
🌷Jangan lupa dukungan nya, ya, like komentar, vote dan hadiah, dukungan author sangat bearti untuk kalian, trim's🌷
Aira merasa bosan menunggu Aldi dan
ibunya, ia pun menelpon Romeo.
Aira melakukan panggilan video callnya.
Tersambung.
"Halo Aira," Romeo melambaikan tangannya.
"Abang di mana tuh?" tanya Aira sambil melihat di sekeliling Romeo yang terlihat asing.
"Abang di bengkel Aira, ini hari pertama abang bekerja," jawabnya sambil memperlihatkan sekeliling nya.
"Oh, kalau gitu nanti saja kita ngobrol nya, ini kan hari pertama abang bekerja jadi Aira ngak mau ganggu," ucapnya.
"Iya sayang, abang kerja untuk menabung, biar bisa melamar kamu, "sahutnya.
Aira merasa tersanjung, ternyata Romeo tak main-main.
"Ya sudalah nanti Aira telpon lagi, selamat bekerja abang," ucapnya dengan manja.
"Dah, sayang."Romeo menutup telponnya.
Aldi dan Rita sudah pulang, mereka terlihat tergesa-gesa.
"Aira ayo pulang," ajak Aldi sambil menarik tangan Aira.
"Ada apa Mas Aldi, kenapa terlihat buru-buru sekali sih?" Tanya Aira binggung.
"Papa sama bunda Maya sudah take off, kita harus bersiap menunggu kedatangan mereka di rumah."
Aira hanya mampu menghela nafas, lagi-lagi kedatangan tamu.
Apa mama dan papanya Mas Heru sama seperti mama nya mas Aldi ya, batin Aira.
Mereka pun pulang,
Sepanjang perjalanan Aira melihat anak-anak sekolah yang baru pulang dari sekolah.
Alangkah bahagianya jika aku bisa kembali sekolah, lihat mereka, mereka menyebrang jalan bersama, bercanda dan tertawa dengan teman-teman sebaya,belajar dan bermain, mereka juga bisa membangun masa depan yang cerah, sungguh sesuatu yang sangat aku rindukan saat ini, aku ingin sekolah, batin Aira.
Aira menitikan air matanya, ia begitu sedih, karna setelah menikah dengan Aldi ia harus mengubur cita-cita dan impianya.
Aldi tanpa sengaja melirik ke arah Aira.
"Aira kamu kenapa?" tanya Aldi.
Aira hanya diam sambil menghapus air matanya.
"Aira kamu masih tersinggung ya, karna mas Aldi pergi dan meninggalkan kamu di rumah?"
Aira menggeleng perlahan, tapi air matanya masih menetes.
__ADS_1
"Aira maaf ya mas Aldi ngak bermaksud mengabaikan kamu, mas Aldi hanya berusaha menuruti perintah mama Mas Aldi."
"Bukan itu mas yang membuat Aira menangis," sahutnya.
"Trus apa Aira, jangan bikin Mas Aldi binggung?"
"Mas, kenapa kita harus menikah sampai setahun Mas, kenapa ngak setelah mas Aldi mendapat kan pembagian perusahaan kita berpisah saja?" tanya Aira masih menitikan air mata.
"Kenapa? apa setelah berpisah sama Mas Aldi kamu mau nikah sama Romeo?" tanya Aldi emosi.
"Bukan begitu mas, beberapa bulan lagi tahun ajaran baru di mulai, dan Aira ingin sekolah kembali, Aira ingin jadi pinter dan mandiri, jadi jika suatu saat nanti Aira mendapat suami yang tak bertanggung jawab, Aira bisa cari uang sendiri tanpa harus mengharapkanya, Aira takut kalau Aira punya anak, nasib anak Aira akan sama seperti Aira."ucapnya lirih.
"Seperti ibu Aira, karna ibu ngak sekolah, dan ngak bisa cari uang, ibu Aira selalu di pukul, bapak slalu bilang kalau ibu Aira ngak berguna, cuma tahu makan dan menadahkan tangan saja, karna ngak kuat terus di perlakukan seperti itu, ibu Aira pergi bekerja sebagai TKW, dan sampai sekarang, Aira ngak tahu kabar ibu Aira, sudah sepuluh tahun ibu pergi, dan Aira tak pernah bertemu sekali pun," tutur Aira dengan linangan air mata.
Aldi yang mendengarkan penuturan Aira, juga ikut sedih, ia pun menarik tubuh Aira dan memeluknya.
"Iya Aira, kamu bisa sekolah dan melanjutkan cita-cita kamu, selama mas Aldi masih hidup, mas Aldi ngak akan biarkan seseorang menyakiti kamu lagi, untuk sementara, kamu bantu mas Aldi dulu, dan seperti janji mas Aldi, selama kita menikah mas Aldi tak kan menyentuh kamu, Mas Aldi janji ngak akan menghancurkan masa depan kamu," ucapnya sambil mencium pucuk kepala Aira.
Aira terdiam dalam pelukan Aldi, pandanganya lurus kedepan
"Sudahlah kamu jangan nangis lagi ya, nanti kalau kamu sudah tamat sekolah, mas Aldi akan membiayai kuliah kamu, supaya kamu bisa mewujudkan cita-cita kamu, tambahnya lagi.
