
Karna Aira sudah lebih baik, Romeo memutuskan untuk melanjutkan perjalanan mereka.
Wajah Aira masih datar, masih ada keraguan di hatinya, ia melihat dua cincin yang tersemat di kedua jarinya, jari tengah dan jari telunjuk, cincin tunangan dan cincin pernikahannya yang sangat mahal dan bernilai tinggi, Aira menyentuh kedua cincin itu dan menciumnya, titik bening pun menetes perlahan di sudut netranya.
Melihat Aira yang terlihat bimbang, Romeo meyakinkanya dengan meraih jemari Aira dan menciumnya, Romeo juga tak mengerti dengan perasaannya, diantara banyak wanita yang pernah menarik hatinya, hanya pada Aira ia begitu bersungguh-sungguh, bahkan Romeo rela menjauh dari keluarga yang sangat menyayanginya, demi hidup bersama Aira.
Beberapa lamanya perjalanan mereka habiskan dengan hening, Romeo juga tak ingin banyak bicara, ia sendiri tahu jika keadaan Aira tak baik-baik saja, Aira mengalami depresi ringgan.
Romeo mengulurkan tangganya hingga menyentuh wajah Aira, jemari nya dengan lembut mengelus pipi mulus itu dengan persaan cinta yang amat dalam.
Tanpa banyak bicara, Romeo berusaha meyakinkan Aira.
"Sayang kamu lapar?" tanya Romeo.
Aira menggelengkan kepalanya tanpa melihat kearah Romeo.
Romeo menyungging kan senyum tipisnya sambil mengacak rambut Aira.
Mereka tiba di jalanan yang sedikit rusak, saat itu Romeo melihat sebuah mobil berhenti, sepertinya mobil tersebut berhenti karna mengalami kendala.
Romeo melihat seorang laki-laki paruhbaya terlihat binggung melihat ke arah ban mobilnya.
Karna melihat lelaki tersebut kebinggungan, Romeo pun berhenti dan keluar dari mobil tersebut.
"Sayang, aku lihat mobil di depan dulu ya," ucap Romeo sambil mencolet dagu Aira.
Aira hanya menggangguk.
Romeo turun dan mendekati mobil tersebut.
"Ada yang bisa di bantu pak?" tanya Romeo ketika mendekati pria itu.
Pria tersebut meloleh kearah Romeo.
"Oh tentu, saya kesulitan untuk mengganti ban serap mobil ini," ucap pria tersebut sambil menunjuk ban serapnya.
Romeo tersenyum, tentu saja itu mudah baginya.
"Ada dongkrak pak?" tanya Romeo sambil meraih obeng dan tang yang ada di atas tanah.
"Eh ada, sebentar," pria tersebut mengambil dongkrak di bagasi mobilnya.
Romeo pun memulai aksinya, dan dalam waktu kurang dari dua puluh menit saja, ia berhasil mengganti ban mobil pria itu.
"Sudah pak," ucap Romeo sambil memetik beberapa lembar daun untuk membersihkan tanganya.
"Wah terima kasih sekali ya,"ucap Bayu dengan senang hati.
Melihat tanggan Romeo yang kotor, Pria tersebut meminta tisu basah pada gadis cantik yang berada di dalam mobil.
Tanpa di sadari olehnya, gadis tersebut terus memandangi wajah tampan Romeo.
Gadis itu keluar dari mobil dan membawa tissu basah, ia pun menghampiri Romeo.
"Ini bang tissunya," ucap gadis itu.
Romeo meraih beberapa lembar tissu dan langsung membersihkan tanganya.
"Oh iya, siapa nama kamu?" tanya lelaki paruhbaya tersebut sambil mengulurkan tangan nya.
"Saya Romeo pak," sambut Romeo.
"Saya Bayu,"
"Dan ini anak saya", pria tersebut menunjuk anaknya dengan menyentuh bahu gadis tersebut.
__ADS_1
Romeo mengulurkan tanganya kepada gadis itu dan menjabatnya.
"Anggi," ucapnya mengulurkan tangan.
Romeo melihat sejurus ke gadis yang kira-kira seumuran denganya tersebut, dan gadis itu terus melempar senyum kearah Romeo, Romeo pun membalas dengan senyum pula.
"Karna sudah selesai, saya permisi saja pak, " ucap Romeo, ia tak enak karna meninggalkan Aira di dalam mobil sendiri.
Sementara itu karna merasa bosan, Aira pun keluar dari mobil dan menghampiri Romeo.
Semua mata tertuju pada Aira yang perlahan mendekati mereka.
"Aira sini," ucap Romeo sambil menarik tangan Aira.
"Ini adik anda?" tanya pak Bayu yang melirik ke arah Aira.
"Oh, ini istri saya Pak," ucap Romeo.
Keduanya sedikit kaget, karna melihat wajah Aira yang sepertinya masih belia.
"Ehm pasangan muda," guman Pak Bayu.
