Kenapa Harus Menikah Dengan Mu

Kenapa Harus Menikah Dengan Mu
Mimpi yang sempurna


__ADS_3

Di bengkel,


Tari duduk di bangku sambil mempeehatikan gerak-gerik Romeo, wajah nya cemberut karna setelah malam itu, dirinya dan Romeo bukan makin dekat tapi makin jauh.


Doni datang membawa 3 nasi kotak dengan plasitik bening transparan.


Melihat Doni yang datang dengan menggunakan baju koko dan peci Tari pun penasaran.


"Dari mana loh?" tanya Tari ngegas, sebenarnya ia tak bermaksud berucap kasar, hanya saja Tari terbawa mood yang lagi buruk karna sedari tadi ia ngomong tapi di cueki Romeo.


"Santuy lo ngapain ngegas Tar?" tanya Doni.


"Habis nya gue kesal di cuekin," dengus Tari.


"lo dari mana?" tanya Tari dengan nada merendah.


"Habis dari khitanan, nih gue bawa nasi kotak tiga, tadi nya gue cuma mau di kasih satu, ya gue pinta dua lagi untuk kalian berdua."


"Muka tembok," sahut Romeo.


"Dari pada gue makan sendiri, lo bedua ngiler,"


"Nih nasi kotak buat lo berdua, udah ada sendok nya di dalam, ayo makan dulu," ucap Doni sambil mengarahkan sendoknya kedalam mulut.


"Gue ntar aja ya, tanggung tanggan gue kotor nih,"


"Biar gue suap aja Rom," cetus Tari.


"Ngak lah, biar gue makan sendiri aja," jawabnya sambil melanjutkan pekerjaanya.


Doni dan Tari duduk beralas tikar di samping Romeo yang sedang sibuk memontir."


"Eh Tar, ngiming-ngiming," Doni


"Ngomong-ngomong Don, ntar dikira typo loh," sahut Tari


"Iye, lo udah di tembak blom sama Romeo?"


"Belom tuh, " jawab Tari santai sambil menyuap nasi kedalam mulutnya.


"Yah, kalo loh nunggu dia nembak, kelamaan, kayak nunggu gaji tiga belas."


"Lo aja yang nembak duluan," ucap Doni sambil mengunyah makanan nya.


"Ngak ah, Malu," ucap Tari santai.


Romeo yang tadinya sibuk, terusik dengan obrolan kedua orang itu.


"Kalian berdua kalau mau ghibahin gue, jauh-jauh dong, ngapain depan gue ," sungut Romeo kesal.


"Sengaja sekalian ngasi kode, biar lo sadar," cetus Doni.


"Lagian lo kenapa sih Rom, muka lo di tekuk amat, ada masalah curhat dong, mumpung ada kita berdua di sini," Doni.


Romeo menghela nafas panjang.


Ia melempar tank ke sembarang tempat.


"Minggu depan kakak gue nikah," ucap Romeo.


"Lo bukanya itu berita baik buat loh," ucap Doni sambil menghabiskan nasinya.


"Iya tapi, gue juga mau di tunangkan dengan anaknya sahabat bokap gue," ucapnya sambil menyuap nasi ke mulutnya.


Tari dan Doni kaget.


"Kok bisa?"Doni.


"Nyokap loh kan orang berpendidikan Phisikopat lagi," cetus Doni.


"Pisikiater pea'," sahut Romeo.


"Iya, itu maksud gue biar kita ngak tegang aja." Doni.


Sementara Tari hanya menyimak pembicaraan mereka.


waduh makin berat ujian cinta gue, Tari.


"Kata nyokap, gue suka-ganti-ganti cewek, makanya gue mau cepat di kawinin," sungut Romeo.


"Cantik ngak Rom?" tanya Doni.


"Cantik sih, tapi cantik kan Tari lah," ucapnya santai.


"Oh my god,.Don peganggin tangan gue, gue mau terbang, takut nya gue ngak kuat."


