
"Kata kan Yah!"Bagas mengulangi kalimat perintahnya.
Edo menggangguk pelan.
"Iya Gas, kau dan aku sedarah, kita bersaudara secara biologis, darah yang ada padamu juga ada padaku, kita terlahir dari ayah yang sama."
Edo kembali menjedah kata-katanya, melihat reaksi Bagas yang begitu syok.
"Hik hiks hiks, Apa maksudnya Yah?"tubuh Bagas berguncang menahan tangisannya.
"Gas, kita memang saudara, tapi aku tak bisa mengakuimu sebagai saudara karna_"kalimat Edo terputus dan langsung di sambar Bagas.
"Karna... karna aku anak haram kan Yah, anak hasil dari pemerkosaan yang di lakukan oleh ayah mu! hijs hiks,"cecar Bagas
Akhirnya Bagas mampu mencerna kata-kata dari Edo.
Bagas terpuruk dan langsung menangis.
Begitupun Nina, ia langsung menghampiri dan memeluk Bagas.
"Lalu kenapa kau menikah dengan ibu ku?! hiks hiks hiks " tanya Bagas lagi, suatu kenyataan yang begitu sulit untuk ia hadapi jika ayah sambungnya adalah saudaranya sendiri.
Bagas dan Nina menangis tergugu.
Begitupun Edo yang berkali-kali menghapus air matanya.
Setelah beberapa saat tubuhnya berguncang, Bagas coba menguasai diri lagi.
"Sudah dari dulu aku tahu jika aku ini anak haram, lalu apa anak haram seperti aku tak pantas bahagia dengan menikahi wanita yang kucintai," sesal Bagas.
"Sebelumnya aku pernah putus asa dan memutuskan tak akan menikah, karna aku sadar jika tak ada wanita yang menerima keadaan ku, tapi setelah ku pikir, semua ini bukan salah ku, dengan hadirnya cinta yang tumbuh di hati ku untuk Alia, aku rasa Tuhan memberikan ku kesempatan untuk merasakan indahnya hidup ini." Bagas.
__ADS_1
Hiks hiks.
"Lalu apa salahnya jika aku menikahi Alia, sedangkan aku tak pernah minta jika cinta itu tumbuh untuknya, hiks hiks hiks." kalimatnya terhenti sesaat.
"Bukan aku yang memilih rasa itu, karna aku sadar aku tak pantas untuk memilih, tapi Tuhan yang telah menitipkan rasa itu pada ku dan aku hanya mencoba berusaha dan berjuang untuk meraihnya, lalu di mana salah ku hiks hiks hiks, "Bagas tersimpuh terpuruk.
Begitu pun Nina dan Edo.
"Gas, tak ada manusia yang sempurna di dunia ini, ada suatu alasan yang membuat mereka tak bisa menerima mu sebagai menantu keluarga mereka," papar Edo seraya memeluk Bagas dari arah belakang dan memcium pipinya.
"Kamu tidak salah Gas, semua terjadi ketika kamu masih kecil, awalnya aku juga ngak bisa menerima kenyataan ini," ucap Edo sedih ia pun mengusap kepala Bagas dengan penuh kasih sayang, entah kasih sayang sebagai ayah atau sebagai saudara, yang jelas Edo menyayangi dan mencintai Bagas seperti ia menyayangi dirinya sendiri.
Tetes demi tetes air mata masih mengalir di pipi Bagas.
Edo menarik tangan Bagas dan menuntunnya untuk duduk di atas kursi.
"Gas, orang tua Alia tak bisa menerima kamu karna ibunda Alia beberapa kali hampir menjadi korban perkosaan ayah kita Gas, ia pernah di jual dan di siksa agar mau melayani ayah kita Gas ,hiks hiks Aira juga hampir jadi korban human trafficking yang akan di jadikan wanita penghibur di luar negri, dan semua itu karna ayah kita," sesal Edo, hiks hiks.
Dada Bagas bergemuruh mendengarnya.
"Bundanya Alia sempat lari setelah mendapat siksaan dari orang-orang ayah kita Gas, hiks hiks hiks."
Kali ini tubuh Edo yang berguncang, ia tak mampu melanjutkan kata-katanya.
