Kenapa Harus Menikah Dengan Mu

Kenapa Harus Menikah Dengan Mu
Tak mungkin bisa lupa


__ADS_3

"Apa yang kau mau Mas?" tanya Aira pada pria yang ada di hadapanya.


Aira mencoba tetap tenang, meski ia merasa gugup menghadapi Edo, ia tak tahu apa maksud Edo sebenarnya.


"Aku hanya ingin membuktikan ucapan mu kemarin, kau mau mengantar kerumah mereka kan?" tanya Edo dengan manik mata yang berpendar ke segala arah.


"Oke," sahut Aira singkat. Aira menunduk untuk menghindari tatapan mata Edo.


"Kalau begitu tunggu apa lagi?" Aira mengambil posisi hendak berdiri tapi tanganya di tahan oleh Edo.


"Tunggu Rianty,"


Aira menepis tangan Edo seraya melayangkan tatapan sinisnya.


"Maaf mas aku harus buru-buru, aku ngak punya banyak waktu," ucapnya secara lugas,


Aira kembali mendaratkan bokongnya ke kursi sambil menunggu alasan Edo menghentikan pergerakanya.


"Duduklah dulu, aku sudah pesan minuman untuk mu," ucap Edo sambil menyodorkan jus Alpukad kesukaan Aira.


Aira menatap gelas yang di sodor kan Edo, ada perasaan khawatir pada dirinya.


Melihat keraguan Aira, Edo pun menarik gelas berisi jus alpukat tersebut dan menuang ke gelas kosong miliknya, kemudian ia meminumnya.


Glek, gelas yang terisi setengah tersebut seketika menjadi kosong kembali.


Edo meletakan gelas tersebut dan kembali menatap kearah Aira.


Karna mengerti arti dari tatapan Edo, Aira pun menyedot minuman tersebut melalui sedotan yang ada di gelas, beberapa tegukan cukup untuk membuat agar Edo tak tersinggung.


"Aku tak mungkin menyakiti mu Rianty," ucap Edo.


Aira merasa tak nyaman dengan keadaannya saat ini, ia masih ragu apakah Edo masih Edo yang dulu.


Aira menelan salivanya berusaha tetap tenang, agar tak menimbulkan reaksi yang berlebihan.


Kebisuan dan kekakuan kembali menyelimuti suasana mereka saat itu.


Setelah dua tahun tak bertemu, Edo merasa canggung terhadap gadis yang ada di hadapanya kini.


"Rianty kau jauh berubah," cetus Edo.


Cetusan Edo membuat Aira yang menundukan kepalanya, kini mendongkak menatapnya.

__ADS_1


"Kita tak sedang bicara tentang masa lalu Mas, aku tak punya banyak waktu untuk membahas itu semua," sahut Aira tajam sambil menatap Edo dengan tajam.


"Ya aku tahu semua sudah menjadi masa lalu, tapi masa lalu ada kaitanya dengan semua ini, bukan?"


Aira menatap Edo sekejap, kemudian mengedar kan pandanganya kembali, ia tak mau terbawa suasana dan menangisi keadaanya saat itu.


Edo mengeluarkan sesuatu dari dalam saku celananya, benda itu seperti kotak cincin yang terbungkus kain merah bludru.


Aira memperhatikan apa yang Edo lakukan.


Edo membuka kotak cincin tersebut dan tampaklan sepasang cincin.


Edo menyodorkan cincin tersebut pada Aira, agar Aira bisa melihat cincin itu dengan seksama.


Aira meraih kotak cincin tersebut dan memperhatikan ukiran dari kedua cincin tersebut.


Alangkah kagetnya ia, ternyata pada salah satu cincin terukir namanya.


Aira tergaman tak berkutik melihat apa yang ada di hadapanya saat itu.


Tatapan mata Aira terhadap Edo mengingikan penjelasanya.


Matanya menatap manik mata Edo yang perlahan berkabut karna menahan air matanya.


Edo menarik nafas dan mengehempaskanya secara perlahan kemudian memulai kembali obrolan.


"Aku memesan cincin itu sebulan yang lalu, tepanya seminggu sebelum aku mendapat kabar bapak ku meninggal," ucap Edo sambil menghapus bulir bening yang menetes di pipinya.


Edo mendongkak kan kepalanya sesaat, sambil menarik nafas agar bisa menahan emosinya saat itu, ia pun menelan salivanya kembali.


Aira masih menatap Edo, matanya mengisyaratkan agar Edo melanjut kan ceritanya.


"Selama dua tahun aku pergi, aku menitipkan mu pada bapakku Rianty, aku selalu menanyakan kabar dari mu kepadanya."


"Dan beliau selalu bilang jika keadaan mu baik-baik saja, dia bilang pada ku, akan menjaga mu untuk ku Rianty," ucapan Edo terputus, ia pun langsung menangis.


