
"Abang! hiks hiks hiks " Alia berteriak sambil menangis. menghampiri Ghael.
Sementara Jack merasa berkesempatan untuk menghabisi keduanya demi dendamnya pada polisi wanita yang membuatnya cacat dan di penjara selama lima belas tahun.
Jack mengarahkan pistol tersebut kearah Alia.
"Abang!hiks hiks maafin Alia Bang, "ucap Alia dengan menyesal tanpa memperdulikan bahaya yang mengintainya, sementara ketiga penjahat tersebut pun merasa di atas angin atas tertembaknya Ghael, mereka pun menghunus pisau mereka untuk menyiksa pria yang tak berdaya tersebut.
Ghael masih berusaha untuk tetap sadar, ia mencoba untuk bangkit lagi, karna ia tahu jika dirinya harus mati saat itu, maka tak ada yang melindungi Alia, ia pun mendorong tubuh Alia hingga Alia terlentang, kemudian menindihnya berharap tembakan Jack tak mengenai Alia.
"Abang, Hiks," ucap Alia ketika Ghael kembali berusaha melindunginya.
Kejadian begitu cepat, Jack bersiap menarik tuasnya mengarahkan pistolnya ke kepala Ghael.
Satu dua tiga tuas di tarik
Dor
satu tembakan lagi terdengar membuat Jack terkapar dengan tangan bersimbah darah pistolnya pun terlepas.
Begitupun dengan ketika orang rekan Jack yang ingin berusaha kabur dengan menyerang Ghael
Dor...dor...dor.. ketiganya dilumpuh kan oleh Aira dengan tembakan yang mengarah ke betis ketiga penjahat tersebut.
Abang hiks hiks hiks, Alia menguncang tubuh Ghael, seraya menangis.
Ia pun merebahkan tubuh Ghael di sampingnya kemudian meraih tangan Ghael dan memciumnya berkali-kali.
"Abang! bangun! hiks hiks hits maafkan Alia,"ucapnya seraya mencium telapak tangan Ghael.
Hiks hiks hik.
Ghael merentangkan tangannya mencoba menjangkau pipi Alia, Alia pun memyambar tangan Ghael dan menempelkan di pipinya.
Akh! Akh! sekali kali Ghael meringis lirih menahan rasa sakit akibat timah panas yang bersarang di dadanya.
Ia berusaha untuk tetap sadar, namun apa daya matanya sudah terlalu berat dengan tingkat kesadaran yang semakin menurun,sekuat mungkin ia coba untuk mengatakan sesuatu meski dengan tubuh dan bibir yang gemetar.
"A-lia, maaf kan A-bang karna tak bisa men-jaga ka-mu dengan ba-ik,"ucap Ghael ia pun menutup matanya.
Alia pun histeris melihat wajah Ghael memucat dan mengeluarkan banyak darah.
"Abang! Hiks hiks hiks, tidak Bang !jangan pergi Bang!" teriak Alia ia pun menangis histeris seraya menggangkat kepala Ghael kemudian mencium-cium pipinya.
"Maafkan Alia Bang, berilah Alia kesempatan sekali lagi Bang! hiks hiks hiks, hiks tangisnya sambil memeluk Ghael.
***
Aira mengevakuasi tersangka dan memborgolnya, beberapa saat kemudian barulah petugas polisi datang,kejadian begitu cepat terjadi.
Setelah di bantu oleh anak buahnya, Aira langsung menghampiri Ghael dan Alia yang sedang menangis.
"Abang!"seru Aira sambil menyimpan pistolnya pada tempat semestinya.
__ADS_1
"Abang hiks hiks hiks bangun Bang ! "tangis Alia pecah begitupun Aira.
"Abang bangun Nak!" seru Aira ia pun menangis.
"Bunda, abang Bunda! hiks hiks hiks." Alia menangis tanpa henti memanggil-manggil Ghael.
"Alia kamu tenang Nak, Abang pasti selamat." Alia melepas kaos yang di kenakan Ghael kemudian merobeknya, ia pun memperban di sekitar dada Ghael yang terkena peluru.
Alia masih menangis terisak, ia begitu menyesal.
Setelah meringkus tersangka, beberapa orang polisi pun menghampiri ketiganya.
"Kita bawa ke mobil saja inspektur!"
"Iya tolong bantu angkat menantu saya!" pinta Aira.
"Sip, komandan!"
***
Aldi baru tiba ia pun syok melihat keadaan Ghael, seketika Aldi menangis melihat menantu sekaligus keponakannya tersebut.
"Abang,!" Aldi menghampiri Ghael.
"Alia kenapa Abang bisa seperti ini?!"tanya Aldi menyesali.
Hiks hiks Alia tak bisa menjawab.
"Sudalah Yah, siapkan mobil, kita bawa abang kerumah sakit, sekarang bukan waktunya untuk tanya jawab, " sahut Aira
Alia memangku kepala Ghael, mereka pun membawa Ghael menuju rumah sakit terdekat.
