Kenapa Harus Menikah Dengan Mu

Kenapa Harus Menikah Dengan Mu
Menghirup udara bebas kembali


__ADS_3

"Pak Tarman, hari ini anda sudah bebas," ucap seorang sipir sambil membuka pintu sel tahanan untuk pak Tarman.


Dengan langkah gontai pak Tarma keluar dari lapas yang sudah di tempatinya selama tujuh tahun belakangan ini.


Tak ada seorang pun yang menjemput atau menanti kebesasannya, karna ia adalah orang yang zalim terhadap keluarga, jadi tak ada keluarga apalagi teman yang menantinya di pintu gerbang lapas.


Pak Tarman terus melangkah menuju rumahnya, jaraknya cukup jauh sekitar  10 kilometer dari lapas dan ia harus berjalan kaki melewati jalanan yang berdebu dan teriknya matahari di siang itu.


Perutnya pun mulai terasa sakit karna sudah waktunya ia makan siang, namun ia tak memiliki uang seperser pun, hanya pakaian sehelai sepinggang  dan beberapa kain usang yang di jadikannya sebagai alas untuk melindungi dirinya dari dinginnya dinding penjara.


Setelah dua jam ia berjalan, akhirnya sampai juga ia di rumahnya, hanya pohon mannga yang sedang berbuah lebat menyambut kedatangannya di rumah itu.


Pak Tarman membuka pintu rumahnya  seketika debu tebal menghambur beetebaran di sekitarnya.


Uhuk... uhuk... uhuk ...


Langkahnya semakin gemetar, karna selain lelah ia juga merasa lapar.


Di rumah yang kosong tak berpenghuni tersebut tak ada apa pun yang bisa jadi pengganjal perutnya.


Setelah membersihkan rumahnya, ia pun memetik buah mangga masak yang tergantung di depan rumah.


Dengan memakan buah tersebut, bukannya perutnya merasa kenyang namun membuatnya terasa pedih.


Tangan tua denhan kulit keriput tersebut meraba perutnya yang sedang berbunyi.


Kreak kreak, lambung tua itu rupanya tak kuat lagi menahan rasa lapar.


Tak ada pilihan lain pak Tarman menjual barang-barang yang ada di rumahnya untuk bertahan hidup.


Karna sudah lama tak di gunakan beberapa peratan elektroniknya pun rusak tak bisa di gunakan lagi.


Semua barang-barang yang rusak ia kumpulkan kemudian di jual kepada pengepul barang-barang bekas yang ada di dekat rumahnya.


Sebuah kipas angin, rise cooker , televisi dan kulkas hanya di hargai 50 ribu perak oleh pengepul.


Dengan tangan gemetarnya pak Tarman  menerima uang tersebut.


"Lima puluh ribu, sampai kapan aku bisa bertahan dengan uang segini," gumannya.


"Ya sudahlah yang terpenting hari ini aku bisa makan,besok aku cari pekerjaan saja," gumannya.


Setelah membeli nasi bungkus di sebuah warteg tenaga pak Tarman mulai pulih, ia pun beristirahat dengan berbaring, pikirannya melayang memikirkan bagaimana caranya agar ia bisa menyambung hidup, maklum saja mantan narapida sepertinya sangat sulit mencari pekerjaan.


Lelah memekirkan semuanya ia pun tertidur di atas dipan rumahnya.


Keesokan hari pak Tarman terjaga saat azan shubuh berkumandang, tujuh tahun berada di penjara membuatnya insyaf dan banyak belajar tentang agama.

__ADS_1


Setelah menunaikan sholat shubuhnya pak Tarman pergi ke pasar untuk mencari pekerjaan.


Namun kehadiran pak Tarman di sana hanya menjadi bahan cibiran, bahkan ada beberapa dari mereka yang menggumpat pak Tarman yang telah menjual anaknya sendiri.


Pak Tarman menghampiri seorang pedagang sembako di pasar tradisional dekat rumahnya, dulu pak Tarman juga berjualan tempe di pasar tersebut, namun karna perangainya yang buruk membuat warga pasar banyak menyukainya.


"  Pak, bisakah anda memberi pekerjaan kepada saya? saya butuh pekerjaan, ucap Pak Tarman kepada seorang pedangan sembako.


"Oh kamu?! penjahat seperti kamu sebaiknya menjauh dari sini, bisa-bisa saya terkena sial karna memperkerjakan kamu!" hardik pak Agus kepada pak Tarman.


Tak hanya di tempat pak Agus, pak Tarman juga mendapat cemoohan dari warga pasar lainnya.


Ih, balik lagi di sini dia, kasihan anak gadisnya tuh di jual sama dia, dengus seorang wanita ketika pak Tarman lewat di depan mereka.


Menyadari kehadirannya tak lagi di terima di tempat itu, pak Tarman pulang dengan hati yang sedih


Rasa sedih dan bersalah terhadap putrinya muncul kembali, membuatnya rindu untuk bertemu sang putri yang sudah ia sia-sia kan.


Pak Tarman menyadari jika ia lah penyebab dari penderiatan putrinya sedari kecil.


Iya begitu egois dan tak punya rasa kasih sayang yang seharusnya di curahkan oleh sang Ayah terhadapnya.


Karna tak mendapati pekerjaan tersebut pak Tarman pulang kerumah.


