Kenapa Harus Menikah Dengan Mu

Kenapa Harus Menikah Dengan Mu
Kesaksian Aira


__ADS_3

Matahari berjalan lambat menyapa jagat raya yang masih terhampar kabut gelap, sinar teduh sang surya yang menyinari isi dunia hingga menyilau kan mata Aldi yang membuatnya terjaga dari Alam bawah sadarnya.


Seolah tak sabar, Aldi yang baru membuka mata kemudian bergegas bangkit untuk mempersiapkan dirinya.


Setelah menuntaskan ritual mandi paginya, Aldi berjalan longkai menuju walk in closetsnya, tak seperti beberapa hari yang lalu saat sang istri bersamanya, saat ini ia harus menyiapkan pakaianya sendiri.


Kesedihan dan keresahan masih menggumpal bergemuruh dalam hatinya,


Meski baru tiga hari berpisah, namun ketidak hadira Aira di sisinya seperti mengubah seluruh hidupnya, tak ada tawa riang dan rayuan manja yang terdengar dari mulut mungil sang istri.


Tak ada teman tidur yang selalu menghangatkanya melewati malam malam sepi yang terpaksa ia lalui sendiri.


Waktu seraya berjalan lambat, sejak kesunyian dan kesepian kembali mengusik relung hatinya.


Aldi turun dari lantai atas kamarnya menuju meja makan, meminum segelas susu yang sudah di siapkan oleh mbok jum.


"Mas Aldi, apa Mas Aldi baik-baik saja?" tanya simbok yang merasa khawatir melihat kondisi Aldi.


Ketampanan nya sedikit pudar karna mata dan pipi yang terlihat cekung, sejak tak bersama Aira Aldi kehilangan selera makan nya, bahkan seharian ia hanya bisa menengguk susu dan beberapa suap nasi, itu pun harus di paksa kan.


"Sudah siap Di? tanya Heru kepada Aldi yang baru saja tiba.


"Sudah mas kita berangkat saja, " ucap Aldi seraya beranjak dari kursi tempat ia mendaratkan bokongnya.


Tari juga sudah siap menunggu untuk pergi bersama Aldi, tapi melihat Heru juga ikut bersama mereka, ia pun mengurungkan niatnya.


"Ayo Tar! "ajak Aldi.


"Ehm ngak Di, gue sudah telpon Romeo untuk jemput gue, " kilah Tari.


"Ehm ya sudahlah kalau gitu," ucap Aldi yang langsung berlalu.


Tari merogoh tasnya, untuk menemukan handphone, setelah mendapati handphonenya tersebut ia langsung menghubungi Romeo.


Panggilan pun langsung tersambung.


"Hallo Tar," sapa Romeo.


Uhuk..Uhuk..


"Rom, lo ngak apa-apa?"tanya Tari panik karna mendengar Romeo yang terdengar kurang fit dari suaranya.


"Ngak apa-apa, cuma flu biasa saja, "sahut Romeo.


"Hm, ya sudah deh Rom, lo istirahat saja nanti jika setelah sidang gue mampir kerumah loh," ucap Tari keceplosan.


Romeo yang terbaring langsung bergegas bangkit.


"Sidang? siapa yang sidang?.Aira?" tanya Romeo, ia sendiri tak mengetahui jika Aira sempat di tahan.


"Ehm Iya Rom, tadinya gue mau ngajak loh, tapi karna loh lagi sakit ya sudah, loh istitahat saja," sahut Tari lagi.


"Engak kok, sekarang gue jemput loh Tar," ucap Romeo yang langsung memutus sambungan telpon nya.


Tari berdengus kesal," Giliran Aira semangat banget kamu Rom," gumanya.


Meski ia sering merasa cemburu atas perlakuan istemewa Romeo terhadap Aira, tapi ia tak mau telalu larut dalam perasaan cemburunya, karna bagaimana pun sekarang ia dan Aira sudah menjadi saudara, lagi pula ia tak mungkin menghindari pertemuan Aira dan Romeo, karna setelah mereka menikah untuk beberapa lamanya ia dan Romeo akan tinggal di rumah ini, seperti keinginan orang tuanya.


