
Aira terus mengigau menyebut nama Aldi dalam tidurnya, pikiranya begitu kalut hingga ia tak mampu untuk membuatnya tersadar, sebuah mimpi indah menemani tidur Aira, mungkin karna kerinduanya yang begitu menggebu kepada Aldi, hingga sosok Aldi menjelma dan hadir dalam mimpinya, baru saja membangun pondasi rumah tangga mereka dengan cita-cita dan cinta yang indah, namun sayang seketika semua hancur dalam sekejap mata akibat terbentur restu orang tua, hingga Aira hatus merelakan rumah tangga yang bahkan lebih singkat dari umur jagung.
Aira sendiri belum cukup kuat untuk menahan kerinduanya pada sang suami, kini ia harus berdiri sendiri di atas amukan badai yang menghantam ketegaran hatinya.
Sungguh Aira belum kuat dan siap untuk menghadapi semua masalah ini sendiri, Aira lebih memilih terlena di alam mimpinya, apa lagi hanya di dalam mimpi ia merasakan hangatnya dekapan Aldi yang begitu ia rindukan.
"Andai waktu bisa di putar mas, Aira tak kan pernah mengucapkan kata lelah dan bosan saat melayani mas Aldi, tapi Aira mohon jangan tinggal kan Aira sendiri di saat seperti ini," racau Aira dalam mimpinya, bulir bening perlahan menetes pada kelopak mata yang tertutup.
Romeo menatap wajah Aira, ia mendengar dengan jelas ucapan lirih dari bibir gemetar Aira.
Romeo menangis meringkuk melihat penderitaan Aira.
Setelah beberapa saat berlalu, Aira pun tenang dalam tidurnya, sebuah romansa dari kisah cinta yang indah, hanya mampu ia lukiskan di dalam mimpinya, karna saat terbangun dunianya seolah terbalik dan menggulingkan Aira ke dalam jurang kesedihan.
Melihat Aira yang tenang dalam tidurnya, Romeo pun mencoba memejamkan matanya.
Detik demi detik berlalu, Aldi tetap terjaga pada balkon yang ada di rumah sakit, entah kenapa dadanya terasa sesak tanpa sebab, detak jantungnya memompa lebih cepat dengan aliran darah yang melesat cepat menuju otak, bagian otak besarnya bekerja dengan keras untuk memikirkan jalan keluar dari setiap masalahnya, bahkan tak hanya meminta Aldi untuk menjaganya, Rita juga meminta Aldi untuk tetap tinggal bersamanya di Singapura, setelah ia keluar dari rumah sakit.
***
Pagi harinya.
Romeo tersadar ketika mendengar seperti suara orang yang muntah di kamar mandi, matanya menerhab-nerjab, sementara tanganya meraba tempat tidur Aira.
Merasa tak mendapati tubuh Aira, Romeo yang masih sangat mengantuk itu pun terpaksa membuka lebar matanya dan langsung bergegas menuju kamar mandi.
Setelah memuntah kan air, tubuh Aira terasa lemas, ia pun terkulai di pelukan Romeo yang berhasil menyambar tubhnya sebelum jatuh ke lantai.
"Aira," guman Romeo, ia pun menepuk pipi Aira yang terasa hangat, sementara Aira tak mampu lagi membuka matanya, meski ia mendengar suara Romeo yang memanggil-manggil namanya.
Romeo pun mengevakuasi tubuh Aira dan membawanya keatas busa empuk dan meletakkanya perlahan.
Romeo melirik penunjuk waktu ternyata memang sudah pagi.
"Aira abang keluar sebentar ya untuk cari sarapan," ucap Romeo.
Aira pun menggangguk pelan.
Dengan berat hati Romeo meninggalkan Aira.
Romeo keluar dari ruangan dan mendapati petugas yang mengantar sarapan untuk mereka.
"Pak ini sarapan untuk anda," ucap petugas penginapan kepada Romeo.
"Oh kebetulan sekali, Romeo pun meraih semangkok bubur darinya.
"Teriama kasih," ucap Romeo.
"Sama-sama Pak," balas petugas tersebut sambil berlalu.
Tiba tiba Romeo teringat sesuatu, ia pun kembali memanggil petugas tersebut.
"Eh pak tunggu!"
Petugas tersebut pun berhenti dan menunggu Romeo menghampirinya.
__ADS_1
"Pak, dimana klinik yang terdekat dari sini?" tanya Romeo.
"Klinik? siapa yang sakit bang?" tanya petugas tersebut.
"Istri saya semalaman mengalami demam tinggi, dan saya berencana untuk memeriksakannya," jawab Romeo.
"Klinik yang terdekat dari sini sekitar 10 kilo meter pak."
"Oh, kalau begitu terima kasih pak, " ucap Romeo.
Melihat keadaan Aira, Romeo semakin khawatir dan berencana untuk mengobatinya.
Romeo membawa semangkok bubur masuk kedalam kamarnya, di lihatnya Aira masih terpejam.
"Aira," suara lembut Romeo menyapa Aira.
Dengan perlahan Aira membuka matanya.
"Makan dulu ya," ucap Romeo.
Aira menggangguk, ia pun mencoba untuk bangkit.
Dengan sabar Romeo menyendokan bubur tersebut ke mulut Aira.
Baru beberapa suapan Aira kembali merasa perutnya kembali bergejolak, tubuhnya berdiri dan sempoyangan berlari menuju kamar mandi.
