Kenapa Harus Menikah Dengan Mu

Kenapa Harus Menikah Dengan Mu
Berbelanja pakaian bayi


__ADS_3

Setelah dari praktek dokter, mereka memutuskan untuk berbelanja kebutuhan sang calon bayi mereka.


"Bun, Ayah senang baget Bun, anak kita laki-laki, Ya Allah, terima kasih kau telah hadirkan anugrah yang melimpah untuk kami," ucap Aldi.


"Iya Yah, semoga ia kelak jadi lelaki yang soleh yang bisa membimbing dan menjadi imam yang baik untuk keluarganya, dan adik yang bisa menjaga putri kita Alia," papar Aira.


"Semoga saja Bun," ucap Aldi serata meraih tangan Aira dan mengecupnya.


Sepanjang jalan Aldi terus mengelus perut istrinya yang semakin membesar tersebut.


Mereka pun singgah ke sebuah toko perlengkapan bayi, bukan main senangnya Aldi dan Alia, melihat pakaian dan pernak pernik yang lucu-lucu.


"Ih Bunda, sini Bunda!" seru Aldi heboh karna melihat pakaian bayi yang lucu-lucu.


"Apa sih Yah?"tanya Aira menghampirinya


" Ini loh Bun, lucu-lucu banget deh, ayah pingin beli semuanya, "ucap Aldi bersemangat sambil memperlihatkan salah satu pakaian bayi laki-laki.


"Iya Yah, yang ini juga, lucunya gemes," tutur Alia tak heboh.


"Iya Nak, pilih saja yang mana yang kakak suka." Aldi.


"Ini Yah, semua nya yang ini." Alia.


Alia dan Aldi memilih pakaian bayi lelaki tersebut dengan penuh semangat, Aira tersenyum melihat kedua ayah dan anak tersebut berburu pakaian bayi, ia biarkan Aldi yang memilihnya, karna Aldi tak punya kesempatan saat membeli pakaian Alia waktu bayi.


Aira duduk di kursi dekat kasir, perutnya sudah terasa kram jika terlalu lama berdiri.


"Bunda sini ! Bunda juga, pilih mau yang mana?"tanya Aldi seraya menarik tangan Aira menuju rak pakaian anak cowok.


Sesampainya di keranjang belanjaan, Aira kaget melihat pakaian bayi sudah memenuhi keranjang.


"Aduh Yah, untuk apa pakaian sebanyak ini, di pakai ganti-ganti setiap hari juga ngak habis," cetus Aira.


"Biarin Bun ayah lagi semangat-semangatnya Nih, ayo kita cari lagi barang-barang yang lain," ucap Aldi.


Aldi dan Alia benar-benar heboh, mereka seperti orang yang tak pernah belanja.


Semua barang yang bagus dan lucu,masuk ke keranjang belanjaan mereka.


Penjaga toko membawa satu keranjang pakaian tersebut menuju meja kasir, sementara Aldi ia kembali lagi menarik keranjang kosong menuju perlengkapan bayi lainya seperti sepatu, kaos kaki, celemek dan peralatam makan dan mandinya.


Melihat sepatu dan kaos kaki yang lucu-lucu itu Aldi kembali mengeram.


"Ya ampun Kak, lihat deh, kaos kaki dan sepatu ini, lucu ya Kak?" Aldi.


"Iya Yah yang ini juga, "sahut Alia t semangat memilih sepatu bayi laki-laki, semua sepatu tersebut di borong kedua ayah dan anak yang seperti kesurupan belanja tersebut, sementara Aira memilih box bayi, stoler dan bak mandi bayi.


Rak sepatu bayi khusus laki-laki kosong di borong orang keduanya.


"Apalagi Kak?"tanya Aldi.


"Topi Yah, jaket juga,"sahut Alia.


"Iya Bener Kak, Aldi.


mereka pun menuju rak topi bayi.

__ADS_1


"Ya ampun Kak! lucu banget Kak, dulu Kakak pasti lucu pakai topi yang beginian?" Aldi.


"Iya dong Yah, Topi Kakak banyak waktu kecil, tapi di sedekahin sama Mbah, katanya biar jadi amal dari pada di simpan," papar Alia.


"Betul itu Kak," sahut Aldi.


Puas belanja memilih Topi, Aldi menuju peralatan makan bayi, masih dengan semangat empat lima.


Dua keranjang sudah penuh, "Pak ini boleh saya bawa ke kasir?" tanya pelayan toko tersebut kepada Aldi.


"Iya semuanya bawa saja," sahut Aldi tanpa menoleh ke arah pelayan tersebut.


Aira tersenyum serta geleng-geleng kepala melihat suaminya yang begitu semangat dalam memilih perlengkapan bayi mereka, ia pun merasakan kebahagiaan yang di rasa Aldi.


Mereka kembali menuju peralatan makan.


"Kak, lihat nih kakak pilih yang mana untuk adek?"tanya Aldi seraya menggendong Aira menjangkau peralatan makan bayi.


Alia menarik salah satu, namun yang tertarik justru semuanya, akhirnya penjaga toko tersebut di buat kelabakan oleh ayah dan anak tersebut karna harus menyusun kembali barang-barang yang berjatuhan dari tempat semestinya.


