
Mengandung adegan dewasa, bagi di bawah umur di skip saja ya.
Edo tersenyum-senyum sambil menyetir mobil.
Nina melirik binggung ke arah Edo. Karna penasan ia pun bertanya.
"Mas, kenapa sih dari tadi senyum-senyum sendiri? " tanya Nina curiga.
Edo masih tersenyum seraya melirik ke arah Nina.
"Ngak ada, lucu saja." Edo.
"Iya apanya yang lucu Mas? " Nina.
Ha ha ha, akhirnya Edo pun tertawa lepas, karna tak kuasa menahan rasa yang menggelirik hatinya.
"Aku kerjain si Bagas, aku tambah minuman nya dengan obat perangsang, ha ha ha," Edo tertawa lepas.
"Kamu Mas Ada-ad saja, bagaimana kalau terjadi sesuatu sama Bagas? " tanya mendelik.
"Ya pasti terjadi sesuatulah. Ha ha ha. "
"Biarkan saja, Bagas melakukan tugasnya sebagai seorang suami, kalau sudah merasa sekali, ia pasti akan ketagihan, ha ha ha, " ucap Edo di sertai tawa renyahnya.
Nina melirik kearah suaminya seraya menggeleng-gelengkan kepalanya, mendengar pengukan dari sang suami yang menurutnya ada benarnya juga.
Apalagi Bagas terlihat masih mencintai Alia.
Berhubungan suami-istri saat menikah akan mempercepat tumbuhnya rasa cinta pada keduanya.
***
Bagas dan Alita sama-sama merasa resah dan gelisah, karna coba menahan rasa syahwatnya yang tengah bergelora saat itu.
Beberapa menit hening, mereka mencoba menguasi diri sendiri.
Semakin di tahan justru semakin tak mampu menahan, apalagi sebelumnya Bagas sudah mengintip milik istrinya.
Keduanya berbaring pada masing-masing sisi tempat tidur.
Beberapa saat memendam, namun tak juga mampu menahan iman Bagas.
Pelan-pelan Bagas menggeser tubuhnya mendekati Alita.
Deg
Deg
Kedua jantung tersebut memompa lebih cepat.
Bagas kini berada tepat di samping Alita yang berbaring telentang.
"Alita," bisik Bagas mesra dan lirih, hingga getarannya terasa meremangkan bulu romanya.
Hm, Alita menoleh ke arah Bagas yang mematapnya dengan tatapan berbinar.
Begitupun Alita yang menatap Bagas penuh damba.
Benerapa detik kedua netra tersebut bertentangan, sebelum bibir Bagas menyentuh bibir Alita dengan lembut.
Deg
Deg.
Bagas menyatukan bibirnya dengan bibir Alita.
Seketika aliran darah mereka melesat cepat, hingga semakin membakar gelora hasrat mereka.
Dengan pelan Bagas menguluum lembut bibir Alita yang terasa manis dan kenyal,serta menyesapnya hingga kedua bibirr mereka saling bertaut.
Pelan-pelan Bagas memperdalam ciumanya, masuki rongga mulut Alita.
Alita meremas sperai, merasakan sesuatu yang membuatnya seperti melayang-layang.
Apalagi ketika jemari Bagas perlahan menyentuh dua gundukan kembar miliknya.
Tangan Bagas perlahan membuka satu persatu kancing piyama yang di gunakan Alia.
Satu persatu dan akhirnya terbuka.
__ADS_1
Secara naluriah, ia pun menciumi setiap inci dari wajah turun hingga kedua gundukan yang masih terjaga kesuciannya dan di lindungi kaca mata hitam berenda.
Dengan lihai Bagas melepas pengait dari kaca mata tersebut dan melepasnya.
Alita memejamkan mata-nya menikmati sentuhan lembut yang begitu menggairahkan.
Ehm, Alita mengelinjang, ketika salah satu tangan suami-nya meremaas lembut salah satu gundukan kenyalnya, tanpa sadar suara desaahan kenikmatan lolos begitu saja dari mulutnya.
Akh, ehm, esh.
