Kenapa Harus Menikah Dengan Mu

Kenapa Harus Menikah Dengan Mu
Rindu


__ADS_3

Bagas pulang dari kantornya lebih cepat, karna ia sudah tak sabar bertemu dengan tiga bidadarinya, dua putri kembarnya dan satu lagi bidadari, yakni istrinya.


"Assalamualikum, "sapa Bagas membuka pintu kamar.


"Walaikumsalam, Ayah." Alita.


Bagas pun masuk kemudian menghampiri


Si kembar sedang tidur di dalam box bayi mereka.


"Mana si kembar Ayah? "


"Hay Chafiya! Hai Chayra!"sapa Bagas.


"Ayah pulang nih. Bangun dong. "


Bagas mencium-cium pipi salah satu dari mereka.


Ia pun menggendong salah satu putrinya.


"Ayah kok pulang awal Yah? " tanya Alita yang tengah menyusun pakaian si kembar di lemari.


"Ayah kangen sama anak-anak Ayah, makanya pulang awal. Di kantor Terbayang bayang wajah bidadari Ayah nih. "


"Ehm, ternyata cuma kangen sama anak-anaknya, sama istrinya ngak? " rajuk Alita dengan bibir yang mengkerucut.


Bagas tersenyum melirik ke arah Alita yang tampak cemberut.


Bagas diam-diam menghampiri Alita yang duduk membelakanginya.


Cup, satu kecupan mendarat di pipi Alita. Alita pun tersenyum seraya menoleh ke arah Bagas.


"Kangen dong," ucap Bagas seraya melempar senyum termanisnya.


Ehm, seketika hati Alita luluh melihat senyum yang membuatnya tergila-gila pada sang suami. ia pun tak jadi ngambek.


Bagas duduk di samping Alita di atas tempat tidurnya dengan menggendong salah satu bayi mereka.


"Kok cuma Chafiya Yah. Chayra ngak di gendong?"


"Ngak bisa gendong dua-duanya Bun. " Bagas.


"Ehm, kalah sama Bunda dong. Bunda bisa tuh bawa kedua-duanya dalam perut Bunda. "


"Ehm, Ayah juga bisa bikin dua-duanya sampai ada di dalam perut Bunda,"sahut Bagas dengan nada bercanda.


"Ih Ayah, pembicaraan selalu mengarah ke sana," ucapnya sambil menarik hidung mancung suaminya.


Keduanya pun saling melempar senyum.Bagas melirik memberi kode, dengan senyum mesumnya.


"Sudah boleh kah Bun? " tanya Bagas dengan kode kode lirikan matanya


"Belum Yah masih lama!" sahut Alita dengan tawa kecilnya.


"Lama banget puasanya Bun, ini udah mau masuk bulan puasa lagi" dengus Bagas sambil menggaruk garuk kepalanya yang tak gatal.


Alita mendekatkan wajahnya ke wajah Bagas." Sabar ya Yah," ucap Alita sambil mengelus pipi Bagas.


"Sabar kok, tenang saja, "sahutnya sambil mencium pipi Alita.


Eak eak, Chayra menangis.


"Duh anak ayah yang satunya lagi nangis." Bagas menyodorkan Chafiya ke Alita, ia pun menghampiri Chayra kemudian menggendongnya.

__ADS_1


"Oh Chayra juga mau di gendong sama Ayah yah?"


Eak, eak.


"Cup cup jangan nangis ya, "ucap Bagas sambil menggendong Chayra dan membawanya ke Alita yang tengah menyusui Chafiya .


"Sepertinya Chayra juga ingin mimik cucu Bun! "


"Iya Yah, bawa sini saja saja, "Alita pun duduk dan menggendong kedua bayinya agar bisa memberi mereka ASI.


Bagas tersenyum melihat kedua anaknya yang tengah asik dengan ASInya.


"Habis ini giliran ayah ya Nak, Ayah juga haus," ucapnya sambil menelan salivanya.


"Ayah minum susu kental manis aja Yah! ngalah dulu sama anak sampai dua tahun. "


"Lama banget! sampai dua tahun. Bisa kurus ayah,"keluhnya.


"Resiko punya anak ya gitu. "Alita.


Bagas merebahkan tubuhnya di belakang punggung Alita, tangannya melingkar memeluk pinggang istrinya. Hingga ia terlelap.


Alita tersenyum melihat Bagas yang ikut terlelap." Kamu pasti capek Mas, begadang mengsuh anak-anak kita."


Setelah meletakan kedua putrinya dan melekatannya di dalam box, Alita kembali menghampiri Bagas, ia berbaring sambil mengusap kepala Bagas, hingga ia pun ikut terlelap.


Mengsuh anak kembar memang melelahkan.Namun, jika bekerja sama tak akan terasa merepotkan.Kini Alita dan Bagas tengah menikmati status mereka sebagai orang tua dan bekerja sama mengasuh kedua putrinya.


***


Setelah bertemu dan ngobrol sebentar bersama kedua orang tuanya.


Arsyad mengajak Nisa untuk bertemu dengan Alia. Mereka pun menuju lantai dua rumah mereka.


"Masuk saja! " seru Alia dari dalam kamar.


Arsyad pun membuka pintu kamar.


