
🌷mengandung adegan 21+ ya, yg ngak suka boleh skip aja ya, tapi tetap dukung author galau ini ya, dengan like, komen dsb.
Romeo berbaring di atas tempat tidur Doni, sementara Doni menyiapkan air hangat untuk mengompres luka Romeo.
Tanpa sungkan Tari menyingkap kaos yang dikenakan oleh Romeo dan melihat memar di sekitar luka jahitannya.
"Rom, di sekitar jahitan loh memar Rom," ucap Tari.
"Udah biarin saja, sudah ngak sakit lagi kok, gue cuma butuh waktu istirahat saja,"ucap Romeo datar.
"Di kompres saja ya Rom?" tanya Tari.
"Iya biar gue lakuin sendiri Tar, terima kasih ya, karna sudah merepotkan loh," ucap Romeo.
Tari diam, ia menyadari jika dirinya tak berarti apa-apa di mata Romeo.
Meski demikian ia tetap menunjukan perhatianya terhadap Romeo, menurutnya memang tak mudah merebut hati Romeo, tapi ia akan selalu mencobanya.
Dengan lembut Tari menggompres luka pada wajah dan bagian perut Romeo.
Wajah Romeo terlihat datar, nyaris tanpa ekspresi, Tari sendiri tak tahu apa yang di pikirkan kekasih hatinya tersebut.
Romeo terlihat sedih, dengan tatapan mata yang kosong.
Setelah selesai mengompres dan memberi obat pada luka Romeo, Tari pun meninggalkan Romeo sendiri untuk beristirahat.
"Rom loh istirahat saja ya, jika butuh sesuatu loh panggil gue saja, gue nunggu loh di luar kamar," ucap Tari sambil membawa baskom bekas kompresan Romeo.
"Loh pulang saja Tar, gue ngak apa-apa kok, " ucap Romeo datar dengan tatapan mata lurus kearah depan.
Tari keluar dari kamar dengan sedih, namun ia tak berniat untuk pulang.
Setelah beberapa jam, Tari kembali kekamar dan menemukan Romeo yang terlelap dengan tubuh yang menggigil.
"Rom, Rom loh kenapa Rom?" tanya Tari sambil menepuk pelan pipi Romeo.
Romeo juga tak bangun, akhirnya dia pun memanggil Doni untuk melihat keadaan Romeo.
"Doni!!Doni!!!," teriak Tari sambil berlari menuju anak tangga.
Doni yang mendengar teriakan Tari kemudian menghampirinya.
"Ada apa sih Tar?" tanya Doni yang panik melihat Tari yang tergesa-gesa menemuinya.
"Romeo Don, tubuhnya terasa panas, ia pun menggigil", ucap Tari dengan nada panik.
Doni segera berlari menuju kamarnya, setelah sampai di kamarnya ia pun membuka kota obat dan memberi Romeo obat penurun panas.
"Rom, minum obat dulu Rom," ucap Doni sambil meyodor kan obat dan segelas air putih hangat.
Tangan Romeo yang gemetar meraih gelas tersebut, ia pun meminumnya, kemudian Romeo terbaring lagi.
Sesaat setelah meminum obat, Romeo kembali tertidur, Tari tetap berada di sisinya, bahkan ia menikmati dengkuran halus Romeo yang terdengar di telinganya.
Sesekali ia meraba kening Romeo, yang masih terasa hangat tersebut, wajah Romeo pun terlihat memerah dengan lebam di sekitar wajahnya.
Bulir bening menetes di pipi Tari, ia begitu sedih melihat kekasih hatinya terbaring tak berdaya karna perlakuan adiknya sendiri.
Tari mengusap lembut kening hingga ke pucuk rambut Romeo, dengan segenap rasa yang ia miliki, ia pun mencium kening Romeo hingga menitikan air mata.
Waktu berlalu, namun rasanya ia tak ingin pergi meninggalkan Romeo, namun apa daya, Maya sang bunda sudah menghawatirkanya nya dan menyuruhnya untuk segera pulang.
Dengan berat hati dan titik air mata yang tersisa, Tari melangkah kan kaki meninggalkan sang pujaan hatinya.
Tari menemui Doni," Don gue titipkan Romeo kepada loh Don," ucap Tari dengan suara beratnya.
