Kenapa Harus Menikah Dengan Mu

Kenapa Harus Menikah Dengan Mu
Kenapa terasa sakit


__ADS_3

Karna pernikahan Igun dan Nadira sebentar lagi, pihak keluarga Romeo pun berencana ziarah ke makam neneknya.


"Rom ayo pergi berziarah," ajak Nadira.


"Ngak, lagi males," jawabnya.


"Ngak boleh gitu lah Rom, biar gitu kan nenek dan kakek kamu juga, kamu marah sama papa dan mama, ya?"


"Iya, udah tahu nanya," sahutnya.


"Sudah Ayo, adik kakak yang ganteng, nanti kakak bagi uang bulananya ke kamu ya, " bujuk Nadira


Romeo bergerak dengan malas, Romeo sedang ngambek sama Papa dan Mamanya, uang bulananya habis di pangkas selama setahun, untuk ganti rugi mobil yang di jual Aldi akibat dari taruhanya.


Nadira menggandeng tangan Romeo menuruni anak tangga, wajahnya kembali di tekuk ketika melihat Mama dan Papanya.


"Ayo Rom kamu mau pergi sama Mama Papa atau sama kakak dan kak Igun ?" tanya Nadira.


"Pergi sama Doni saja deh, " cetus Romeo.


"Kalau gitu nih kembang sama daun pandanya, kakak bagi sama kamu, ingat jangan ngak pergi ya," Nadira membagi kembang dan irisan daun pandan ke pada Romeo.


"Dah kakak pergi dulu Rom, " Nadira.


Setelah beberapa lama, Doni pun datang menghampiri Romeo.


Melihat Kedatangan Doni, Romeo bergegas untuk pergi.


"Mau kemana kita Rom ?" tanya Doni.


"Kita ke kuburan nenek gue dulu baru ke tempat Aldi," sahutnya.


"Rom kok loh diam sih? ngak biasanya " tanya Doni heran, melihat Romeo yang ngak banyak bicara.


"Uang jajan gue, di pangkas habis buat bayar cicilan mobil bokap gue yang baru," jawabnya lemas.


"Pantes aja, muka lu kayak benang kusut" cetus Doni.


"Iya nih mana gue udah janji sama cewek gue mau liburan ke villa minggu depan," keluhnya.


"Gue pinjam duit lo Don, tahun depan gue kembaliin," cetusnya santai.


"Ah gila loh. emang gue banyak duit, mana kembaliin nya tahun depan lagi."


"Iya kan baru tahun depan gue di kasih duit bulanan lagi," balasnya.


"Sampai kapan loh mau pinjam, kenapa ngak kerja aja sih?" tanya Doni.


"Mau, kalau ada kerjaan," jawabnya.


"Serius loh mau, tapi kerja bengkel dan gajinya kecil," Doni.


'" Kalau ngak lo jadi gigolo aja deh, duit dapet, enak dapet biar gue yang cari pelangganya, elu tau beres," tambah Doni.


"Loh mau jual gue, gini-gini gue masih perjaka tau, sembarangan aja loh," sahut Romeo.


"Kira aja loh mau, biasanya loh kan suka yang haram-haram," balas Doni.


"Udah deh, kerja bengkel juga ngak apa-apa, sekali-kali cari duit sendiri."


Setelah hampir setengah jam perjalanan mereka pun sampai.


Keluarga Romeo yang lain sudah pulang, terlihat dari kuburan yang bertabur bunga segar dan pandan.


Romeo menghampiri makam neneknya, ia pun mengeluarkan buku Yasin dan membacanya.


Doni juga ikut membaca bersama dengan Romeo, setelah selesai Doni melihat Romeo berdoa, dan yang terakhir ia melihat Romeo yang meneteskan air matanya.


Doni heran melihat Romeo, baru kali ini ia melihat Romeo meneteskan air mata.


Romeo berdiri dan Doni menepuk pundak Romeo dengan pelan.


"Sabar ya Rom, nenek lo di sana pasti sudah tenang," ucap Doni tulus, ia pun ikut sedih melihat Romeo yang bersedih.


"Gue sedih Don, nenek gue sudah ngak ada, kalau saja nenek gue masih hidup, gue bisa minta uang jajan ke dia, dan gue ngak perlu kerja," papar Romeo.


"Sialan gue kira loh sedih karna di tinggal nenek lo, ternyata loh sedih gara-gara ngak punya uang jajan lagi, anjrit...anjrit, kalau gue punya cucu kayak loh Rom, udah gue cekik duluan,lo" sungut Doni kesal, ia pun berlalu dari Romeo.


"Eh Don tungguin," Romeo berusaha mengejar Doni yang mendahuluinya.


Mereka pun masuk mobil dan langsung menuju ke rumah Aldi.


Setibanya di rumah Aldi.


Aira sedang duduk di teras rumah, dan bermain ayunan sendiri.


Rumah ini begitu besar dan mewah, tapi ia selalu merasa kesepian, di usianya sekarang, seharusnya ia senang-senang menikmati masa remajanya.


