Kenapa Harus Menikah Dengan Mu

Kenapa Harus Menikah Dengan Mu
Rekayasa


__ADS_3

Alita mengepak memasukan pakaiannya kedalam koper, karna selama beberapa hari kedepan mereka akan meninjau proyek pembangunan jembatan dan jalan Tol terpanjang yang pernah perusahaan tangani. proyek ini memakan waktu hingga bertahun-tahun.


Perusahaan Nusantra Kontraktor memang sering menjapat tender pembagunan infastuktur yang di kelolah oleh pemerintah daerah maupun pusat, tak heran Nusantara Kontraktor merupakan salah satu perusahan terbesar di bidang jasa kontruksi.


Daerah proyek memang berada di daerah yang cukup terpencil, jadi butuh waktu berhari-hari untuk meninjau lokasi proyek, perjalanannya hampir memakan waktu sehari, selain menempuh perjalanan yang jauh, jalanan yang mereka lewati juga banyak yang rusak.


***


Setelah barang-barangnya beres, Alita turun meminta ijin pada orang tuanya.


"Ma, Alita ijin Ya, ini surat tugas Alita," ucap Alita.


"Iya nak kamu hati-hati ya, dan jangan macem-macem dengan pak CEO ya!" nasehat Dasti pada putrinya.


Alita menyunggingkan senyumnya kecutnya.


"Iya Ma lagi pula, kami perginya ngak cuma berdua kok, ada pak Edo juga, " papar Alita yang tak ingin membuat Dasti khawatir.


"Iya Sayang, jaga diri kamu baik-baik," ucap Dasti seraya mencium pipi putri cantiknya.


Baru saja mereka bicara, Edo dan Bagas, keduanya sudah menghampiri rumah Alita, sekalian meminta ijin untuk membawa Alita untuk ikut ke lokasi proyek mereka.


"Ayo Gas, turun! ijin dulu sama calon mertua mu,"Canda Edo, ia pun tersenyum seraya melirik ke arah Bagas.


"Apain sih Yah, orang aku ngak ada hubungan apa-apa dengan Thalita juga," dengus Bagas.


He he he, Edo tertawa terkekeh, keduanya pun masuk ke dalam rumah Alita untuk ijin pada orang tuanya.


"Assalamumualaikum!" Edo dan Bagas masuk sementara pak Yanto menunggu di mobil.


"Waalaikum salam," sahut Dasti dan juga Thalita.


Mereka pun sedikit berbasa-basi meminta ijin kepada orang tua Alita.


Setelah itu mereka langsung menuju proyek.


Pak yanto yang menyupir sementara Alita dan Bagas duduk di belakang.


Di mobil tersebut hanya Edo dan pak Yanto bicara dan ngobrol, sementara Alita dan Bagas hanya jadi pendengar.


Perjalanan panjang pun di mulai, selama hampir dua belas jam waktu yang mereka habiskan di perjalanan, beberapa kali mereka singgah hanya untuk minum atau beristirahat sejenak, belum lagi jalan yang bergelombang membuat tubuh mereka terasa pegal-pegal.


Pukul sepuluh malam mereka pun tiba, di sebuah desa terpencil.


Kedatangan mereka sudah di tunggu oleh kepala kapung tersebut dan Mandor.


Keempat orang tersebut pun turun dari dalam mobil.


Setelah berbasa basi dengan kepala kampung dan rekan-rekan, mereka pun di antar menuju sebuah rumah panggung yang memang di siapkan untuk tamu penting dan terhormat yang datang ke kampung mereka.


Rumah tersebut cukup besar bisa menampung hingga belasan orang.


Setelah di tutun menyusuri semua ruangan yang ada di rumah yang terbuat dari papan tersebut oleh kepala kampung ,Bagas dan Alita pun memilih kamar mereka, begitupun Yanto dan Edo.

__ADS_1


Karna kamar yang begitu banyak mereka bebas memilih kamar-kamar untuk mereka dan Alita sengaja memilih kamar utama yang ada kamar mandi pribadinya.


Sebenarnya kamar tersebut di khususkan untuk kepala daerah seperti Edo, namun Edo terpaksa mengalah untuk Thalita.


Mereka sengaja memilih pergi mendekati hari weekend agar tak terlalu banyak mengambil cuti.


