
Aira bangun sebelum sang surya menyinari dunia, sepertinya kehamilannya saat ini tidak begitu mengganggu aktivitasnya tak seperti kehamilan pertamanya.
Aira membuka pintu kamar yang menuju balkon rumahnya, ia melakukan sedikit pergerakan untuk merenggangkan otot-ototnya.
Setelah lima belas menit melakukan senam ringan, ia langsung menuju dapur, karna perutnya merasa lapar.
***
Aldi mengeliat dan merasakan tak ada lagi tubuh hangat Aira yang biasanya menjadi gulingnya.
"Sayang! sayang!" panggil Aldi dengan mata yang terpejam.
Merasa tak ada sahutan, mata Aldi yang masih mengantuk langsung terbuka lebar.
Aldi bangkit dari tempat tidurnya dan mencari keberadaan Aira di kamar mandi.
Namun tak menemukannya, ia pun langsung turun menuju lantai bawah.
"Aira! Aira!" teriak Aldi, namun tak ada jawaban, Aldi sedikit panik ia pun mencari keberadaan Aira keseluruh penjuru rumah sembari memanggil-manggil namanya.
"Aira! Aira kamu di mana?"tanya Aldi kepanikan mulai terlihat wajahnya.
Aldi mengitari rumahnya mencarinya dari taman hingga ke halaman belakang, ia pun menuju kolam renang tapi tak menemukan Aira.
"Aira!"teriak Aldi dengan suara yang melengking.
"Aira!" Aldi semakin panik karna tak mendapat respon dari sang istri.
"Aira! "panggil Aldi kembali dengan suara tertahan karna hampir menangis.
Aldi menuju pos satpam dan menanyakan kepadanya.
"Pak Slamet, ada melihat istri saya?"tanya Aldi panik.
"Ehm, nona Aira? "tanya pak Satpam binggung.
"Iya pak, memangnya saya punya berapa istri, ada lihat ngak?!"dengus Aldi.
"Ngak ada Den, Non Aira kan ngak pernah keluar dari rumah ini, selain bersama Aden, " papar Pak Slamet.
Aldi menggarukan kepalanya yang tak gatal "Aira kemana sih?"dengusnya.
"Ya sudah Pak, kunci pintu gerbang, sekarang bapak bantuin saya cari istri saya," titah Aldi.
"Aira!" panggil Aldi.
"Non Aira," satpam
"Aira! Aira," Aldi semakin panik, ia pun menggedor pintu kamar penghuni rumah tersebut satu persatu.
"Tok...tok...Mbok, mbok!" Aldi mengetuk kamar si Mbok hingga membangunkan penghuni kamar lainya.
Simbok keluar dengan masih menggunakan mukena.
"Ada apa sih Den, pagi-pagi gangguin siMbok saja," dengus si Mbok.
"Mbok Aira ngak ada Mbok, Aldi sudah mencari kesemua sudut rumah ini, tapi tak berhasil menemukannya mbok,"tutur Aldi dengan mata yang memerah.
"Apa Den, kok bisa Den," si mbok tak kalah panik.
"Iya mbok, Aldi takut terjadi sesuatu padanya, "papar Aldi seraya menangis.
Karna suara Aldi, seluruh rumah berkumpul menghampirinya, termasuk Heru.
"Ada apa Di?"tanya Heru heran karna melihat Aldi yang menangis tergugu.
"Aira hilang mas," ucap Aldi sambil menghapus air matanya.
"Hah kok bisa?"tanya Heru tak kalah panik.
"Iya, Mas aku sudah cari keseluruh penjuru rumah tapi dia ngak ada, jangan-jangan dia kabur sama Romeo lagi,"cetusnya sambil terisak.
"Hus, ngaco kamu, Romeo kan ipar mu sendiri," cetus Heru.
"Habis Aira kemana Mas. biasanya dia ngak pernah pergi sendiri, " ucap Aldi terbata-bata.
"Kamu jangan nangis gitu Di, kayak anak kecil saja," dengus Heru.
"Mas ngak tahu rasanya kehilangan istri, mana Aira lagi hamil, kalau dia kabur bawa anak Aldi gimana," tutur Aldi seraya menangis tersedu-sedu.
__ADS_1
"Ya sudah, kamu telpon Tari, "cetus Heru.
"Ini Den, pakai hape simbok saja," saran si mbok sambil menyodorkan hand phonenya.
