
Pagi hari yang cerah, dimana semua anggota keluarga Satria sudah sibuk bersiap-siap untuk menghadiri prosesi ijab qabul Heru dan Tania yang akan di gelar di rumah calon mempelai wanita.
Heru sang calon penganten pria terlihat tampan dengan menggunakan stelan jas bescab-nya.
Meski ini bukan yang pertama kalinya ia melangsungkan prosesi ijab qabul tetap saja Heru merasa gugup.
Beberapa kali ia menghapal ikrar ijab qabulnya di dalam hati.
Tari merapikan pakaian yang di kenakan oleh Heru, hubungan ia dan Heru tak lagi canggung seperti dulu, malah ke duanya semakin akrab meski jarang bertemu.
"Duh kalau lihat mas Heru se ganteng ini, jadi ingat waktu kita menikah mas, " cetus Tari seraya merapikan dandan saudaranya tersebut, ia pun tersenyum.
"Ngak usah di ingat, hampir saja lo gue jadiin bini," dengus Heru.
"He he, ngak usah nervous ya mas ini kan bukan pertama kalinya, mas Heru melakukan prosesi ijab qabul," tukasnya lagi.
"Tetap saja deg-degan ," dengus Heru.
" Ya sebagai saudara Tari cuma bisa mendoakan kelanggengan pernikahan kalian mas, semoga di karunia anak sebanyak-banyaknya, anak-anak ya soleha," ucap Tari seraya mengenakan sarung setengah lutut lutut.
"Amin."Heru.
"Dan jangan lupa ya Mas, minum suplemen nya mas biar kuat nanti malam, biar ngak nervous kayak dulu," cetusnya kembali.
"Sok tahu banget loh, mentang-mentang udah pengalaman, "sahut Heru serata menepak jidad Tari.
"Aduh Mas Sakit!"keluhnya.
"Makanya pikiran ngak usah mesum melulu, jadi buncit teruskan perut mu."cetuk Heru dengan nada bercandanya.
"Biarin orang kita ada lakinya, mau hamil sepuluh kali juga, ngak masalah,"Tari
"Mas Heru tuh sudah berumur, bikin anaknya jangan di tunda-tunda lagi, udah mau kepala tiga juga, kita semua adik-adiknya sudah punya anak semua, ingat loh mas, ngak lama lagi Aldi menikah jangan sampai Aldi punya anak lebih dulu dari pada mas Heru?" tukas Tari.
"Iya bawel," sahut Heru seraya menjepit hidung Tari.
"Is dandanan kita udah rapi juga, "sungut Tari.
Ketika keduanya sedang bercanda tiba-tiba
Maya kembali masuk ke kamar Heru, "Ayo Heru semua sudah siap," seru Maya.
Heru keluar dari kamarnya dengan menggunakan atribut lengkap pengantin pria, di dampingi Maya dan saudara perempuannya.
__ADS_1
Satria memeriksa dan memastikan semua sudah siap termasuk barang hantaran dan anggota keluarganya, sebelum mereka berangkat, namun ia merasa satu anggota keluarganya yang tak ada.
"Aldi mana?"tanya Satria pada mereka semua.
"Ah pasti dia jemput Aira lah pah, kemana lagi si dewa bucin kalau ngak ke sana," sahut Tari.
"Hm, sibuk sendiri dia," dengus Satria.
"Ya sudah kita langsung saja," Satria memberi komando agar keluarganya bersiap sedia.
Seluruh anggota keluarga Satria termasuk besan mereka Hadi dan Suci, ikut iringan penganten, yang diarak dari rumah mereka
Kebahagian terpancar dari wajah Maya dan Satria, setelah lama menunggu akhirnya putra sulung mereka segera melepas masa lajangnya.
Sepanjang perjalan Heru memeluk Maya yang duduk di sampingnya.
"Ma, terima kasih ya sudah menyiapkan semua ini untuk Heru, Mama tetap saja menyempatkan diri untuk mengurus pernikahan Heru padahal Mama juga sibuk di sana," ucapnya Haru.
Maya tersenyum Haru," Sama-sama sayang, Mama ngak pernah merasa lelah apa lagi merasa berat, karna Mama bangga sama kamu, karna kamu telah memberi contoh yang baik bagi adik-adik kamu, kamu tidak menjadi nakal di usia remaja dan tetap santun, meski kami memberi beban yang cukup berat untuk kamu, yaitu mengurusi perusahaan yang terpaksa kami tinggalkan, dan kamu berhasil membuat perusahan maju pesat hinga membuka beberapa cabang," sahut Maya seraya mengusap bahu putra sulungnya.
