
Waktu berlalu.
Arsyad berada di luar ruang operasi menanti dengan gelisah, begitupun Aldi dan Aira.
Arsyad bolak balik, sebentar duduk sebentar berdiri.
"Duduk Dek!" Aira.
Arsyad pun duduk.Namun beberapa saat lagi ia kembali berdiri.
Sudah lebih satumereka menunggu dengan gelisah, semakin lama Arsyad semakin tegang.
Oek oek...
Terdengar suara tangis bayi dari ruangan operasi.
"Alhamdullilah," Ucap mereka secara serempak.
Beberapa saat kemudian terdengar lagi suara tangis bayi dan kali ini terdengar lebih nyaring.
Owek owek.
"Alhamdullilah Dek, anak kamu sudah lahir dua-duanya," ucap Aira seraya berdiri memeluk putranya.
"Iya Bunda, semoga Nisa juga selamat," ucap Arsyad bahagia sekaligus khawatir.
Arsyad masih belum bisa tenang karna belum tahu keadaan istrinya saat ini.
Beberapa saat kemudian seorang suster dan seorang perawat membuka pintu ruang operasi.
"Keluarga Nyonya Annisa!"
Arsyad segera menghampiri suster yang menggendong masing-maing satu bayi.
"Saya suaminya suster, bagaimana keadaan istri saya?"tanya Arsyad.
"Alhamdullilah, nyonya Annisa masih di observasi pasca operasi. Keadaannya cukup stabil."
"Alhamdullilah." Arsyad pun melirik kearah kedua bayi yang di balut kain bedongan.
Selamat ya pak, istri anda melahirkan bayi kembar sepasang dengan berat badn normal yakni 2600 gram dan 2800 gram dengan panjang maing-maing 46 cm," Papar suster tersebut.
"Alhamdullilah ya Allah terima kasih atas anugrah yang kau berikan." Arsyad.
Aldi dan Aira pun semakin mendekat mereka ingin menyambut cucu-cucu mereka.
Seorang suster menyodorkan kepada Arsyad bayi laki-laki mereka dan menyodorkan ke Aldi bayi permpuan.
"Silahkan jika mau di-azankan anak-anaknya Pak, sebelum kami bawa ke ruang perawatan bayi baru lahir." suster.
"Iya suster."
Arsyad mencium bayi dengan bulir bening yang menetes di pipi.
'Seperti inilah bahagianya memiliki seorng ayah,' gumannya ia pun mencium putranya dengan penuh kasih sayang.
Begitupun Aira dan Aldi. Akhirnya di rumah mereka akan terdengar lagi suara tangis bayi perempuan.
Aira menitikan air matanya mencim cucu perempuannya.
"Puji syukur kita masih di beri umur panjang Yah, menyaksikan putra-putri kita memiliki keluarga yang sakina ,mawardah,worohma." Aira.
"Iya Bun. Inilah kebahagian yang selalu kita nantikan. Sebuah impian yang kini jadi kenyataan, kita bersama menghabiskan.susa usia tersenyum melihat anak cuvu kita hidup dalam kebahagiaan dan serba kecukupan. Rasanya tak sia-sia perjuanhan kita selama ini dalam membesarkan dan mendidik mereka," tutur Aldi haru.
Arsyad dan Aldi pun menghadap kiblat memulai Azan dan iqama untuk kedua bayi tersebut.
Setelah selesai Azan dan iqamahnya Arsyad menghampiri Aldi.
Arsyad menyerahkan bayi laki-lakinya kepada Aira kemudian meraih bayi perempuannya.
Arsyad tersenyum seraya mencium pipi bayi tersebut.
__ADS_1
"Kamu cantik seperti ummi mu." Arsyad.
Setelah menimang nimang sebentar Arsyad pun menyerahkan bayinya kepada Aira.
"Sudah Bu, ayo kita bayinya keruangan bayi sambil menunggu ibunya di pindahkan kedalam ruang perawatan."
"Iya Suster, biar saya dan suami saja yang menggendong cucu-cucu kami." Aira.
"Silahkan saja Bu."
Mereka pun menuju ruang perawatan bayi.
Aldi dan Aira berjalan melewati lorong-loring rumah sakit dengan sesekali mencium pipi kedua bayi tersebut.
Sementara Arsyad masih setia menanti sang istri di kamar operasi.
Setengah jam kemudian Nisa di bawa keruang perawatan, meski ia belum.sadarkan diri tapi kondisinya cukup baik.
Bebeberapa suster mendorong brankar Nisa menuju ruang perawatan.
Setelah sampai di sebuah ruangan super VIP mereka pun menyadarkan brankar Nisa pada suatu titik.
Kedua suster kembali memeriksa keadaan Nisa sebelum pergi meninggalkannya.
"Bagaimana keadaan istri saya Suster?"tanya Arsyad seraya membelai rambut Nisa.
"Pasien mungkin sebentar lagi sadar ya pak. Saat ini pasien masih di bawah pengaruh obat bius. Tapi keadaannya baik-baik saja." Suster.
"Oh iya terima kasih suster."
"Baik pak jika butuh sesuatu, anda bisa panggil kami," ucap suster tersebut seraya berlalu meninggalkan Arsyad.
Arsyad tersenyum seraya mengusap pipi Nisa.
