Kenapa Harus Menikah Dengan Mu

Kenapa Harus Menikah Dengan Mu
AQIQAH REYNA ALIA


__ADS_3

Aldi bersandar headboard tempat tidurnya,rasa frustasi mulai menghampinya.


Berbulan bulan mencari Aira namun tak juga ia menemukannya.


bahkan ia mencetak rekening koran untuk melacak keberadaan Aira dari tempat terakhir ia melakukan penarikan uangnya.


Setiap bulan Aldi selalu mengirim uang kerekening Aira, hingga uang nya bertumpuk tumpuk, namun tak pernah di tarik sekali pun oleh Aira.


Menurut data, Aira menarik jumlah maksimum penarikan di atm pada hari ketika ia pergi dari rumah tersebut,setelah itu tak pernah terjadi penarikan sekalipun di rekeningnya.


Rasa khawatir terus melanda Aldi, pencarian terus berlanjut, meski Aira raib seperti di telan bumi.


Aldi menatap foto mantan istrinya dengan mata yang berembun menahan kesedihan dan kerinduan yang semakin mendalam.


Bahkan tak satu malam pun yang ia lewati tanpa menyesali perbuatannya.


"Kamu di mana sayang, aku rindu, aku yakin saat ini kamu pasti sudah melahirkan buah hati kita."


"Aku akui jika aku memang salah, tapi jangan menghukumku seperti ini, aku resah karna terus-terus mengkhawatirkan kamu dan anak kita."


Aldi menatap foto Aira lekat, "Semoga kamu dan anak kita baik-baik saja, dan aku berharap saat ini kamu masih sendiri, karna aku pun begitu, aku memilih sendiri untuk menggunggu kedatangan mu," ucapnya lirih kemudaian mencium lekat foto Aira.


Aldi memeluk foto tersebut, rasa rindunya semakin membuatnya tersiksa dan hampir gila, Aldi berubah menjadi sosok yang diam dan dingin.


***


Sudah seminggu kelahiran Reyna Alia, kehadiran bayi perempuan tersebut seolah menjadi buah bibir di kampung.


Ibu-ibu dan remaja putri bergantian bertandang untuk melihat putri Aira yang di gadang-gadang akan menjadi calon kembang desa saat ia remaja.


Di saat tengah melayani tamu yang hadir, Mang ujang datang menghampiri mereka.


"Non itu kambing Aqiqahnya sudah sampai, "ucap Mang Ujang.


"Mana Mang?" tanya Aira seraya bangkit menuju teras, mereka juga mengikuti kemana Aira pergi.


Aira kaget ternyata kambingnya ada tiga ekor, padahal ia menyuruh mang Ujang untuk membeli satu ekor saja.


"Loh Mang, kenapa kambingnya ada tiga?" tanya Aira heran.


"Oh itu Non, yang dua lagi itu sumbangam warga sini melalui pak Rt, satunya lagi dari pak Kades Non, katanya Aqiqah dedek akan di adakan besar-besaran, ngundang bapak Bupati yang kebetulan keponakan dari pak Kades," papar Mang ujang.

__ADS_1


"Alhamdullilah, Dek emang rejeki kamu Nak," ucap Aira sembari mencium putri kecilnya.


"Ya sudah Mang, kalau gitu kita tambah beli beras dan bumbu lagi jika memang mau mengndang warga kampung sebelah," usul Aira.


Baru saja Aira bicara seperti itu, beberapa warga datang menghampiri Aira dan mang ujang.


"Mang Ujang, Dek Aira, ini kami menyumbangkan beras hasil panen kemaren untuk aqiqah si Alia," ucap seorang lelaki kepada mereka.


Lelaki tersebut membawa setengah karung beras yang berisi sepuluh kilo.


Terima kasih Pak," ucapnya bahagia.


Tak hanya satu orang, beberapa orang pun datang kepada mereka untuk menyumbangkan hasil panen mereka, ada yang membawa beras dari yang dua kilo sampai sepuluh kilo, ada juga yang menyumbang sayur-sayuran dari hasil kebun mereka, seperti cabe, kacang panjang ,buncis tomat dan sebagainya, ada juga yang menyumbang gula dan kopi jadi untuk membuat acara sebesar itu, Aira tak memerlukan biaya yang besar.


Hati Aira begituh terenyuh melihat warga kampung tersebut begitu perhatian pada ia dan anaknya.


