Kenapa Harus Menikah Dengan Mu

Kenapa Harus Menikah Dengan Mu
Pembuktian


__ADS_3

Lupa kan kah masa lalu yang membuat mu mengingkari kebahagian mu saat ini.


-


-


-


"Tapi aku tak percaya itu sepenuh nya," sangkal Edo.


"Aku ingin membuktikan kebebaran dari apa yang kau ucapkan kemaren Rianty."


"Aku ingin kau membawaku bertemu dengan mereka," pinta Edo.


"Baiklah, tapi aku akan pergi  bersama suami ku." Aira langsung menyanggupi.


Edo menggangguk pelan, pertanda setuju, mereka pun beranjak dari tempat tersebut meninggalkan gelas kosong diatas meja, tak lupa Edo meninggalkan selembar uang pecahan seratus ribu diatas meja untuk membayar bill mereka.


Keduanya melangkah menuju pintu keluar, namun tak beriringan, Aira dan Edo tak ingin melampaui batas mereka.


Kehadiran Aira di tempat itu untuk membuktikan kepada Edo, bahwa apa yang di ungkapkan Aira saat Edo menemuinya di penjara adalah benar adanya, bukan untuk nostalgia atau membuka kisah lama.


Sinar sang bagaskara menyilaukan netra kedua insan tersebut, dan memaksa salah seorang diantaranya memakai kacamata hitam untuk menghindari pantulan sinar yang menyilaukan.


Serunai sang Aluna memberi efek dingin di tengah emosi yang memenuhi seorang pria yang merasakan cemburu.


Aldi turun dari mobil, dengan begitu emosi, namun saat kakinya hendak melangkah, Aldi melihat Aira dan Edo keluar dari cafe tersebut.


Aira berjalan cepat, mendahui Edo ia segera menyusul Aldi karna di lihatnya Aldi yang sudah tampak emosi.


Mata Aldi memicing kearah Edo, panggilan Aira pun seketika membuyarkan lamunan Aldi, dan beralih memandang kearahnya.


"Mas, ayo kita kerumah bapak Aira sekarang, " ucap Aira sambil menarik lengan Aldi untuk masuk kedalam mobil.


Sementara Edo juga masuk kedalam mobilnya, tanpa menghiraukan tatapan Aldi.


Aira duduk dengan tenang, seraya meraih handphonenya yang berada di dashboar mobil.


Aldi berjalan menuju pintu kemudi dan membukanya, tatapanya tajam mengarah kearah Aira.


Setelah masuk dan Duduk di kursi kemudi, secara tiba-tiba Aldi membanting pintu dengan keras dan berhasil mengagetkan Aira.


"Mas ada apa sih?" Tanya Aira binggung dengan sikaf Aldi yang berubah dengan tiba-tiba.


Aldi memutar kunci kontak untuk menghidupkan mesin, kemudian menginjak pedal gas, kopleng, dan rem secara bergantian.


Untuk kendaraanya sehari-hari Aldi memang tak menggunakan mobil Lamborghini nya, saat ini ia menggukan pajero sport yang tangguh untuk segala medan, maklum saja Aldi dan Heru sering keluar masuk pabrik karna daerah pabrik yang berada di pinggir kota, mereka harus mampu menaklukan medan yang sulit.


Beberapa saat tak terdengar suara dari mereka.


"Mas! Mas Aldi kenapa sih? Marah ya sama Aira?"


Aldi masih cemberut, mukanya terus di tekuk.


"Kalau mas diam saja, Aira mana tahu mas letak salah Aira di mana."


Ada benarnya juga ucapan Aira, rasanya ia tak perlu membesarkan masalah yang kecil, masalah kecemburuan terhadap Edo, tak perlu sampai berlarut-larut, karna masih banyak masalah besar yang menanti mereka saat ini.


"Mas! Mas Aldi mendengar pembicaraan antara Aira dan mas Edo tadi?" tanya Aira menegaskan.


"Iya, ternyata kalian_" Aldi.


"Sudalah mas, itu hanya masa lalu, lagi pula seperti Mas yang dengar sendiri, memang tak ada ikatan antara kami berdua, dan saat itu Aira tak pernah terpikir untuk punya pacar, setiap hari yang terpikir oleh Aira adalah bagaimana caranya Aira bertahan hidup dan bisa melanjutan sekolah Aira."


" Hari -hari Aira sudah di sibukan dengan bekerja dan belajar, jadi sama sekali ngak ada waktu untuk memikirkan cinta, karna Aira merasa tak ada yang mencintai Aira, hanya diri sendiri dan hanya memikirkan diri sendiri, hidup terlalu keras bagi Aira, sangat bertolak belakang dengan cinta dan kasih sayang, meski hari-hari panjang Aira selalu merindukan kasih sayang dari orang tua Aira."