Tari mencoba belajar untuk tegar dan sabar, jika sang calon suami masih mencintai adik iparnya sendiri karna semua memang sulit untuk di hindari.


Dan atas nama cinta, ia harus bisa menahan perasaannya demi kenyaman mereka bersama.


Tak sampai setengah jam Romeo sudah tiba, Tari mempercepat langkah kakinya untuk menghampiri sang Arjuna cintanya.


Senyum ceria menyapa Romeo saat Tari duduk di sampingnya.


Tari memperhatikan wajah pria yang duduk di kursi kemudi tersebut dan melihat wajah Romeo yang sedikit pucat.


"Loh kenapa Rom? sakit ya?" tanya Tari.


"Ngak cuma batuk saja, kemaren gue merokok sama minum minuman bersoda, mungkin karna itu, gue jadi flu, " sahut Romeo.


Tari merentangkan tanganya meraba kening Romeo, "Angat Rom, kenapa ngak istirahat saja sih?" tanya Tari.


"Kenapa loh ngak senang ya pergi dengan gue?" kilanya sambil melirik kearah Tari.


"Ngak lah, bukan begitu Rom, malahan gue maunya bersama loh terus kemana pun loh pergi," ucap Tari tanpa malu-malu.


"Serius? ke toilet juga?" sambar Romeo kembali sambil tersenyum.


"Kecuali yang itu," sahutnya spontan.


Romeo tertawa kecil.


"Kenapa loh tertawa Rom?.lucu ya?" tanya Tari.


"Ngak, cuma aneh saja, selama ini gue yang ngebucinin cewek, tapi baru kali ini gue di bucinin cewek, serasa di kacangin gue," sahut Romeo.


"Ah loh Rom, bikin gue malu aja, "cetus Tari sambil tertunduk menyembunyikan wajahnya yang merona.


Perjalan yang mereka lalui sangat lancar, namun tiba di sebuah toko bunga Romeo berbelok dan berhenti di depan toko bunga di sana juga sudah ada Doni.

__ADS_1


"Gue beli bunga dulu Tar, loh mau ikut?" tanya Romeo.


"Untuk apa Rom?"tanya Tari.


"Ada deh, "sahutnya seraya membuka pintu mobil.


Tari menatap kepergian Romeo menuju toko bunga tersebut, selang beberapa lama ia sudah kembali bersama Doni.


Rupanya mereka sudah janjian untuk membeli bouquet bungan merah untuk menyemangati Aira.


Setelah kembali dengan sekuntum lilac merah, ia pun kembali melanjutkan perjalanannya.


***


Pengacara dan pendukung Aira sudah menduduki kursi di ruang sidang, aneka buket bunga sampai karangan bunga terpampang di depan ruang persidangan.


Berbagai ucapan simpaty dan dukungan mengalir dari beberapa instalasi dinas sosial serta gabungan para lawyer,mereka sengaja mengirim karangan bunga tersebut sebagai bentuk solidaritas masalah kemanusiaan yang tengah mereka hadapi saat ini.


Sementara Aldi menunggu dengan gelisah kedatangan sang istri di depan gedung pengadilan, ditemani para sahabat dan saudaranya.


Heru, Doni, Tari dan Romeo ikut menyambut kedatangan Aira, mereka membawa buqet bunga mawar merah yang melambangkan keberanian agar Aira merasa percaya diri saat memberi keterangan di hadapan jaksa.


Netra Aldi seketika berkaca-kaca ketika melihat mobil yang membawa istrinya tersebut perlahan masuk ke halaman parkir gedung pengadilan.


Aira kali ini tak di kawal seperti kemaren, karna hari ia akan memberi kesaksian pada sidang yang melibatkan human trafikng tersebut.


Mobil baru saja berhenti, tetapi seperti tak sabar untuk menemui istrinya, Aldi pun berlari menghampiri mobil petugas yang membawa sang istri tersebut.