Bagas semakin terbakar gairah, seakan tak mampu menahan. Ia melepas semua penutup tubuh Alita dengan beringas, hingga dalam waktu singkat, tubuh istrinya semakin polos.
Bagas berkali-kali ia menelan ludahnya, melihat keelokan tubuh sang istri yang nyaris tanpa cacat.
Dengan segera ia pun melepas semua penutup tubuhnya.
Dalam sekejab saja Bagas sudah bugil di hadapan sang istri.
Alita melihat belalai sang suami yang terlihat menakutkan tapi juga membuatnya penasaran.
Kedua insan tersebut, tak lagi malu-malu, mereka sedang merasakan hasrat yang sedang menggila.
Bagas membuka lebar selangkaangan istri-nya, hingga menampakan sesuatu yang selalu di dambakan oleh kaum pria, Kemudian dengan segera ia menindih tubuh sang istri yang sudah pasrah.
Rasa yang begitu nikmat ketika ia mendekap tubuh Alita dan mengukungnya.
Keduanya saling menatap dengan tatapan penuh damba.
Tanpa mengulur waktu, Bagas mengecup kening sang istri seraya memasukan senjatanya dengan perlahan.
Akh! pekik Alita tertahan.
Bulir bening perlahan menetas di pipinya, rasa sakit dan perih di selingi rasa nikmat yang membuatnya penasaran.
Bagas terus mendorong benda pusaka miliknya, meski terasa sulit, ia pun menggunakan tenanga yang lebih besar untuk membobol gawang suci milik istrinya.
Akh! satu hentakan terakhir membuat Alita menjerit tertahan, begitu pun Bagas yang melengkuh merasakan sejuta kenikmatan yang tak terbayang sebelumnya.
Bagas terus memompa istrinya dengan gerakan yang berirama, maju-mundur tak beraturan.
Membuat Alita sesekali mendeesah dan mengerang kenikmatan.
Tak hanya bagiaan bawah tubuhnya saja, leher jenjang Alita pun berkali-kali jadi sasaran empuk Bagas dalam menuntaskam hastratnya.
Ranjang mereka berantakan, untung saja kasur empuk bisa meredam gempa lokal 9skala reither.
Lengkuhan dan desahaan silih berganti sepanjang pertempuran yang memakan waktu dan tenaga yang luar biasa tersebut.
Satu hentakan terakhir berhasil membuat Bagas menembakan pelurunya tepat di rahim sang istri.
Bagas mengecup kening sang istri dengan lekat, sebagai rasa terima kasihnya atas pelayanan yang begitu muaskan.
Setelah pertarungan perdananya yang menyita banyak waktu dan tenaga Bagas dan Alita terkulai lemas.
Setelah mengatur napas beberapa saat keduanya pun terlelap.
***
Matahari bersinar cerah, kedua insan yang baru saja melewati malam pertama pun secara hampir bersamaan pun mulai menerjab-nerjabkam matanya, karna merasa silau.
Keduanya membuka kelopak matanya secara bersamaan.
Bagas tersentak kaget ketika melihat Alita berada dalam pelukannya, begitupun Alita. Keduanya masing-masing saling melepaskan dekapan mereka.
Alita mencoba bangkit dari rebahnya.Namun ia meringis karna merasakan perih pada bagian vitalnya.
Baru ia sadari jika saat itu tubuhnya dalam keadaan bugil tanpa sehelai benang pun yang menutupi tubuhnya.
Begitupun Bagas yang juga baru menyadari jika saat itu mereka berdua dalam keadaan polos.
Setelah melihat tubuhnya sama-sama bugil mereka saling menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya.
Seketika keduanya menjadi malu, mengingat apa yang terjadi semalam.
"Mas lepasin!"ucap Alita jenggah sambil menyentak selimut untuk menutupi tubuhnya.
Bagas yang tak siap, melepas ujung selimut tanpa sengaja, akhirnya belalainya yang tengah terlelap itu kelihatan oleh Alita.
"Lita! " serunya.
__ADS_1
Alita segera menutup matanya melihat belalai sang suami yang tertidur pulas.