"Iya, dia kan sahabat gue juga, loh tenang saja Tar," ucap Doni.
"Kabari gue tentang keadaan Romeo ya, karna tadi dia sempat bilang, kita semua ngak usah memberi tahu orang tuanya tentang keadaanya saat ini, papar Tari.
"Iya loh tenang aja ya," sahut Doni.
"Kalau gitu gue pamit Don, "ucapnya lagi.
-
-
-
Tari pulang kerumah dan melihat Aira dan Aldi yang semakin mesra duduk di ayunan.
Dengan perasaan dongkolnya ia pun menghampiri Aldi yang telah memukul Romeo, hingga Romeo membuat memar pada luka jahitannya.
__ADS_1
"Aldi loh keterlaluan baget sih!" Cecar Tari.
"Kenapa sih loh, tiba-tiba saja ngamuk gitu?!" tanya Aldi tak kalah emosi.
"Lo udah mukul Romeo segitunya Di, kelewatan banget sih loh!"
"Oh jadi itu rupanya, kenapa? Loh ngak terima? Asal loh tahu saja Tar, gue bisa saja bunuh dia jika dia mengulangi kesalahan yang sama!" Cecar Aldi dengan penuh emosi.
Nafas Aldi menderu, ia baru saja, berusaha melupakan kejadian yang membuat dirinya terbakar api cemburu terserbut, tapi kini Tari datang seolah mengingatkannya kembali.
Melihat suaminya tersulut emosi, Aira berdiri lalu mengusap dada Aldi hingga membuat Aldi bisa menggontol emosinya.
"Sudah Mas kita pergi dari sini saja," Aira menarik tangan Aldi agar ia menjauh dari Tari yang juga terlihat emosi.
Tari mengepalkan tanganya dia begitu kesal terhadap perlakuan Aldi.
Makan malam tiba, Tari dan Aldi masih terlihat kesal, mereka saling menatap tajam kemudian mealingkan wajahnya.
Melihat hal tersebut Aira menjadi tak enak, di mana ia seperti simalakama, dan semua ini karna kesalahannya sendiri.
Satria dan Maya berbincang-bincang di meja makan, ia melihat ada gelagat aneh dari kedua anaknya.
"Tari! Aldi! kalian kenapa sih? Kayak perang dingin saja?"tanya Satria sambil menatap keduanya bergantian.
Aldi melepaskan sendok dan garpunya, ia bangkit dengan kesal meninggalkan meja makan tersebut dengan wajah yang cemberut.
Semua mata tertuju pada nya saat itu, melihat suaminya yang beranjak dari meja makan Aira mengikutinya.
Aira sendiri tak mengetahui kabar ter akhir dari Romeo, sejak ia tinggalkan bersama Aldi.
"Pa, Bunda, Aira nyusul mas Aldi dulu ya, permisi," ucap Aira sambil membungkuk kan tubu
"Apa keadaan bang Romeo memprihatinkan ya? hingga mbak Tari semarah itu,"guman Aira bermonolog.
Tari menatap kepergian Aldi dengan sorot mata yang tajam.
Sementara Aira segera menyusul suaminya
Aira menaiki anak tangga menuju kamarnya, saat di depan pintu ia mendengar Aldi berbicara dengan seseorang melalui sambungan telpon.
"Iya, apa tak bisa di tunda lagi sidangnya?" Tanya Aldi yang terlihat khawatir.
"Sidang? " Guman Aira pelan.
*Apa ini alasan mas Aldi tak memarahiku bahkan semakin bersifat romantis terhadap ku,* batin Aira.
Aira memasuki kamar ketika Aldi telah menyelesaikan sambungan telpon nya, ia pun menghampiri Aldi, yang duduk di atas tempat tidur dengan menghela nafas panjang.
Aira menghampiri Aldi dan duduk di atas pangkuan suaminya.
Aldi kaget karna kedatangan Aira yang tiba-tiba tersebut.
"Mas ada masalah apa sih?" tanya Aira sambil menggelayut manja pada Aldi.
"Ngak ada masalah apa-apa
sayang,"
"Mas jangan bohong mas, Aira melihat keanehan dari mas Aldi, terkadang mas Aldi terlihat sangat temperament namun di depan Aira justru mas Aldi bersikaf seolah tak ada masalah apa pun."