Tapi ia seolah terkurung di sangkar emas, Aldi tak pernah mengijinkan Aira untuk keluar dan bermain dengan teman sebayanya.


Kadang kala Aira mengintip dari pintu gerbang, beberapa muda- mudi, pergi bersama dengan menggunakan motor atau jalan kaki, mereka terlihat sangat bahagia menikmati dunianya.

__ADS_1


Air mata Aira menetes mengenang nasibnya.


Aira tak punya teman selain Heru, sedangkan Aldi, dia sibuk dengan urusanya sendiri, dan tak pernah membawa Aira pergi bersamanya.


Aldi selalu pergi sendiri, tak pernah sekali pun ia mengajak Aira.


Dan saat melihat Romeo dan Doni, Aira merasa senang, meski Romeo jahil, tapi Aira selalu terhibur dengan kehadiran mereka.


"Hai Aira," sapa mereka.


Aira pun tersenyum ke arah mereka.


"Aira mas Aldi ada ?" tanya Doni.


"Ada di kamarnya," jawab Aira.


Doni pun masuk dan langsung menuju kamar Aldi, sementara Romeo, ia duduk di samping Aira.


"Aira, kamu lagi ngapain sendirian di sini?" tanya Romeo.


"Aira nungguin Mas Heru pulang," jawabnya.


Romeo melirik kearah Arlojinya.


"Ini baru jam dua siang Aira, Mas Heru pulang masih lama," jawab Romeo.


Aira tertunduk," Aira bosan bang di dalam kamar terus, Aira ngak punya teman," tuturnya sedih.


Romeo ikut sedih melihat Aira.


"Eh Bang Romeo ada sesuatu untuk Aira," ia pun mengambil sesuatu dari saku jaketnya.


Romeo meletakan bunga kamboja di daun telinga Aira,


"Aha, tuh kan jadi tambah cantik," pujinya dan Aira pun tersipu malu.


Tak lama kemudian Aldi dan Doni turun dan melihat Aira sedang ngobrol dengan Romeo.


"Woi Rom yuk pergi," seru Doni.


Romeo pun menoleh kearah Doni dan Aldi.


"Eh Aira, abang pergi dulu ya, "


"Iya bang," balas Aira lesu.


Sebenarnya Romeo kasihan meninggal Aira sendiri


Mereka masuk kedalam mobil.


"Eh. Aldi lo ngak pernah bawa Aira jalan-jalan?" tanya Romeo.


"Ngak, " jawabnya spontan.


"Kenapa?" tanya Aldi lagi.


"Gue kasihan lihat dia sendiri, masak jam segini dia sudah nungguin si Heru pulang." tukas Romeo.


"Bawa sajalah dia, kasihan sendiri, lagian dia itu kan calon istri loh Al," sambungnya.


"Tapi gue udah janjian sama Tari, kalau bawa Aira nanti ketahuan," sahut Aldi.


"Ah loh bilang saja, si Aira itu adik sepupu loh, kan beres," sahut Romeo.


"Iya Di, gue kasihan lihat Aira, ajak saja dia, entar kalo lu pacaran, biar gue sama Romeo yang jaga," tambah Doni.


"Iya deh, tapi lo berdua jangan cari kesempatan ya sama Aira, biar bagaimana pun dia itu calon istri gue, " Aldi.


"Beres," sahut Doni.


Akhirnya Aldi keluar dan menghampiri Aira.


"Aira, ayo ikut Mas Aldi," Aldi pun menarik tangan Aira menuju mobil.


Tanpa banyak bertanya Aira pun mengikuti Aldi dan masuk ke dalam mobil.


Doni melihat bunga yang terselip di telinga Aira.


"Aira kamu kenapa pakai bunga itu di telinga kamu?" tanya Doni.


"Bang Romeo yang menyelitkan nya di telinga Aira, " jawab Aira


"Aira, tau ngak bang Romeo dapat bunga itu di mana ?" tanya Doni.


"Ngak tau bang," jawabnya sambil mengelengkan kepalanya.


"Di kuburan nenek bang Romeo," jawab Doni.


"Ah kuburan, "Aira langsung melepasnya dan melemparnya.


"Ih kok di lepas sih Aira?" tanya Romeo kecewa.

__ADS_1


"Ih takut Ah," sahut Aira.


"Lepas saja Aira, ntar kamu kesambet setan kuburan lagi, gara-gara pakai bunga itu," sambung Aldi.


Romeo hanya nyengir.


"Lagian loh Rom, bunga kuburan loh kasih ke Aira, ngak sekalian loh tabur daun pandan di atas kepalanya," sahut Doni.


"Abis gue mau beli bunga ngak ada duit, ya gue ambil di makam nenek gue, lagian gue udah ijin kok," cetusnya.


"Ah dasar Romeo, apa saja di manfaatinya, ngak modal banget loh." Doni


Setelah beberapa lama dalam perjalanan, mereka pun berhenti di sebuah rumah.


