Kenapa Harus Menikah Dengan Mu

Kenapa Harus Menikah Dengan Mu
Persahabatan


__ADS_3

Nando menarik tangan Nisa dengan kasar,menuju mobil.


"Lepaskan Om! Nisa bisa jalan sendiri!" seru Nisa berusaha melepaskan cengraman tangan Nando.


"Jangan banyak bicara kamu! ingat kamu sedang berhadapan dengan siapa? " ancam Nando.


Dengan setengah memaksa Nisa di dorong masuk ke dalam mobil. Sementara Arsyad membuntuti kemana Nando membawa Annisa.


Mobil Nando perlahan keluar dari halaman parkir rumah sakit. Arsyad pun mengikuti kemana mobil itu membawa Nisa.


Melihat Nisa yang di perlakukan kasar,Arsyad semakin iba terhadapnya.


Di dalam mobil.


"Nisa mulai sekarang kamu tinggal bersama kami, tapi semua tidak gratis. Kau harus bekerja pada kami," ucap Mala seraya menyunggingkan senyum smirknya.


"Saya tidak ingin tinggal bersama Om, Nisa punya rumah sendiri, biar saja Nisa hidup sendiri di rumah. " Nisa


"Apa katamu? rumah?! Eh rumah itu adalah rumah warisan kakekmu,lagi pula rumah itu harus di jual demi menutupi hutang orang tua mu!" bentak Mala.


Nisa syok mendengar penuturan dari Mala, dirinya kini tak punya pilihan lagi selain tinggal bersama kedua orang tersebut . Ia pun hanya bisa menangis tersedu-sedu meratapi nasib-nya yang malang,bisa di bayangkan kehidupan seperti apa yang akan ia jalani setelah ini.


Motor Arsyad terus membuntuti mobil yang membawa Nisa. Beberapa saat kemudian mobil tersebut memasuki sebuah komplek perumahan . Dan berhenti di sebuah rumah. Motor Arsyad pun ikut berhenti.


Setelah turun dari mobil,Nisa kembali di tarik dan di paksa untuk masuk kedalam rumah tersebut.


Arsyad meraih handphonenya yang ada di saku hoodie-nya, ia berinisiatif merekam semua perlakuan kasar Nando terhadap Nisa.


"Ayo masuk! " bentak Nando.


Dengan kaki yang berat Nisa pun masuk kedalam rumah tersebut.


Setibannya di depan pintu masuk, Nisa kembali di sambut dengan tatapan sinis dan merendahkan dari kedua saudara sepupunya yakni Gladis dan Jessica.


Nisa hanya bisa menunduk dan meringis merasakan sakit pada bekas lukanya yang masih basah.


"Ehm, pasti dia mau numpang tinggal di sini, "dengus Gladis.


"Kalau tak di sini, mau numpang di mana lagi! " dengus Jessica.


Nisa berdiri dengan kaki yang gemetar, sejak mengetahui orang tua-nya meninggal sejak itu pula, ia tak lagi merasa lapardam sejak itu pula ia tak makan.


"Iyem! teriak Mala memanggil asisten rumah tangganya.


"Ada apa Nya? " tanya Iyem yang buru-buru menghampri Mala.


"Bawa masuk pakaian Nisa ke kamar yang paling ujung, biar dia tinggal di sana!" Mala.


"Tapi Nya, bukannya itu kamar pembantu.Bukanya masih ada kamar kosong yang lebih layak dari kamar itu ? " tanya Iyem.


"Hm. Biarkan saja ia tidur di kamar tersebut dari pada ia jadi gelandangan, dan tidur di bawah kolong jembatan, ha ha. " Mala pun tersenyum menyeringai melihat Nisa yang menatapnya lekat.


"Baik Nya, " sahut Iyem patuh, meski sebenarnya kasihan pada nasib Nisa.


Iyem menggangkat tas jinjing milik Annisa. Ia pun membawa serta menuntun Annisa menuju kamar tersebut.


Mereka pun sampai. Kamar itu lebih tepatnya seperti gudang dari pada kamar untuk tidur.


Beberapa berkas dalam kotak karton bertumpuk-tumpuk di dalam kamar yang berdebu tersebut.


Nisa merasa sedih melihat kamar yang akan ia gunakan. Tampak sekali jika paman dan bibinya tersebut membenci dirinya, di rumah itu masih banyak kamar kosong yang lebih layak dari itu ,tapi mereka malah memberi kamar sempit yang di penuhi dengan tumpukan kertas yang tak lagi di gunakan.

__ADS_1


Iyem membantu membersihkan kamar tersebut. Ia begitu kasihan melihat tubuh Nisa yang di penuhi dengan beberapa luka dan tangan yang masih berbalut perban.


Satu jam bekerjasama membersihkan kamar tersebut .Akhirnya, kamar itu bisa di gunakan oleh Nisa.


"Non Nisa istirahat saja, jangan lupa minum obatnya biar cepat sembuh, "ucap bik Iyem.


"Terima kasih Bik, " ucap Nisa lirih dan sedih. Selama orang tua-nya masih hidup ia tak pernah di perlakukan kasar oleh orang tuanya. Itulah yang membuatnya merasa sedih jika di perlakuan dengan kasar.


"Non Nisa beristirahat lah, biar nanti bibik yang siapkan makanan untuk Non Nisa," ucap Iyem.


"Iya Bik, tapi sepertinya Nisa lebih butuh istirahat."


"Iya Non, istirahat saja. " Bi Iyem.


Nisa merebahkan tubuh pada tempat tidur


Pandangannya menerawang menatap langit-langit kamarnya.