"Mas bukan kah kita sudah berjanji untuk selalu bersama dalam suka dan duka?" Aira
Aldi mencium pipi Aira, dan mengusap rambutnya," Mas Aldi stress sayang, akhir-akhir ini begitu banyak yang harus mas Aldi selesaikan, mas hanya ngak mau kamu ikut terbebani dengan semua ini, kamu sudah cukup menderita selama ini, jadi mas tak ingin membebani mu, tak ingin membuatmu sedih, seperti apa pun masalah yang tengah mas Aldi hadapi, jika bersama kamu, mas merasa tenang kembali," papar Aldi dengan menatap sendu pada manik mata Aira.
Aira tersenyum sambil menakup wajah Aldi dengan kedua tanganya.
"Terima kasih mas, Aira terharu, Aira juga merasa bersalah karna menemui bang Romeo tanpa ijin dari mas Aldi," ucap Aira dengan menyesal.
Aldi membuang wajahnya ketika mendengar nama pria yang di sebut oleh Aira.
"Sudalah sayang, jangan ungkit lagi, semua membuat mas terasa sakit, tapi mas berusaha untuk tak emosi, mas tak ingin kamu terluka lagi karna kata-kata mas, mas sekarang berusaha untuk mengerti kamu, mas ngak mau masalah tersebut merusak hubungan kita, jadi jangan pernah mengungkitnya lagi, apalagi sampai mengulanginya lagi," papar Aldi.
Aira tersenyum sambil menatap lekat wajah suaminya, kemudian ia mencium bibir Aldi dengan lembut, sejenak mereka saling menyesap, mengulum dan saling bertukar saliva.
Adegan semakin panas, saat Aira membuka satu persatu kancing piyama yang di gunakan oleh Aldi.
Dengan lembut Aira merebahkan tubuh Aldi namun gerakan bibir mereka tak berhenti, malah semakin dalam dan lincah hingga mengeluarkan suara lengkuhan dari keduanya.
Setelah semua kancing piyama tersebut terbuka, Aira menyibak piyama tersebut, ia pun membung nya kesembarangan, setelah itu ia membuka celana kain Aldi dan munculah si buyung yang gagah perkasa.
Dengan lembut Aira menyentuh si buyung yang sedang menegang tersebut, tanpa ragu ia pin memasukan barang keramat tersebut kedalam mulutnya.
Akh, Aldi mer*in*tih denga nikmat, saat pusaka ajaibnya menerobos mulut munggil sang istri, tubuhnya mengelinjang merasakan sensasi yang luar biasa.
__ADS_1
Gerakan tangan Aira mendorong dan menarik pusaka tersebut keluar masuk di dalam mulutnya.
Aldi meremas spreynya dengan tubuh yang mengejang merasakan nikmat, suara lengkuhan dan de*sah*an berkali-kali lolos dimulutnya, sesekali Aldi menggigit bibir bawahnya untuk menahan reaksi tubuhnya yang menerang akibat merasa kan nikmat yang luar biasa.
"Akh Oh ehm, apa ini sayang?" guman Aldi lirih saat istrinya tersebut semakin lincah memainkan iramanya.
"Okh sayang ehm, ngak kuat sayang ucap Aldi, "Aira pun melepas sang saka dari kulumanya, Aira merebahkan tubuh Aldi hingga ia kembali terbaring, kemudian ia menggambil posisi di atas tubuh Aldi, dengan lembut ia kembali memasukan si buyung kedalam goa sempit miliknya.
Akh, Aldi mengelinjang, bibirnya tak tahan untuk menahan suara lengkuhan dari lidahnya.
Aira bergerak naik turun membuat tubuh Aldi bergetar hebat, ia pun merinding manja merasakan sensasi yang di manjakan sang istri.
Tubuh Aira bergerak naik turun di atas permukaanya hingga menyunyuh dua bola mini milik Aldi.
"Ngak kuat sayang, ucapnya sambil mengerang, dengan sekali hentakan terakhir, si buyung berhasil memuntahkan lahar hangat nya dan merembes melalui gua sempit yang kini mulai lengket akibat lendir hasil pelepasan Aldi.