"Ummi banggun Ummi, Abi ngak sabar ingin cerita tentang anak-anak kita," bisik Arsyad di telinga Nisa.
Nisa mulai bereaksi, matanya menerjab-nerjab melihat ke arah sekeliling.
"Abi!"ucap Nisa lirih.
"Iya Sayang, Alhamdullilah kamu sudah sadar." ucap Arsyad kemudian mencium kening Nisa lekat.
Nisa menitikan air matanya." Di mana anak kita Abi?"
Baru saja Nisa bertanya, sudah terdengar suara orang mengucap sallam.
Assalammualaikum, ucap Aira dan Aldi mereka tiba dengan membawa dua bayi mereka.
"Waaaikumsalam, " ucap Nisa dengan haru. Rasanya sudah tak sabar untuk mencium dua malaikat kecilnya.
"Ummi sudah sadar ya Ummi?"tanya Aira seraya meletakan bayi perempuan di samping Nisa.
"Iya Bunda, Alhamdullilah."
Aldi pun meletakan seorang bayi laki-laki lagi di samping Nisa.
"Ya Allah yang ini malah mirip Abi-nya," ucap Nisa seraya mencium pucuk kepala bayinya.
"Ya iya lah anak laki-laki harus mirip Abinua dong." Arsyad.
"Laki-laki Bi?" tanya Nisa.
Iya anak kita kembar sepasang Ummi, ucap Arsyad seraya mencium kening istrinya.
"Alhamdulilah ya Allah. Nisa beruntung banget bisa memiliki anak kembar sepasang. Sehat-sehat lagi," ucap Nisa dengan air mata haru yang terus menetes.
"Abi kita kasih nama siapa ya anak-anak kita, Ummi pikir anak kita kembar perempuan seperti Ummi dan Aisyah."
"Nanti saja Ummi. Kita kumpul satu keluarga dulu. Kita simpan saat aqiqah si kembar."
"Aira tersenyum, seperti saat Arsyad lahir ya Yah." Aira.
__ADS_1
Arsyad dan Nisa begitu menikmati momen-momen pertama mereka menjadi.orang tua.
***
Hari ini hari sudah tujuh hari kelahiran si kembar, selain aqiqah hari ini juga pemberiaan nama untuk bayi kembar Arsyad dan Nisa.
Hal yang paling membahagian dari keluarga mereka adalah saat kumpul bersama.
Seluruh anggota keluarga tanpa terkecuali datang menghadiri acara tersebut. Bahkan mereka rela tidur rame-rame di ruang tamu dari pada menginap di hotel.
Sejak malam tak henti-hentinya terdengar suara gelak canda. Aldi Romeo dan Doni mereka ngobrol sampai larut malam, begitupun istri-istri mereka.
"Jadi kamu sudah pensiun ya Aira?" tanya Tari di sela-sela canda tawa mereka.
"Iya rencnanya Aira sama mas Aldi mau bulan madu keliling dunia mbak."
"Wah ikutan dong! "
"Rom kita juga ikut mereka yuk jalan-jalan keliling dunia, ngabisin duit kita hehe."
"Ehm boleh, loh juga Don ikut kita, anak-anak kita kan sudah pada besar semua."
"Keliling dunia?! Mau dong Pa! Sekali-kali gitu," rengek Dasti pada Doni.
"Keliling dunia, duitnya dari mana Ma? Mereka mah orang kaya, ngak bisa kita ikut gaya hidup mereka." Doni.
"Kita jual tanah yang ada di belakang rumah kita aja Pa untuk ongkos keliling dunia." Dasti.
"Buset! tanah wakaf bokap gue mau loh jual. Bisa bangkit engkong gue dari kuburannya!" dengus Doni.
"Yaelah Don loh ikut aja. Ada gue yang bayarin loh."Romeo.
"Iya Nih, tenang saja. Selama ada gue dan Romeo loh berdua ngak usah bayar. Ntar kalau udah sampai di antartika kita tinggalin mereka berdua Rom, buat umpan beruang kutup," ucap Aldi seraya tertawa.
" Hiks teganya, Sampai nanti!" Doni.
"Sampai hati pe'a!" sahut Aldi dan Romeo.
"Iya itu maksud gue." Doni.
"Pokoknya kita berenam jadi berangkat, kita bulan madu bersama!" teriak Aldi.
Heru datang menghampiri." Eh kalian mau kemana?" tanya Heru langsung duduk.
"Kita ber-enam mau bulan madu Mas.Keiling lingkaran. " Doni.
"Keliling dunia Doni! "
He he Doni nyengir.
"Ya udah gue ikut dengan bini gue." Heru.
"Ya iyalah mas. Dengan bini mas Heru, masak iya dengan bininya si Sapri."Doni.
Sapri adalah sopir Aldi.
"Loh Don makin tua, makin ngeselin." Heru.
"Biasa Mas buang tabiat dia." Romeo.
"Ya sudah bearti deal. Kita berempat bulan madu madu keliling dunia."
"Oke! Deal!"
Terima kasih untuk para reader semua yang masih setia sampai episode ini.
Dengan ini novel telah tamat secara utuh.
Selamat menunaikan ibadah puasa.
Selamat Idul fitri mohon maaf lahir batin
__ADS_1
Wassalammualaikum wr.wb