Aira geleng-geleng kepala, melihat kehebohan ayah dan anak itu.


Tapi Aldi tak perduli, ia melanjutkan perburuannya.


"Bunda sini" panggil Aldi ketika melihat Aira yang hanya duduk.


Dengan malas Aira menghampiri suaminya.


"Apalagi Yah, itu keranjang sudah penuh semua,"dengus Aira.


" Aduh terserah deh Yah, Spiderman, Batman, ironman, atau apa saja yang penting bukan wonder women." jawab Aira.


"Bunda kok gitu sih Bun, kok ngak semangat banget?"tanya Aldi.


"Bukan ngak semangat Yah, Bunda sengaja membiarkan Ayah yang memilih, karna eufhoria seperti ini sudah pernah Bunda rasakan ketika memilih pakaian Alia jadi untuk saat ini, Bunda persilahkan kepada Ayah, untuk memilihnya." papar Aira.


"Iya Bunda, Ayah terlalu bersemangat, karna Ayah begitu bahagia dan haru, inilah pertama kalinya ayah memilih untuk pakaian anak Ayah sendiri, sebagai laki-laki Ayah merasa bangga bisa membeli semua ini dengan hasil kerja keras Ayah selama ini," jelasnya.


"Iya Yah, Bunda juga bangga dan Haru, karna memiliki suami yang begitu menyayangi keluarganya," papar Aira seraya merangkul Aldi.


"Kalau gitu ayo kita sudahan belanjanya, Kakak, kakak mau beli apa?"tanya Aldi.


Aira memilih baju princess kesukaanya.


Setelah membayar belanjaan tersebut, mereka binggung mau di taro di mana.


"Aduh Mbak, belanjaannya bisa di antar ngak Ya?"tanya Aldi.


"Bisa Pak, nanti Box bayinya dan stolernya bisa di rakit sekalian, tinggalkan saja alamatnya "papar penjaga.


"Oh Iya terima kasih," Aldi.


Setelah puas berbelanja, Aira merasa lelah, di dalam mobil ia pun menyandarkan kepalanya pada sandara jok mobil.


"Kenapa Bun?"tanya Aldi seraya melirik Aira.


"Bunda capek banget Yah," sahut Aira seraya mengelus perutnya.

__ADS_1


"Ya sudah kita pulang saja, Bun." Aldi.


"Untuk acara tujuh bulanannya gimana Bun?"tanya Aldi,


"Terserah Ayah saja lah, maunya gimana, yang penting niat dan tujuannya baik ya pasti baik," papar Aira.


"Nanti kita pikirkan lagi saja, kelihatannya Bunda capek banget ya?" tanya Aldi.


"Iya Yah, bekerja saat hamil besar gini rasanya melelahkan, padahal kan Bunda ngak patroli lagi, cuma membina dan mengarahkan saja huh," ucap Aira.


"Kalau Alia dulu gimana Bun?"tanya Aldi sambil melirik ke arah Aira.


"Kalau Kakak dulu kan Bunda ngak kerja Yah, lagi pula kalau malam tidur dengan tenang, ngak ada ganggu-gangguan," sahut Aira menyindir, matanya melirik ke arah Aldi.


"Tapi kan gangguannya berupa yang enak-enak Bun, Bunda juga menikmatinya," sahut Aldi.


"Iya sih Yah, tapi perut besar kayak gini capek banget, apalagi harus kerja pinginnya rebahan saja." Aira.


"Ambil cuti dong Bun." Aldi.


"Iya Yah, minggu depan sudah cuti kok," sahut Aira.


***


Malam harinya Aira bersandar pada headboard, matanya sayu karna merasa lelah.


Aldi yang baru dari kamar Mandi menghampirinya.


"Kenapa Bun? capek ya?" tanya Aldi, duduk di ujung kaki Aira.


"Iya Yah capek banget," sahut Aira.


"Sini biar Ayah yang pijit," ucap Aldi seraya memijit kaki Aira.


"Ehm, pasti ngak gratiskan Yah?"tanya Aira seraya menyunggingkan senyum sipulnya.


"Iya, mana ada yang gratis di dunia ini," sahut Aldi mendekat kearah Aira.


"Sebelum pijit minta DP nya duluh lah Bun," ucap Aldi setengah berbisik.


"Huh, kerja belum selesai, nudah nagih DPnya bagaimana sih?"dengus Aira.


"Yah biar semangat Bun," ucap Aldi merayu.


"Uh dasar," sungut Aira.


Aldi merebahkan tubuh sang istri, "Bun dua Ronde ya, kan sebentar lagi udah mau puasa lagi?" tanya Aldi membujuk.


" Ya ampun Yah, Dpnya aja dua ronde, kalau begini ngak sesuai banget sama UMR," cetus Aira.


"Kok UMR sih Bun?"


"Iya, Upah Minimum pakai Ronde," cetus Aira.


"He he bisa aja, udah ah kalau gibrol terus kapan mulainya," ucap Aldi yang langsung memulai gencatan senjatanya.


Bersambung, he he mangap harus di skip

__ADS_1


__ADS_2