Lagi-lagi Aira tumbang dalam rangkulan Romeo, tubuhnya terasa lemas, meski merasa tersiksa dengan keadaanya saat ini, tapi Aira hanya bisa pasrah, Aira sudah tak mampu lagi untuk menangis, ia biarkan saja, apapun yang terjadi padanya saat ini.
"Kita kerumah sakit sekarang Aira," ucap Romeo sambil memapah tubuh Aira.
Setelah merapikan penampilan Aira, ia pun menggandeng Aira untuk berjalan menuju parkir mobilnya.
Romeo mengarahkan mobilnya melaju ke klinik terdekat, sambil menyetir ia menyadarkan kepala Aira dalam rangkulanya.
Pandangan Aira lurus kearah depan, ia melihat sepanjang jalan yang ia dan Romeo lewati, terlihat seperti asing baginya, ingin sekali ia bertanya kemana kah Romeo membawanya saat ini, bibirnya gemetar, lidahnya terasa kelu, sebuah pertanyaan tak mampu lolos dari ucapan bibirnya, Aira hanya bisa pasrah, harapanya hanya satu, ia bisa melupakan semua masalah dan kejadian yang menimpanya saat ini.
Setelah melakukan kurang lebih setengah jam perjalanan, Romeo pun berhenti di sebuah Klinik.
Ia keluar dari mobil, membuka pintu mobil, dan membantu Aira untuk keluar dari mobil tersebut.
Dengan sisa tenaga yang ada, Aira berjalan tertatih sambil menggandeng tangan Romeo, akhirnya mereka pun sampai di tempat pendaftaran pasien.
Mereka harus menunggu antrian beberapa pasien berikutnya, Aira menyandarkan kepalanya di dada bidang Romeo, pandanganya lurus kedepan, pikiranya melayang entah kemana, hingga namanya di panggil, tak satu kata pun terucap di bibir pucatnya.
Mereka pun sampai di ruang pemeriksaan, melihat keadaan Aira, petugas tersebut pun menyuruh Aira langsung berbaring.
Setelah di periksa pada bagian mata jantung, tekanan darah, dan mulut, dokter tersebut menanyakan biodata dan keluhan Aira.
"Siapa nama pasien?" tanya dokter.
"Aira." Romeo
"Umur?"dokter
"Tujuh belas tahun"Romeo.
__ADS_1
"Apa keluhanya?" tanya dokter tersebut.
"Tubuhnya terasa panas, menggigil, keluar keringat dingin dan muntah-muntah," papar Romeo.
"Ehm, pasien sudah menikah?" tanya dokter curiga.
Romeo menggangguk.
"Kalau begitu kita lakukan tes kehamilan,"
Tak hanya Romeo, Aira pun kaget atas usulan dokter tersebut.
Aira dan Romeo, saling menatap dan memandang sejenak.
Aira menelan salivanya yang terasa panas.
"Ayo," ajak dokter perempuan tersebut, yang kemudian membawa Aira kesuatu ruangan.
Romeo menunggu dengan cemas.
Beberapa menit kemudian, Aira pun kembali dan dokter tersebut tersenyum kearah Romeo.
Aira dan dokter tersebut sama-sama kembali duduk di tempat mereka semula.
Aira terlihat sedih, tubuhnya semakin gemetar.
"Selamat pak istri anda sedang hamil," ucap petugas berjas putih tersebut kepada Romeo.
"Hamil," ucap Romeo gugup, ia pun berusaha untuk tetap tersenyum di hadapan petugas.
Sementara Aira hanya tertunduk lesu, pikiranya melalang buana, tak ada ekspresi apapun di wajah datarnya.
"Begini pak, sepertinya istri anda mengalami depresi ringgan, mungkin ada masalah yang yang memberatkan beban pikiranya, dan itu bisa sangat mengganggu kehamilanya, di tambah dengan ketidak stabilan hormon saat mengandung, itu juga dapat memicu strees apalagi di usia yang sangat muda ia sudah menjadi calon ibu, saya sarankan anda memberi perhatian lebih terhadap istri anda," papar dokter tersebut kepada Romeo.
"Ia dokter, saya mengerti," ucap Romeo.
Mereka pun keluar dari klinik dengan perasaan tak menentu, tapi Romeo berusaha untuk tetap tenang menghadapinya.
Baru saja memutar mobilnya, Aira sudah hysteris menangis.
Tubuhnya terguncang, ia saja belum bisa melupakan rasa bersalahnya dan rasa berdosanya terhadap orang yang di tusuknya, kini ia kembali mendapatkan berita kehamilanya di saat ia menghindari kontak dengan Aldi.
Sementara Romeo semakin binggung, melihat Aira yang begitu menderita, rasanya ia semakin tak ingin jauh darinya.
Bersambung dulu ya guys, jangan lupa like, dan komentar kamu yang bikin author semangat upnya.
Nih author punya info menarik buat kamu yang suka dengan novel bergendre Romence adult , nih author baik banget kasi rekomendasi mampir ya.
Buat yg bosen dengan satu novel isinya hanya satu cerita aja
Yuks kepoin Raanjhana, isinya kumpulan cerita bergenre romansa young-adult, dan juga adult-romance.
Hati2 yg belum cukup umur jangan mendekat
__ADS_1
Hehehe