
Aira masih bungkam di sisi tempat tidurnya, kepalanya bersandar pada dinding, seorang suster melepaskan infus di pergelangan tangganya, setelah selesai suster tersebut pun menunjukan sesuatu pada Aldi.
"Pak ini sisa obat yang harus di minum ya Pak, yang harus di minum habis, dan yang ini jika pasien deman saja, " papar sang suster sambil menunjukan satu persatu jenis obat tersebut.
"Iya, terima kasih ya suster," ucap Aldi sambil menyisir rambut Aira.
"Iya sama-sama Pak, semoga lekas sembuh ya bu Aira," ucap suster tersebut kepada Aira.
Suster itu pun berlalu meninggalkan mereka, ada kekaguman pada suster tersebut kepada Aldi, selain ganteng dan muda, Aldi juga setia dan telaten dalam merawat istrinya.
Aldi memakaikan bedak bayi pada wajah dan tubuh Aira, ia juga menyapu perut Aira dengan minyak telon agar terasa hangat.
"Sudah selesai sayang," ucap Aldi sambil mencium pucuk kepala Aira, ia pun menuju nakas membereskan barang-barang keperluannya.
Aldi memasukan barang-marang mereka kedalam tas besar, selama di rumah sakit Aldi seperti baby sister, dia lah mengurus Aira dari membersihkan tubuh Aira hingga menyuapinya makan.
Karna keadaan Aira membaik, Aira harus di rehabilitasi di rumah sakit jiwa, Aldi sudah mengkonfirmasi Igun dan Suci sebagai direktur rumah sakit tersebut, untuk menyiapkan ruangan khusus untuk ia dan Aira selama menjalani masa rehabilitasinya.
Aldi akan menemani Aira dan mendampinginya selama Aira berada di rumah sakit.
Mata Aira sesekali berkedip, namun pandangan matanya tetap kosong.
Heru tiba di kamar Aira setelah di lakukan pemeriksaan, kamar Aira selalu di jaga ketat tak ada yang bisa masuk, selain Aldi dan Heru, petugas medis pun ikut di periksa dengan pengawasan terhadap pasien.
"Sudah siap Di?" tanya Heru.
"Sudah mas," sahut Aldi tanpa menoleh.
Aldi merasa tak nyaman dengan keadaan tersebut, Aira seperti ******* yang harus di awasi selama dua puluh empat jam.
Setelah membereskan pakainya, seorang suster membawa kursi roda untuk Aira gunakan.
Aldi mengangkat tubuh istrinya dan mendudukanya di atas kursi roda sementara Heru membawa tas mereka.
Sesampai di pintu utama ruang ugd, Aira dan Aldi di bawa dengan mobil polisi, sementara Heru menyusul menggunakan mobil pribadi.
__ADS_1
Aira terlihat tenang duduk di jok mobil, melihat istrinya seperti kehilangan jiwanya Aldi merasa sedih, ia pun melangkul dan mendekap Air sepanjang perjalanan.
Aldi menciumi pucuk kepala sang istri yang terus saja diam, tanpa bereaksi sedikit pun.
"Maaf sayang harus membawa mu ke tempat ini lagi," ucap Aldi sedih dengan genangan air mata yang perlahan menetes.
Aira seperti boneka yang tak berdaya, dengan lembut, Aldi membelai rambut panjang Aira yang di ikat ala kadarnya, sesekali ia mendarat kan kecupan pada kening dan juga bibir Aira yang menunjukan rasa kasih sayangnya yang tak terhingga pada sang istri, Aldi tak peduli meski di mobil itu gerak geriknya di awasi oleh polisi.
Polisi yang melihat Aldi hanya tersenyum, rasa bersalahnya pada Aira membuat Aldi menjadi seseorang yang lebih romantis dan setia.
Setengah jam berlalu, tak ada suara yang keluar dari mulut mereka yang berada di mobil tersebut.
Kedatangan Aira sudah di tunggu oleh Igun di pintu utama rumah sakit.
Aldi mengeluarkan kursi roda dan merenggangkannya, agar bisa di naiki oleh Aira, setelah itu mereka mendorong Aira melewati lorong rumah sakit, Aldi menatap sekeliling rumah sakit tersebut, di tempat yang tak lazim inilah ia menemukan tambatan hatinya, meskipun tak pernah ada cinta di hati Aldi pada Aira sebelum mereka menikah.
