Kenapa Harus Menikah Dengan Mu

Kenapa Harus Menikah Dengan Mu
Kriteria


__ADS_3

Alia turun dari kamarnya hendak sarapan.


Ketika itu ayah dan bundanya sudah menunggu di meja makan.


Alia tampil cantik dengan rok span hitam dan blazer hitamnya.


Aira tersenyum melihat putrinya.


"Selamat pagi Bunda, "Alia mencium pipi Aira.


"Selamat pagi Yah," ucap Alia sambil mencium pipi Aldi.


"Pagi sayang," ucap keduanya serempak.


Alia menarik kursi untuk duduk.


"Kak,kemaren kok Abang di tinggal sendirian sih?" tanya Aira seraya memoles roti dengan selai untuk Aldi.


"Iya Bun, Kakak kesal sama Abang,"jawab Alia dengan cemberut.


"Kesal kenapa?" tanya Alia lagi.


"Abang mau batalin perjodohan dengan Alita Bun, katanya dia ngak cinta sama Alita dan sudah ada wanita lain yang mengisi hatinya. Padahal Kakak tahu kalau Alita itu sudah lama suka sama Abang," dengus Alia.


"Ehm, bagus dong Kak, Abang jujur sebelum mereka bertunangan,"sahut Aira


"Tapi abang ngak enak Bun mau bilang sama papanya, katanya takut berpengaruh sama hubungan persahatan antra Om Romeo sama Papa Doni." Alia.


Aldi yang semula hanya diam angkat bicara, "Kak! kami itu sudah bersahabat puluhan tahun, Ayah juga paling mengerti dengan Doni dan Romeo, ngak mungkin lah kalau hanya sekedar salah satu dari putra atau putri mereka menolak perjodohan bisa membuat persahaban mereka jadi retak."


"Setiap orang berhak untuk memilih calon pendamping masing-masing," pungkas Aldi.


Alia tersenyum mendengar pernyataan terakhir dari Aldi. Apa itu bearti aku boleh memilih Bagas sebagai calon ku.


"Oh Iya kemaren ada tuh salah satu fatner bisnis ayah, yang mau Ayah perkenalkan dengan Kakak, dia itu pengusaha muda di bidang konstruksi, kebetulan proyek ayah yang baru dia yang menangani," ucap Aldi santai.


"Rencana Ayah, nanti saat Anniversary perusahaan Ayah, Ayah mau undang semua rekan bisnis ayah Kak, biasanya dalam acara tersebut selain membawa istri mereka juga akan membawa putra atau putri mereka, mereka memperkenalkan anak-anak mereka kepada semua rekan bisnis mereka, nah dari situ biasanya timbul perjodohan antara rekan bisnis," papar Aldi.


"Jadi Ayah mau jodohin Alia seperti itu juga?" tanyanya dengan mendengus.


"Itu tergantung kamunya, ayah ngak maksa kok, lagi pula ayah lihat kamu selalu sibuk dan ngak punya waktu untuk cari pasangan hidup kamu sendiri, jadi yah... siapa tau kamu menyukai salah satu dari mereka." Aldi.


"Tapi Yah, kalau pilihan Kakak bukan seorang pengusaha atau polisi, gimana Yah?"tanya Alia coba memberanikan diri.


"Ehm, maksud kamu dari rekan seprofesi kamu?"tanya Aldi balik.


Alia menggelengkan kepala.


"Trus Kakak sudah ada calon sendiri?"tanya Aira.


"Ehm belum sih Bun, cuma mau tanya saja, Alia pingin tahu saja menurut Ayah sama Bunda kriteria calon menantu ayah dan bunda itu seperti apa?"


"Apa harus berkelas, punya pendidikan yang tinggi atau_?" Alia menggantung pertanyaannya.


"Berkelas dan pendidikan tinggi itu harus, dan yang terpenting ia punya akhlak yang baik dari keluarga yang baik-baik," pungkas Aldi.


Deg ser, Jantung Alia memompa lebih cepat.

__ADS_1


Jika seperti itu, apa Bagas masuk kriteria ayah.


Alia terdiam seraya mengigit bibir bagian bawahnya.


***


Matahari bersinar cerah pagi ini, pukul tujuh pagi, Bagas sudah bersiap menggunakan kemeja putih dan celana hitamnya.


Di depan cermin Bagas melihat dirinya sendiri yang terlihat rapi, ia pun melepas anting di sebalah telinga bagian kirinya, karta tak ingin terlihat seperti preman.


Hari ini ada panggilan interview di sebuah peruhaan Akcaya Hadi Kusuma, sebuah perusahan pengolahan kayu terbesar di Indinesia.


Setelah absen pagi, menelpon sang kekasih Bagas keluar kamar dan menghampiri Nina.


Bagas duduk di atas meja makan meraih beberapa potong roti.


"Bagas kamu terlihat ganteng sekali Nak dengan pakaian seperti ini," ucap Nina sambil menepuk pundak Bagas.