Alita masuk ke dalam kamar, kamar yang cukup besar, dengan fasilitas yang lumayan lengakap, ia bersyukur di kamarnya tersebut memiliki kamar mandi tersendiri, karna ia bisa malu jika harus mandi ke kamar mandi umum, apalagi ketiga rekannya adalah pria.


Rasa khawatir masih ada di hati Alita, meski keseharian dari ketiga pria tersebut mereka adalah orang yang baik-baik, namun ia tetap harus selalu waspada.


Bagas merebahkan tubuhnya dan langsung tidur setelah mandi, mereka semua merasa lelah dan gerah karna perjalanan yang panjang dan melelahkan.


Begitupun Alita, begitu menyentuh bantal ia langsung tertidur, lain halnya dengan dua pria dewasa tersebut, mereka merencanakan sesuatu serta mengatur strategi hingga larut malam.


***


Mentari bersinar cerah di belahan bumi yang mereka pijaki saat ini, setelah beristirahat semalaman dan sarapan pagi, ke empat orang tersebut langsung survey menuju lokasi yang tak begitu jauh.


Sesampainya di lokasi, beberapa orang tengah melakukan pemetaan dan pengukuran, ada pula beberapa orang yang bertugas membebaskan lahan dengan alat beratnya.


Rencananya setelah selesai pembanggunanan, peresmian jembatan akan di tanda tangani oleh Edo sebagai gubernur mereka.


Barbagai pemotetratan pun di lakukan di lokasi untuk dokumentasi, dengan menggunaka drone dan kamera beresolusi tinggi mereka semakin gampang menyusuri sepanjang lokasi proyek.


Setelah melakukan pemetaan, pengukuran dan survey di lokasi, barulah mereka bisa menentukan alat dan bahan yang mereka gunakan, dan di sini pak Yanto yang bertugas sebagai konsultan.


Alita sebagai sekertaris membantu pak Yanto menyusun proposal dan membantu menghintung jumlah alat dan bahan yang akan mereka gunakan.


Sementara Bagas ia seorang CEO,tugasnya hanya mengawasi dan meninjau bagaimana karyawannya tersebut bekerja, karna ia sendiri tak punya banyak pengalaman.


Apalagi dengan Edo, meski ia seorang yang berkedudukan tinggi, tapi ia seorang yang bersahaja dan humoris , penduduk kampung tersebut begitu antusias menyambut pemimpin mereka yang ramah tersebut, penduduk kampung bergotong royong menyediakan makanan dan minuman untuk ke empat orang penting tersebut.


Apalagi dengan pembangunan jalan tol dan jembatan akan semakin membuka lebar akses mereka, sehingga desa mereka akan mudah berkembang, selain meninjau proyeknya, Edo berdiskusi langsung dengan penduduk kampung tentang rencana pembangunan berbagai fasilitas desa, meski kunjungan kali ini bukan dalam rangka dinas, tapi Edo tetap bersedia menampung aspirasi mereka.


Ia pun menyuruh kepala desa untuk mengjukan proposal mengembangan desa mereka melalu tahap demi tahap hingga tembus ke Gubernur, Edo menjelaskan pada warga kampung yang mengeluhkan lambannya pembangunan sarana dan prasarana di wilayah mereka, Edo memberi penjelasan jika semuanya butuh proses dan harus sesuai prosedur


Malam harinya setelah makan malam bersama penduduk kampung, keempat orang tersebut berdiskusi karna ke esokan harinya mereka akan kembali ke kota.


Disela sela diskusi tersebut, pak Yanto hadir membawa minuman coklat hangat, untuk mengurangi rasa dingin di udara pedesaan.


Pak Yanto menyodorkan dua cangkir minuman yang sudah di bubuhi obat tidur kepada Bagas dan Alita.


Sembari ngobrol mereka pun menikmati susu coklat nikmat dengan beberapa cemilan yang di buat oleh ibu-ibu rumah tangga penduduk sekitar.


Sosok Bagas dan Alita mendadak jadi primadona muda mudi di kampung tersebut, namun karna mereka lebih sering berdua, di tambah dengan isu yang Edo sebarkan jika keduanya itu sepasang kekasih yang akan menikah tak ada yang berani mendekati mereka, meski berita tersebut di sampaikan dengan nada bercanda tetap saja penduduk kampung mengira jika mereka berdua adalah sepasang kekasih.