"Di lahirkan kedunia, tapi  kehadiran Aira hanya  seperti beban bagi mereka , sudah cukup semua ini, jadi jangan pernah lagi menggungkit masa lalu Aira mas, karna semua hanya mengukir kisah yang menyedihkan dan mengharukan, tolong jangan ungkit masa lalu itu lagi." cerocos Aira, dengan penekanan di ujung kalimat


Aldi terhenyak dengan penuturan Aira, iya tak menyangka jika hal yang menurutnya sepele, tapi begitu menyakiti hati istrinya.


"Iya sayang, mas tak kan mengungkit masa lalu kamu lagi," ucap Aldi sambil mengelus pipi mulus sang istri.

__ADS_1


Mobil mereka melaju membelah jalanan yang cukup padat, butuh waktu tempuh setengah jam menuju rumah pak Tarman.


Setelah berada di depan halaman rumah Aira, mereka pun berhenti dan memarkirkan mobilnya.


Rumah tersebut tampak kosong, Aira sendiri tak mengetahui kemana ayahnya pergi saat ini.


Aira membuka pintu mobil dan di ikuti Aldi, ia berjalan pelan untuk sampai menuju pintu.


Sesampainya di muka pintu, Aira mengetuk pintu rumahnya berkali-kali sambil memanggil ayahnya, namun juga tak mendapat jawaban.


"Bagaimana sayang?" tanya Aldi saat melihat ekspresi kecewa dari wajah Aira.


"Sepertinya bapak tak ada di rumah Mas, padahal bapak lah kaki tangan Retno, beliau pasti tahu siapa saja korban dari pak Retno." guman Aira.


"Ya sudah, yang kamu tahu saja." usul Aldi Aira pun menggangguk.


Mobil Edo baru tiba, ia pun memarkir mobilnya di depan rumah Aira.


Edo membuka pintu mobil dan menggunakan kaca mata hitam, wajah Edo memang tampan meski terlihat arogan, tapi sebenarnya Edo adalah pria yang berhati lembut.


Setelah dua tahun di tinggalkanya , menutur Edo rumah tersebut tak berubah, pemiliknya saja yang berubah, karna sang gadis kecil, kini sekarang menjadi nyonya dari seorang pengusaha tampan dan kaya.


Edo menunggu Aira dan Aldi menghampirinya.


Aira menggandeng tangan Aldi menuju parkiran mobil, mereka berjalan menghampiri Edo.


"Mas Kita langsung ke rumah Nina saja," usul Aira.


"Nina? siapa Nina?" tanya Edo sambil mengkerutkan dahi.


"Mas Edo lupa sama Nina?" tanya Aira.


Edo menggelengkan kepalanya.


"Nina, teman Aira yang  menjual kue keliling itu."


"Rina maksud mu?" Kira Edo.


"Lalu apa hubunganya Nina dengan semua ini Rianty?"tanya Edo tak mengerti.


"Nina salah satu korban pak Retno Mas."


"Di usia lima belas tahun ia terpaksa dinikahkan dengan pria yang usianya  belasan tahun lebih tua, karna Nina hamil oleh pak Retno, dan pria tersebut terpaksa mengakui jika anak yang di kandung Nina adalah anak nya, untuk menutupi Aib Nina."


" Dan Pak Retno yang meminta bang Rudi untuk menikahi Nina, dan Mas Rudi bekerja sebagai buruh di toko material pak Retno Mas," papar Aira.


Edo menggangguk paham, tapi tentu saja ia masih meragukan ucapan Aira tersebut.


Menurut Edo, bapaknya adalah orang yang dermawan, baik dan bertanggung jawab.


Karna mendapati rumah Aira dalam keadaan kosong, mereka melanjutkan perjalanan menuju rumah Nina.


Rumah Nina terletak sekitar beberaparatus meter dari rumah Aira, beberapa rumah dari rumah pak Tarman, ada sebuah gang sempit, di sana adalah permukiman kumuh para warga, mata pencarian mereka rata-rata adalah pemulung dan buruh serabutan.


Dengan dua pengawal yang selalu berjaga di depan dan di belakang ketiganya, mereka menyusuri permukiman kumuh tersebut.


Melihat pemukiman yang kumuh dan kotor tersebut, membuat Aldi merasa mual, karna tercium bau tak sedap dari tempat kumuh tersebut, ternyata di sana terdapat kandang ayam.


Aldi menutup hidungnya, begitupun Edo dan kedua bodyguard tersebut, sementara Aira terlihat santai.


Aira melirik sebel kearah Aldi, karna menurutnya reaksi Aldi berlebihan.


