Kenapa Harus Menikah Dengan Mu

Kenapa Harus Menikah Dengan Mu
Haru Dan Bangga


__ADS_3

Setelah mengantar Alia ke sekolah, mereka memutuskan untuk menemui pak Tarman.


Di gerbang sekolah, mereka kembali ber papasan dengan Edo yang terlihat memarahi anaknya, hingga anak tersebut mencaci maki Edo, kemudian pergi meninggalkannya.


"Sayang, itu Edo, kita hampiri," ajak Aldi.


Keduanya pun menghampiri Edo yang sedang mendengus kesal.


"Apa kabar pak Bupati,"ucap Aldi seraya menyodorkan tangannya kearah Edo.


"Eh Aldi, baik, " ucap Edo, ia pun menyambutnya jabatan tangan Aldi.


Sementara Aira insecure, melihat Edo kembali.


"Ryanti, kamu dan Aldi?"tanyanya ragu.


"Iya Mas aku dan Mas Aldi memutuskan untuk rujuk kembali." papar Aira.


Perasaan Aira berubah terhadap Edo, sejak Edo berniat menikahinya dengan menceraikan dua istrinya.


"Anak kamu sekolah di sini juga?" tanya Aldi.


"Iya, sih Bagas, entalah aku juga binggung dia itu adik atau anak ku, " keluh Edo.


"Kenapa? ada masalah?"tanya Aldi.


"Bagas sekarang kelas dua SD, dia sudah bisa membaca dokumen akta kelahirannya, Dia sering bertanya kenapa di akta kelahirannya, ayahnya bernama Rudi dan kami juga sulit untuk menjelaskannya , karna itu perangainya berubah, dia menganggap dirinya berbeda dengan saudara-saudaranya,"keluh Edo.


Aira menyimak pembicaraan mereka.


"Apa maksud mu mas? apa kau tak percaya pada Nina?"tanya Aira sensitif.


"Bukan begitu, kami sudah melakukan tes uji DNA dan ternyata bapak ku memang ayah biologis dari Bagas, namun keadaanya menjadi rancu, karna saat itu Nina di nikahi oleh Rudi dan otomatis secara hukum itu Bagas adalah anak Rudi." Edo


"Kenapa kau tak rubah akta kelahirannya?"tanya Aldi lagi.


"Aku sudah mencoba merubahnya akta tersebut melalui sidang, ternyata cukup rumit, hasil DNA sendiri menyatakan jika Bagas itu saudara ku, bukan anak ku, jadi aku memilih tak jadi merubah aktanya, dan membiarkan, namun hal itu membuat perangai Bagas berubah drastis, karna menyangka ia anak angkat dan kami semua bukan keluarga ya" keluh Edo.


"Ia tak ingin sekolah, selalu berperangai kasar terhadap ibu dan adik-adiknya, apalagi saat itu, aku baru saja menikah secara resmi dengan seorang gadis, kelakuannya jadi semakin parah, ngak bisa di atur lagi " dengus Edo.


Aira memebelalakan matanya menatap kesal kearah Edo.


"Bisa-bisanya dia menikah lagi pada istrinya sudah dua,"dengus Aira seraya memicingkan matanya kearah Edo.


"Kamu menikah lagi Do?"tanya Aldi kaget.


"Hm, iya." jawab Edo.


"Wah, wanita mana yang beruntung mendapatkan mas Edo?" tanya Aira dengan menyindir.


"Eh, kalian mungkin kenal dengan Laura Monica?"tanya Edo.


"Hah, Laura Monica model itu?"tanya Aldi semakin syok.


"Laura mantan kamu Mas?!"dengus Aira.


"Aku ngak pernah pacaran sama dia sayang," sahut Aldi seraya meletakan lenganya pada punggung Aira.


"Kalian kenal?"tanya Edo.


"Laura itu gadis yang hampir saja di jodohkan dengan Mas Aldi!" sahut Aira masih dengan nada sinisnya.