Edo meletakan wajahnya di atas lengan yang berada di atas meja, ia menutupi kesedihan dan tangisanya dengan wajah yang tertelungkup, tubuhnya bergetar menahan tangis.


Tanpa sadar Aira ikut haru melihat Edo yang sepertinya terluka.


Butuh beberapa saat bagi Edo untuk menguasi dirinya kembali.


Edo menegagakkan kepala, ia pun menghapus sisa air matanya dan meninggal bola mata yang memerah.

__ADS_1


Aira menghapus titik air matanya, ia mencoba tetap tenang, sementara Aldi ia sudah terpancing emosi mendengar secuil penuturan dari Edo.


"Aku tak pulang selama dua tahun, agar aku bisa menyelesaikan kuliah ku secepatnya Rianty, aku juga banting tulang, kuliah sambi ngojek disana."


"Sebenarnya uang yang di kirim bapak ku lebih dari cukup untuk membiayai ke hidupan ku di sana, tapi aku ingin melamar mu dengan hasil keringat ku sendiri Rianty, aku pun berhasil membeli cinci itu dari hasil keringat ku sendiri, itu karna aku memang sudah lama memendam rasa terhadap mu, sejak pertama melihat mu, saat menjajakan tempe berkeliling."


Edo menelan salivanya untuk menjedah kata-katanya.


"Awalnya aku kasihan pada mu, seiring berjalannya waktu, aku mulai menyukaimu Ryanti, meski saat itu kau masih berseragam merah putih, sedang aku sudah SMA."


"Aku tak pernah pacar, karna aku berniat melamar mu pada saat kau sudah cukup umur, meski aku tahu, kau tak pernah tahu arti kedekatan kita saat itu, mungkin kau mengganggap ku hanya teman, atau menganggap ku sebagai saudara."


"Aku menyimpan dan menjaga perasaan itu selama bertahun-tahun Rianty, aku sengaja tak menyatakanya pada mu, aku takut kau akan menjauhi ku."


Aira masih menatap lekat pada Edo.


"Hingga pada suatu saat, bapak ku, menyuruh ku untuk kuliah di Jakarta, tapi aku menolaknya, karna aku tak mau jika harus jauh dari mu, aku ingin menunggu mu, sampai kau bisa mengerti perasaan ku terhadapmu."


"Aku terus menolak, tapi bapak ku terus memaksa ku dan mendesak ku, ia pun penasara apa yang membuatku tak ingin pergi dari kota ini."


"Aku berterus terang padanya, jika aku mencintaimu dan masih menunggu waktu yang tepat untuk menyatakan cinta ku pada mu Rianty, saat itu bapak ku tertawa."


"Aku pun bertanya padanya, apa aku salah jika jatuh cinta kepadamu, seorang anak gadis dari buruh bapak ku."


"Saat itu bapakku sama sekali tak keberatan, ia pun tak menunjukan sifat anehnya, dan dia membujuk ku agar aku fokus kuliah , dia pun berjanji pada ku, bahwa ia akan menjagamu, dan meminang mu untuk ku Rianty, dan setelah selesai kuliah dia berjanji akan menikahkan kita." ucapnya terbata-bata.


Edo menarik cairan yang hampir keluar di hidungnya, ia pun menarik tissu dan mengelap sebagian wajahnya.


Saat itu Edo terlihat begitu kacau, begitu sedih dan terluka.


"Dia menyuruhku untuk tidak pulang selama dua tahun, agar kuliah ku cepat selesai, dan kita secepatnya akan menikah, tapi apa yang terjadi, bukanya menjaga mu, tapi ia malah menginginkan mu, aku pikir dia melamar kau untuk aku, ternyata dia melamar mu untuk dirinya sendiri, aku merasa sakit Rianty, bagaimana bisa orang yang begitu aku percaya bisa menghianati ku, dan lebih menyakitkan, ternyata dia juga ingin memiliki mu, padahal dia sendiri tahu, bahwa aku sudah bertahun-tahun menjaga hati dan perasaan ku terhadapmu Rianty,"


Edo tak sanggup lagi melanjut kan kata-katanya, ia semakin terpuruk dalam luka terdalam, hatinya sakit sesakit-sakitnya saat itu.


Mendengar penuturan Edo, Aira juga tak mampu menahan emosinya, ia pun menangis pilu mendengar pemaparan Edo.


Tubuh Edo berguncang hebat karna berusaha menahan tangisnya.


Berkali-kali ia menarik nafas panjang untuk mengontrol emosinya, namun rasa kecewa itu begitu kuat, hingga dirinya masih terlarut dalam kesedihan dan kekecewaan.


Aldi merasa cemburu mendengar penuturan Edo, ia pun membuka pintu mobil dan hendak menghampiri keduanya.


Ahk, ada yang penasaran dengan kisah selanjutnya tinggalkan komentar dan lime kalian, semoga author bisa up lagi hari ini, terima kasih untuk tetap setia bersama karya receh author ini.

__ADS_1


__ADS_2