"Sayang, dulu kamu sering ketempat ini?"tanya Aldi sambil menutup hidungnya.


"Setiap hari Mas, karna kerjaan Aira membersihkan dan menyemprot kandang ayam tersebut."cetus Aira.


"What!!!" seru Aldi syok.


Aira melirik dan menyunggingkan senyum tipisnya.


"Kenapa Mas, jijik ya sama Aira, kenapa ngak sebelum menikah, Mas tanya dulu asal usul Aira," dengusnya.

__ADS_1


"Ngak kok, tapi apa kamu ngak jijik?" tanya Aldi lagi dengan membuka mulutnya karna bau busuk tersebut perlahan menghilang seiring jarak mereka yang menjauh.


"Jijik sih Mas, tapi apa ada, Aira tak punya pilihan lain," paparnya.


Aira masih setia merangkul dan mengandeng tangan suami nya tersebut, beberapa warga yang rumahnya mereka lewati, terkagum-kagum melihat perubahan Aira yang kini terlihat seperti artis k-pop.


Setelah beberapa ratus meter melewati gang sempit tersebut, mereka pun berhenti di sebuah rumah yang terbuat dari kayu, rumah tersebut terlihat hampir roboh.


Aldi dan Edo sedikit ngeri memasukinya, namun lagi-lagi Aira terlihat santai.


"Assalamualaikum,"ucap Aira.


"Waalaikum salam," sahut seseorang dari dalam rumah.


Melihat kedatangan Aira dan Edo, perempuan yang berusia hampir paruh baya tersebut kaget.


"Aira? kamu kah itu?" tanya wanita tua tersebut yang pangling melihat Aira.


"Iya Bik ini Aira," ucap Aira sambil menyunggingkan senyum manisnya.


"Oh kamu banyak berubah Aira, sekarang kamu sudah jadi orang kaya, tapi kamu masih mau mampir kemari," ucap wanita tersebut haru.


Aira menanggapinya dengan senyum, seraya menghampiri Bibik.


Pandangan mata Aira tertuju pada seorang bayi laki-laki yang di gendong oleh wanita yang ada di hadapanya tersebut.


Bayi tersebut menangis dalam gendongan wanita itu.


"Bik apakah bayi ini anaknya Nina?" tanya Aira sambil menyentuh tangan bayi tersebut.


"Iya Nak."


"Ayo masuk," ucap perempuan tersebut, sambil membuka daun pintu lebih lebar.


Ketiganya pun masuk, dan duduk di lantai yang hanya beralas tikar permadani usang.


"Kenapa nangis Dek?" tanya Aira yang mengulurkan tangan untuk menggendong bayi tersebut.


"Mau ***** kayaknya, ibunya belum pulang," sahut perempuan tersebut.


"Emang Nina kemana Bik?" tanya Aira sambil meraih dan menggendong bayi tersebut.


"Nina bekerja di kandang ayam, mungkin sebentar lagi pulang," sahut Bibik tersebut.


"Oya Nak, Bibik bikin minum dulu ya." tawarnya


" Ngak usah repot Bik," cegah Aira.


"Ngak repot kok Nak, cuma Air putih," sahut orang tua tersebut sambil berlalu menuju ke dapur.


Setelah wanita tersebut tak terlihat lagi di pandangan mereka, Aira menggendong bayi tersebut dan menimangnya.


"Sayang, kamu laper ya, pingin mimik cucu ya?" ucap Aira kepada bayi yang terdengar merengek tersebut.


Melihat istrinya menggendong bayi , hati Aldi merasa miris, timbul penyesalan terhadap dirinya.


Harusnya Aira tengah mengandung anak mereka kini, dan dalam waktu dekat keduanya juga bisa menimang buah hati mereka, tapi kini harapan itu masih jauh, melihat keadaan istrinya saat ini, Aira belum bisa hamil dalam waktu dekat ini.


Aira berjalan menghampiri Edo.


"Mas Edo! ayo gendong adeknya," ucap Aira sambil menyodorkan bayi lelaki yang masih merengek karna menahan lapar tersebut.


Mata Edo membelalak membulat sempurna, "Maksud kamu?" tanya Edo dengan menyeringai.


Aira tersenyum sinis kearah Edo, "Maksudnya bayi ini adalah_".


"Assalamualaikum," suara seseorang dari luar pintu yang membuat Aira berhenti melanjutkan kata-katanya.


Pandangan mereka pun tertuju pada gadis lusuh yang tiba-tiba masuk kedalam rumah tersebut.


Bersambung guys, terima kasih karna tetap setia membaca karya ini, terima kasih juga para reader yang sudah mendukung author, hingga author tetap semangat melanjutkan kisah ini.

__ADS_1


__ADS_2