Hari ini Aira di jadwalkan menjalani dua persidangan sekaligus, sidang pertama adalah mendengar kesaksianya terhadap para tersangka yang terlibat kasus human trafiking dan pros*titusi, dan sidang kedua adalah sidang putusan hakim tentang kasusnya.


Aldi langsung mengahambur memeluk sang istri dengan air mata haru yang menetes di pipinya.


"Sayang kamu baik-baik saja kan?" Tanya Aldi seraya memeluk Aira sesaat setelah istrinya keluar dari mobil.


"Aira ngak apa-apa Mas Aldi,"


"Syukurlah sayang, Mas sangat mengkhawatirkan keadaan kamu."


"Hm, mas Aldi terlihat kurus," sahutnya sambil mengamati perubahan wajah Aldi yang terlihat cekung pada pipi dan terlihat lingkaran hitam tipis pada kelopak matanya.


"Iya, Mas Aldi bisa saja mati jika terlalu lama jauh dari kamu," sahut Aldi sambil mencium setiap inci dari wajah sang istri.


"Mas Aldi sayang, Aira jadi kangen," ucap Aira yang kembali memeluk Aldi semakin erat


Keduanya terlarut dalam haru hingga tak sangup untuk menahan air matanya.


"Iya sayang mas Aldi juga kangen, " balas Aldi seraya mencium pucuk kepala sang istri.


Selama di titipkan di lembaga penitipan anak, Aira mendapat banyak pertanyaan dari pihak penyidik dan penyelidik dan sedikit mengganggu stabilitas emosinya.


Setelah melepaskan kerinduan mereka pun berjalan dengan bergandengan menuju pintu masuk gedung pengadilan.


Tangis haru juga menyapa Aira dari Tari yang langsung memeluknya.


"Aira, mbak kangen, ngak ada kamu rumah terasa sepi, " ucapnya seraya mameluk Aira.


Aira tersenyum, "Aira juga kangen sama mbak," ucap Aira membalas pelukan Tari.


Setelah beberapa saat mereka pun melepaskan pelukanya.


Aira mendekati Heru yang telah menyodorka bouqet mawar merah.


"Untuk seorang gadis pemberani," ucap Heru seraya menyerahkan bouqet tersebut.


Aira menerima rangkaian bunga tersebut dengan haru,


"Terima kasih mas," ucap Aira sambil menghambur memeluk Heru.


"Iya Aira kamu jangan takut ya, kami selalu mendukung kamu," ucap Heru lagi.


"Iya Mas,"


Tak ketinggalan Doni dan Romeo pun ikut memberi dukungan dan semangat dengan memberi sekuntum bunga berwarna merah.


"Aira kami selalu mendukung kamu, jadi kamu harus semangat ya !!" ucap Doni seraya menyerahkan kembang tersebut langsung kepada Aira.


"Terima kasih bang," ucap Aira.


Sementara Romeo tak bicara apapun ia hanya menyodorkan setangkai bunga lilac yang juga berwarna merah dengan senyuman yang memiliki sejuta makna, tanpa di ucapkan pun Aira tahu bagaimana selama ini Romeo telah memberinya dukungan dan semangat.


Aira menyambut bungan pemberian Romeo dengan tersenyum pula.


Dengan dampingan sang suami tercinta Aira menuju ruang persidangan dan saat di depan pintu ruang pesidangan, kehadiranya di sambut haru oleh mantan wanita penjaja cinta yang kini di tampung dan di berdayakan oleh dinas sosial.


Bak pahlawan Aira di sambut hangat dengan air mata haru yang mengucur deras di pipi para wanita yang hampir putus asa tersebut.


Satu persatu mereka ingin memeluk dan bersalam kepada Aira, namun di halangi oleh para petugas yang menjaga keamanan dan ketertipan di ruang persidangan.


Aira semakin haru dan bersemangat, rasanya tidak sia-sia perjuanganya selama ini.meski harus merasakan siksaan dari orang-orang zalim tersebut.


Suara berisik terdengar di seluruh ruang berukuran lumayan besar tersebut.