"Kalau ngak kuat, lo tinggal melambaikan tangan aja ke kamera," sambar Doni.


"Emangnya syuting dunia lain, " sambar Tari.


"Lagian baru di bilang cantik aja udah terbang, kayak ngak pernah di puji aja loh."


"Gue emang udah sering di bilang cantik, tapi kalau Romeo yang ngomong, baru kali ini gue dengar," ucap Tari tersanjung.


Doni menggelengkan kepalanya,"Pantes aja lo di tinggal kawin, muka cantik otak semplak"


"Semplak apaan Don?" Tari.


"Oleng!" sahut Doni.


"Tanya lagi lo oleng apaan." ucapnya dengan kesal.


"Oleng apaan?" tanya Tari lugu.


"Oleng ya otak lu," cetus Doni.


"Udah bercandanya, Lo bedua mau dengar curhat gue apa ngak sih?" ucap Romeo kesal.


"Iya lanjut aja,"


"Tapi gue lupa Don sampai di mana tadi," ucap Romeo.


"Sampai loh mau dijodohin."


"Iya gitu gue mau di tunangin dah sampai di situ." Romeo.


"Segitu aja Rom, yang bikin lo resah apa, lo tinggal bilang aja kalau lo sudah punya pacar, bereskan." Doni.


"Justu itu, gue mau di takaruf sama si cewek anak nya pak ustads Ramli."


"Hah, anak pak ustadz?"


"Kok ada ya Ustadz yang mau menerima lo sebagai menantu, lo kan berandalan," ucap Doni.


"Tapi kan gue ganteng," sahut Romeo.


"Intinya lo mau ngak?" tanya Doni.


"Ngak mau," sahut Romeo.


"Kenapa ?"


"Umurnya lebih tua dari gue, dan gue belum lihat wajahnya karna tertutup cadar," sahut Romeo.


Doni tertawa terkekeh," Pantes aja lo di bilang lebih cantik Tar, ternyata Romeo sendiri belum melihat wajahnya." ucap Doni sambil tertawa terkekeh.


Sementara Tari mukanya menjadi masam.


"Ya lo positive thingking aja Rom, semua itu demi kebaikan loh, emang tuh cewek tua berapa tahun dari lo?"

__ADS_1


"Ngak banyak sih, tua dia tiga bulan aja," sahut Romeo.


"Anjir, itu namanya masih seumuran," ucapnya sambil menepuk pundak Romeo.


Sementara Tari ia hanya diam sambil menyimak pembicaraan mereka.


Kayaknya gue memang ngak berjodoh sama Romeo, batin Tari.


"Ya udalah terima saja, pilihan orang tua lo pasti yang terbaik Rom, lagian lo beruntung banget bisa dapetin cewek yang begituan, dari atas sampai bawah tertutup semua," Doni.


Sementara Tari semakin tidak nyaman berada di sana, ia pun beranjak dan meraih tas nya yang ada di meja.


"Gue pulang dulu," ucapnya sambil berlari menuju parkiran.


"Eh Tunggu Tar," ucap Doni mencoba mencegah Tari


Tari menuju tempat parkiran motornya dan langsung pergi dari tempat tersebut.


"Tari kenapa tuh, apa kita salah ngomong ya Rom?" tanya Doni.


Romeo hanya menggelengkan kepalanya.


"Gue khawatir sama Tari, gue susul aja ya Rom."


Romeo hanya menggangguk.


Doni pun menyusul Tari dengan motornya.


Tari melaju dengan sangat kencang, iya tak menyangka kali ini hatinya kembali akan tersakiti.


Sambil menangis dengan keadaan emosi yang labil ia mengendari motor tersebut, hingga tak konsenterasi.


Tari menarik full gas motor matik nya dan ternyata di depan ada mobil yang menyalip, karna dalam keadaan panik, Ia pun menarik rem depan dan motor nya hampir terbalik, sementara ia sendiri terlempar jauh dan mendarat di aspal.


Doni berusaha mengejar Tari dan mengikuti jalur menuju rumah Tari.


