
Arsyad mengikuti mobil yang membawa Nisa, meski jarak mereka cukup jauh, tapi melihat dari pergerakan GPS Nisa mobil tersebut melaju dengan kecepatan yang stabil dan belum berhenti barang sebentar pun. Itu bearti perjalanan mereka lancar tanpa ada hambatan.
Arsyad tetap mengikuti ke mana arah mobil tersebut. Setelah satu setengah jam mobil pun berhenti.Namun setelahdi lakukan pengecekan mobil yang membawa Nisa berhenti di sebuah permukiman warga yang cukup padat, karna berada di jalan kecil.
Arsyad lama mengamati titik di mana Nisa berhenti dan setelah setengah jam, titik tersebut tetap tak berubah.
🔸🔸🔸
Mobil yang membawa Nisa sampai di sebuah permukiman warga.
Mereka pun berhenti di depan komplek perumahan.
Mobil mereka tak bisa masuk ke sebuah gang sempit.
Jadi untuk menuju lokasi mereka menggunakan Ojek.
Beberapa motor juga sudah di persiapkan untuk menjemput rombongan mereka.
Nisa pun ikut di bawa dengan menggunakan motor.
Dari ujung komplek tersebut mereka harus melewati jalanan semen yang hanya bisa di lewati oleh kendaran roda dua dengan jarak satu kilometer masuk ke sebuah perkampungan.
Sambil memperhatikan jalan yang di lalui, Nisa pun semakin khawatir, karna sepertinya mereka masuk ke sebuah desa terpencil meski penduduknya cukup ramai saat itu.
"Hm, Bagaimana keadaan jaringan di tempat ini ya.Bagaimana jika Arsyad tak.bisa melacak keberadaan ku."
Nisa pun membuka tas-nya dan melihat keberadaan Arsyad, seperti dugaannya sinyal di tempat tersebut tak begitu baik.
Nisa mengeluarkan ponsel pintarnya dan memfoto setiap tempat yang mereka lalui dan mengiriminya ke Arsyad.
Nisa juga meminta kepada tukang ojek tersebut agar sedikit memperlambat laju kendaraannya, agar Nisa bisa merekam perjalanan mereka.
Saat itu Arsyad berusaha menghubungi Nisa ketika hasil gambar dan rekaman perjalanannya terkirim dan di baca Arsyad.Namun, sambungan telpon berada di luar jangkauan.
Semakin dekat dengan tempat yang mereka tuju Sinyal tersebut hilang.Nisa buru-buru memasukan kembali smartphonenya ketika melihat motor yang membawa tante dan omnya berhenti di sebuah rumah.
Motor yang membawa Nisa pun berhenti, Nisa sedikit heran melihat keramaian yang terjadi di sebuah rumah sederhana.
Ia mengira jika ada hajatan atau acara yang di gelar di sana.
Nisa pun masuk beserta rombongan tantenya.
Nisa menatap heran ke arah beberapa pria yang berbicara pada Nando.Sesekali tataan mata mereka tertuju padanya.
"Kenapa mereka menatap ku seperti itu?" Guman Nisa.
"Nisa ayo ikut Tante," ajak Mala.
__ADS_1
Tanpa curiga sedikitpun Nisa mengikuti kemana Mala membawanya, mereka pun sampai di sebuah kamar.
"Ganti pakaian kamu dengan ini," ucap Mala seraya menyodorkan baju kebaya putih kepada Nisa.
"Kenapa Nisa harus pakai kebaya tante?" Tanya Nisa heran.
"Karna hari ini juga kamu akan Tante nikahkan dengan pak Frans,"Ucap Mala dengan santai.
"Hah?!" Bagai tersambar petir di siang bolong,betapa sok-nya Nisa saat itu.
"Tapi Tante? Nisa masih sekolah! lagi pula Kenapa Tante tak minta perseujuan Nisa terlebih dahulu?! Nisa ngak mau menikah Tante!!" Hiks hiks hiks, Nisa menangis sejadi-jadinya.
"Tidak bisa Nisa! Setuju atau tidaknya kamu,Kamu tak bisa menolak, ini keputusan kami,semua ini demi kebaikan kamu juga!"
"Tidak tante! Pokoknya Nisa ngak mau menikah!" Teriak Nisa.
"Sudalah Nisa. Setuju atau tak setuju, kamu tetap akan menikah, karna om kamu sendiri yang akan menjadi wali nikah kamu."
"Jadi sebaiknya kamu tidak membantah karna semua itu akan sia-sia."
Mala keluar dan menutup pintu kamar tersebut dan mengunci Nisa di sana.
"Tidak tante Nisa ngak mau Nikah tante!" Teriak Nisa sambil menggedor pintu.
Teriakan Nisa tak terdengar karna suara musik di tempat itu begitu nyaring.
