Kenapa Harus Menikah Dengan Mu

Kenapa Harus Menikah Dengan Mu
Menghadapi Dua Pria Bucin


__ADS_3

Aira kembali mendatangi markasnya karna kembali di panggil oleh letnan Airlangga.


"Siap! letnan anda memanggil saya?" Aira.


"Iya ayo sekarang anda ikut saya," ujar letnan muda tersebut, kemudian membawa Aira ke menuju lapang yang ada di samping markas kepolisian.


Mereka pun tiba di sebuah tanah lapang yang mana terdapat helipad dan beberapa helikopter di atasnya.


Letnan Airlangga masuk kedalam sebuah ruangan yang berada tak jauh dari helipad tersebut.


Beberapa orang anggota kepolisian sedang bersiap mengenakan sesuatu di punggung mereka dengan memakai jumpsuit.


Tanpa berani bersuara Aira berdiri tegak di belakang letnan Airlangga.


"Bagaimana semua sudah siap?!" Tanya letnan tersebut dengan tegas dan berwibawa.


"Siap, letnan!" Sahut mereka secara serempak.


"Kalau begitu ayo kita berangkat sekarang." letnan.


Aira menyeritkan dahinya, ia sendiri tak tahu kenapa dirinya di panggil atasannya saat itu.


Letnan meninggalkan area tersebut di ikuti oleh seorang polwan cantik yang cantik.


Aira tak kalah berwibanya, penampilan dan prestasinya membuat ia di segani oleh bawahannya dan di kagumi oleh atasannya.


Langkah Aira mantap mengekori sang pemimpin, hingga menjadi bahan pembicaraan para anggota yang berada di belakangnya.


Letnan Airlangga menuju area  helipad.


"Aipu Ryanti anda akan jadi co pilot saya saat penerbangan pelatihan terjun payung saat ini," ucap letnan tersebut.


Meski meras syok Aira menyatakan kesiapannya.


"Siap letnan!" sahutnya.


Ia mengikuti letnan naik kedalam helikopter, jantung Aira berdetak kencang ia sama sekali tak mengetahui sistem navigasi helikoper sedikitpun.


Aira duduk dengan tenang seraya mengenakan peralatannya seperti headphone.


Beberapa anggota ikut naik kedalam helikopter tersebut.


Aira mengenakan sabuk pengaman, setelah semua persiapan cukup, letnan Airlangga mulai menghidupkan mesin helikopter tersebut.


Jantung Aira berdegup kencang, ketika dengan perlahan helikopter tersebut terbang secara vertikal.


Suara baling-baling pesawat masih terdengar meski ia mengenakan headphone.


Setelah mencapai ketinggian di atas 800 kaki heli tersebut bergerak maju melesat di udara.


Inilah pertama kalinya Aira melihat pemandangan lansung dari bawah, sepanjang matanya memandang hanya hamparan langit dan gedung-gedung yang ada di bawah mereka.


Letnan Airlangga mengarahkan Aira, apa saja yang harus di lakukannya sebagai co pilot.


Setelah berkomunikasi dengan radar navigasi, mereka pun bertahan pada satu titik.


Satu persatu anggota tim yang mengikuti pelatihan terjun payung turun dari helikopter tersebut.


Aira memperhatikan dari atas bagaimana mereka terjun dari helikopter dan beberapa saat kemudian parasut pun mengembang.


Aira mengembangkan senyumnya, melihat pemandangan yang memacu adrenaline tersebut, meski ia hanya melihat.


Sungguh suatu pengalaman yang luar biasa bagi Aira, dirinya pun di ajari mengendali kan helikopter oleh Letnan Airlangga.


Setelah seluruh anggota telah terjun dari atas helikopter, kini tinggal mereka berdua di pesawat tersebut, letnan Airlangga memutar arah terbang mereka menuju titik awal mereka berangkat.


Aira memperhatikan pemandangan dari atas pesawat yang mengganggumkan namun tiba-tiba saja Letnan Airlangga mengeluarkan sebuah kotak cincin dan menyodorkan kearahnya.


Mereka tak bisa berbicara secara langsung di dalam helikopter tersebut karna semua pembicaraan mereka akan terekam dan langsung sampai di menara pengawas.