Jantung Doni berdetak kencang ketika melihat sekumpulan orang berada di pinggar jalan dan membuat jalan sedikit macet.


Doni bertanya pada salah seorang pengguna jalan.


"Ada apa nih bang?"


"Ada cewek, kecelakaan." sahut orang tersebut.


Kecelakaan.


Deg, ser...


Jantung Doni semakin kencang, ia pun memarkirkan motor nya di trotoar.


Doni menghampiri kerumunan ia coba menerobos masuk kedalam kerumunan.


"Tari!"


Doni pun menghampiri cewek yang kini tergeletak di samping trotoar.


Doni ingin menggangkat tubuh Tari tapi di cegah oleh seseorang.


"Jangan di sentuh dulu, sepertinya gadis itu mengalami patah tulang, tunggu ambulan datang saja." kata seorang lelaki


"Tari!"


Panggil Doni, ia meraba wajah Tari dan menepuknya.


Dilihatnya ada luka terbuka pada kening Tari.


"Aw sakit," ucap Tari meracau, karna mata nya tertutup.


"Tari ini gue, lo sadar Tar, sebentar lagi ambulan datang."ucap Doni sambil mengangkat kepala Tari dan memangkunya.


"Don, sakit Don," ucapnya lirih, dengan mata yang masih terpejam, bulir bening menetes di sudut matanya.


"Iya Tar, lo sabar ya, lo tenang aja ada gue di sini."


Doni mencoba menarik tas selempang Tari untuk menemukan handphone nya, tapi ternyata handphone tersebut pecah bagian lcd nya mungkin karna tertimpa tubuhnya sendiri.


"Tar, lo sadar, gimana gue bisa menggubungi orang tua lo nih," Ucap Doni, tapi Tari tak lagi bergerak lagi.


Hampir sepuluh menit kemudian Ambulan pun tiba dan membawa tubuh Tari.


***


Aldi baru tiba dari kantor dan langsung menuju kamar nya, ia membawa sesuatu untuk di hadiah kan pada Aira.


"Aira."


Panggil Aldi.


Aira yang berada di dapur pun menyahut.


"Aira di dapur mas."


Mendengar sahutan Aira, Aldi langsung menghampiri Aira.


Aira sedang memasak bersama mbok Jum dan dua asisten rumah tangga lainya.


Aldi pun menghampiri


"Aira,: ucap Aldi sambil memeluk Aira dari belakang.


"Ihs ada apa sih mas," sambil melepas kan tangan Aldi yang melingkar di pinggangnya.


Ayo kita ke kamar sekarang, Aldi menarik tangan Aira hingga menuju tangga.


"Ayo Aira cepat sedikit," karna sudah tak sabar ia pun menggangkat tubuh Aira.


"Mas, Aldi lepasin Aira takut jatuh, " ucapnya sambil meronta.


"Makanya diam biar ngak jatuh," ucap Aldi mengangkat Aira dengan gaya bridal style.


Heru yang melihat pun ikutan protes.


"Awas jatuh Aldi, Aira itu lagi hamil," teriak Heru dari lantai atas.


"Ah ngak berat kok dia," sahut Aldi.


Suit...suit, sok romantise nih ye," ucap Satria.


"Ah, diam aja loh Satria," ucap Aldi ketus.


"Makin kurang ajar aja loh Di, bokap sendiri lo panggil Satria," sahut Heru.


",Biarin aja, habisnya papa resek."


Aldi pun menurun kan Aira di ujung anak tangga di lantai atas.


Aldi mengibas-ngibas kan tanganya, karna merasa pegal.


"Berat juga kamu Aira, badan aja kecil," ucap Aldi ngosngosan.


"Ayo Aira mas Aldi punya sesuatu untuk kamu," Aldi menarik tangan Aira ke kamar.


Mereka pun masuk ke kamar.


Aldi menyodorkan sebuah kotak kado yang lumayan besar lengkap dengan pita berwarna merah.