"Biadab!" cecar Bagas, iya pun menangis.
Nina tersimpuh menangis seraya mengenang luka lamanya.
"Tak hanya itu, Aira juga sempat depresi dan menjadi pasien rumah sakit jiwa," papar Edo kembali.
Bagas masih menyimak dengan tangannya yang mengepal.
__ADS_1
"Tak hanya sampai di situ, di akhir hidup bapak, ia masih ingin menuntaskan hasratnya pada gadis yang sudah ia incar sejak lama tersebut, ia ingin memperkosa Aira yang saat itu sudah menjadi istri Aldi,namun nasib naas malah menimpanya, malam itu juga ia meninggal karna kehabisan darah, dan yang menusuk bapak kita adalah Bundanya Alia, Gas." hiks hiks
Jedar jedar badai mengamuk di hati Bagas.
"Ibunda Alia sempat di penjara beberapa hari, namun karna saat itu dia masih di bawah umur pengadilan memutuskan untuk di versi."Edo melanjutkan pemaparannya.
"Saat itu aku juga sadar jika bapaklah yang bersalah, banyak sekali gadis belia yang menjadi korban kebejatannya dan di antaranyanya adalah ibumu dan ibu Dewi mu, ayah berusaha mempertanggung jawabkan perbuatan bapak dengan menikahi mereka," hiks hiks hiks.
Bagas semakin terpuruk, barulah ia sadari kenapa orang tua Alia tak bisa menerimanya, semua karna karma dari perbuatan ayah biologisnya.
Sejenak mereka semua larut dalam tangis,
Jadi apa karna itulah, orang tuanya menolak ku,?" tanya Bagas mempertegas.
"Iya Gas! mereka sebenarnya orang yang baik, setelah kejadian tersebut aku Aldi dan Aira, kami menjalin hubungan yang sangat baik, saling melupakan dendam atas kejadian masa lalu, tapi kita juga tak tahu dalamnya isi hati seseorang, mungkin masih ada dendam yang tersisa di hati mereka, atau mungkin mereka enggan memiliki keluarga yang di dalamnya mengalir darah orang jahat seperti Bapak!"
Tubuh Bagas melorot ke bawah lantai, ia pun menangis meringkuk.
Nina dan Edo merangkul mereka,
"Gas, jika kau mencintai Alia kau harus bisa merelakannya, karna cinta memang tak harus memiliki, dan pernikahan yang tak di restui oleh tuanya juga ngak akan berakhir bahagia, karna ridho Allah tergantung dari ridhonya orang tua." Edo.
"Biarkan Alia bahagia, bersama jodoh pilihan orang tuanya, begitupun diri mu, bukankah kau yang sendiri bilang, jika Tuhanlah yang memberi mu kesempatan untuk bahagia, dan di dunia ini begitu banyak kesempatan untuk mu merasakan bahagia, jangan sia-sia kan kesempatan ini Gas, kau punya segalanya sekarang, itu tanda kasih sayang Tuhan terhadap mu, meski sering kali manusia memandang hina tapi Tuhan tidak Gas, asal kau berubah lebih baik kau pasti dapat yang terbaik, jangan turuti hati dan emosi sesaat, " nasehat Edo.
Bagas menghapus sisa air matanya.
"Gas Bapak sudah banyak membawa kesensaraan bagi ibunda Alia Gas, dan jangan sampai kita menambah luka hati dari ibunda Alia, mungkin saja hadirmu sebagai anggota keluarga mereka bisa membuatnya selalu teringat dengan kisah kelam masa lalunya, lagi pula sudah seharusnya kita bisa menghargai keputusan orang lain," Papar Edo.
Nina menghampiri Bagas,
"Benar Nak, mulai lah membuka lembaran baru hidup mu, lupakan lah Alia, biarkan dia bahagia, jangan terus mengejar-ngejarnya kau pun pasti bisa hidup bahagia meski bukan dia jodoh mu," ucap Nina seraya memeluk Bagas, begitupun Edo, setidaknya kini ada dua orang yang begitu mencintainya, ayah dan ibunya.
__ADS_1
Bersabung guys, saksikan terus kisahnya ya, jangan lupa dukungannya like, komen vote dan hadiah