Nisa pun meraih handphonenya dan beusaha menghubungi Arsyad.Namun Arsyad berada di luar jangkauan.
Tak putus asa ia pun merekam voicemail yang menceritakaan keadaanya saat itu.
"Syad tolongin aku Syad hiks hiks, aku di paksa nikah oleh tante ku Syad, dan sat ini mereka sedang mempersiapkan pernikahan ku hiks hiks hiks." Nisa menutup voice mailnya dengan sisa isak tangis.
Di dalam kamar Nisa menangis sejadi-jadinya sementara di luar sana, bebagai persiapan pun di lakukan.
Calon nempelai pria terlihat bersemangat sekali, sesekali ia tersenyum dengan wajah yang begitu bahagia, menyalami dan mengucapkan terima kasih kepada setiap.orang yang datang mengucapkan selamat padanya
Semakin lama para tamu yang hadir pun semakin ramai. kini mereka hanya menunggu seorang ustadz yang akan menjadi penghulu untuk menikahkan mereka.
Di dalam perjalanan Arsyad dan sang sopir kebingungan dengan gambar-gambar yang di tunjukan oleh Nisa.
Merekapun berhenti untuk menanyakan tentang beberapa foto dan video jalan-jalan yang di kirim oleh Nisa pada Arsyad.
"Permisi Pak, saya mau tanya. Apa Bapak pernah melihat Jalan-jalan ini?" tanya Arsyad sambil memperlihatkan beberapa foto pada layar smart phonenya.
"Oh ini saya tahu. ini menuju perkampunhan luar, desa yang cukup terpencil, " ucap orang tua tersebut pada Arsyad
Penduduk sekitar pun memberi arahan kepada Arsyad, tentang jalan-jalan yang harus mereka lewati.
__ADS_1
"Oh jika begitu saya mengerti Pak.Terima kasih ya." Arsyad.
Ia hendak menutup ponsel pintarnya.Namun, ia kembali mendapat sebuah pesan suara dari Nisa.
Arsyad mendengar pesan suara yang terdengar terputus-putus tersebut. Namun masih terdengar jelas jika Nisa mengabari bahwa ia akan di nikahkan saat itu juga.
Betapa kagetnya Arsyad setelah mendengar isi dari pesan suara tersebut.
"Nisa," gumanya lirih.
"Ayo Pak kita harus segera melanjukan perjalanan!" Seru Arsyad kepada sopir pribadinya.
Arsyad mempercepat langkahnya menuju mobil, begitupun dengan sang sopir yang mengikuti Arsyad.
"Cepat jalan Pak! Aku tak mau sampai terlambat!" Arsyad.
"Siap Den!"
Arsyad mengirim pesan suara tersebut pada Aira, ia berharap dari pihak kepolisian setempat dapat membantunya.
"Ini adalah pemaksaan menikah terhadap anak di bawah umur, Lihat saja rencana kalian tak akan pernah berhasil, "ucap Arsyad seraya menggepal tanganya.
"Tambah kecepatannya Pak!" Perintah Arsyad.
Nisa terus meronta di dalam kamar,ia menangis dan memohon agar tantenya tersebut melepaskanya dan membatalkan.pernikahannya.
"Tante!Aku ngak mau nikah. aku masih ingin sekolah hiks hiks hiks. Lepaskan aku Tante! Kalian tak berhak menikahkan ku,kalian hanya memanfaatkan ku hiks hiks hiks. Jangan rampas masa depan ku Tante! Aku ngak mau Nikah!" Nisa terus memberontak dan memukul-mukul pintu kamar, tapi tak ada seorang pun yang membukakan pintu.
Penghulu hadir, mereka pun bersalaman dan berjabat tangan.
Setelah memperkenalkan diri sebagai adik dari ayahnya Nisa, Nando juga berbohong jika pernikahan adalah amanah dari Abangnya.
"Jadi begitulah pak Ustadz. Keponakan saya itu susah di atur, ia sering kabur dari rumah karna saya melarangnya untuk tak keluyuran di malam hari. Dari pada terjadi sesuatu yang mengkhawatirkan, dari itu saya bermaksud untuk menikahkannya sesegera mungkin, selain itu amanat dari Abang saya, saya tak ingin keponakan saya tersebut sampai berbuat sesuatu yang nantinya merugikan dirinya sendiri," ujar Nando dengan bersandiwara.
"Mh baik lah jika demikian, kita mulai saja pernikahannya."
Sang Ustadz pun menghampiri meja kecil. begitu pun dengan Frans dan Nando.
Akad Nikah pun segera berlangsung.
Bersambung
Author punya rekomendasi novel keren dengan judul My unique boyfriend karya Astuy Nuraeni.cus mampir
__ADS_1