
Simbok dan pak Adi selalu setia menunggu Aira di rumah salit.
Karna merasa lelah
Simbok juga ikut terlelap di samping tempat tidur Aira.
Sementara pak Adi ia selalu sedia menunggu di luar ruangan kamar perawatan Aira, untuk membantunya memenuhi segala keperluan mereka selama di rumah sakit.
Aira terbangun ketika merasakan gerakan sang buah hati, bayi perempuanya menangis lirih dalam dekapannya, suara bayi tersebut tidaklah nyaring, namun naluri seorang ibu bisa merasakan jika putrinya dalam keadaan haus.
Eak eak.. rengek sambil bergerak-gerak di dalam kain bedongnya.
Aira perlahan membuka matanya.
"Sayang kamu kenapa? Haus ya?" Tanya Aira, ia pun bangkit kemudian mengendong bayinya.
Mbok Jum tersadar ketika merasa ada pergerakan di atas tempat tidur.
Simbok menerjab-nerjabkan matanya melihat kearah Aira yang membuka kancing piyamanya.
"Dedek kenapa Non?" Tanya simbok.
"Haus kali mbok," ucap Aira karna melihat bayinya menyedot dengan rakus Air susu yang hanya keluar beberapa tetes tersebut.
Ek ek, rengetnya karna kesal rasa hausnya tak terpuaskan.
Mereka tersenyum-senyum sendiri melihat tingkah bayinya.
"Dedek mau mimik cucu? Biar Mbah yang bikinin ya," ucap simbok seraya berdiri menuju nakas.
Di sana terdapat susu formula dan air panas pada dispenser.
Bayi tersebut menangis lirih dengan sekuat tenaga ia mencoba menghisap Asi yang hanya mengalir beberapa tetes saja.
"Eak ewak,!" bayi tersebut menangis pelan.
"Sabar ya Nak, simbah lagi bikin susunya," ucap Aira menenangkan bayinya dengan menepuk pelan paha mungil sang bayi.
Owel owek owek bayi tersebut semakin kencang menangisnya, hingga membuat pipinya memerah dan mulutnya menganga dengan lebar.
Bukanya menenangkan bayinya, Aira malah menyambar mulut sang bayi dan mencium aroma khas dari mulut bayi yang baru lahir tersebut.
"Gemes!" Ucap Aira sambil mencium pipi putri kecilnya.
__ADS_1
Simbok menghampiri mereka setelah susu formula tersebut telah siap.
Owek owek tangisan bayi tersebut semakin kencang, seolah tak sabar.
Karna tak tega Simbok segera memberi susu formula tersebut langsung pada mulut mungil bayinya, dan langsung di sambar saja oleh Alia.
Dengan tergesa-gesa ia menyedot susu tersebut hingga dalam sekejab saja mbtol susunya sudah kosong.
Aira tersenyum ketika melihat putri kecilnya menyedot susu formula tersebut dengan rakus sambil menggerutu.
Seolah ingin menumpahkan uneg-unegnya, yang telah lama menunggu.
"Ya Ampun sayang, kamu haus sekali seperti dari gurun pasir saja," guman Aira seraya tersenyum mencium bayinya.
Setelah merasa kenyang bayi tersebut kembali terlelap.
Simbok tersenyum kearah Aira, "Non, lihatlah dedek mirip sekali dengan mas Aldi ya, "ujar Simbok sambil mengusap kepala baby Alia.
"Hm iya Mbok, dedek mirip sekali dengan ayahnya," ucap Aira dengan haru, bulir bening kembali menetes di pipinya.
"Apa Non yakin Non tak ingin memberi tahu mas Aldi? mas Aldi pasti mencari keberadaan Non saat ini " ujar Simbok.
"Aira rasa ngak mbok, Aira melihat kebencian di mata mas Aldi, mungkin benar dia mencari Aira, karna Aira membawa anaknya saja,"papar Aira sedih.
Lagi-lagi Aira merasa sedih ketika mengingat perlakuan Aldi terhadapnya.
"Hati perempuan mana tak sakit Mbok, Mas Aldi mentalaq Aira di saat Aira tengah mengandung, dimana janji-janji manisnya selama ini, begitu mudah ia memutus ikatan yang terjadi diantara kami, hiks hiks hiks."Aira kembali menangis sedih jika mengingat yang terjadi di antara ia dan mantan suaminya.
"Tapi Non, bagaimana jika Alia menanyakan tentang ayahnya?"tanya simbok lagi.
