Kenapa Harus Menikah Dengan Mu

Kenapa Harus Menikah Dengan Mu
Bertemu Nisa


__ADS_3

Rumah keluarga Aldi sudah di penuhi keramaian, rencananya akan di adakan aqiqah di rumah tersebut setelah empat belas hari kelahiran bayi-bayi mereka.


Arsyad berada di sekolah di mana Nisa bersekolah, rencananya ia ingin mengajak Nisa untuk ikut menghadiri acara aqiqah adik dan keponakannya.


Para siswa dan siswi keluar dari sekolah mereka.


Satu per satu Arsyad melirik gadis yang keluar dari gerbang sekolahnya.


Beberapa gadis pun tersenyum karna terpesona melihat cowok ganteng putih dan tinggi yang sedang duduk di atas motor-nya.


Mereka pun berbisik-bisik membicarakan Arsyad yang notabennya pelajar terpopuler se Indonesia karna prestasinya di bidang olah raga basket. Arsyad adalah kapten tim basket sekolahnya. Selain itu ia juga ikut pelatihan team basket profesional mewakili provinsinya.


Sosok gadis berwajah melankolis terlihat keluar dari pintu gerbang sekolah tersebut.


"Nisa! " seru Arsyad.


Nisa pun menoleh dan menghapiri Arsyad ketika Arsyad melambaikan tangannya ke arah Nisa.


"Arsyad kamu di sini? " tanya Nisa.


"Iya aku mau antar kamu pulang boleh? "


Nisa masih meragu, beberapa saat ia hanya diam.


Dinda yang ternyata satu sekolah dengan Nisa menjadi heran melihat Arsyad.


Ia pun menghampiri Arsyad karna mengira Arsyad hendak menjemputnya.


"Hai Syad kamu kesini mau jemput aku ya? " tanya Dinda.


Arsyad tersenyum." Kamu ngak di jemput Arsel? " tanya Arsyad balik.


"Aku mau jemput Nisa, " timpal Arsyad lagi.


Seperti tertampar oleh ucapan Arsyad,Dinda pun tersenyum simpul sambil melirik Ke arah Nisa. Seketika ia terdiam.


"Ayo Nisa, ada yang ingin aku bicarakan pada mu, " ajak Arsyad lagi.


Dinda merasa malu, tak seharusnya ia kegee-ran.


Tak berapa lama Arsel sampai dan melihat Dinda bersama Nisa dan juga Arsyad.


"Nah tuh Arsel! "tunjuk Arsyad.


"Hei kamu di sini Syad? " tanya Arsel sambil mematikan mesin motornya.


"Iya mau jemput Nisa. "


Arsel pun menoleh kearah Nisa yang tertunduk.


"Pacar kamu ya? " tanya Arsel.


"Ehm, ngak kok. Cuma teman saja," sahut Arsyad.


"Aku mau bawa dia kerumah, besok kan acara ada acara aqiqah di rumah."Arsyad.


"Kamu bawa Dinda juga Sel, untuk acara besok, ," usul Arsyad.


"Ais tentu dong. Dimana ada dinda, di situ ada Arsel, " cetus Arsel sambil tertawa kecil.


Nisa hanya tersenyum simpul melihat kedua dua cowok ganteng tersebut berdialog.


Arsyad meraih helmnya kemudian ia turun di atas motor dan memakai kan Nisa helm dan mengklik pengaman pada helm tersebut.


Nisa menatap Arsyad yang tiba-tiba saja mengenakan helm di kepalanya, padahal ia sendiri belum menyetujui ajakan Arsyad.


"Ayo Nisa," ajak Arsyad sambil menarik tangan Nisa yang terlihat ragu.


Nisa mendekat ke arah motor Arsyad tapi ia tak segera naik.


"Kenapa? " tanya Arsyad.

__ADS_1


Nisa hanya tertunduk.


"Kamu pasti takut di marahi Om dan tante kamu kan? " tanya Arsyad.


Nisa menggangguk lirih.


"Tenang saja. aku akan turunkan kamu beberapa rumah dari rumah paman kamu. "


Arsyad.


Akhirnya Nisa pun setuju dan langsung naik ke motor Arsyad.


Brum suara motor Arsyad.


Begitupun Dinda yang juga naik ke atas motor Arsel.


Ada setitik cemburu di hati Dinda melihat Arsyad menggonceng cewek lain.


"Nisa kita singgah ke rumah ku, mau ngak? " tanya Arsyad.


Hm, Jawab Nisa dengan berguman.


"Nisa aku beberapa kali menghubungi kamu kok ngak tersambung? " tanya Arsyad.


Air mata Nisa menetes mendengar pertanyaan dari Arsyad.


"Handphone ku di sita sama tante ku," ucapnya sedih.


Mendengar jawaban Nisa,Arsyad langsung berhenti kemudian ia kembali memutar motornya menuju sebuah toko yang menjual berbagai gadget termasuk ponsel pintar.


Mereka pun berhenti di sebuah toko.


Nisa turun dari motor tersebut, begitu pun Arsyad yang juga turun setelah menstandar kan motor dan mematikan kunci kontak motornya.


Arsyad pun menarik pelan tangan Nisa yang terlihat ragu mengikuti langkahnya.


Mereka langsung di sambut oleh pelayan toko.


"Saya mau pilih ponsel pintar keluaran terbaru dan tercanggih, " cetus Arsyad.


Hm, pelayan toko tersenyum melihat Arsyad. Rasanya pelajar sepertinya tak akan memiliki cukup uang untuk membeli ponsel terbaru dan tercanggih.


Pelayan tersebut pun mengarahkan. Arsyad ke beberapa ponsel type menengah.