"Bagas hari ini mau interview, doain Bagas di terima kerja ya Bu,"ucap Bagas.


"Selalu Nak, ibu selalu berdoa yang terbaik untuk kamu."


"Kalau Bagas di terima kerja, gaji pertama Bagas, Bagas kasi untuk ibu semuanya," imbuhnya.


Nina tersenyum dengan menitikan air mata haru.


"Untuk kamu saja Nak,jatah bulanan dari ayahmu sudah lebih dari cukup, kamu simpan untuk diri kamu saja, katanya kamu mau melamar pacar kamu," ucap Nina bahagia dan haru.


"Tapi Bu, Bagas juga pingin ngasi sesuatu untuk ibu."Bagas.


"Dengan berubah menjadi orang baik, kamu sudah membuat ibu bangga dan bahagia Nak, ibu juga pasti lebih bahagia jika kamu bisa meraih mimpi dan cita-cita kamu," ucap Nina sambil mengusap lengan Bagas dengan penuh kasih sayang.


"Kalau gitu Bagas pamit ya Bu,"ucap Bagas, ia pun mencium punggung tangan Nina.


"Iya Nak, hati-hati di jalan," Nina mencium pipi putra-nya.


Bagas keluar dari rumah dan langsung menuju motornya, tak lama setelah itu ia langsung berangkat menuju tempat kerja.


Nina mengekori melihat sampai putranya tersebut menghilang di antara keramaian.


"Ya Tuhan, lindungilah putra ku," ucap Nina.


***


Di tempat yang berbeda, Ghael sudah siap dengan stelan eksekutif mudanya.


"Kemeja putih, jas dan dasi,"wajahnya yang tampan semakin tampan berkali lali lipat saat itu.


Sebelum Berangkat kerja, Ghael menelpon Tari.


"Hallo Assalammualaikum, sayang," ucap Tari yang sumringah ketika melihat wajah tampan anaknya.


"Waalaikumussallam, Ma."


"Abang kamu ganteng sekali Nak," ucap Tari dengan mata yang berbinar melihat ke layar handphonenya.


Ada rasa haru dan rindu di hati Tari melihat sang putra kini tumbuh dewasa.

__ADS_1


"Ma, Abang hari ini sudah mulai bekerja di perusahaan uncle Ma, doain, Abang ya Ma," ucap Ghael dengan mata yang berembun.


"Iya sayang, mama pasti doakan yang terbaik untuk Abang dong." Tari.


"Kalau gitu sudah dulu Ma, Abang mau turun untuk sarapan." Ghael.


"Iya Sayang, kamu hati-hati ya."


Mereka pun menutup sambungan telponnya.


***


Bagas tiba di ruang HRD, dan melakukan tes wawancara.


"Baiklah anda di terima bekerja di sini sebagai OB," ucap pria yang bernama Hendri itu.


Alangkah bahagianya hati Bagas, meski hanya sebagai OB namun sekarang ia bisa menanggalkan status penganggurannya.


"Terima kasih Pak," ucap Bagas,


"Besok anda sudah bisa mulai bekerja di sini, untuk sementara gunakan kemeja putih dan celana hitam."


"Baiklah terima kasih Pak," ucap Bagas.


Ia pun keluar dari ruangan tersebut.


"Alhamdullilah, aku pulang dulu beri tahu ibu."


Bagas keluar dari kantornya.


***


Di tempat yang berbeda, Aldi mengadakan rapat direksi perusahaannya, karna ia akan mengangkat Ghael menjadi salah satu direktur di perusahaannya.


Peserta rapat sudah hadir semua, setelah membuka rapat Aldi pun meminta Ghael untuk berdiri.


"Pada kesempatan kali ini saya akan perkenalkan direktur operasional kita yang baru, Ghazanfar Elhadi Satria, atau panggil saja Ghael." Aldi.


Ghael berdiri dan sedikit membungkuk.


"Saya harap anda bisa membantu dan bekerjasama dengannya." Aldi.


"Saudara Ghael silahkan anda perkenalkan diri."Aldi.


Ghael pun berdiri memperkenalkan dirinya,


"Saya Ghazanfar Elhadi Satria, saya biasa di panggil Ghael atau Ghazan, pendidikan terakhir saya S2 managemen bisnis di Liverpool university, saya berharap bimbingan dan kerjasama anda, karna inilah pengalaman pertama saya, terima kasih" Ghael.


Ghael pun kembali duduk.


"Baik dengan demikian, rapat ini selesai, silahkan anda perkenalkan diri secara pribadi kepada saudara Ghael, semoga dengan kehadirannya perusahaan kita semakin maju, Aamin." Aldi.


Peserta rapat pun satu persatu memperkenalkan diri kepada Ghael.


Bersambung, nah udah pernah mampir belum di novel keren author yang satu ini, kalau belum mari mampir, ceritanya keren loh ada nyonya Santi dan tuan barley yg bikin baper he he judulnya istri pengganti tuan muda yang cacat.


__ADS_1


Mampir ya guys ngak nyesel kok, terima kasih.


__ADS_2