" Iya Ma, itu semua juga tak lepas dari didikan Mama dan Papa, yang dengan sabar mendidik Heru, kalau tidak, bagaimana Heru bisa seperti ini," ungkapnya lagi.
"Iya sayang, tak hanya itu
Maya benar-benar merasa bangga karna memiliki anak seperti Heru, di kecupnya putra sulungnya itu berkali-kali, rasa bahagia dan haru bercampur jadi satu seiring bulir bening yang perlahan menetes di pipi keduanya.
Kedua ibu dan anak tersebut saling memeluk haru.
***
Kehadiran Aldi sudah di sambut oleh Alia, setelah memakir kendaraannya di depan rumah, Aldi turun dari mobil.
Baru beberapa langkah saja Alia sudah berteriak memanggilnya.
"Yey ayah sudah datang!" serunya seraya berlari menghambur memeluk Aldi.
Mendengar kedatangan Aldi, Aira buru-buru menyelesaikan dandanan nya, karna rambutnya yang pendek di bawah daun telinga, ia tak menggunakan sanggul, rambutnya di buat sedikit bergelombang.
Aira keluar dari kamar langsung dan terpesona melihat pria tampan yang sedang menggendong putrinya duduk.
Meski selalu merasa greget dengan ketampanan Aldi, namun ia selalu menjaga harga dirinya dan tak pernah berlebihan dalam mengumbar cinta.
"Ayo mas Aira sudah siap," ujar Aira.
__ADS_1
Aldi menoleh kearah Aira," Masya Allah cantiknya calon istri ku," puji Aldi.
Aira tersanjung dengan pujian dari Aldi, hingga membuatnya tersenyum.
"Ayo sayang," ucap Aldi seraya beranjak.
Aira dan Alia menggunakan kebaya dengan bawahan rok batik, sementara Aldi menggunakan kemeja dan jas, namun tetap bernuansa putih seperti keduanya hingga penampilah mereka bertiga sangat serasi.
Aira menggandeng Aldi yang mendong Alia, meski belum resmi menjadi keluarga kembali kemesraan mereka menunjukan jika mereka saling mencintai.
Karna terlalu menyangi putrinya, Aldi selalu menggendong Alia kemana saja ia pergi.
Di dalam mobil, Aldi dan Aira sesekali saling melirik seraya melempar senyum, mereka berdua sama-sama mengagumi pasang mereka.
Sepanjang perjalan Aldi menggenggam tangan Aira, seolah tak ingin lagi di pisahkan.
"Sayang mas Aldi ngak sabar deh menunggu tiga minggu lagi, harus nya hari ini juga kita ikut menikah," ucap Aldi seraya melirik ke arah Aira.
"Sabar kenapa sih mas katanya ingin membuat resepsi pernikahan yang mewah, kalau hari ini kita menikah, trus resepsinya tiga minggu lagi, jadi ngak seru kan, udah basi," sahut Aira.
"Ngak akan basi dong, kan setiap hari akan mas Aldi hangatkan, dengan
pelukan dan cinta dari mas Aldi."tutur Aldi merayu.
"Ehm bisa saja,"sahut Aira tersenyum.
"Sayang rencananya kamu mau bulan madu kita di mana?"tanya Aldi.
Ehm, belum mas karna mendadak Aira belum bisa ambil cuti, setelah menikah ldua hari kemudian Aira harus bertugas kembali.
"Dan Aira minta pengertian mas Aldi, karna pekerjaan Aira saat ini membuat Aira tak mungkin bisa bersama mas Aldi dua puluh empat jam penuh, seperti yang dulu."
Oke, mas Aldi bisa mengerti, dan mas Aldi juga minta pengertian kamu, untuk tak mengeluh, jika kita menikah mas Aldi akan selalu menghajar kamu habis-habisan setiap kali ada waktu, ucapnya menoleh ke arah Aira dengan menarik turunkan alisnya.
Mendengar ucapan Aldi seketika Aira menarik nafas panjang.
"Sepertinya menjadi istri seorang Aldi, lebih berat dari menjalan kan tugas sebagai anggota polisi," sahut Aira seraya mengulum senyumnya.
"Iya dong, sudah enam tahun si buyung bertapa, saatnya ia menggunakan jurus sakti mandragunanya, saksikanlah dendam kesumat si buyung, coming soon, he he " Aldi
"Hm, mengerikan," sahut Aira seraya mengulun senyumnya.
Bersambung.
__ADS_1