Kemudian menangis.


Pak Tarman bersandar pada dinding lapuk rumahnya seperti tubuh rentanya yang menyesali perbuatan saat ia masih muda.


***


Aira terbangun dan langsung duduk di atas tempat tidurnya. ketika ia merasa ada yang memanggilnya.


"Bapak?"guman Aira.


" Bapak bagaimana dengan bapak ku,.kenapa tiba-tiba saja aku kepikiran dengannya," batin Aira.


"Ini sudah tujuh tahun sejak bapak di penjara mungkin saja bapak sudah keluar dari penjara, kasihan bapak dia pasti sendiri, tak punya pekerjaan,.tak punya simpanan  aku harus segera menemuinya.


Aira pun beranjak dari tempat tidurnya kemudian ia menunaikan kewajibannya sebagai seorang hamba. menyiapkan sarapan untuk ia dan putrinya.


Hari ini hari pertama Alia bersekolah, ia dan Aldi sudah janjian untuk mengantar anak mereka sekolah pagi ini.


Karna tak ada dinas pagi, Aira mengenakan pakaian bebasnya, dengan memakai baggy pants hitam dan bloues berwarna magenta membuat penampilannya semperti mama muda yang kekinian.


Pukul setengah tujuh seorang pria tampan dan kece mengetuk pintu rumahnya, membuat Aira terpaksa mengulas senyum kekaguman kepada pria yang telah memberinya seorang putri.


Masuk dulu mas aku bikinin Susu coklat, ucap Aira seraya membuka lebar daun pintu.

__ADS_1


"Alia mana sayang?"tanya Aldi.


"Mungkin sedang memakai pakaiannya," sahut Aira tanpa menoleh, ia pun langsung menuju dapur.


Aira menuang air panas kedalam gelas kaca bening, tiba-tiba saja ia di kagetkan dengan tangan Aldi yang melingkar di perutnya.


Aldi memeluk Aira dari belakang," Aku ngak sabar pingin menjadikan kamu istri ku," bisiknya mesra di telinga Aira.


"Hm, sabar sedikit kenapa sih mas, nunggu enam tahun saja kuat, masa nunggu sebentar lagi ngak kuat," papar Aira.


"Tapi sampai kapan sayang, bisa-bisa si buyung berjamur karna terlalu lama di anggurin," seloroh Aldi.


Mereka pun tertawa kecil.


"Ah kenapa si buyung sampai berjamur, emang ngak di bersihin ya?" tanya Aira dengan tawa kecilnya.


"Iya sayang, tembok saja kalau dianggurin selama tujuh tahun bisa berjamur, apalagi si buyung,"cetus Aldi lagi.


"Hm, sama ya burung dan tembok, kirain muka saja yang kayak tembok he he,." selorohnya


"Aira melepaskan pelukan Aldi, nih sarapannya Mas," ucap Aira seraya menyodorkan segelas susu coklat kepada Aldi.


"Sayang setelah mengantar Aira pulang kita kebutik ya?"Aldi.


"Ehm ngapain Mas?"tanya Aira.


"Kita fitting baju pengantin , untuk resepsi dan untuk akad nikah, kali ini aku ingin mengadakan resepsi yang besar-besaran untuk pernikahan kita sayang, kamu mau kan." tutur Aldi seraya menepuk pundak Aira.


"Ehm, tapi Mas--"


"Sayang persiapan pernikahan itu lama butuh waktu berbulan-bulan, mas Heru saja pernikahanya di undur sebulan, karna waktu dua bulan ngak cukup untuk mempersiapkan pernikahan, sebaiknya, kita persiapkan dari sekarang, jadi saat kita menemukan ibu kamu, kita bias langsung menikah, siapa tahu dalam beberapa hari lagi, ibu kamu bisa kita temukan "papar Aldi.


"Ehm, semoga Mas, tapi sebelum itu kita temui ayah ku dulu,"usul Aira.


Aldi tersenyum seraya memeluk Aira, "Pasti sayang, kali ini aku akan membawa keluarga besar ku untuk kembali melamar kamu, jangan kan seratus juta, satu miliar saja aku sanggup membayar maharnya," ucap Aldi dengan tawa kecilnya.


"Ha ha, mas sih Mas. udah janda juga. ngak nawar lagi ?" canda Aira dengan meletakan tanganya ke pundak Aldi.


"Ngak nawar sedikit pun. "cetus Aldi.


Keduanya pun bertentang mata tersenyum penuh bahagia, membayangkan hari bahagia tersebut.


Aldi mengaitkan beberapa helai rambut Aira pada daun telinganya,. dengan tersenyum bahagia ia mendekatkan wajahnya perlahan mencoba mengecup bibir empuk yang ada di hadapannya.


Wajah Aldi semakin dekat dengannya. ia pun memejamkan matanya mencoba menikmati cumbuan Aldi, namun belum saja kedua bibir itu bertemu dan bersentuhan, Alia sudah berteriak dari dalam kamar keluar ruangan tersebut.


"Ayah Bunda, Alia sudah siap!"

__ADS_1


Mereka pun melepaskan pelukannya dan tak jadi ber-moning kiss ria.


Bersambung, up date lagi ngak ya, kasih saran dan komentarnya dong readers.


__ADS_2