"Selamat ulang tahun sayang," ucap Aldi.


Aira meneteskan air matanya, "Ternyata mas Aldi ingat," ucap Aira terharu.

__ADS_1


"Mana mungkin lupa, Mas Aldi sengaja nunggu momen yang tepat, makanya mas Aldi, Papa dan Mas Heru pulang lebih awal."


Aira tersenyum, air mata haru kembali menetes di pipinya.


"Di buka dong kadonya."


Aira membuka kado dari Aldi, dan iya semakin takjub ketika melihat apa yang ada dalam kotak tersebut.


"Wah, gaun seperti cinderllela, "ucap Aira.


"Iya sayang, mas Aldi cari dan pesan sampai ke luar negri nih," ucapnya.


Aira merasa tersanjung dengan apa yang di hadiahkan Aldi, sebuah gaun yang sangat mirip dengan Animasi cinderllela, lengkap dengan sepatu kaca, bandana dan mahkota kecil.


Aira merentangkan gaun tersebut ke udara seraya melonjak ke girangan.


"Aira seneng banget mas, akhirnya Aira bisa pakai gaun seperi ini," ucapnya.


"Sekarang kamu pakai gaun dan sepatunya, hari ini kamu akan jadi cinderllela," ucap Aldi.


"wah seneng nya."


Aldi hanya nyengir melihat istrinya yang terlihat masih kekanak kanakan.


Ia sendiri tak mengerti, terkadang Aira seperti orang dewasa, tapi juga terkadang ia masih seperti anak kecil.


Aldi membantu Aira melepas pakaianya dan membantunya pula memakai gaun.


"Wah cantik sekali sayang, nanti mas suru si mbok yang meriah wajah kamu ya," ucap Aldi yang merasa puas melihat gaun itu sangar pas di tubuh munggil Aira.


"Ngak usah mas Aira bisa sendiri," ucap Aira, ia pun menuju meja rias nya dan berdandan di sana.


Sementara di bawah semua orang sudah bersiap membuat kejutan pesta kecil untuk Aira.


Aldi mengagumi keahlian Aira yang sudah lihai menggunakan make up.


Dalam beberapa menit wajahnya sudah tertutupi dengan make-up yang membuat kesan imut pada wajahnya sedikit hilang.


Setelah berdandan ia pun mengikat rambutnya seperti ekor kuda kemudian di jepit menyerupai sanggul kecil.


Aira juga menggunakan bandana bewarna biru tua seperti cinderllela.


Aldi semakin pangling melihat istrinya tersebut berubah seperti putri dari negri dongeng, meski tidak seratus persen mirip, hanya hampir menyerupai.


Sentuhan akhir memakai sarung tangan dan sepatu kaca yang terbuat dari mika tersebut.


"Sudah selesai," ucap Aira.


"Magic, ada cinderllela di sini, cinderlelanya istri sendiri lagi, jadi gemes mau diapain ya, " ucap Aldi yang gemes melihat Aira yang seperti putri di salah satu cerita dongeng tersebut.


"Kita selfi Aira, " mereka pun berfose sepuas nya.


Karna gemes, Aldi mendaratkan puluhan kali kecupan di bibir Aira.


"Ish, suka gitu deh,nanti dandanan Aira berantakan."


" Ayo, sekarang kita turun, ada sebuah pesta kecil untuk Aira." ucap Aldi.


Aira pun menggandeng mesra tangan Aldi keluar dari kamar dan menuruni tangga.


Saat Aira dan Aldi turun, lagu selamat ulang tahun pun di nyanyikan mereka yang berada di ujung anak tangga, dengan suara tepukan tangan.


Happy Birtday Aira, Happy birtday Aira.


Lagu tersebut mengiringi langkah Aira dan Aldi.


Sesampainya di bawah anak tangga, Aira langsung di sambut dengan kue ultah yang bergambar cindellela.


Kayak ngerain ulang tahun anak kecil.


