
❎Area dewasa, yang belum nikah dan tidak suka skip ya bijak memilih bacaan.❎
Beberapa hari berlalu keadaan Ghael semakin membaik, setiap harinya Alia selalu menjaga dan merawat sang suami, mereka pun terlihat lebih mesra.
Kedua keluarga pun merasa bahagia melihat Alia yang tulus menjaga dan merawat Ghael, di tambah lagi kini keduanya sudah sama-sama bucin.
Seminggu sudah, sejak kejadian Ghael tertembak, sebenarnya sudah tiga hari yang lalu Ghael sudah boleh pulang, namun pihak keluarga menahannya sampai keadaan putra mereka tersebut benar-benar sembuh.
Alia mengepak barang-barang mereka karna sebentar lagi mereka akan pulang.
Ghael yang baru keluar dari kamar mandi menghampiri istrinya yang tengah melipat pakaian mereka dan memasukannya kedalam tas.
Dengan mesra ia melingkarkan lengannya pada perut ramping sang istri.
"Ingat janji kamu kan?" tanya Ghael menggantung, sambil berbisik mesra di telinga Alia.
Alia membalikkan badan menghadap ke arah suaminya.
"Ehm memangnya Abang sudah bisa?"tanya Alia memancing.
"Ehm bisa dong, yang sakitkan didada, yang di bawah aman-aman saja," jawab Ghael sambil mencolek hidung istrinya.
Alia tersenyum, keduanya pun mendekatkan wajah mereka berdua hendak berciuman, namun tiba-tiba pintu kamar ruang perawatan Ghael di masuki seorang suster, lagi-lagi keduanya kepergok.
Keduanya pun buru-buru melepaskan pelukan mereka.
Suster tersebut menghampiri keduanya dengan jengah.
"Mbak, ini sisa obatnya harus diminum sampai habis, jika ada keluhan silahkan kontrol lagi," ucap suster tersebut seraya menyodorkan obat Ghael.
Ghael dan Alia pun saling memandang dan melempar senyum.
Ghael kembali menarik tubuh Alia dan mencoba menciumnya.
"Sudah Bang nanti saja, ntar kepergok lagi, malu tau," dengus Alia.
Benar saja beberapa saat kemudian Aldi dan Aira menghampiri keduanya untuk menjemput mereka pulang.
"Sudah siap Kak?"tanya Alia.
" Iya Bun, sudah siap, jawab Alia, ia pun mengangkat tasnya sambil menggandeng mesra tangan Ghael.
Alia dan Aldi tersenyum mereka begitu bahagia melihat keduanya tampak semakin mesra.
Sepanjang melewati koridor, keduanya terlihat riang bercanda, seperti dunia milik berdua.
Aldi dan Aira tak lagi heran karna mereka berdua pun seperti itu kalau lagi bersama.
" Yah semoga kita segera dapat cucu ya Yah, Bunda sudah ngak sabar, " ujar Alia sedikit berbisik pada Aldi.
__ADS_1
"Semoga saja Bun, " sahut Aldi yang juga tak sabar
Malam harinya,
Alia berada di depan cermin rias sedang mengenakan gaun tidur yang indah dan seksi, wajahnya pun di poles dengan make up tipis namun membuatnya terlihat semakin cantik.
Setelah sholat isya dan makan untuk mengisi perutnya agar lebih bertenaga, Ghael segera menemui Alia di kamarnya.
Kreak... pintu terbuka dan tampaklah bidadari cantik yang sedang tersenyum kearahnya.
Ghael tersenyum kearah bidadari tersebut namun tak langsung menghampirinya.
Ia sengaja membersihkan diri sebelum memulai pertempuran pertamanya.
Beberapa menit menunggu Ghael membuat jantung Alia berdetak tak karuan.
Seketika telapak tangannya mengeluarkan keringat dingin.
Ya ampun kenapa aku jadi gugup seperti ini
Creak... terdengar suara seseorang yang baru keluar dari kamar mandi.
Jantung Alia pun semakin berdebar tak karuan,.ia melihat pipinya yang berwarna kemerahan pada pantulan cermin.
Beberapa saat kemudian tiba-tiba saja bulu romanya merenggang karna ada merasa sesuatu yang menyentuh lehernya dengan lembut.
Alia pun memutar tubuhnya menghadap Ghael, saat itu Ghael langsung menyambar bibir Alia dan me*lumatnya dengan lembut.
Decapan demi decapan terdengar di sela-sela pangutan mereka, Ghael memperdalam ciumnya memasuki rongga mulut Alia, hingga kedua nafas mereka terasa saling berhembus.
Dengan perlahan Ghael melepaskan pakaian yang menutupi tubuh sang istri dengan cara molorotkan nya.