Tubuh Aira roboh di samping tubuh Aldi.
Nafas keduanya memburu namun Aira terus tersenyum melihat kearah pangeran tampanya.
Aldi memiringkan tubuhnya untuk menjangkau Aira, dengan segenap rasa yang ada, ia pun mendaratkan kecupan mesra di kening sang istri.
Aldi menatap mata Aira penuh damba, ia merangkul tubuh munggil sang istri dan memeluknya.
"Apa ini sayang ?" Tanya Aldi sambil menyibak rambut basah Aira yang menempel di pipinya, ia pun tersenyum dengan mata yang berbinar.
"Ini adalah bukti cinta dan penggabdian Aira pada mas Aldi," jawabnya dengan senyum yang mengembang.
Aldi terharu ia pun mengecup seluruh wajah Aira, cup.. cup.. kecupan mendarat pada kening, kedua pipi, dagu dan yang terakhir bibir, Aldi merasa haru, hari ini ia begitu puas dan merasa di manjakan oleh sang istri, Aldi bangkit dan menggangkat tubuh Aira yang bugil tersebut menuju bathtub.
Saat menuju kamar mandi keduanya tetap saling memandang dengan tatapan berbinar penuh cinta.
Sesampainya di bathtub Aldi meletakan bokong istrinya di atas bathtub kemudian menyemprotkan Air ke bagian intim sang istri dan membersihlanya dengan sabun khusus.
Aira tersenyum geli saat tangan kekar sang suami menyentuh kli*to*ris miliknya.
"Akh Mas Aira bisa bersihin sendiri kok," ucapnya dengan nada Men*de*sah*.
Aldi melempar senyum simpul sejenak kemudian berlutut di bawah bathtub.
Kepalanya menghadap tepat pada organ intim sang istri.
Aldi membuka lepar pangkal pa*ha Aira, kemudian mendekatkan wajahnya dan menjilati secuil daging yang hampir menyerupai bentuk segitiga tersebut.
Dengan pelan lidahnya menari menjilati biji kecambah milik sang istri.
"Akh Mas geli," desah Aira tubuhnya mengelinjang bergetar menahan sensasi nikmat yang menggelitik.
Berkali-kali Aira menelan saliva nya yang terasa kering karna terus saja mengeluarkan suara lengkuhan nikmat, buah kenakalan suaminya tersebut.
Lidah Aldi terus mencicipi dan menjilati belahan yang dia apit oleh dataran yang di tumbuhi beberapa helai rumput hitam halus tersebut.
"Akh mas , "desah Aira sambil mencengram rambut suaminya dengan gerakan tertahan dan mengejang.
Haha haha, nafas Aira memburu ia sudah tak kuat," Mas sebentar lagi keluar, mas," lirih Aira dan benar saja saat Aldi menarik sedikit wajahnya cairan kental tersebut keluar perlahan dari goa sempit sang istri, tanpa menunggu Aldi kembali mengangkat tubuh Aira dan memasukanya ke dalam bathtub ia pun mengalirkan air kedalam baththub.
Aira bersandar tak berdaya, saat Aldi kembali membuka selang*kangganya.
Dengan gesit Aldi kembali menggempur istrinya didalam bathtub yang berisi air, hingga menimbulkan suara lengkuhan panjang saat keduanya mencapai puncak kli* max.
Tubuh Aldi roboh di samping sang istri,meski tubuh berendam dengan Air namun masih saja suhu tubuhnya terasa hangat setelah pertempuran ronde ke dua tersebut.
Mereka pun saling melempar senyum kepuasan.
Aldi meraih tangan Aira dan mencium punggung tangganya.
"Itu tanda cinta dari mas Aldi untuk kamu sayang, " ucap Aldi sambil membelai pipi sang istri.
Aira tersenyum seraya meraih tangan Aldi, dengan penuh perasaan ia pun mencium punggung tangan suaminya tersebut.
" Terima kasih Mas semoga kita akan selalu saling mencintai dan menyayangi, Mas," ucap Aira dengan mata berbinar.
"Tentu sayang, " sahut Aldi yang membalas dengan kecupan di punggung tangan Aira.
Sekian episode hari ini ya, di tunggu selalu
like.
komen
vote
dan hadiahnya.
__ADS_1