Alita dan Bagas begitu santai menghadapi gosip murahan tersebut, sejak menghadiri resepsi Alia, mereka sudah di gosipkan menjalin kasih di kantor, siapa lagi biang keroknya kalau bukan dua pria resek Edo dan Yanto.


Di berbagai kesempatan Alita memang selalu terlihat mendampingi Bagas, namun tak ada deklarasi apapun di antara mereka, dan Bagas menganggap hubungan ia dan Alita hanya partner kerja.


Setelah meneguk habis minuman tersebut Alita merasa pusing, begitu pun Bagas tiba-tiba saja keduanya mengeluhkan sakit kepala, kemudian pingsan.


"Akh, kok tiba-tiba kepala ku terasa sakit sih?"keluh Alita, ia pun memijit pelipisnya.

__ADS_1


Di saat yang hampir bersamaan Bagas pun merasakan hal yang serupa.


Keduanya pun pingsan ketika merasa kepalanya terasa berat akibat meminum minuman hangat yang di suguhkan oleh Yanto.


Melihat keduanya yang tak sadarkan diri edo pun tersenyum menyeringai.


Sudah lama ia merencanakan semua ini.


"Ayo Yanto angkat mereka bawa ke kamar Thalita!"titah Edo.


"Aduh pak Edo saya tak tegah nih memfitnah mereka, ngak ada cara lain apa untuk membuat mereka menikah?" tanya Pak Yanto.


"Kalau ngak seperti ini, Bagas susah move-on nya, apalagi orang suruhan ku sering melihat Bagas yang secara diam-diam menemui Alia, meski mereka hanya bertemu dan ngobrol beberapa saat,aku takut mereka justru berbuat nekad, apalagi si Alia sudah punya suami, lebih berdosa lagi kan?"Edo


"Aduh kasihan Thalita Pak, dia jadi korban, bagaimana kalau Bagas ngak mau menikahi dia karna tak mencintainya?"


"Ah sudalah jangan pikirkan cinta akan datang jika mereka sudah menikah, mana ada sih laki-laki yang menolak menikmati lubang buaya he he, lagi pula kan Alita tak di apa-apakan, hanya direkayasa saja."Edo.


"Alita juga seperti-nya menyukai Bagas, aku juga sudah janji pada orang tua Alita akan melamar putri mereka untuk Bagas secepatnya." Edo.


"Aduh terserah saja deh," dengus pak Yanto.


Mereka pun mengangkat tubuh Alita dan Bagas dan membawanya kekamar Alita.


Bagas dan Alita di baringkan dalam satu ranjang.


"Sudah gini saja pak Edo?" tanya pak Yanto.


"Aduh kalau gini saja mana meyakinkan," dengus Edo.


"Trus?" pak Yanto.


"Buka baju Bagas tinggalkan celana boxsernya saja," titah Edo.


Dengan berat hati Yanto membuka pakaian Bagas dan hanya meninggalkan celana pendeknya.


"Bismillah, Ya Tuhan dosanya di tanggung pak Edo ya, saya hanya menjalankan tugas," cetus pak Yanto yang merasa bersalah.


Ha ha ha Edo hanya tertawa kecil sambil berkecak pinggang.


"Selesai Pak!" pak Yanto.


"Lalu pak si Thalilata mau di buka juga bajunya? tanya pak Yanto, kali ini ia terdengar begitu semangat.


"Eis sembarangan! calon mantu saya itu! jangan di sentuh! nih teteskan betadin di celana Alita, biar kelihatan seperti bercak darah, " titah Edo.


Pak Yanto tersenyum kecut, harapanya untuk mengintip tubuh indah gadis tersebut buyar.


Dengan patuh pak Yanto pun meneteskan betadin dari jarak yang cukup jauh di area sekitar paha Alita, hingga menetes meresap sampai ke sprei dan CD milik Alita.


Mereka pun meletakan hidden camera untuk mengawasi keduanya, setelah selesai keduanya pun menutup pintu kamar Alita dan menguncinya.


Apakah yang terjadi selanjut nya, sepertinya akan ada syok terapi nih.

__ADS_1


Bersambung guy, di tunggu dong suppotr nya yang semakin hilang padahal episode berikutnya akan lebih seru !


__ADS_2