap muda," sahut si mbok.


"Ah simbok bisa saja," ucap Aira.


Aira merasa hendak muntah kembali, ia pun berlari kekamar mandi, dan kembali memuntahkan isi perutnya.


Simbok buru-buru menghampiri Aira, mbok merasa ada yang aneh pada nonanya tersebut.


Bersambung dulu ya guys, selalu di nanti like dan komenya, vote dan hadiahnya, pastikan tetap setia dengan novel ini ya, karna akan ada kejutan berikutnya.


Nah kali ini Author punya info tentang Referensi novel yg bagus untuk kalian, jangan di skip ntar nyesal.



oh.


__ADS_1


__ADS_2