
Minggu pagi ini Ghael berencana mengajak Alia untuk jalan ke mall. Dari rumah Omanya oa bermaksud untuk menjemput Alia.
Ghael memang tak punya teman sebayanya selain Alia, sedangkan Alita sejak merasa dirinya akan di jodohkan oleh orang tuanya Ghael merasa kikuk jika berdekatan denga Alita.
Ghael sendiri merasa binggung untuk menolak, pasalnya ia pun menyadari rasa ketertarikannya pada Alia, namun juga tak ingin mengecewakan orang tuanya dan juga orang tua Alita yang telah menjodohkan mereka.
Ghael masuk ke dalam mobilnya.
"Alia mau ngak ya, kalau gue ajak jalan, atau jangan-jangan dia malah ngajak Lita lagi."
Huh
Ghael menghempaskan nafasnya dengan berat.
Setelah mengindupkan mesin mobil, Ghael langsung meluncur menemui Alia.
Saat itu ia menggunakan pakaian santai celana pendek selutut dan kaos banded.
Dengan sneakers membuat tampilannya semakin sporty dan trendy.
Ghael menatap jalanan sambil fokus menyetir.
"Bagaimana caranya ya agar Alia tahu perasan ku terhadapnya? Apa aku langsung nyatakan saja perasaan ku terhadapnya? Tapi bagaimana jika ia justru menolak dan menjauhi ku? Apalagi Alia seperti menyukai Bagas ck."
Ghael benar-benar dalam dilema, jika ia memilih mengikuti perasaannya dan mengutarakan niatnya, maka akan banyak orang kecewa terhadapnya, apa lagi ini menyangkut hubungan persahabatan yang terjalin selama puluhan tahun antara ketiganya, Aldi Romeo dan Doni.
Ia tak karna dirinya terjadi perpecahan antara tiga serangkai tersebut.
Namun jika ia mengikuti perjodohannya yang di lakukan oleh kedua orang tuanya, maka yang menderita bukan hanya dirinya tapi juga Alita.
"Aku makin binggung," ucap Ghael sambil mengusap tengkuknya.
Ghael pun tiba di rumah Alia, saat itu rumah terlihat sepi, ia pun masuk seraya menanyakan ke asisten rumah tangganya kemana penghuni rumah mewah itu.
Ghael menghampiri mbok Yun yang sedang ngobrol dengan asisten rumah tangga lainya.
"Mbok kemana perginya penghuni rumah. kok terasa sepi?"tanya Ghael.
"Oh tuan Aldi setiap dua minggu sekali memang mengontrol pabriknya yang di luar kota."
"Nyonya lagi dinas, ntar sore juga pulang dan den Arsyad memang ngak pernah ada di rumah kecuali malam."
"Ehm kalau Alia?" tanya Ghael karna mbok Yum yang tak menjelaskan kemana Alia pergi.
"Ehm Non Alia katanya ada lembur di kantornya," sahut mbok Yun.
"Lembur? Hari minggu? Ngak salah?"tanya Ghael bertubi-tubi.
"Ya non Alia sendiri yang bilang begitu, simbok mana tahu."
Ghael merasa curiga,
"Tadi Alia di antar sama siapa Mbok?"tanya Ghael penasaran.
__ADS_1
"Sama pak Adi Den, tapi pak Adi-nya langsung pulang ke kampung halamannya." mbok Yun.
"Ya sudahlah Mbok, saya jemput Alia langsung."
"Iya Den.,"
Ghael pun langsung menuju mobilnya dan menyusul Alia ke kantor.
Beberapa menit perjalanan ia pun sampai di kantor Alia.
Ia langsung turun dari mobilnya untuk menemui Alia.
Karna pintu kantor tersebut terbuka, Ghael masuk setelah mengucapkan salam.
"Permisi!"
Seseorang keluar dari sebuah ruangan dan menghampirinya.
" Ada yang bisa di bantu Bang?"tanya seorang pria yang kira-kira seumuran dengan Ghael.
"Saya mencari Alia, katanya ada pekerjaan lembur?"tanya Ghael.
"Oh Alia, hm tadi Alia memang datang kesini Bang, kemudian ia pergi bersama seorang laki-laki dengan menggunakan motor ninja berwarna merah,"papar laki-laki tersebut.