Aldi turun dari mobil, dan masuk kedalam rumah tersebut, dan setelah beberapa saat, ia kembali membawa perempuan cantik yang kemudian duduk di sebelahnya.


Aldi berada di antara Aira dan Mentari.


Setelah keduanya duduk, Doni melanjutkan perjalananya, dan dengan santainya Mentari menyandarkan kepala nya ke bahu Aldi.


Entah kenapa hati Aira begitu sakit, apalagi melihat Mentari yang bermanja-manja dengan Aldi.


Aira mengigit bibirnya dan memaling kan wajahnya ke jendela, ia berusaha menetralisir rasa sakit itu, dengan melihat pemandangan dari luar kaca mobil.


Hatinya seperti teriris-iris, tapi ia hanya bisa diam dan menangis dalam hati.


"Eh sayang, yang di sebelah kamu siapa?" tanya Mentari


"Oh, dia sepupu ku," jawab Aldi.


"Oh, kok kamu ngak pernah cerita?" tanya Mentari kembali.


"Emang harus ya?" tanya Aldi kembali.


"Ya harus dong, aku harus tahu semua keluarga kamu, jadi nanti kalau kita sudah menikah, ngak canggung lagi," balasnya.


Aira merasa semakin sakit, tapi semua itu coba di tutupinya.


Aira semakin memalingkan wajahnya, berusaha tak mendengar pembicaraan mereka, namun kemudian Aira merasa ada yang menggenggam tanganya, dan setelah di lihatnya, ternyata tangan Aldi yang menggenggam tanganya, entah apa maksud Aldi melakukan semua itu terhadapnya.


Aira mencoba menepis tangan itu, tapi lagi-lagi Aldi meraba tanganya dan menggenggamnya, Aira pun memaling kan wajahnya kearah Aldi, tapi Aldi hanya meliriknya sesaat, kemudian pandanganya kembali lurus ke arah depan, sementara Mentari ia tetap bersandar mesra di bahu Aldi.


Mereka sampai di sebuah taman hiburan, Aldi dan Mentari jalan bergandengan meninggalkan Aira sendiri.


Melihat Aira yang di tinggal oleh Aldi dan mentari, Romeo dan Doni pun menghampirinya dan membawanya bermain di wahana rolercoster.


"Ayo Aira naik," ajak Romeo.


"Ngak ah bang Aira takut," tolak Aira.


"Jangan takut, ada bang Romeo di sini," ia pun menarik tangan Aira menuju wahana tersebut, ternya Aldi juga naik wahana yang sama, dan ia melihat Romeo yang memeluk Aira dari belakang, Aldi hanya bisa mendengus kesal.


Setelah puas bermain, Aira mengajak Romeo ke tepi pantai untuk melihat sunset, Aira pun berlari ketepi pantai, tapi tiba-tiba langkah kakinya terhenti ketika melihat sepasang sejoli berciuman mesra di saat sang surya mulai menggeser singahsananya, Aldi dan Mentari mereka berciuman di tepi pantai.


Seketika air mata Aira tumpah tanpa bisa di bendung lagi, ia pun berbalik dan berlari menuju batuan besar di sudut pantai lainya.


Melihat Aira yang menangis, Romeo dan Doni pun mengejarnya.


Mereka berdua melihat Aira menagis dan bersandar pada karang.


"Aira kamu kenapa ?" tanya Romeo.


Aira masih saja menangis, entah apa yang membuatnya perasaanya begitu sakit, apa Aira sudah merasakan perasaan cinta terhadap Aldi.


Romeo masih memperhatikan Aira, ia membiarkan air mata Aira tumpah, setelah agak tenang, ia pun bertanya padanya apa yang membuatnya menangis.


"Aira kenapa kamu menangis?" tanya Romeo.


"Aira ngak mau nikah sama Mas Aldi," tuturnya terbata-bata.


"Aira ingin bebas menentukan kebahagian Aira sendiri, Aira ngak mau hanya jadi perempuan taruhan," tambahnya semakin sedih.


Romeo pun mengerti apa yang menyebabkan Aira menangis, ia pun langsung memeluk Aira.


Bener-bener ngak ada ahlak si Aldi, mesra- mesraan dengan cewek lain di depan calon istrinya, kasihan lihat Aira, batin Romeo.


"Aira jika Mas Aldi tak bisa membahagiakan Aira, abang bisa kok membahagia kan Aira," tuturnya spontan sambil menghapus air mata Sira.


Doni kaget, ia tak percaya Romeo bicara seperti itu pada Aira, ia melihat ada yang


aneh dari sikaf Romeo pada Aira, tak biasanya Romeo bersikaf lunak dan care, biasanya dia orang yang paling ngak peduli dengan perasaan orang lain


Doni hanya terdiam sejenak, kemudian berlalu meninggalkan Aira yang masih menangis di pelukan Romeo.


jangan lupa dukunganya.


Like


komen


vote

__ADS_1


hadiah juga boleh.


__ADS_2