Kedua netra mereka pun bertemu dengan detak jantung berdebar tak karuan.
Gaun tersebut melorot dengan mudah, pemandangan alam yang indah berupa kedua bukit kembar padat dan kenyal kembali menggugah selera Ghael untuk mencicipinya.
Sudah lama ia menginginkannya dan ingin memiliki istrinya secara utuh.
Hari ini secara suka rela Alia menyerahkan jiwa raganya kepada sang suami
Ghael menyesap salah satu bukit kembar tersebut dengan sesekali menggigitnya lembut, membuat tubuh Alia berguncang, sementara satu tangan lagi meremas dan memintir puncak bukit yang masih perawan tersebut.
Akh! suara lengkuhan tersebut tanpa sadar keluar dari mulutnya, membuat Ghael semakin terbakar hasrat.
Ia pun berpindah pada bukit yang satunya dan melakukan hal yang sama.
Alia sudah menggila ia benar-benar terbuai oleh permainan Ghael.
Ghael pun berhenti ketika tak mampu lagi menahan hasratnya, ia pun menuntun sang istri menuju ranjang empuk yang akan menjadi saksi bersejarah petualangan keduanya yang sama-sama masih awam.
__ADS_1
Ghael bertindak sesuai nalurinya sebagai laki-laki meski ia pun belum pengalaman, namun ia sepertinya tahu titik-titik lemah sang istri.
Ghael merebahkan tubuh Alia yang sudah setengah bugil sambil menciumnya lekat, setelah itu kecupan mendarat di kening Alia, dengan lembut ia menyusuri leher jenjang milik istrinya kemudian menyesapnya pelan, sementara tanganya bergerak lembut menyapu permukaan kulit tubuhnya hingga tibalah pada sebuah lembah berbentuk segitiga.
Jantung Ghael berdetak hebat dengan napas yang memburu cepat ketika tangannya menyentuh sebuah sudut yang terasa begitu lembut kemudian ia menggetarkanya.
Alia seperti orang yang kesurupan saat Ghael mengelitik biji kecambah miliknya.
Berkali-kali ia menelan saliva dan kali ini rasanya benar-benar sudah tak tertahan kan.
Ghael melihat wajah Alia yang merona dengan tatapan yang penuh damba.
Pertarungan pun di mulai.
Ghael memposisikan tubuhnya diatas tubuh sang istri, sebuah kecupan mendarat sebagai awal pertualang baru bereka.
Dengan sedikit tubuh yang sedikit gemetar Ghael memasukan benda miliknya kedalam milik istrinya.
Sret tertahan.
Akh, keduanya mengerang merasakan sensasi yang berdenyut manja.
Akh! lengkuhan pun lolos begitu saja pada bibir mungil Alia.
Perlahan lengkuhan tersebut berganti dengan erangan karna terasa sakit ketika Ghael menyodok kan miliknya semakin dalam.
Akh! teriak Alia tertahan, ia berusaha menahan rasa sakit ketika tanpa henti Ghael meneroboskan senjatanya keluar masuk menyentak-nyentak lengan lembut.
Alia menahan napas sejenak menahan rasa sakit yang sesekali terasa nikmat tersebut.
Ghael merem melek menikmati sensasi luar biasa, tak ingin terlalu lama membuat istrinya tersiksa, ia pun mendorong lebih keras.
Satu hentakan Ghael seketika membuat Alia tersentak dan berteriak, air mata pun meleleh tanda bahagia, kini miliknya yang paling berharga resmi sudah menjadi milik pria yang secara resmi menikahinya.
Sejenak Ghael berhenti merasakan lahar hangat yang meleleh menggenangi lembah sang istri, ia pun melepas senjatanya.
Ghael menatap Alia dengan tatapan berembun, sungguh ia bangga karna merasakan nikmat yang sempurna, tak ada yang pernah menyentuh istrinya kecuali dirinya.
"Terima kasih sayang,"ucapnya seraya menitikan air mata haru tanda bahagia.
Alia pun tersenyum meraba wajah tampan sang suami yang menatapnya penuh damba.
Ghael kembali melanjutkan petualangannya berburu puncak klim*ax.
Ghael kembali mengukung tubuh sang istri dengan gerakan memompa seraya terus menciumi bibir istrinya dengan mesra sambil berujar kata cinta, di iringi lengkuhan-lengkuhan kenikmatan yang terjadi di setiap detiknya.
Setengah jam ia pun tumbang di atas tubuh sang istri dengan senyum kepuasan dan kebahagiaan yang tersungging di bibirnya, sempurna sudah malam pertama mereka.
Bersambung, auhor basah 😭suami mana suami mana lagi PMS, tanggung jawab ya 😭😭
__ADS_1