Ghael kaget sekaligus khawatir, karna ia sendiri tahu siapa yang di maksud lelaki tersebut.
Apa Alia pergi bersama Bagas? gawat! bagaimana jika Bagas berniat dan berbuat jahat terhadapnya, aku harus cari Alia.
"Hm, kalau gitu terima kasih ya Bang, saya permisi," ucap Ghael seraya undur diri.
Ghael mengepal erat tangannya.
"Alia sudah berani berbohong rupanya.
Lihat saja jika bertemu dengan Bagas akan ku hajar dia habis-habisan."
Ghael merogoh saku celananya untuk mencari keberadaan handphonenya.
Setelah menemukan kontak Alia ia pun coba menghubungi Alia.
Bebetapa kali mencoba namun panggilan tersebut selalu berada di luar jangkauan.
"Brengsek! Dimana Bagas membawa Alia?"
Ghael mendengus kesal.
***
Bagas dan Alia sedang menuju jalan luar kota.
Keduanya begitu menikmati perjalanan tersebut.
Bagas mengendarai motornya dengan kecepatan sedang, sebelah tangan menggenggam erat tangan Alia.
__ADS_1
"Alia kamu gimana? kalau kamu merasa pegal naik motor, kita istirahat dulu?"tanya Bagas karna khawatir.
"Ngak kok Gag, aku justru senang, ini pertama kalinya aku naik motor, terakhir aku naik motor sama abang ku lima tahun yang lalu," ucap Alia.
"Syukurlah, kalau gitu kamu pegangan yang erat ya karna sebentar lagi kita memasuki jalan menuju luar kota, aku naikan kecepatannya ya?"
"Iya Gas!"teriak Alia seraya memeluk Bagas dari belakang.
Bagas menambah laju kecepatannya, saat itu Alia merasakan sensasi seperti naik motor balap sungguhan.
Hatinya berbunga-bunga saat memeluk Bagas dari belakang.
Sesekali ia sandarkan kepalanya pada punggung Bagas.
Begitupun Bagas, baru pertama kali ia merasakan jatuh cinta dan cintanya tersebut langsung di sambut oleh sang pujaan hati.
Bagas benar-benar bahagia ketika Alia berada di sisinya.
*Oh Tuhan inikah yang dinamakan cinta,.sungguh anugrah luar biasa karna aku bisa merasakannya.* batin Bagas
**Oh Tuhan, kenapa saat berada di dekat Bagas aku merasa nyaman hati ku serasa damai di sampingnya** Batin Alia
Bagas menurunkan kecepatan motornya, ia menarik tangan Alia kemudian mengecup punggung tangannya.
Sungguh sebuah perasaan yang tak bisa di ungkapkan dengan kata-kata.
"Aku mencintai mu Alia," ucap Bagas seraya mencium kembali punggung tangan Alia.
Alia tersenyum, hatinya seperti di taburi bunga-bunga indah satu taman.
"Mau kah kau jadi pacar ku?"tanya Bagas lagi.
Saat itu mereka memang berada di atas motor, namun ungkapan tersebut terdengar jelas di telinga Alia.
Kali ini Alia tak bisa menolak lagi, ia benar-benar menyukai Bagas, entah apa yang istimewa dari diri Bagas hingga Alia bisa benar-benar di buat mabuk kepayang olehnya.
Bahkan sebelumnya Alia wanita yang dingin terhadap lelaki.
Entah beberapa puluh laki-laki yang coba mendekatinya dan menyatakan cinta kepadanya namun ia selalu menolak.
Tapi magnet Bagas begitu kuat, hingga Alia tak mampu untuk menolak pernyataan cintanya.
"Iya Bagas aku mau jadi pacar kamu,"ucap Alia secara lugas tanpa malu, tanpa ragu.
Bukan main senangnya hati bagas saat itu.
"Terima kasih Alia, karna kau telah sudi menerima ku, padahal aku tahu, pasti begitu banyak pria yang lebih baik dari ku yang menginginkan mu."
"Aku memang bukan orang baik, tapi aku akan selalu mencoba untuk jadi yang terbaik untuk mu," ucap Bagas, ia pun menarik tangan Alia dan menciumnya berkali-kali.
"Iya Bagas, aku pegang janji mu," ucap Alia, ia kembali memeluk Bagas dan menyandarkan kepalanya di pundak Bagas.
Bersambung
__ADS_1