Aldi mencari kontak Tari, setelah mendapatkan kontaknya, ia pun menekan tombol hijau untuk melakukan panggilan.
***
Romeo baru saja turun dari tubuh Tari, setelah pergulatan sengit keduanya.
Tari meraba-raba nakas nya, berupaya meraih handphonenya yang bergetar.
Romeo memeluk tubuh bugil Tari, sementara Tari sedang menerima pangilan.
"Hallo Di, kenapa sih pagi-pagi nelpon gue?" dengus Tari.
"Laki loh mana?!"tembak Aldi langsung.
"Ada nih laki gue, kenapa?!" tanya dengan emosi.
"Aira hilang Tar," suara Aldi lirih.
"Hah, hilang loh taru di mana Di,"cetus Tari.
"Loh pikir barang apa? gue serius,"dengus Aldi.
"Eh maaf, maaf, gegara burung Romeo nempel di belakang gue, jadi ngak fokus, maksud gue gimana bisa hilang sih bini loh?"tanya Tari mempertegas.
Romeo segera membuka matanya ketika mendengar hilangnya Aira.
"Ehm, siapa yang hilang?"tanya Romeo.
"Aira," sahut Tari.
"Ya sudah loh lapor polisi saja, bentar lagi gue sama Romeo kesana," ucap Tari seraya menutup hand phone mereka.
"Kenapa bisa hilang sih?" dengus Romeo seraya beranjak dari tempat tidurnya, begitupun Tari.
***
Aldi duduk diatas sofa di ruang keluarga, ia berusaha menghubungi handphone Aira namun tak bisa di hubungi.
Kegelisahan menghampirinya, "Jadi gimana Mas apa kita lapor polisi?"tanya Aldi seraya mondar-mandir.
"Tapi, kalau nunggu sampai dua hari, aku bisa gila Mas, jika ada yang menculik istriku bagaimana."
"Sabar Di, tenang dulu, mas Heru lagi berfikir, kalau kamu panik mas juga panik," ucap Heru seraya menghubungi seseorang melalui handphonenya.
Aldi mendengus kasar, ia terus mondar-mandir tak beraturan.
"Iya, tolong selidiki dimana adik ipar saya berada, baru satu jam yang lalu dua hilang," ucap Heru pada seseorang di sebrang telpon.
"Mas Heru sudah suruh orang untuk mencari Aira Di, kamu tenang dulu," ucap Heru seraya menarik Aldi untuk duduk di sampingnya.
Aldi terus saja gelisah, Ia mondar mandir seraya menilik pintu masuk mereka, begitupun penghuni yang lain, mereka semua merasa tegang dan gelisah atas hilangnya Aira.
"Ngak bisa, aku mau ke kantor polisi Mas, aku ngak bisa hanya menunggu tanpa berbuat sesuatu, " dengus Aldi, ia pun beranjak kemudian berhalan menuju garasi, Aldi terbungkam karna ia tak mendapati mobil dinasnya, hanya ada mobil Lamborghini miliknya dan Toyota Alpart milik Heru.
Aldi, masuk kembali keruang tengah bermaksud menemui Heru.
"Mas, mobil kita kemana? kok ngak ada di garasi."tanya Aldi.
Heru menatap Aldi sekilas.
"Mobil ngak ada?" tanya Heru menyeritkan dahi.
"Coba tanya mang ujang," cetus Heru.
Baru saja Aldi melangkah menemui mang Ujang, mobil dinas yang biasa ia gunakan untuk ke kantor, perlahan masuk ke halaman rumah mereka.
Aldi bergegas menuju pintu keluar, dan dilihatnya sang istri yang sedang di cari, keluar dari mobil seraya menenteng kue tradisional.
Aira tersenyum kearah Aldi, sementara Aldi buru-buru menghampirinya.
"Kamu dari mana sih?"tanya Aldi kesal sekaligus merasa lega.
Hm, Aira tersenyum misteri.
"Aira belanja Mas, Aira ingin beli kue jajanan tradisional yang ada di pasar rakyat," ucapnya santai.
__ADS_1
"Belanja? kamu tahu ngak, mas Aldi hampir gila, karna mencari kamu," dengus Aldi.
Aira tersenyum melihat suaminya yang terlihat khawatir, mata Aldi pun memerah.