Bukan main malunya Bagas saat itu, ia pun secara spontan menarik sprei untuk menutupi si junior.
Keduanya pun tersenyum simpul dan malu.
Bagas turun dari ranjang kemudian memakai celana boxernya secara lansung tanpa segi tiga pengaman, kemudian ia menuju kamar mandi untuk membersihkam diri.
Begitupun Alita yang langsung mengenakan pakaiannya.
Ada rasa bangga di hati Alita karna telah melewati malam pertama mereka.
Hanya saja yang membuatnya heran ada bercak noda darah di sekitar bagian bawah tubuhnya orangannya pun terasa perih.
"Kenapa terasa sakit yah? "keluhnya, setelah mengenakan piyamanya kembali, Alita kembali beristirahat sejenak, bersandar pada headboard.
Bagas melepas celana boxernya, ada rasa perih yang ia rasakan, pada bagian senjatanya pun terdapat noda darah yang mengering.
"Bearti semalam aku bukan bermimpi? pantas saja terasa begitu nikmat, "gumannya.
"Astaga! apa yang sudah kulakukan? " gumannya seraya mengusap wajahnya dengan kasar. ,
Sejenak ia termenung sendiri.
"Tapi Alita itu istri ku, dan aku wajib memberinya nafkah batin," gumannya lagi sejenak setelah ia sadar dari lamunannya.
Bagas segera menuntaskan ritual mandinya.
***
Alita masih bersandar pada headboard tempat tidurnya, bulir bening menetes di pipinya.
Ada rasa sedih di hatinya karna kini dirinya benar-benar sudah tak suci, jika kemaren ia masih ragu, maka hari ini ia merasa yakin, jika dirinya dan Bagas telah melakukan penyatuan.
Apalagi dilihatnya bercak darah yang juga terlihat di atas tempat tidur, ia merasa binggung dengan apa yang terjadi.
"Apa ini untuk kedua kalinya. Aku kehilangan kegadisan ku? tapi itu tak mungkin? " tanyanya bermonolog.
Bagas telah selesai memuntaskan ritual mandinya, ia pun tertunduk malu pada Alita.
Melihat Bagas yang keluar dari kamar mandi, ia pun segera menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Bagas mengenakan pakaian ala kadarnya, celana pendek dan baju kaos oblong biasa
Setelah itu ia bermaksud merapikan tempat tidur mereka.
Bagas kaget dengan noda yang melekat pada sprei, ia pun bergidik merasa jijik.
Ada rasa iba di hatinya kepada Alita ketika melihat bercak tersebut.
'Kasihan Alita ia pasti merasa sakit' batin Bagas.
Setelah mengganti sprey, Bagas merasa lapar, di liriknya jam dinding yang menunjukan pukul delapan pagi.
"Ehm pantas saja aku sudah lapar," gumannya.
Alita kembali dari kamar mandi, dengan wajah yang sedikit sembab.
Bagas pun merasa iba terhadapnya.Namun lagi-lagi ia malu untuk mengungkapkannya.
Alita mengenakan pakaiannya di hadapan Bagas, Namun masih mengenakan bathrobenya dengan santai.
Setelah selesai, ia pun menuju meja rias untuk memoles wajahnya, sementara Bagas memperhatikanya di salah satu sisi tempat tidur.
"Thalita!" seru Bagas, seraya melirik ke arah Alita.
"Iya Mas, ada apa? " jawabnya sambil menoleh.
"Kita sarapan Yuk!" ajak Bagas, seraya tersenyum manis sekali.
"Ayo Mas!" sambut Alita bahagia.
Keduanya pun lsngsung menuju dapur dan melewati banyak orang.
Keluarga Alita masih berkumpul, mereka pun berdesas desus membicarakan kedua pengantin baru yang baru saja melewati malam pertama. Apalagi keduanya turun dan dalam keadaan rambut basahnya.
Keduanya pun jadi bahan pembicaraan orang-orang di rumahnya.
Alita tak ambil pusing, ia segera melayani sarapan suaminya, yang sudah terlambat tersebut
__ADS_1
Bersambung reader, apakah cinta akan hadir antara Alita dan Bagas?