"Aku ngak nyangka saja ternyata dunia ini ngak lebih lebar dari daun kelor," ucap Aldi seraya tertawa kecil.


Melihat wajah Aira yang cemberut, Aldi memutus obrolan mereka.

__ADS_1


"Ya sudah Do, kami permisi dulu ya,"ucap Aldi mereka pun berlalu dari Edo.


Mereka masuk kedalam mobil, "Sayang kenapa sih kamu sesnsi banget sama Edo?"tanya Aldi.


"Aku kesal sama dia Mas, waktu aku aqiqah Alia bisa-bisanya dia melamar ku dan ingin menceraikan Nina dan Dewi, "ternyata kelakuannya sama saja dengan bapaknya, dengus Aira dongkol.


"Hah, jadi Edo sudah pernah bertemu kamu sebelumnya, tapi kenapa ia tak memberi tahu ku, padahal aku sering bertemu dengannya sebelum aku menemukan mu sayang?"tanya Aldi.


"Itu karna aku yang memintanya untuk tak memberitahu kamu Mas," sahut Aira.


"Sebegitunya kamu Yang, sama aku, bukannya aku tak pernah menghianati kamu setelah kita menikah?" guman Aldi.


Aira hanya menyunggingkan senyum tipisnya.


Mereka menuju kediaman Pak Tarman.


Aira memperhatikan pemandangan dari luar pintu mobil.


Tiba-tiba sosok seorang laki-laki tua sedang memulung sampah menarik perhatian Aia.


"Mas berhenti!"seru Aira.


Aldi mengerem mobilnya mendadak.


"Sayang, ngagetin aja, "sahut Aldi kemudian ia menepi di bahu jalan.


Aira segera membuka pintu mobil, dan keluar menghampiri orang tua tersebut.


Pria tua itu memungut plastik bekas di antara tumpukan sampah dengan tangan gemetarnya.


Air mata Aira seketika jatuh menetes melihat bapaknya.


"Bapak!" seru Aira memeluk orang tua tersebut dari belakang.


Pria itu pun menoleh kearah Aira.


"Oya pak ini Aira, hiks hiks hiks, kenapa Bapak seperti ini Pak?"tanya Aira seraya menangis memeluk Pak Tarman.


"Bapak mau kerja apa lagi Nak, tak ada yang menerima bapak," ucap Pak Tarman seraya menangis terisak.


Aira melepaskan pelukannya,"Bapak sekarang ikut Aira pak, " ajak Aira.


"Tidak Nak, Biar saja Bapak sendiri, sudah sepatutnya memang bapak menanggung akibat dari perbuatan yang bapak lakukan selama ini," tuturnya dengan tangis yang tertahan.


Tidak Pak, sudah kewajiban Aira untuk merawat bapak, ayo ikut Aira dan mas Aldi, "ucap Aira menarik tangan Pak Tarman.


Aldi me ghampiri Aira dan Pak Tarman.


"Ayo Pak, Bapak ikut kami saja," ucap Aldi.


"Tidak usah Nak, tubuh bapak kotor, nanti mobil kamu ikut kotor, "ujar Pak Tarman sungkan.


"Ngak kok Pak, mobil kotor bisa di bersihkan, sekarang bapak ikut kami," ujar Aldi seraya menuntun tangan Pak Tarman.


Pak Tarman melepaskan karungnya yang kotor, kemidian Aldi menyodorkan tisu basah untuk Pak Tarman membersihkan tangannya.


Tubuh pria yang awalnya tegap tersebut kini perlahan membungkuk dan gemetar, mungkin saat itu pak Tarman juga belum makan.


Aldi membuka pintu belakang mobilnya untuk Pak Tarman, setelah itu ia membuka pintu untuk Aira.


"Mas kita singgah di rumah makan ya, bapak pasti belum makan," pintanya.


"Iya sayang." Aldi.


Mereka singgah di rumah makan setelah dan membeli makanan untuk Pak Tarman, mereka melanjutkan pulang kerumah.