"Assalam mualaikum Kakak, Assalammualaikum Gaishan, "sapa Arsyad.


"Waalaikum sallam, masuk saja!" Alia.


"Ayo Nisa masuk," ajak Arsyad.


Nisa tersenyum simpul ketika Alia melempar senyum ke arahnya.


Arsyad duduk di samping Alia.


"Abang mana Kak? " tanya Arsyad.


"Abang kerja, kan Abang cuma karyawan di perusahaan ayah, kalau ngak kerja ntar ngak dapat intensif he he,"cetus Alia sambil tersenyum.


Nisa duduk di kursi meja rias di kamar Alia.


"Asyik! ngak ada abang aku bisa manja-manja sama Kakak," ucap Arsyad seraya memeluk dan mencium pipi Alia.


"Ih masih manja. Ngak malu sama pacar kamu tuh! " cetus Alia sambil menunjuk Nisa dengan bibirnya.


"Biarin, mumpung ngak ada Abang. " Arsyad mendaratkan kepalanya pada pundak Alia.


Alia tengah mengganti popok putranya.


"Nih gendong dulu, kebetulan ada kamu, kakak mau mandi dulu ya.Jagain keponakan kamu tuh! "

__ADS_1


"Beres!"


Alia pun masuk ke kamar mandi.


Nisa menghampiri Arsyad yang tengah menggendong keponakannya.


"Kamu enak ya Syad, punya kakak punya orang tua yang lengkap, bisa bermanja-manja," ucap Nisa lirih. Ia kembali merasa sedih setiap kali melihat keluarga yang hangat, membuatnya teringat dengan keluarga-nya.


"Ehm kamu mau manja-manja juga? Manjanya sama aku saja, he he " cetus Arsyad. Ia pun tertawa kecil.


"Ih, emangnya kamu siapa? " dengus Nisa.


Nisa kembali tersenyum melihat Gaishan yang berada di gendongan Arsyad.


"Ini keponakan kamu? trus bayi yang satunya lagi itu adik kamu? " tanya Nisa seraya mengusap kepala Ishan yang dalam gendongan Arsyad.


"Hm, kenapa? " Arsyad.


"Ngak keluarga kamu hangat ya Syad, dulu keluarga ku juga gitu, aku jadi kangen mereka, hiks." Nisa kembali menangis setiap mengingat kenangan indah keluarganya.


"Aku jadi ingat saat Aisyah masih ada. Kami selalu bersama, bercanda, bertengkar, pakaian kami juga selalu couple, hiks. "


Arsyad menatap sedih ke arah Nisa.


Nisa menggumpal-ngumpalkan tisu yang di gunakan untuk menyapu air matanya.


"Terkadang aku heran, aku dan Aisyah terlahir bersama. Namun, kenapa takdir kami berbeda, sekarang dia pasti sudah jadi bidadari di surga, hiks, hiks. Sementara aku masih harus berjuang di dunia yang fana ini, tanpa seorang pun yang mengerti aku.Aku seperti kehilangan tujuanku untuk hidup hiks hiks hiks," tutur Nisa sedih, ia pun kembali menangis.


Arsyad hanya bisa diam dan terdiam.


"Kamu kangen sama mereka? " tanya Arsyad.


Nisa masih menangis pilu, bahkan hampir dua minggu pasca kejadian, ia masih tak percaya jika orang-orang yang ia sayang kini telah tiada.


"Aku merasa ini seperti mimpi buruk yang terasa nyata. Kini aku sendiri hiks hiks hiks."


"Pulang dari sini akan aku antar kau ke makam orang tua mu. "


Hiks hiks hiks , Nisa kembali menangis tanpa suara dengan tubuh yang berguncang.


***


Setelah pamitan pada kedua orang tuanya, Arsyad bermaksud mengantar Nisa Ziarah ke makam orang tuanya.


Kali ini ia menggunakan mobil untuk mengantar Nisa.


Sepanjang jalan Nisa masih terlihat sedih, tetes demi tetes air mata masih saja mengalir di wajah Nisa yang selalu terlihat murung.


Mereka pun tiba di sebuah pemakaman umum.


Nisa buru-buru turun dari mobil, serta berjalan cepat menuju arah makam, setibanya di pusara kedua orang tua dan juga saudaranya,Nisa berlutut menangis pilu dengan tubuh yang mengguncang.


"Mama! Papa! Aisyah! hiks hiks hiks," teriak Nisa tertahan.


Seketika air mata jatuh luruh tak tertahankan, betapa pilunya hatinya saat itu melihat orang-orang terkasih kini sudah di panggil oleh yang kuasa untuk selamanya.


"Mama! papa! Aisyah! hiks hiks hiks," gadis itu menangis sejadi-jadinya di atas pusara.


Arsyad ikut menangis di samping Nisa.


"Sabar Nisa, hidup dan mati sudah di tentukan.Orang tua mu pasti sudah bahagia di sana. Kita berdoa saja untuk merekaHiks hiks hiks." tutur Arsyad yang juga menangis.


Setelah puas menangis dan merasa sedikit tenang, Nisa dan Arsyad pun membaca doa .

__ADS_1


Bersambung dulu reader. jangan lupa dukungannya ya. hiks hiks 😭😭😭😭


__ADS_2