Kenapa Harus Menikah Dengan Mu

Kenapa Harus Menikah Dengan Mu
Akhirnya Bebas


__ADS_3

Sudah tiga hari, Bagas merasakan sakit pada bagian tubuhnya, ia terus meringkuk di dalam selimut selimut tebal menahankan sakit di sekujur tubuhnya.


Wajahnya terlihat pucat dengan tubuh yang gemetar, meski merasa sakit dan begitu menyiksa, Bagas sudah bertekat untuk melepaskan diri dari jerat barang haram tersebut.


Sesekali Nina menyapu air matanya melihat putranya yang seperti begitu menderita.


Bagas kadang meringku, membungkuk dan terlentang, karna menahan rasa sakit.


Meski di desak beberapa kali ia tetap tak mau di bawa kerumah sakit, akhirnya Nina pun memilih merawat Bagas dengan memberinya obat se-adanya.


***


Nina membawa sepiring nasi dan menyuapi putranya.


"Bagas, makan lah Nak," ucap Nina seraya mengusap kepala anaknya.


"Bagas ngak selera Bu," ucapnya dengan bibir gemetar.


"Hiks, hiks, sayang kenapa kamu bisa terjebak dalam lingkaran setan ini Nak, hiks hiks hiks. "ucap Nina lirih seraya menghapus air matanya.


Bagas membuka sedikit selimut yang menutupi tubuhnya, ia pun duduk tegak menghadap Nina.


"Itu karna Bagas benci dengan diri Bagas sendiri Bu! Bagas menyesali kenapa Bagas harus terlahir di dunia ini!"


"Sering kali mereka mencemooh Bagas sebagai anak haram! anak dari hasil perkosaan, anak dari seorang penjahat, pelaku pedofil!" cecar Bagas


Aira mata Bagas mulai berjatuhan membasahi pipinya.


Nina terhenyak dengan penuturan putranya tersebut.


"Apa Nak? jadi kamu sudah tahu semuanya?"tanya Nina terkejut.


"Tahu Bu! sejak dulu Bagas sudah Tahu, Bagas benci hidup Bagas Bu, kebanyakan mereka menatap Bagas sinis, tatapan yang merendahkan, menghinakan, Bagas muak dengan hidup ini! kenapa Bagas yang harus menanggung semua perbuatan yang Bagas sendiri tak mengerti!"


Nina menangis bersimpuh di atas lantai.


Hiks, hiks, Jika kamu sudah tahu kenapa kamu selalu tanyakan siapa ayah mu sebenarnya Bagas, itu hanya menyayat kembali luka lama dalam hati ibu Nak, hiks hiks hiks." Nina menamgis seraya menutupi wajahnya.


"Hiks hiks, karna Bagas punya satu harapan Bu, Bagas berharap semua itu tak benar,dan ibu bisa menjelaskan kepada Bagas siapa ayah kandung Bagas sebenarnya, tapi dengan sikaf diam ibu seolah ibu membenarkan apa yang mereka tuduhkan Bu Hiks hiks hiks."


Bagas menangis, selama belasan tahun ia coba menyembunyikan perasaanya, rasa tertekannya, rasa malunya, karna dirinya terlahir dari perbuatan bejat ayah biologisnya.

__ADS_1


Sejak kecil, Bagas seperti di kucilkan oleh lingkunganya, mereka yang mengetahui asal usul Bagas bahkan melarang anak-anak mereka untuk bergaul dan berteman dengannya.


Setiap hari ia hanya mendengar cacian dan umpatan, yang seolah menyalahkan dirinya, sejak itu Bagas berubah menjadi anak yang nakal, hingga memutuskan untuk melarikan diri dari kenyataan yang ia hadapi dan memilih NARKOBA sebagai jalan penyelesainya.


Belum lagi ia melihat penderitaan ibunya, yang harus mengurus ketiga anak-anaknya tanpa di dampingi sang suami.


"Tapi Nak, bukan seperti ini, jalan penyelesainya, hiks, hiks, Bagas apa kau tak memikirkan ibu mu ini Nak, hiks hiks," Air mata Nina mengalir deras.


Sebenarnya dirinya juga sulit menerima kenyataan, bahkan ia sempat membenci kelahiran Bagas kala itu.


Namun rasa cinta dan kasih sayang sebagai seorang ibu tumbuh begitu saja dalam hatinya ketika pertama kali memeluk Bagas yang menangis, meski saat itu usia Nina masih tergolong ABG dan belum mengerti apa-apa tentang menjadi ibu.