__ADS_1


"Pak, Bapak tinggal di rumah Aira dulu ya," usul Aira.


"Ngak mau Nak, biarlah bapak tinggal di rumah sendiri, " paparnya.


Tapi Pak Aira sekarang tinggal sendiri Bapak tak perlu sungkan," ucap Aira.


"Maksud kamu?"tanya Pak Tarman binggung.


"Aira dan mas Aldi sudah berpisah Pak sejak enam tahun yang lalu, "jawab Aira.


Sementara Aldi merasa tak enak hati dengan Pak Tarman atas pengakuan Aira, ia tak ingin beliau salah paham tentang dirinya.


"Iya baiklah kalau begitu, "sahut Pak Tarman.


Mereka singgah ke toko pakaian untuk membeli beberapa pakaian ganti untuk Pak Tarman.


Beberapa puluh menit kemudian mereka pun sampai di asrama tempat tinggal Aira.


Pak Tarman heran kenapa Aira tinggal di asrama polisi.


" Kenapa kamu tinggal di sini Aira?"tanya Pak Tarman.


"Suami kamu polisi?"terka Pak Tarman.


Aira mengulum senyum.


"Aira belum menikah kok Pak, nanti Bapak tahu sendiri," papar Aira.


Setelah sampai di depan rumah Aira, Aldi berhentikan mobilnya.


Mereka pun semua masuk kedalam rumah tersebut, begitu pun pak Tarman.


Pak Tarman memperhatikan sekeliling ruang yang ia masuki saat itu, matanya berkaca-kaca ketika melihat foto Aira yang menggunakan seragam polisi, lengkap dengan lencana dan piagam lulusan taruna Bintara terbaik.


Tubuh Pak Tarman jatuh berlutut, seketika itu ia menangis tergugu, betapa ia haru dan bangga melihat anak yang ia sia-sia kan justru menjadi orang yang sukses dan membanggakan.


Pak Tarman bersujud dengan tubuh yang terguncang menahan tangisnya.


Aira dan Aldi menghampiri Pak Tarman dengan heran.


"Pak, Bapak kenapa?" tanya Aira.


"Hiks, hiks,hiks, maafkan Bapak Aira, Bapak malu pada diri Bapak sendiri," ucapnya seraya menangis tergugu dengan tubuh yang terguncang.


"Sudahlah Pak, tidak perlu seperti itu, bagaimana pun Bapak itu bapak kandung Aira Pak, dan sebagai anak sudah kewajiban Aira berbakti pada Bapak," ujar Aira seraya menyapu air matanya.


Aira menarik tubuh pak Tarman agar ia berhenti bersujud.


"Sudah Pak, Bapak tinggal bersama Aira, Bapak juga tak perlu bekerja, biar Aira yang menanggung Bapak, di usia Bapak sekarang sebaiknya Bapak memperbanyak ibadah " Aira.


"Terima kasih Nak, karna telah menerima Bapak hiks hiks hiks."


"Tak apa Pak, Bapak bisa tinggal di sini dengan Aira dan anak Aira," palarnya lagi.


"Anak? kamu sudah punya Anak?" tanya Pak Tarman dengan mata yang berembun.


"Iya Pak, "Bapak sekarang sudah punya cucu, ucap Aira.


Pak Tarman semakin menangis, berada di dalam penjara tujuh tahun telah membuatnya kehilangan banyak kesempatan, termasuk melihat kelahiran sang cucuk.


"Lalu dimana anak kamu Aira? Bapak sudah tak sabar melihat cucu Bapak?" Pak Tarman.


"Ada pak bersekolah, sebentar lagi Alia pulang," ucap Aira.


Pak Tarman kembali menangis, ternya orang berdosa sepertinya masih di beri oleh Tuhan kesempatan untuk merasakan bahagia.

__ADS_1


Jangan lupa like, komen dan votenya ya, biar author semangat upnya lagi. terima kasih


__ADS_2