Begitupun Romeo dan Doni yang juga hadir di sana, mereka berada di sana untuk mendukung Aira, kehadiran mereka di rasa akan membantu mengembalikan memori Aira, mengingat Romeo dan Doni yang juga dekat dengan Aira, apalagi Romeo, ia dan Aira pernah terlibat emosi hingga membuat keduanya saling jatuh cinta.
Semua administrasi di urus langsung oleh Igun, begitupun Aira, meski Igun hanya sebagai phisikolog di sini, namun ia pernah menangani langsung Aira melalui pendekatan dan kontak langsung dengannya, ia akan melakukan pendekatan khusus sama seperti sebelumnya yang pernah terjadi saat ia membawa Aira ketempat ini, sedangkan terapi medis bukanlah wewenang Igun melainkan wewenang phisikiater.
Suci adalah direktur di rumah sakit ini, ia sudah mempunyai banyak pengalaman dengan berbagai gejala gangguan kejiwaan, mulai yang ringan hingga yang berat,dan bersama Igun mereka akan berupaya memulihkan memori dan mental dan kejiwaan Aira yang terguncang.
Romeo sendiri yang meminta langsung pada mamanya agar Suci mau menangani Aira langsung.
Flashback.
"Ma, Romeo mohon Ma, bantu Aira mengobati trauma yang ada padanya ma," rengek Romeo sambil memijit kaki sang bunda yang duduk diatas sofa.
Suci tak bergeming, ia sengaja membiarkan Romeo memohon padanya.
"Jangan harap Romeo, pilih saja phisikiater yang lain, mama ngak mau berurusan dengan gadis itu, biar saja dia seperti itu," ucap Suci ketus.
"Tapi Ma kasihan Aira Ma, semua ini bukan salah Aira Ma, Romeo yang membawa Aira kabur Ma," papar Romeo dengan masih memijit betis Suci.
Suci mengulum senyumnya, Romeo sepertinya terpancing.
__ADS_1
"Sekali tidak ya tidak Romeo, biar saja dia seperti itu, mama ngak ada urusan sama dia." ucap Suci ketus.
Sebenarnya tanpa Romeo memohon pun ia merasa punya kewajibanya untuk merawat semua pasiennya, tapi keadaan ini di manfaat kan Suci, agar Romeo tak mengganggu kehidupan gadis itu lagi.
"Tapi kenapa Ma, kenapa Mama terlihat tak menyukai Aira?" tanya Romeo sambil tetap memijit lembut.
"Karna setelah gadis itu sembuh, kamu pasti akan bawa dia kabur kembali kan?" sarkas Suci.
"Ngak Ma, Romeo janji ngak akan ganggu Aira lagi Ma, "masihnya dengan nada mengiba.
"Alah, kamu mana bisa di percaya, di suruh nyantri aja kabur, dan sekarang kamu minta mama untuk menangani gadis itu, ngak sudi," ucap Suci berpura-pura ketus.
"Iya Ma Romeo janji Ma, Romeo akan jadi anak yang penurut, asalkan Mama bantu pulihkan Aira ma, " Rengeknya kembali
Romeo begitu terpukul mendengar kabar yang menimpa Aira, selain Aira harus kelihangan janinnya, ia juga menggalami jangguan kejiwaan akibat depresi berat.
Ada rasa sesal dalam dirinya, Harus nya gue ngak pernah melepaskan Aira, seandainya saat itu Aira masih bersama gue, pasti takkan seperti ini jadinya, sesal Romeo dalam batinnya.
Mendengar kesungguhan Romeo, Suci pun melunakan nada bicaranya.
"Ehm, apa kamu bisa di percaya Rom?" tanya Suci yang membuyarkan lamunan Romeo.
"Suer Ma berani di sambel gledek, " ucap Romeo sambil mengacung kan jari tengah dan jari tunjuknya.
"Baiklah kalau begitu, Mama setuju, " ucap Suci.
Romeo bangkit seraya memeluk Suci.
"Terima kasih Ma," ucap Romeo sambil mencium pipi sang bunda.
Suci memang menangkap ada perasaan tulus dari Romeo untuk Aira, tapi bagaimana pun perasaan Romeo pada Aira, ia tak akan pernah merestui hubungan mereka, apalagi jika ternyata Aira masih istri sah Aldi.
Bersambung dulu ya, guys, sebenarnya episode ini mau author up tadi malam, berhubung author ketiduran selepas isya, ya jadi di pending, terima kasih ya karna selalu mendukung author.
Salam sayang selalu 😚
__ADS_1