Nina memeluk Bagas dalam harunya ," Nak masih ada kesempatan untuk mu memperbaiki diri, tunjukan pada mereka, jika kau anak yang baik, kau tak seperti ayah mu yang membuat kau terlahir di dunia ini," ucap Nina seraya memeluk Bagas.


"Iya Bu, Bagas sedang berusaha."


Hiks hiks hiks


Bagas menangis dalam pelukan ibunya, tubuhnya masih terasa sakit kala itu, ia sadar itu adalah ujian pertama yang harus ia hadapi untuk terlepas dari lingkar setan tersebut.


Hari-hari Bagas berjuang sendiri, meski ia merasakan sakit seperti orang yang hendak menghadapi sakaratul maunya.


Support dan doa selalu ia panjatkan agar Bagas bisa melewati masa-masa kritisnya.


***


Hari kelima, Bagas mulai menunjukan hasil yang baik, tubuhnya tak lagi panas dan menggigil meski wajahnya masih terlihat pucat.


Namun saat ini Bagas sudah bisa bangun dan berdiri dengan tegak.


Bagas memulai aktifitasnya di pagi hari dengan melakukan ritual mandi paginya.


Setelah itu ia menghampiri Nina untuk sarapan.


"Bu, sarapan apa hari ini?"tanya Bagas yang mengagetkan ibunya.


" Bagas kamu sudah sembuh Nak?" tanya Nina yang kemudian menghampiri Bagas, kemudian menyentuh telapak tanganya pada kening Bagas.


"Iya Bu," ucap Bagas seraya menarik roti dan memelosnya.


"Ehm, masih hangat, kamu masih harus banyak beristirahat Nak, " ucap Nina seraya menarik kursi untuk duduk di samping Bagas.

__ADS_1


"Iya Bu," Bagas mengunyah roti tersebut.


"Bu, Bagas berencana akan melamar kerja," ucapnya sambil melirik ke arah Nina yang tersenyum.


"Tentu saja Nak, kamu juga bisa sambil kuliah biar kamu punya masa depan yang lebih cerah," ucap Nina sambil mengelus lengan putranya tersebut.


"Iya, rencananya Bu", sahut Bagas sambil meminum segelas susu hangat buatan Nina.


Nina bahagia sekali melihat putranya yang terlihat bersemangat tersebut.


"Bagas, pacar kamu itu kerja dimana?"tanya Nina dengan senyum bahagia kearah putra sulungnya.


Ehm Bagas tersenyum, "Belum jadi pacar kok Bu," jawab Bagas seraya menyimpul senyumnya karna malu.


"Ehm, Ngak apa kok, pelan-pelan saja mendekatinya, kamu sudah tahu siapa orang tuanya?"tanya Nina kembali.


"Belum Bu, tapi yang jelas dia itu pengacara Bu, Bagas sedikit minder jadinya," keluh Bagas.


"Loh, kenapa Minder, bukannya kamu juga pengacara?"tanya Nina meledek.


"Iya, penggangguran banyak acara kan di singkat pengacara juga," sahut Bagas.


Mereka pun tertawa.


"Justru dari itu Nak, kamu harus semangat lagi, kamu buktikan padanya jika kamu orang yang layak untuk mendampinginya," nasehat Nina.


"Benarkah begitu Bu?" tanya Bagas.


"Iya Bagas, jangan rusak masa depan kamu lagi sayang, di dunia ini ibu tak punya siapa pun yang akan membuat ibu bangga, selain kamu dan adik-adik kamu."


"Ibu tak ingin kamu di pandang sebelah mata oleh orang-orang Bagas, buktikan pada mereka, jika anggapan mereka tentang kamu salah Nak, perbaiki nana baik ibu dan nama baik keluarga kita, karna ibu sudah sering mendengar cemoohan orang-orang, karna mereka bilang jika ibu tak bisa mendidik kamu dengan baik," ucap Nina dengan mata yang berembun.


Bagas menitikan air matanya, dirinya sadar jika kelakuan nakalnya hanya membuat ibunya menjadi bahan gunjingan.


Bagas mendekati Nina dan memeluknya.


"Maafkan Bagas Bu, dari dulu Bagas hanya menyusahkan ibu, " ucapnya sambil menangis.


"Iya Nak, ibu yakin suatu saat kamu bisa membuat ibu bangga," ucap Nina tak kalah haru.


Bersambung dulu ya

__ADS_1


__ADS_2