"Berhubung saya harus melanjutkan perjalanan lagi, kami permisi dulu ya." Romeo,
Romeo dan Aira pun berlalu meninggalkan Pak Bayu.
"Tunggu, kalian mau kemana?" tanya pak Bayu.
Romeo sendiri binggung, ia tak punya tempat dan tujuan yang di rencanakan sebelumya..
"Kami mau mencari pengginapan si desa terdekat, selama beberapa hari, sampai keadaan istri saya lebih membaik,sebelum melanjutkan perjalanan kami kembali, "ujarnya memberi alasan.
"Emangnya istri anda kenapa?" tanya Bayu.
"Oh Istri saya sedang hamil muda, kondisinya sangat memprihatikan dan tak mungkin untuk di paksakan melanjutkan perjalanan," tambah Romeo.
"Oh kalau begitu kalian ikut saya saja, saya punya beberapa kontrakan, kalian bisa tempati sampai istri kamu benar-benar sehat," tawar Pak Bayu.
Romeo tersenyum mendengar tawaran dari pak Bayu, "Terima kasih pak, " ucap Romeo, ia pun tersenyum kearah Aira.
Anggi juga merasa senang, karna dengan demikian ia bisa melihat Romeo lebih lama.
Romeo dan Aira mengikuti mobil yang berada di depannya, sepanjang jalan Aira hanya diam aja, Romeo pun berusaha menggodanya untuk membuatnya bereaksi.
"Aira, anaknya pak Bayu cantik ya?" tanya Romeo sambil melirik ke arah Aira.
"Iya bang masih gadis lagi, abang suka?" sahut Aira tanpa menoleh kearah Romeo.
"Ngak lah, abang kan udah punya kamu," sahut Romeo.
Aira menyunggingkan senyum pesimisnya,"Ngak usah sama Aira, Aira ngak pantas untuk abang, mending abang sama anaknya pak Bayu aja, cantik masih perawan lagi," ucap Aira lirih.
"Emh kamu jelauos ya, tenang aja Aira, abang ngak akan tergiur kok, karna bagi abang sendiri, perawan itu memang asik, tapi janda lebih menarik," ucapnya dengan penekanan di akhir kalimat, ia pun melempar senyum manisnya kearah Aira.
"Kata siapa?" sahut Aira dengan wajah yang cemberut.
"Kata Valentino Rossi, udah dengar belum, janda semakin di depan" ucapnya sambil tertawa cekikikan.
Aira tertawa kecil, " Valentino rossi bilang itu Yamaha yang semakin di depan, bukan janda abang," sahut Aira tersenyum, sambil mencubit perut Romeo.
"Hus, jangan sebut merek, kita kan ngak di enddoress tahu," sahut Romeo, mereka pun tertawa bersama.
"Masa' Aira di samain dengan motor empat tak sih," ucapnya dengan bibir yang mengkerucut.
"Iya, bagi abang Aira itu seperti motor yang menggerakan seluruh roda kehidupan abang saat ini, tanpa mu Aira, abang tak bisa bernafas dengan lega, seperti fungsi inheller saat abang pilek," ucapnya dengan maksud menggoda Aira.
__ADS_1
"Ampun keluar lagi bucinnya," guman Aira, ia pun tersenyum.
Romeo senang melihat Aira yang tersenyum, ia semakin semangat untuk menggodanya.
"Satu lagi Aira, abang punya pantun untuk kamu dengar ya, beribu-ribu bintang di langit, hanya satu yang bercahaya, beribu cewek yang abang suka, hanya Aira yang abang cinta," ucap Romeo sambil tertawa cekikikkan.
"Bisa aja, norak baget," ucapnya ketus, sejenak kemudian ia tertawa.
"Tuh kan kalau ngak di bucinin ngak bakalan tersenyum," ucap Romeo sambil mencubit pipi Aira.
"Sudalah Aira jangan bersedih terus, kita akan mulai hidup baru disini, hanya ada kamu, abang, dan anak kita, dan kita tak akan kembali, sebelum mereka semua bisa menerima hubungan kita."
Aira kembali melirk Romeo, Ia kembali menarik nafas panjang, sungguh ucapan Romeo seperti oase di pandang pasir, atau hanya seperti fatamorgana yang hanya memberi harapan yang penuh dengan kepalsuan , ia sendiri sudah pernah mendengar mimpi-mimpi indah itu, dan memang semuanya hanya berakhir sebagai sebuah mimpi, yang memberi bekas tak nyaman di kehidupan nyatanya.
Sesaat kemudian keadaan menjadi hening kembali.
Setelah kurang dari satu jam, mereka pun sampai di sebuah kampung.
Romeo terus membuntuti mobil pak Bayu, hingga ia berhenti di sebuah rumah yang paling besar di kampung tersebut.
Romeo dan Aira turun dari mobil dan di persilakan masuk oleh pak Bayu.