Sementara Aira harus menyelesaikan tugas mengarahkan anggotanya untuk mengamankan dan memeriksa tempat kejadian perkara ,berikut bersama tersangka dan barang buktinya.
Ia harus tetap profesional, meski sebagian hatinya mengkhawatirkan Ghael.
***
Aldi berada duduk di depan kemudi, ia begitu mengkhawatirkan keadaan Ghael.
Sementara Alia, ia terus menatap wajah Ghael yang semakin memucat.
Alia mengusap kepala dan pipi Ghael dengan lembut sesesakali menghapus air matanya dengan sisa-sisa isak tangis.
"Abang! bangun Bang," serunya dengan lirih.
"Abang maafin Alia Bang, hiks hiks, Abang bangun Bang," pintanya memelelas dengan mata sayu mengiba berharap Ghael mendengarnya.
Aldi merasa sedih dan khawatir terhadap Ghael dan Alia, tapi ia juga merasa kesal dengan putrinya tersebut.
Aldi melirik ke arah kaca mobil melihat Alia yang terdengar meratapi kejadian tersebut.
"Abang berilah Alia kesempatan Bang, Alia janji akan jadi istri yang baik untuk Abang, hiks hiks hiks," ucapnya dengan suara isak tangis.
__ADS_1
Mendengar Alia yang terus menangis meratapi keadaan suaminya Aldi merasa risih karna ia pun jadi tak konsentrasi berfikir.
"Kak kenapa bisa terjadi seperti ini sih?! kenapa kamu berada di taman?! Ayah sudah bilang kamu ngak boleh kemana-mana tanpa mengawasan! dasar kamu itu memang bandel! ngak mau dengar omongan orang! sekarang kalau sudah seperti ini, baru kamu menyesal, kalau saja kamu ngak pergi ke taman, mungkin semua ini tak akan terjadi pada Abang!" cecar Aldi terus menyalahkan Alia.
Abang hiks hiks." Alia tak menjawab satu pun pertanyaan Aldi ia begitu mengkhawatirkan keadaan suaminya, berkali-kali ia mengusap wajah suaminya dengan ratapan dan linangan air mata, sementara darah segar terus bercucuran membasahi tubuh Ghael.
Aldi emosi karna Alia tak sedikit pun menggubris pertanyaannya, malah makin menangis hingga membuat menjadi binggung.
Meski emosi Aldi mencoba untuk konsentrasi menyetir dengan kecepatan tinggi.
"Ayah heran melihat kamu Alia, kamu seperti acu terhadap suami kamu, kamu ngak peduli sama sekali dengan suami kamu dan lebih memilih pekerjaan kamu dari pada mengurus suami kamu! sekarang kamu baru menyesal! percuma Alia! percuma! hanya doa-doa yang bisa menyelamatkan Abang sekarang, sebagai istri kamu harus lebih banyak berdoa dan beribadah, minta pertolongan pada Allah agar suami kamu selamat! "cecar Aldi penuh emosi.
Sementara Alia hanya bisa menangis dan menyesali semua yang telah terjadi.
"Iya Yah," sahut Alia lirih.
Keduanya pun kembali tenang.
Setengah jam mereka sampai di sebuah rumah sakit Aldi langsung mengarahkan mobilnya menuju pintu masuk ruang UGD.
Berberapa orang petugas langsung menarik brankar dan membantu mengangkat tubuh Ghael .
Ghael langsung mendapatkan pergolongan pertama sebelum operasi.
Saat itu Aira sudah tiba di rumah sakit dan langsung menghampiri keduanya.
"Bagaima keadaan Abang Yah?" tanya Aira khawatir.
"Segera di operasi Bun."
Alia menghampiri Aira dan memeluk tubuh sang ibunda, tubuhnya terasa lemah.
"Bunda, Alia takut terjadi sesuatu pada abang! hiks hiks, Alia masih menangis."
"Tenanglah Nak kita berdoa saja," ucap Aira sambil mengusap kepala putrinya.
Seorang petugas memanggil mereka,
"Keluarga pak Ghazanfar!" petugas.
Aldi pun menghampirinya.
"Ehm pak, sebelum operasi tanda tangani dulu surat persetujuannya Ya! harus keluarga terdekat, jika tidak ada kedua orang tuanya, istrinya juga bisa," papar.
"Baik, kebetulan istrinya ada."Aldi.
Aldi menghampiri Alia yang terlihat lemah, Alia pun terluka dengan bibir pecah dan hidung berdarah.
"Tanda-tangani surat ini Kak!" Aldi.
Alia meraih kertas tersebut dengan gemetaran.
Setelah menandatangani surat persetujuan untuk operasi, Alia merasakan tubuhnya yang semakin lemas, seketika ia terkulai di samping Aira.
__ADS_1
"Alia!" seru keduanya dengan panik.
Bersambung, masih semangat ngak guys. beri semangatnya lagi ya biar author up sampai jari author keriting 😅