Letnan Airlangga menyodorkan sebuah cincin kepada Aira, kemudian ia menyerahkan secarik kertas bertuliskan 'Will you marry me.'


Aira tercengang melihat semua itu, sejenak ia bungkang dan terdiam, wajahnya tertunduk dan enggan menerima cincin tersebut.

__ADS_1


Bebetapa saat lamanya letnan Airlangga menanti jawaban Aira, namun ia hanya diam, letnan Airlangga kembali menyimpan cincin tersebut kedalam rompi yang ia gunakan.


Beberapa saat selanjutnya mereka pun tiba di hellipad semula.


Aira melepas semua perangkat yang terpasang di tubuhnya ketika mesin mati dan baling-balingnya berhenti berputar.


Begitupun letnan Airlangga.


Keduanya turun pada masing- masing sisi pintu keluar hellikopter.


Mereka kembali jalan beriringan.


"Saya mengerti anda pasti syok dengan apa yang saya lakukan, melamar anda secara tiba-tiba di sebuah tempat yang tak lazim." Letnan Airlangga


Aira hanya diam tertunduk.


"Tapi saya serius, saya harap anda bisa memikirkannya kembali," ucap Letnan Airlangga ketika Aira berada tepat di hadapannya.


Aira terus menunduk, tak mampu menatap letnan muda berparas tampan tersebut.


"Baik akan saya pikirkan, saya permisi!" Ucap Aira.


"Silahkan,"balas Letnan Airlangga.


Aira pergi dari sana setelah memberi salam hormatnya pada letnan Airlangga.


Letnan muda tersebut terus membuntuti hingga bayangan Aira menjauh dan menghilang dari pandangannya.


Semakin hari ia semakin mengaggumi wanita tersebut, ia pun tersenyum.


***


Gerak gerik Aira terus saja di awasi oleh kedua mata-mata Aldi.


Mereka mengirimi video Aira yang masuk kedalam helikopter bersama letnan Airlangga.


Tentu saja hal itu membuat Aldi menjadi cemburu.


"Apa? Kenapa Aira bisa naik helikopter dengan letnan tersebut?" Dengus Aldi ketika video tersebut sampai padanya.


Aldi membawa mobilnya menuju suatu tempat.


Aldi menuju markas tempat letnan Airlangga bertugas, ia meminta bertemu letnan tersebut secara empat mata.


Seorang polisi mengantar Aldi menuju ruangan Letnan Airlangga, setiba di sana, polisi tersebut mempersilahkan Aldi untuk berbicara secara empat mata dengan atasannya.


Aldi duduk di kursi berhadapan dengan pria gagah nan tampan tersebut.


"Ada perlu dengan saya?"tanya letnan Airlangga seraya menakup kedua tangannya keatas meja.


"Tolong jauhi calon istri saya!" ucap Aldi seraya menatap sinis kearah pria yang ada di hadapannya.


Letnan menyeritkan dahi," Apa untuk itu anda datang kemari? sebenarnya saya enggan berbicara masalah pribadi saat saya dinas tapi karna anda sendiri yang datang maka akan saya pertegas kembali."


"Saya tidak merebut atau mengganggu siapa pun, kami sama-sama dewasa, dan dia bebas menentukan pilihannya, anda atau saya," ucap letnan tersebut dengan sedikit mencondongkan tubuh kearah depan.


"Terserah, tapi saya tak akan tinggal diam saya akan perjuangkan apa yang seharusnya menjadi milik saya," ucap Aldi, ia pun keluar dari ruangan tersebut.


Aldi kembali kemobilnya,rasa kesal menghampiri dirinya, "Aku harus cepat melamar Aira secara resmi," gumannya.


Aldi meraih handphonenya yang berada di dashboard mobil.


"Aku harus telpon papa dan memintanya untuk segera datang, agar aku bisa melamar Aira secara resmi."


Sambungan telponnya tersambung.


"Hallo." Satria.


"Hallo Pa," Aldi


"Kenapa Di?" Satria


"Pa, bisakah Papa pulang secepatnya, karna Aldi akan melamar Aira secepatnya." Aldi.