Setelah di disuguhi minuman dan mengobrol sebentar, Pak Bayu dan istrinya mengantar mereka di sebuah rumah petak yang berada tak jauh dari rumahnya, sebelum mereka tiba di rumah tersebut, pak Bayu memperkenal kan Romeo dan Aira sebagai tamu di kampung mereka, kepada beberapa warga sekitar.
Pak Bayu membuka pintu di sebuah kontrakan yang lumanyan besar. terdapat dua kamar di dalam rumah dengan lantai kayu tersebut.
Bersih, rapi dan sejuk, begitulah kesan pertama yang mereka rasakan, saat masuk ke rumah itu, karna begitu banyak pepohonan di sekitar mereka, suasana terasa tenang, apalagi di belakang rumah mereka terdapat anak sungai dengan riak air yang terdengar saat hening.
Aira merapikan tempat tidur yang akan di gunakanya, tubuhnya terasa lemas, sudah beberapa hari ini, ia hanya makan sedikit, dan itu pun harus di muntahkannya kembali, setelah tempat tidurnya siap ia pun langsung tertidur dengan lelap.
Romeo mengintip di kamar Aira yang tak berkunci, melihat Aira yang terlelap, ia pun menghampirinya, Romeo mengusap kepala Aira dengan lembut, di lihatnya wajah Aira yang terlihat pucat, ia pun menyambar bibir Aira yang terlihat menggemeskanya, saat wajahnya hampir menyentuh wajah Aira, gerakanya terhenti, bibir Romeo malah menyentuh dua jari Aira yang melintang dan menahan agar Romeo tak menyentuhnya bibirnya.
"Jangan bang, kita tak punya komitmen apa pun," ucap Aira sambil menjauhkan wajah Romeo.
Romeo menarik wajahnya, "Iya, maafkan abang Aira," ucap Romeo yang merasa bersalah karna telah berbuat lancang, Romeo pun langsung pergi meninggalkan Aira.
Aira menatap Romeo yang pergi meninggalkanya, ia pun kembali menangis.
"Maafkan Aira mas Aldi, Aira tak bermaksud untuk berkhianat, Aira hanya ingin menenangkan diri, sebelum Aira menyerahkan diri kepada polisi atas perbuatan yang Aira lakukan, jujur Aira belum siap untuk meringkuk sendiri merasakan dinginnya dinding penjara," ucapnya sambil menghapus air matanya.
Aira pun membalikan tubuhnya, ia begitu rindu untuk bertemu Aldi, namun keraguan lagi-lagi menahan untuk kembali, semua masalah ini terasa begitu membebaninya, selain masalah rumah tangganya bersama Aldi belum terselesaikan, ia pun harus menanggung perasaan bersalah karna merasa telah membunuh seseorang, apalagi yang bisa di lakukanya saat itu selain menangis seorang diri, sambil berharap, satu persatu masalahnya bisa terurai, dan hidupnya bisa kembali tenang.
"Mas Aldi, Aira kangen sekali ingin bertemu, tapi Aira takut menerima kenyataan, jika Aira adalah seorang pembunuh," ucapnya sambil kembali menangis di bawah selimut, tubuhnya bergetar dengan jantung yang terus bergemuruh, sejak kejadian malam itu, Aira tak pernah merasa tenang, dirinya terus di kejar-kejar perasaan berdosanya.
Sepanjang malam ia habiskan untuk menangis meratapi dosa-dosanya.
***
Aldi menghabiskan minumannya di sebuah bar, setelah membayar billnya, ia pun beranjak dari tempat tersebut, Aldi merasa sakit, ketika pikiranya membayangkan bagaimana istrinya menikmati malamnya bersama pelukan pria lain, Aldi menangis dalam diamnya, hingga tak kuat, ia pun mengalihkannya dengan minum-minuman keras, tubuhnya sempoyongan dan kepalanya terasa pusing, seketika itu, ia pun tumbang di tempat itu juga.
***
Heru membopong tubuh Aldi, ia mendapat telpon, jika Aldi tak sadarkan diri di pub tersebut, dan membawanya pulang.
Aldi meracau menyebut-nyebut nama Aira saat ia tak sadar, terlihat sekali kekecewaan dan kesedihan menyelimutinya saat itu.
" Di kenapa loh lakukan kebodohan ini Di, ucap Heru sambil menyetir, Heru begitu sedih melihat adiknya terpuruk, di usapnya wajah Aldi dengan penuh kasih sayang.
"Mas Heru akan berusaha mengembalikan Aira kepelukan kamu Di, mas yakin, Aira tak berniat untuk mengkhianati kamu, kita juga ngak tahu, apa yang terjadi padanya sebelum ini, hingga ia memutuskan untuk pergi," guman Heru.
Sementara Aldi, ia masih menangis dan mengumpat pengkhianatan Aira terhadapnya sepanjang perjalanan mereka.
Bersambung dulu ya guys, berikan komentar, like , dan komen kalian.
Info penting nih, masukin di rak buku dan favoritin novel rekomendasi author ini ya dengan judul: Pulau kematian
__ADS_1