Kenapa Harus Menikah Dengan Mu

Kenapa Harus Menikah Dengan Mu
Mengungkit luka lama


__ADS_3

"Gas aku bawa bubur untuk kamu, kamu makan ya,"ucap Alia seraya menarik tubuhnya dari pelukan Bagas.


"Mau tapi kamu suapin ya," pinta Bagas dengan manja.


Hm, Alia tersenyum


"Aku ambil mangkok dan buburnya dulu ya."


Alia beranjak dan pergi dari tempat tersebut kemudian dalam beberapa saat ia kembali lagi dengan membawa bubur yang tersaji di dalam mangkok.


Bagas tersenyum, rasanya ia ingin sakit seribu tahun jika Alia memanjakannya seperti ini.


Ghael merasa gelisah, karna sudah lama menunggu, ia pun meminta ijin kepada Nina untuk masuk ke kamar Bagas.


Disana ia malah melihat kemestraan keduanya, saat itu Alia tengah menyuapkan bubur ke mulut Bagas.


Ghael pun memilih kembali ke ruang tamu, ia mendaratkan bokongnya pada kursi yang ada di ruang tamu.


Tangannya ia rentangkan pada sandaran kursi seraya menengadahkan kepala menghempas nafas beratnya.


Tiba-tiba terdengar bunyi dari ponselnya, dan melihat panggilan tersebut dari Aira.


Ghael mengangakat telpon tersebut, karna Aira pasti tengah mengkhawatirkan Alia.


"Hallo assalammualaikum Bunda," sapa Ghael.


"Waalaikum sallam Bang, Bang Alia sama Abang?"tanya Aira.


"Iya Bun, ada apa?"tanya Ghael.


"Bang kalau bisa kalian segera pulang ya Bang, Bunda ada urusan sama Alia." Aira.


"Iya Bun, sebentar lagi kita pulang kok," ucap Ghael.


Akhirnya Ghael punya alasan untuk mengajak Alia untuk pulang, ia pun menghampiri Alia di kamar Bagas.


***


"Sayang, kalau kita menikah nanti, aku ingin setiap harinya kamu suapin aku," ucap Bagas seraya membuka mulutnya menerima suapan dari Alia.


Alia mengulum senyum pedihnya, ia nerasa kasihan pada Bagas, sebenarnya Alia ingin berkata jujur saat itu, namun bibirnya dan lidahnya seperti terkunci, apalagi melihat kondisi Bagas yang tak memungkinkan.


Akhirnya Alia kembali mengulur waktu sembari mencoba membujuk kedua orang tuanya.


"Kamu mau ya sayang menyuapiku setiap hari?"tanya Bagas seraya mendongkak kan wajah Alia.


Bagas menatap mata sendunya, dan melihat ada kegusaran yang sedang melanda kekasih hatinya tersebut.


"Sayang, kenapa kau terlihat sedih, seperti ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?"tanya Bagas.


" Ehm ngak kok, aku ngak apa-apa." Alia masih berkilah.

__ADS_1


Ehm terdengar suara deheman seorang lelaki.


Keduanya langsung menoleh asal suara.


"Alia sudah di telpon Bunda, " ucap Ghael.


Bagas melirik ke arah Ghael begitu pun Ghael.


Alia menarik tasnya, "Gas aku harus pulang sekarang."


"Iya sayang, hati-hati," ucap Bagas lirih.


"Jangan lupa minum obat," Alia.


"Iya sayang, jika besok jika aku sudah baikkan, biar aku yang menghampiri ke kantormu."Bagas.


"Ehm jangan terlalu memaksa, kau sembuhkan dulu lukamu," ucap Alia.


Ghael menyilangkan kedua lengannya di dada seraya memutar bola matanya.


Cemburu, kesal tapi tak bisa berbuat apa-apa.


"Aku pulang Gas dah,"ucap Alia.


"Hati-hati sayang i love you," ucap Bagss.


Alia menyimpul senyumnya tanpa membalas ungkapan pernyataan cinta Bagas, bagaimana pun juga Alia harus menjaga perasaan Ghael.


Setelah keluar dari kamarnya, Alia berpamitan dengan Nina.


Hening dan sepi tanpa ada obrolan yang terjadi di dalam mobil tersebut.


Hubungan mereka tak lagi hangat seperti yang dulu di mana Ghael adalah tempat curhat bagi Alia, jika dulu Alia bebas bercerita apa saja pada Ghael, kini bibirnya justru terkunci dan tak tahu apa yang harus di bicarakan dengannya.


Perasaan yang aneh bagi Alia tiba-tiba saja orang yang di anggapnya saudara kini statusnya menjadi calon suaminya, tak pernah terbayang di benak Alia bagaimana kelak ia menjalani rumah tangga bersama Ghael.