Aira terharu dengan penuturan Aldi.
Ia pun menghapus air matanya.
"Nanti kalau urusan kita selesai, Mas Aldi akan daftarkan kamu di sekolah paling favorite," sambung nya lagi.
Dan kali ini kata-kata Aldi mampu membuat Aira tersenyum.
Duh Aira kalau dah lihat muka kamu itu, suka ngak tega aku, menguras emos,batin Aldi.
Romeo sibuk membongkar mesin mobil,
berhubung ia lulusan dari Sekolah Tehnik Mesin, jadi ia tak canggung lagi.
Iya bekerja di bengkel milik Ayahnya Doni.
"Gimana Rom hari pertama bekerja masih semangat ngak. " tanya Doni.
"Oh jangan di tanya bro, kalau yang pertama pasti semangat lah, apalagi malam pertama, makin semangat gue," sahutnya sambil memontir.
"Malam pertama, malam pertama di alam kubur maksud loh?" canda Doni.
"Ngak usah gitu lah bro, jadi takut mati gue," balas Romeo lagi.
"Gue ngak nyangka, Rom, nyokap loh direktur rumah sakit, bokap loh angota legislatif, tapi loh mau kerja kayak gini man, salut gue" ucap Doni sambil menepuk pundak Romeo.
"Ah lo jangan kebanyakan nyanjung gue Don, ntar gue besar kepala lagi."
Tiba-tiba obrolan mereka terhenti karna Doni melihat kedatangan Tari yang menghampiri mereka.
"Rom, nenek sihir datang Rom," ucap Doni.
" Gue cabut dulu ya, malas gue, pasti dia nanyain Aldi tuh, lo temanin aja Rom, kalau dia nanya ke elo tentang Aldi lo jawab aja setahu elo, kalau ngak bisa jawab pertanyaan dari dia, lo bilang pass aja," ucap Doni, ia pun pergi meninggal kan Romeo.
__ADS_1
"Apaan Pass," lo kira kuis apa," sahut Romeo sambil menggelengkan kepala.
Mereka berdua memberi gelar nenek sihir kepada Tari, karna Tari itu cewek tomboi dan super galak.
Tari menghampiri Romeo.
"Hai, Rom," sapa Tari basa-basi.
"Ngak tau gue," sahut Romeo.
"Apaan sih lo Rom, gue belum ngomong juga, lagian kenapa tuh si Doni begitu melihat gue langsung kabur, kayak ngak pernah lihat cewek cantik aja, "ucap Tari sambil membelai rambut lurusnya.
"Gue udah tahu lo pasti datang ke sini mau nanya tentang Aldi kan, ngak mungkin kan lo datang cuma mau ngantari gue makan siang," sahut Romeo yang menyindir Tari, karna saat itu perut nya sedang lapar, dan berharap Tari mengerti dengan kode-kode darinya.
"Ya ngak gitu juga Rom, gue kesini mau curhat sama loh, tapi lo ngegas terus sih," sahut Tari.
"Lagian lo curhatnya sama gue, kalau mau curhat tuh sama mamah dede," sahutnya santai.
"Ha.., mama dedeh, mama dedeh siapa Rom?"
"Itu yang biasa di tv, masak loh ngak tahu sih, gue aja tahu."
"Serius Rom, yang mana?"
"Itu yang slogan nya curhat dong ma, iya dong," sahut Romeo dengan ala-ala di TV.
"Ihs gue serius juga, gue mau curhat tentang Aldi sama lo Rom," ucap nya melemah.
"Iya gue dengerin, tapi sebelum itu, lo beli nasi bungkus dulu buat gue, gue lapar," ucap Romeo santai, sambil tetap fokus mengerjakan pekerjaanya.
"Bilang dong kalau loh lapar, ngak usah nyuruh gue curhat ke mamah dede segala," ketus Tari.
Tari pun beranjak dan berdiri.
"Dah lo mau lauk apa?" tanya Tari serius.
"Ayam, daging rendang, tahu dan tempe bacem, telor dadar sama perkedel kentang," jawabnya santai.
"Hah banyak banget, ngak sekalian rumah makan padang nya gue bawa keini, ketus Tari."
"Tiga kali beli nasi bungkus untuk Romeo, bisa habis duit di atm gue," gerutunya sambil berlalu.
Doni mendengar dari balik pintu tralis.
"Rasain loh Tar, baru tahu loh kalau dekat dengan Romeo ngak ada untungnya, yang ada nyusaih elo," ucap Doni di hadapan Romeo.
Sementara Romeo hanya tersenyum melihat Doni.
"Eh ngapain si Tari kemari, mau nanya tentang Aldi ya?" tanya Doni penasaran.
"Ngak katanya dia mau curhat aja, berhubung gue lapar, gue suruh Tari beliin nasi bungkus untuk gue," ucapnya dengan santai.
"Lo paling bisa aja manfaatin orang," sahut Doni.
"Dari pada gue lapar, ngak punya uang untuk beli makan, untung ada Tari, kalau ngak, terpaksa minta sama lo," ucapnya santai.
__ADS_1
Ah syukur ada Tari, kalau ngak kebobolan lagi dompet gue hari ini," ucap Doni sambil menadahkan tangan keatas.
Bersambung dulu ya,