"Maaf Mas, Aira tadi lapar, tapi ngak menemukan sesuatu yang Aira pingin makan, eh kebetulan mang Ujang sedang manasin mobil, jadi Aira minta mang Ujang untuk mengantar Aira kepasar," papar Aira.
"Lain kali, kalau kamu ingin sesuatu, kamu bilang sama Mas Aldi Aira, mas Aldi khawatir, hampir saja mas Aldi lapor polisi, dengus nya.
"Iya maaf," ucap Aira seraya menggandeng tangan Aldi untuk masuk kedalam rumah.
"Nah ini orangnya ada, "dengus Heru.
Aira kamu tuh bikin Aldi seperti kebakaran jenggot, seisi rumah di buat panik," gerutu Heru.
"He he, maaf ya semua," ucap Aira seraya tertawa kecil.
"Nih Aira bawa kue untuk kalian semua, ayo kita makan," ajaknya.
"Mang Ujang belanjaannya bawa masuk saja ya!"teriak Aira.
"Iya Non," sahut mang Ujang yang kemudian menenteng belanjaan Aira.
Aldi heran melihat belanjaan yang dibawa mang Ujang.
"Sayang kamu, belanja sebanyak itu?"tanya Aldi heran, karna melihat tentengan mang ujang.
"Emang kenapa?"tanya Aira.
"Aira pingin makan Ayam bumbu rujak, sop iga sapi, perkedel kentang, serta tahu kremes, dan sambal mentah" paparnya.
"Sebanyak itu sayang?" tanya Aldi.
"Iya mas, enggak tahu kenapa hamil kali ini, Aira pingin makan yang banyak," ucap Aira.
"Iya sayang, mas Aldi senang jika kamu mau makan, biar anak kita tumbuh dengan sehat,"ucap Aldi seraya memeluk Aira dari belakang.
"Iya mas, mungkin karna Aira merasa bahagia, jadi mood makan Aira baik sekali, ngak seperti hamil pertama, Aira selalu merasa tertekan." ucapnya.
"Iya sayang, mas Aldi akan berusaha membuat kamu bahagia, agar kamu dan anak kita selalu dalam keadaan sehat dan selamat," ucapnya sambil mencium lekat pipi Aira.
"Tapi jangan ulangi lagi ya, jika mau pergi kamu harus pergi sama mas Aldi, atau mas Heru, biar mas Aldi tenang," ucapnya seraya menarik kursi untuk duduk.
"Iya mas, sahut Aira lagi," ia pun menikmati getuk yang ia beli di pasar tradisional.
Disaat mereka tengah menikmati sarapan berupa kue tradisional tersebut, mereka kedatangan dua orang tamu.
Setelah mengucap salam, Tari dan Romeo langsung masuk mencari keberadaan orang rumah.
Mereka pun menemukan penghuni rumah tersebut berkumpul di meja makan.
"Nah ini ada Airanya, loh bilang bini loh hilang Di?" dengus Tari seraya menarik kursi untuk duduk.
"He he, ikut panik ya?" cetus Aira seraya mengunyah kue dalam mulutnya.
"Lo bikin kita semua panik saja Aira, padahal gue sama Romeo mau lanjut ronde kedua, ngak jadi gara-gara di telpon Aldi," omelnya.
Hus, Romeo menyiku lengan Tari.
"Bikin malu," cetus Romeo seraya melirik Tari.
"He he, biarin saja, "sahut Tari nyengir.
"Sudah bu mil, makan saja, mumpung mbak Tari ada di sini, Aira mau kasih kabar gembira," ucapnya.
"Kabar apa?" tanya Tari sambil membuka bungkus ketupat nasinya.
"Aira sama mas Aldi mau bikin syukuran atas kehamilan Aira, jadi bagaimana jika kita satuin saja dengan selamatan tujuh bulan mbak Tari," usul Aira.
"Kamu hamil? wah selamat ya," ucap Tari.
"Boleh juga tuh, mama sama papa juga hadir di acara tujuh bulanan, sekalian saja," imbuhnya seraya menikmati sarapannya.
"Ok mbak, ntar bajunya kita couple ya,"
"Hm, kita seragamin saja, satu keluarga," tambahnya.
"Setuju"cetus Aira.
"Gimana Mas, bang?"tanya Aira pada Romeo dan Aldi.
__ADS_1
"Setuju saja," sahut keduanya.
Bersambung, tinggalkan jejaknya ya, like komen dan vote.