Tak terasa mereka pun tiba di rumah, kehadiran Alia sudah di tunggu oleh keluarganya.


Alia turun dari mobil dan langsung menghampiri Aira yang menunggunya di ruang tengah, lagi-lagi ia harus bersandiwara dihadapan orang tuanya seolah tak terjadi sesuatu pada dirinya.


"Ada apa Bun?"tanya Alia.


"Sini kak, Bunda ingin bicara sama kakak, kita ke kamar Bunda."


Aira menuntun Alia untuk memasuki kamarnya.


Di dalam kamar keduanya duduk di atas tempat tidur.


Sementara Aldi berbincang-bincang bersama Ghael dan Arsyad di ruang tamu.


Alia menatap wajah netra Aira yang berkaca-kaca, ia pun terdiam.

__ADS_1


"Kak, ada sebuh kisah yang selama ini mungkin Kakak tak pernah tahu,"ucap Aira seraya mengusap rambut putrinya.


Alia melirik ke arah sang ibunda yang sudah menitikan air matanya.


"Kisah apa Bunda?"tanya Aira kirih.


"Kisah pilu dari seorang gadis berusia enam belas tahun yang akan di jual ayahnya kepada seorang pria yang berusia hampir sama dengan ayahnya."


Alia terhenyak, menatap sang bunda dengan air mata yang mengalir semakin deras membasahi pipi.


Aira pun melanjutkan ceritanya


" Gadis tersebut terpaksa melarikan diri dari pria tua yang terobsesi dengan nya," tik tik Air mata Aira semakin deras luka lama yang selama puluhan tahun coba ia tutupi kini mengaga kembali.


Alia masih bergeming. dengan mata yang berpendar menatap sang ibunda.


"Lari dari rumah berharap bisa menyelamatkan masa depannya, tapi justru ia masuk terperangkap dan hampir tak bisa melarikan diri, dari sebuat tempat hina," hiks hiks,


Ucapan Aira tertahan sembari manata hati menghirup oksigen agar kuat untuk mengunggkit derita dari luka yang pernah ia alami.


Alia masih tak mengerti siapa gadis yang di ceritakan oleh sang ibunda, gadis itu duduk termangu menyimak kata-kata yang ucapan oleh Aira.


"Dia disiksa, di cambuk berkali-kali, hingga hampir meregang nyawa, karna di paksa melayani seorang pria bernama Retno."


"Hiks hiks, luka itu telah lama menghilang tertuptupi sendiri seiring berjalannya waktu, tapi luka hati dan rasa trauma masih selalu segar dalam ingatan,


Ketika pecutan demi pecutan berusaha merobek kulit gadis kecil yang malang tersebut, gadis tersebut hanya bisa menangis dan merintih menahan rasa sakit berharap ia mati saat itu juga, belum lagi sulutan api rokok yang berkali-kali menghujam ke arahnya," tutur Aira ia pun kembali menangis.


Alia ikut berderai air mata karna tak tahan mendengar kisah pilu tersebut, seperti dirinya ikut merasakan derita.


Hiks hiks.


"Siapa gadis itu Bunda, lalu kenapa Bunda ceritakan hal yang mengerikan itu kepada Alia," tangis Alia, ia sendiri tak sanggup mendengarnya.


Aira membuka kemejanya dan memperlihatkan bekas sulutan rokok yang ada di dadanya.


Seketika Alia tercekak napasnya tertahan dengan detak jantung yang tak karuan.


Alia berkali-kali menelan ludahnya untuk membasahi tenggorokannya yang terasa kering tiba-tiba, matanya menerjab-nerjab membuatnya tetap terjaga dari sadarnya.


"Bunda?" kini Alia bisa memastikan siapa gadis malang yang di ceritakan Alia.


Bibir Alia bergetar tubuhnya terkunci mematung untuk beberapa saat.


Aira kembali menutup kemejanya.


"Nak, bukan kah kamu sering menanyakan kepada Bunda, luka apa yang ada di dada Bunda, iya kan?"tanya Alia dengan suara paraunya.


Alia mengangguk dengan berat, matanya mengekori gerak gerik Aira.


"Pada saat itu Bunda selalu menjawab jika ini adalah tanda lahir, tapi ini bukan tanda lahir, ini adalah sulutan api rokok akibat penyiksaan yang di lakukan oleh anak buah Retno! dan Retno adalah ayah biologis dari Bagas Alia!"

__ADS_1


Alia syok, tubuhnya mematung seketika nafasnya menjadi sesak.


Bersambung.


__ADS_2