__ADS_1


"Hah, kenapa mendadak sih Di, baru saja kemaren papa pulang, papa masih capek," sahut Satria.


"Kamu minta Heru saja yang menggantikan Papa," usul Satria.


"Hm, tapi Aldi ingin papa yang bicara langsung dengan bapak Aira, Aldi takut Pak Tarman tak menerima Aldi, karna sudah dua kali Aldi dan Aira berpisah."


"Hm kalau begitu tunggu bulan depan saja, sekalian dengan Heru."


"Hm tapi Pa, Aldi mau sekarang, nanti Aira di lamar orang duluan," pintanya dengan merengek.


"Aduh Aldi kamu seperti anak kecil ya, ngak bisa di bilangin, ya sudah beberapa hari lagi Papa pulang, kamu siapin saja semuanya, mau rujuk aja kok repot" dengus Satria seraya menutup telponnya.


Aldi tersenyum puas, jujur saja, ia kurang percaya diri untuk melamar Aira kembali, karna kelihatannya Pak Tarman lebih protect terhadap Aira, apalagi sudah dua kali ia dan Aira berpisah dan perpisahan pertama merekalah yang membuat Aira tersandung kasus hukum.


Aldi kemudian menelpon Aira.


"Hallo Mas," sapa Aira.


"Hallo sayang, mas Aldi kangen sama kamu, nanti malam kita makan malam ya," ajak Aldi.


"Hm, gimana ya? tapi aku ngak enak meninggalkan bapak sendiri."Aira


"Ya sudah, ajak bapak kamu juga, "usul Aldi.


"Iya Aira tanya dulu Mas." Aira.


"Ya kalau ngak mau, mas Aldi kerumah kamu saja nanti malam, yang penting kangennya hilang," rayunya.


"Iya mas Aldi, pintu rumah Aira juga terbuka untuk mas Aldi, "sahut Aira dengan tawa kecilnya.


"Tapi hati kamu juga akan selalu terbuka untuk mas Aldi kan?"Aldi.


"Ehm, kasih tau ngak ya?" goda Aira dengan tawa khasnya.


"Pintu rumah kamu boleh kamu buka untuk siapa pun, tapi hati kamu pastikan kamu buka hanya untuk mas Aldi ya sayang," ucap Aldi.


"Iya Mas," sahut Aira.


"Mas Aldi punya pantu untuk kamu sayang."


"Apa Mas?"


"Buah manggis di atas meja, i miss you cinta" Aldi.


"Ah so sweat, Aira juga ada Mas."


"burung puyuh diatas peti, I love you bertubi-tubi." Aira.


Mereka pun tertawa kecil.


"Ih jadi gemes sayang, jadi pingin cepat di resmiin saja."


"Ehm, boleh saja tapi syarat dan ketentuan berlaku ya sayang, " sahut Aira.


"Ehm ngak bisa di tawar-tawar lagi ya sayang?"tanya Aldi.


"Ngak bisa Mas, kalau ibu Aira sudah bertemu, Aira siap menikah kapan saja," Aira.


"Ehm, iya sayang, kalau gitu sampai jumpa nanti malam, dah sayang " ucap Aldi kemudian menutup sambungan telponnya.


***


Malam harinya Aldi sudah bersiap untuk menemui Aira, dengan menggunakan kaos hitam dan blazer dengan warna senada membuatnya semakin tampan sangat kontras dengan kulit putih bersihnya yang tanpa noda sedikit pun, selain itu aroma yang keluar dari tubuhnya membuat wanita mana pun sulit menolak pesonanya termasuk Aira.


Aldi siap untuk bertemu Aira dan Alia, seperti malam-malam sebelumnya, setiap kali ada kesempatan mereka selalu menghabiskan waktu bertiga.


Aldi sudah memasuki komplek asrama, dan menemukan mobil lain terparkir tepat di halaman rumah Aira.


Ah mobil siapa ya? reader, nih author ada pantun,


"Sayur lodeh di tambah terong, bagi votenya dong "


"Sambal terasi, tumis kangkung, terima kasih karna sudah mendukung."

__ADS_1


Ayo reader yg mau berbalas pantun sama author, tulis saja di kolom komentar nanti Author balas


__ADS_2