"Suatu saat Aira pasti mempertemukan Alia dengan ayahnya mbok, tapi nanti jika luka hati Aira sudah sembuh dan perasaan cinta sudah hilang sepenuhnya, Aira tak ingin sakit untuk kesekian kalinya Mbok," ucap Aira dengan air mata yang terus menetes.
"Sabar ya Non, semoga saja mas Aldi bisa menjadi lelaki yang lebih bertanggung jawab," ucap Simbok.
"Iya Mbok, Aira sudah ngak berharap pada cintanya, semoga saja mas Aldi dapat istri yang lebih baik lagi, yang menyayangi dan mencintainya tulus, " ungkap Aira sambil menyapu air matanya.
Aira kembali melirik kearah putrinya yang tidur dengan tenang.
Rasa sedih dan dukanya seketika lenyap sudah, ketika melihat malaikat kecilnya tertidur dalam buainnya.
***
Karna keadaan Aira dan putrinya membaik,
__ADS_1
Mereka di perbolehkan untuk pulang.
Pagi-pagi sekali mereka sudah bersiap untuk pulang.
"Nah, cucu simbok, kita pulang ke kampung ya,"ucap simbok sambil menenteng tas mereka, di bantu oleh pak Adi.
Satu setengah jam mereka habiskan di dalam perjalanan.
Namun semua tak terasa panjang oleh Aira, karna ia merasa senang menggendong dan menimang putrinya selama di perjalanan.
Sesampainya mereka di rumah, kedatangan mereka malah di sambut meriah oleh penduduk kampung.
Bagaimana tidak, karna prestasi Aira dalam menggerakan roda perekonomian penduduk sekitar, kampung mereka lebih di kenal dengan kampung pembuatan kripik usus.
Kampung yang awalnya terkenal dengan penduduknya yang miskinĀ kini mampu bersaing dengan kampung-kampung lainya yang lebih moderen.
Mereka menunggu Aira di depan rumah Mbok Jum.
Tepuk tangan terdengar meriah, ketika mobil mereka tiba di depan rumah.
Mereka bersorak sorai menyamput kedatangan warga kampung mereka yang baru yaitu baby Alia.
Aira terharu melihat sambutan hangat tersebut, bahkan mereka membuat kalung bunga dan taburan bunga untuk menyambut kedatangannya.
"Dek Aira selamat atas kelahiran putrinya, sebagai rasa terima kasih dan sujud sukur kami, malam ini kami akan mengadakan acara selamatan di balai desa," papar bu Tuti istri dari pak Rt.
Lagi lagi Aira menitikan air mata harunya.
"Terima kasih Bu Rt, saya merasa tersanjung dengan apa yang kalian lakukan terhadap saya, padahal dengan menerima kehadiran saya di sini saja, saya merasa sudah cukup senang,"papar Aira seraya menyapu air mata harunya.
"Tidak Dek, kamu itu inspirasi penduduk kampung disini, karna di sini banyak sekali janda-janda yang menjadi tulang punggung keluarganya, selama ini mereka hanya bisa menjadi buruh cuci atau pun pembantu rumah tangga, di harapkan dengan adanya pabrik pengolahan keripik ini, kampung kita bisa lebih maju, dan ibu ibu yang menjadi tulang punggung keluarga nya tetap bisa mencari nafkah di sini, tanpa harus menjadi tenaga kerja di luar negri." kata Bu Rt.
"Iya Dek Aira, selama bekerja dengan anda, anak-anak saya bisa kembali sekolah dan mereka juga tak perlu membantu membajak sawah," papar bu Ida seorang janda yang juga menjadi single parent.
Aira tersenyum,
"Terima kasih ibu-ibu semuanya karna telah menerima saya dengan baik, " ucap Aira haru.
"Kita sebagai perempuan harus bisa mandiri bu, karna kita tidak tahu apa yang akan terjadi pada kita nantinya, kita tak bisa hanya berpangku tangan dan mengandalkan orang lain, jika kita merasa mampu, pasti kita akan mampu, dan jika belum apa-apa saja kita sudah merasa tidak mampu, maka kita pasti sudah menyerah sebelum berusaha," papar Aira.
Mereka pun tersenyum mendengar nasehat dari wanita muda namun mempunyai banyak pengalamannya.
Bersambung ya, tetap dukung Authorya tekan rate bintang limanya, like komen dan vote.terima kasih.
__ADS_1