__ADS_1


Aira duduk dengan tenang di dampingi beberapa pengacara dan dari lembaga sosial  pada sebuah sudut ruangan.


Suasana semakin ricuh saat satu persatu tersangka di bawa menuju kursi pesakitan.


Keributan yang berasal dari mantan wanita tuna susila yang mengecam dan mencaci maki para tersangka.


Kali ini yang di sidang ada enam orang pria, termasuk salah satu dari tersangka adalah paman Aira sendiri, beliaulah yang menjual dirinya pada penampungan terkutuk itu.


Darah Aira mendidih seketika melihat wajah lugu sang paman,di balik wajah kalem tersebut ternyata hatinya sudah di kuasi oleh iblis.


Bagaimana mungkin Aira yang harusnya di lindungi, ternyata malah di jual oleh orang yang sangat dekat dengan nya tersebut.


Suasana teggang kembali tenang saat hakim ketua mulai mengetok palu bertanda sidang akan di mulai.


Sesi pertama adalah mendengarkan jaksa tuntutan umum atas dakwaan tersebut.


Keenam pria ini akan di tuntut dengan pasal yang sama dan tuntutan hukum yang sama.


Hakim mulai membacakan pasal-pasal dan poin-poin apa saja yang di langgar oleh tersangka.


Setelah pembacaan dakwaan kini tibalah waktunya bagi Aira untuk bersaksi.


Aira menuju kursi di mana ia akan bersaksi, langah Aira gemetar, matanya tajam seakan ingin menerkam para pria yang pernah menyiksanya tersebut.


Aira mengatur nafasnya, sementara para tersangka menatap tajam kearah nya, seolah ingin menakuti gadis yang hampir binasah di tanggan mereka tersebut.


Seorang petugas jaksa menanyakan kesiapan Aira untuk menjawab pertanyaan dari majelis hakim.


Aira adalah saksi yang memberatkan tuntutan bagi tersangka.


Setelah pengambilan sumpah Aira mulai memaparkan apa-apa saja yang ia Alami dan ia saksikan secara langsung saat berada di rumah jahanam tersebut.


"Saya bersumpah atas nama Tuhan yang maha esa, jika apa yang saya katakan saat ini adalah kejadian yang saya alami."


Aira menarik nafas panjangnya, titik bening perlahan menetes di pipinya dengan mata yang berkaca-kaca.


"Pada tanggal xx dibulan yy tersangka bersama Herman membawa saya kesebuah rumah yang ternyata adalah tempat pek*lacuran."


"Saat itu saya memohon kepada tersangka agar tidak meninggalkan saya di tempat itu, tapi tersangka tak memperdulikan saya malah dengan sengaja membenturkan kepala saya di dinding," ucap Aira yang mulai terbata-bata.


tik..tik air mata semakin deras dengan detak jantung yang berdetak semakin kencang memompa aliran darahnya.


Aldi menggenggam tanganya matanya menyorot kearah paman Aira tersebut.


Aira kembali memberi keteranganya.


"Sepeninggalan tersangka Herman, saya di sekap pada sebuah ruangan gelap dan di takuti serta di ancam agar mengikuti keinginan mereka, setelah mengintimidasi saya, mereka menyeret saya dan kembali membawa saya ke sebuah kamar di mana di sana saya harus melayani seorang pria hidung belang, tapi saya langsung menolak dan memukul salah satu dari mereka sebagai upaya melarikan diri, namun mereka dengan mudah mengejar saya, dan mereka kembali menyeret saya ke sebuah ruangan pengap, tangan saya di ikat dan di gantung saat itu, saya di ancam untuk tidak kabur, dan sebagai peringatan agar saya tak kembali menolak untuk melayani lelaki hidung belang tersebut, saya beberapa kali dicambuk hingga saya pingsan dan itu semua di lakukan oleh ke lima tersangka itu, ucapnya sambil menujuk kearah para tersangka.