Aira kembali mendekati mang Ujang.


"Mang kalau gitu kita sewa tenda saja Mang untuk acaranya, karna rumah ngak akan muat untuk tamu sebanyak itu," usul Aira.


"Ngak usah Non, pak kades meinjamkan tenda dan kursi dan papan untuk panggung Non, sebentar lagi juga datang tendanya katanya sudah di jalan," papar Mang ujang.


"Iya Non, sebentar lagi juga ibu-ibu di kampung ini datang untuk memasak, mereka melakukannya secara gotong royong dan kekeluargaan, iklas tanpa di bayar Non, jadi Non Aira Ngak perlu pusing, tinggal duduk manis saja,"imbuhnya lagi.


Alia terus mengeliat, tak jarang bedong yang ia kenakan terlepas karna pergerakanya yang aktif.


***


Keesokan harinya acara pun di mulai, sekain aqiqah juga ada acara pengguntingan rambut Alia.


Aira, mbok Jum dan Mang Ujang dan Alia menggunakan pakaian couple.


Tetamu pun berbondong bondong datang dan duduk memenuhi tenda.


Acara akan segera di mulai setelah kedatangan pak Kades dan pak Bupati yang sedang dalam perjalanan.


Lantunan lagu sholawat terdengar nyaring hingga seluruh kampung.


Kedatangan sebuah mobil Terios hitam berplat merah membubarlan formasi warga yang sudah duduk dengan tenang tersebut.


Mereka berdiri menunggu datangnya pak Bupati, karna baru kali ini kampung mereka kedatangan pak Bupati.

__ADS_1


Para warga berdiri dengan penuh hormat, suasana pun menjadi tenang, saat pak Bupati berserta jajarannya rela menyempatkan diri untuk menghadiri hajatan kampung mereka.


Sebagai tuan rumah, Aira dan Mbok Jum pun menyambut kedatangan pak Bupati yang baru di lantik beberapa bulan tersebut.


Mereka sangat antusian menyambut pemimpin mereka yang terkenal baik dan ramah itu.


Aira tak melihat dengan jelas wajah pak Bupati memasuki panggung, karna di hadang oleh sejumlah warga yang ingin berjabatan tangan langsung dengan kepala daerah mereka.


Setelah semua selesai berjabat tangan, mereka semua kembali duduk di tempatnya seperti semula.


Barulah Aira melihat jelas siapa yang menjadi pemimpin mereka.


Sebagai tuan rumah Aira dan mbok Jum menghampiri kepala daerah tersebut.


Kedua netra beradu hingga membuat mata keduanya melotot saat pak Bupati dan Aira bertentangan mata dengan jarak yang lumayang dekat.


"Ryanti?" pak Bupati.


"Mas Edo?"Aira.


Keduanya tergaman sejenak karna tak menyangka akan bertemu di tempat ini.


Warga yang hadir pun ikut terdiam menyaksikan tuan rumah dan pemimpin mereka ternyata saling mengenal.


Aira menelan salivanya, matanya tak beranjak melihat siapa yang ada di hadapannya saat itu.


"Ryanti kenapa kamu ada di sini?"tanya Edo sambil menyeritkan dahi, sekaligus membuyarkan lamunan Aira.


"Eh anu anu Mas, eh Pak ceritanya panjang," sahut Aira gelalapan karna ia masih syok bertemu dengan Edo.


Simbok menyenggol siku Aira, seraya berbisik, "Non Aira kenal?" tanya simbok.


Ehm, keduanya jadi salah tingkah.


"Ehm silahkan duduk Pak, "ucap Aira dengan hormat sambil menujuk kursi yang ada di samping kirinya.


"Ehm iya terima kasih," sahut Edo yang juga masih syok dan heran kenapa Aira berada di kampung yang terpencil seperti ini.


Tapi Edo sepertinya harus sabar menahan rasa penasarannya.


Dan lebih mengejutkannya lagi, ternyata acara aqiqah tersebut merupakan acara aqiqah anak Aira, sedangkan ia tak melihat batang hidung Aldi sedari tadi.

__ADS_1


"Ehm ada apa ini?"batin Edo seraya menatap wanita cantik yang sedang berbahagia sambil menggendong bayinya.


Bersambung, mohon tinggalkan jejaknya, like komen, vote dan hadiah ya karna episode berikutnya akan semakin seru.


__ADS_2