"Mama, papa, Aisyah ! Aku kangen, hiks hiks hiks".Nisa pun kembali sedih mengenang keluarganya yang kini tlah tiada.


Setelah dari rumah itu, Arsyad pun kembali lagi ke rumah sakit. Dalam perjalanan pulangnya ia selalu terpikir akan gadis yang di temuinya di rumah sakit.


"Kasihan Nisa, akan ku pikirkan cara agar dapat menyelamatkan-nya dari orang-orang Zalim itu," guman Arsyad.


***


Setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit, Hari ini Aira dan Alia di perbolehkan untuk pulang.


Mereka pun bersiap.


Sebelum pulang Aldi dan Romeo berniat untuk pamit, serta menyempatkan diri untuk menjenguk Alita dengan membawa bayi-bayi mereka.


Keadaan kembali seperti semula, mereka pun tak lagi mempermasalahkan tentang Arsel yang terang-terangan merebut calon istri Arsyad.


Aldi menggendong anaknya, sementara Romeo menggendong cucunya.


"Assalammualaikum, ciwi-ciwi. Awowok datang nih, mau ngapelin Awewek nih" cetus Romeo.


"Waalaikum sallam, Awowok," sahut Doni tersenyum.


Aldi dan Romeo pun masuk kedalam kamar Alita.


Alita dan Bagas saling melempar senyum ke arah dua orang tersebut.


Alita tak heran jika ketiga orang tersebut berkumpul, ada saja yang membuat orang sekitar mereka terhibur.


Romeo dan Aldi mendekat kearah Alita dan Bagas memberinya selamat.


"Selamat ya untuk kalian berdua, " ucap Romeo dan juga Aldi.


"Terima kasih Om,"sahut Alita dan Bagas.


Keduanya tengah menggendong bayi mereka.


"Selamat juga untuk ayah dan Om, atas kelahiran cucu dan anaknya. " Alita.


Doni menghampiri Romeo kemudian mrnggendong anak Alia.


"Hallo cucu Om, kamu ganteng banget deh, persis kayak Om Doni ketika masih muda dulu."


Romeo mengkerucut bibirnya." Dari mana asal usulnya mirip muka loh Don, kalau gue ganteng ya kayak muka gue lah, namanya juga cucu gue, "sahut Romeo.

__ADS_1


"Lagian sudah jadi kakek malah di panggil Om, ngak nyadar sudah tua loh! " dengus Romeo.


"Biarin lah, nanti cucu gue juga gue suruh panggil Om." Doni.


"Malu gue masih ganteng gini di panggil Opa. " Doni.


Romeo hanya mencibir.


Aldi sedang berbincang dengan Dasti dan juga Alita. Melihat itu Romeo pun mencari kesempatan untuk bicara pada Doni.


"Don, loh sudah tahu hubungan Arsel dengan Dinda? "


"Ehm, maksud loh? " tanya Doni heran.


"Arsel dan Dinda kemaren datang untuk menjenguk Alia dan Aira. Eh di sana si Arsel malah memperkenalkan Dinda sebagai pacarnya. Ya gue ngak enak hatilah sama keluarga Aldi. "


"Hm, loh serius Rom? kok gue ngak tahu?" tanya Doni.


"Seriuslah. Jadi menurut loh bagaimana? tetap jodohin Dinda sama Arsyad atau loh mau terima Arsel? " tanya Romeo.


Doni menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal, ia pun berpikir sejenak.


"Kenapa kok gue yang jadi dilema ya Rom mereka yang punya hubungan? " tanya Doni balik.


"Kayak makan simalakama gue,


Arsel dan Arsad itu kan sama-sama anak sahabat gue," Dengus Doni.


"Menurut loh? " tanya Doni balik.


"Ehm, gue sih terserah anaknya. Lagian mereka masih remaja paling juga cinta-cinta monyet, " cetus Romeo.


'Iya kan Arsel bapaknya monyet ya? " sahut Doni dengan nada bercanda.


"Sialan loh gue serius tau! " Romeo.


"Udah Ah ngak usah di pikirin. Terserah mereka lah, yang penting mereka ngak macem-macem. " Doni.


Romeo tersenyum. "Akhirnya kita bisa ber basan juga Don. " Ia pun Memeluk Doni.yang tengah menggendong cucunya.


"Iya Rom, semoga saja ngak ada halangan lagi. Bagi gue sama sajalah, berbesan sama loh dan Aldi gue merasa senang dua-dua-nya." Doni.


Aldi menghampiri keduanya. "Ngomongin apa sih? "tanya Aldi.


"Ngak Di, loh ngak marahkan jika seandainya Dinda ngak jadi sama Arsyad? " tanya Doni.


Aldi tersenyum. "Ya ngaklah. Arsel juga anak gue. Sama sajalah. Gue juga senang akhirnya kita berbesan Don. Ngak peduli anak Romeo atau anak gue. Kita semua tetap bersahabat sampai tua. Dan semakin erat karna akan menjadi keluarga." Aldi.


"Ah so sweetnya. Sini aku peluk kalian berdua," ucap Romeo sambil merentangkan tangannya.


Ketiga sahabat tersebut pun saling memeluk.


Dasti, Alita dan Bagas saling melempar senyum.Mereka bangga melihat persahabatan ketiganya yang terjalin dari usia mereka remaja hingga mereka tua. Bahkan persahabatan tersebut sebentar lagi menjadi tali persaudaraan.


Bersambung dulu ya reader. Mau tahu ngak gimana bucinya bang Arsyad.


Hm, berikan dukungga-nya ya dengan like, saran kritiknya serta votenya.


Sambil nunggu author siapa tahu mau mampir ke novel author yang lainya.


__ADS_1




__ADS_2