Tapi ia malah memilih ke etalase yang memamerkan deretan ponsel pintar yang harganya selangit.


Setelah menunjuk dan menanyakan fitur-fitur yang terdapat di ponsel pintar tersebut, Arsyad langsung mengeluarkan kartu sakti miliknya.


Setelah membayar ponsel yang mencapai dua puluh juta tersebut, Kasir menyerahkan paper bag yang berisi ponsel pintar kepada Arsyad. Kemudian Arsyad menyerahkan lagi paper bag tersebut kepada Nisa.


"Ini untuk kamu, semua sudah lengkap dengan kartu sim perdana dan paket kuotanya untuk sebulan. " Arsyad.


Nisa tercengang melihat Arsyad yang menyodorkan paper bag berisi ponsel dan kelengkapannya yang baru saja ia beli.


"Hm, ngak mau, "tolak Nisa seraya menggelengkan kepalanya.


"Ayo Nisa ini aku beli untuk kamu, hargai pemberian ku, "ucap Arsyad.


Nisa menahan tanganya agar tak meraih paper bag tersebut.


"Ayolah ambil saja, aku tak ada niat macam-macam. Aku iklas aku tahu kau pasti butuh ponsel ini kan? "


Arsyad kembali memaksa, ia menarik tangan Nisa dan menggantungkan tali paper bag tersebut pada telapak tangan Nisa.


"Terima kasih, " ucap Nisa lirih dengan setengah terpaksa menerima-nya.


Arsyad mengeluarkan ponsel pintarnya yang semerek dengan ponsel yang di belinya untuk Nisa.


Ia pun menyimpan nomor kontak Nisa yang baru .


"Ehm dengan begitu aku bisa menghubungi mu, " ujar Arsyad sambil tersenyum.

__ADS_1


Entalah apa yang ada di hati Arsyad saat itu, kenapa ia begitu bersimpati pada sosok gadis yang ada hadapanya.


Wajah Nisa masih terlihat sembab entah berapa banyak air mata yang sudah ia tumpahkan, hingga bola mata gadis tersebut kembali memerah menahan kesedihannya.


"Ayo kita ke rumah ku," ajak Arsyad sambil menarik tangan Nisa pelan.


Gadis itu menurut dan pasrah, sebetulnya ia ingin lari dari tirani yang mengukung kehidupan saat ini, Nisa ingin sekali keluar dari rumah pamannya yang membuatnya seperti di dalam penjara.


Mereka kembali naik di atas motor menuju rumah Arsyad. Mereka pun tiba di rumah paling mewah dan megah yang ada di koplek perumahan paling elit tersebut.


Nisa takjub melihat rumah Arsyad, ia tak menyangka jika orang tua Arsyad memiliki aset se-mewah dan se-megah ini.


'Bahkan rumah ku atau rumah paman kutak semewah dan sebesar ini.'batin Nisa.


"Ayo Nisa," Ajak Arsyad.


Nisa menggantung helm tersebut pada rak yang tersedia di dalam garasi.


Mereka pun masuk melalui pintu garasi.


Aira dan Aldi kebetulan sedang berada di ruang tamu sedang berdiskusi dengan panita acara aqiqah untuk besok.


"Assalamualikum, "ucap Arsyad yang langsung menyapa mereka semua.


"Wa'alaikum sallam, "sahut mereka semua.


Aira tersenyum melihat kehadiran Nisa.


"Eh, ada mbak Nisa," ucap Aira.


Nisa menghampiri Aira dan Aldi kemudian berjabat tangan serta mencium punggu tangan keduanya.


Karna sudah selesai berdiskusi, panitia pun pamit dan meninggalkan mereka.


"Ayo Nisa duduk, "ajak Arsyad yang menepuk sofa di sampingnya. Nisa pun duduk antara Arsyad dan Aira.


Nisa melirik ke arah bayi munggil yang di gendong Aira.


"Bunda boleh Nisa gendong dedek? " tanya Nisa.


"Boleh," ucap Aira seraya menyodorkan bayinya.


Dengan Hati-hati ia pun menggendong bayi tersebut.


Nisa tersenyum bahagia ketika menatap bayi tersebut. Baru kali ini Arsyad melihat Nisa tersenyum dengan tatapan mata yang berembun menatap adik bayinya.


Nisa mendaratkan kecupan pada pipi bayi itu. Seketika kesedihannya sirna melihat bayi mungil tersebut mengeliat dalam gendongannya.


Sejak dulu ia memang mendambakan memiliki adik bayi.


"Nisa sepertinya kamu sudah cocok jadi ibu," cetus Arsyad.


Seketika bola mata Aira dan Aldi melotot mendengar ucapan Arsyad, begitupun Nisa.


"Adek! Jangan macem-macem ya. Selesaikan sekolah dulu, kuliah dulu. Setelah itu kamu bebas mau nikah kapan. saja." Aira.


"Tamat saja belum udah mikirin anak," dengus Aldi.


"Ih, bukan seperti itu maksud Arsyad Yah," sahut Arsyad sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Alah bilang aja itu kode-kode dari kamu, mau minta nikah kan? " tuduh Aldi.


"Ih ngak lah Yah, aku kan cuma godain Nisa, kok Ayah yang jadi baperan," sungut Arsyad.


"Hm, Ayahkan dulu juga gitu he he he," cetus Aldi.


"Hm, pantesan pikirannya sudah so uzon aja," dengus Arsyad.


Arsyad dan Aldi pun saling meledek dan mengejek, hingga membuat keributan kecil di antara mereka.


Nisa tersenyum simpul mendengarkan mereka bicara. Ia kembali merindukan kehangatan keluarganya yang tak mungkin lagi ia rasakan.

__ADS_1


Bersambung dulu ya reader tersayang.


__ADS_2