Aira mata Aira semakin deras, dengan tubuh yang gemetar mengingat kejadian pahit tersebut, tubuhnya terguncang seolah kembali merasakan siksaan dari cambukan mereka.


Aldi yang mendengar keterangan Aira berdiri dengan tubuh yang gemetar.


"Dasar lak*nat kalian semua!!!! neraka lebih pantas untuk kalian dari pada penjara dunia ini !!!" teriak Aldi dengan tubuh yang gemetar menahan emosi.


Seketika pandangan tertuju pada teriakanya tersebut.


Heru yang berada di samping Aldi berusaha untuk menenangkannya.


Hakim mengetuk palu meminta Aldi untuk tetap tenang.


"Hadirin di harapkan tenang agar tak mengganggu jalanya persidangan," ucap Hakim ketua secara lantang.


Aira menarik nafasnya kembali, dengan menelan salivanya ia berusaha untuk tetap tenang,


"Tak hanya hari itu, setiap harinya saya terus di siksa dengan berbagai cara, mulai dari mencambuk hingga menyulutkan api rokok ke bagian dada dan punggung saya sampai saya menyerah, tapi saya tak pernah mau mengikuti keinginan mereka, lebih baik saya mati!!!, dan sampai saat ini perbuatan mereka telah meninggalkan bekas yang tak kan pernah bisa hilang, baik di tubuh saya, maupun di ingatan saya!!!papar Aira dengan gemetar namun suaranya terdengar lantang memenuhi ruangan tersebut.


Aira mengenggam ujung kemejanya, ia mengatur nafas kembali, agar bisa menahan emosinya kemudian melanjutkan keteranganya.


"Tapi yang paling sadis dari semua itu adalah mereka sengaja mempertonton kan saya adegan panas secara langsung dan memaksa saya untuk meminum obat perang*sang, itu adalah perbuatan yang paling menjijikan yang pernah saya terima , bukanya teran*sang saya justru mengalami trauma dan ketakutan hingga saya mengalami depresi!" ucap Aira kali ini tubuhnya kembali terguncang, Aira menangis tanpa suara.


Aira diam sejenak, bibirnya terasa kelu, dengan nafas yang masih memburu, berkali kali ia harus menelan ludahnya demi membasahi kerongkonganya yang terasa kering.


Setelah cukup tenang, Aira memilih untuk mengakhiri kesaksianya.


"Sekian saja kesaksiaan saya, meski apa yang saya paparkan tak sesederhana yang saya alami saat itu, bukti dari hasil visum dan rekam medis saya, serta kesaksian dari para ahli, saya rasa cukup untuk menyampaikan pembuktiaan dan pengunggkapan dari apa yang baru saa saya ungkapkan," ucap Aira, ia pun memohon ijin untuk keluar dari ruangan tersebut karna tugasnya sebagai saksi sudah selesai.


Aira berjalan mendekati keluarganya dan langsung di sambut tangisan haru oleh sang suami yang menyambutnya dengan dengan dekapan hangat.


Mereka terharu dan menitikan air mata seolah merasakan kepedihan dan kesakitan yang di alami olehnya, setelah mendengar kesaksian Aira di muka peradilan.


"Tenang sayang, kamu kini sudah berada di tempat yang aman dan mas akan pastikan tak ada satu orang yang akan berani menyentuh apalagi sampai menyakiti kamu meski seujung kuku," ucap Aldi gemetar.


Aira terus terisak dalam pelukan Aldi, ia tak mampu untuk berkata-kata tanganya dingin genetaran, tubuhnya terus berguncang dengan sesekali menarik nafas panjang.


Semua pendukungnya ikut terlena menyaksikan peristiwa mengharukan tersebut.


Setelah beberapa lama, mereka pun keuar dari tempat itu, para sahabat dan keluarganya tetap setia mendampinginya.


Melelah kan ya guys, tapi satu episode lagi nih, yang harus menguras emosi dan pikiran author😢( heehe, derita loh 😆.)


Untuk itu dukung terus karya author agar author semangat ya, tahu dong caranya gimana 😆😆

__ADS_1


__ADS_2