Selamat ulang tahun Aira, ucap bunda Maya, satu persatu seluruh anggota keluarga inti mengucapkan selamat ulang tahun.


Aira pun meniup lilin dengan angka tujuh belas tersebut, sontak semua tepuk tangan.


Potong kue nya, potong kue nya, ucap mereka.


Aira memotong kue dan memberi potongan pertama ke pada Aldi.


Aira menyuapi Aldi potongan pertama, Terima kasih ya mas Aldi telah menjadikan Aira cinderllela hari ini, ucapnya sambil menyuapkan kue ke mulut Aldi.


Aldi pun membuka mulutnya, dan siara tepuk tangan kembali terdengar.


Setelah menyuapi Aldi Aira pindah ke Heru, saudara yang selalu melindunginya.


Terima kasih ya Mas Heru, selama ini sudah menjaga Aira, ucap Aira sambil menyuap kan kue ke Heru.


"Sama-sama Aira, selamat ulang tahun," ucap Heru sambil memeluk Aira.


Semua kebagian giliran di suapi kue oleh Aira termasuk Papa, bunda Maya dan Mbok jum, mereka semua mendoakan agar Aira selalu bahagia, dan rumah tangganya bersama Aldi akan langgeng.


Setelah acara pemotongan kue selesai, Aldi pun pamit di hadapan mereka.


"Ehm, berhubung acara sudah selesai, pangeran mau membawa putri ke kamar dulu ya, biasa ada meeting sedikit." ucap Aldi.


"Ish mas Aldi,"ucap Aira sambil mencubit pinggang Aldi.


"Ya, meeting apaan Di, papa boleh ikut ya," ucap Satria.


"Lo ngak boleh ikut Satria, di sini aja duduk yang manis," sahut Aldi ke papanya sendiri.


Heru dan Maya hanya menggelengkan kepala, menurut Maya, Aldi itu copy paste dari Satria sendiri.


Sesampainya di kamar Aldi mematikan lampu dan menghidup kan lampu tidur biar terlihat remang-remang.


Ia pun memutar lagu beautifull in love, kemudian berlutut di hadapan Aira, Aldi meraih tangan Aira dan mengecupnya dengan lembut.


Wahai putri cantik mau kah berdansa dengan pangeran mu ini, ucap Aldi masih dalam keadaan dengan sebelah kaki betekuk dan salah satu lutut nya menyentuh lantai.


Aira tersanjung dengan perlakuan Aldi terhadapnya ia pun menggangguk.


Aldi bangkit agar sejajar dengan Aira, Aira melingkar kantangganya di leher Aldi.


Sementara Aldi tangganya memeluk pinggang ramping milik istrinya.


Mereka berdua berdansa, dengan senyum yang selalu tak pernah terlepas dari keduanya, Aira begitu bahagia, ini seperti mimpi yang menjadi nyata.


"Kamu senang sayang?", ucap Aldi sambil menempelkan kening dan hidung mereka berdua.


Seneng sekali mas, terima kasih karna sudah mewujutkan mimpi Aira, ucap Aira bahagia.


Aldi tersenyum," Mari kita wujutkan mimpi tersebut menjadi sempurna."


Kemudian Aldi mendaratkan bibir nya di bibir Aira, mereka pun beradu, saling memangut ,mengecup dan ******* dengan perasaan dan gairah yang memuncak saat itu.


Cukup lama keadaan tersebut terjadi, sebelum suara panggilan telpon nerdering di atas nakas.


Mereka saling melepaskan, karna terganggu dengan suara telpon tersebut.


Aldi pun menggangkat telpon.


Hallo, Aldi


-


-


-Ok gue kesana sekarang, ucap Aldi.


Kira-kira siapa ya yg menelpon Aldi dan apa yg lebih penting hingga Aldi meninggalkan kerimantisan mereka?

__ADS_1


ayo tebak reader, yang benar autor doa kan jadi sultan 😁


di tunggu like dan komennya reader vote juga ya, hari senin nih ada vote gratis biar author semangat,


__ADS_2