
Ghael terbangun ketika mendengar suara orang yang muntah muntah di kamar mandi.
Ia melirik petunjuk waktu yang ada di dinding kamar nya.
Waktu masih menunjukkan pukul tiga pagi.
Ia pun segera bangun dan menuju kamar mandi.
Uek Uek, Alia merasa lemas pada sekujur tubuhnya, bulir- bulir keringat pun muncul pada keningnya.
"Sayang kamu kenapa? "tanya Ghael seraya menyapu peluh yang keluar dari kening istrinya.
"Abang perut Alia sakit sekali Bang!" ucapnya lirih seraya menyentuh perutnya.
Ghael langsung merangkul istrinya, menopang tubuh Alia yang lemah tersebut.
"Ehm, kita kerumah sakit saja." Ghael.
"Iya Bang! aku juga ngak tahan begini terus." Alia.
Ehm.
Ghael menuntun istrinya menuju ke kamar mereka.
Ia pun membantu Alia untuk duduk dan bersandar pada headboard.
Ghael menuju lemari pakaian mereka, kemudian memasukkan beberapa potong pakaian kedalam tas.
"Sayang, Abang ijin sama ayah bunda dulu Ya? " Ghael.
Hm.
Ghael keluar kamar dan menuju kamar Aira dan Aldi.
Tok Tok tok.
"Bunda! Bunda!"
Seru Ghael.
Aldi dan Aira yang tengah melakukan penyatuan pun buru-buru mengakhir petualang mereka, karna mendengar suara gedoran pintu, untung saja itu Aldi permainan mereka tuntas.
Pintu di gedor semakin kencang oleh Ghael, tapi belum juga terbuka.
Arsyad yang mendengar suara keributan di luar pun buru-buru bangkit dan membuka pintu hampir bersamaan dengan Aldi.
Wajah Aldi terlihat segar dan berkeringat.
Ghael tersenyum simpul melihat ayah mertuanya tersebut.
Sementara Aldi merasa jengah di tatap oleh Ghael dengan tatapan curiga.
Arsyad pun menghampiri keduanya.
"Apa apa sih Bang?" tanya Arsyad sambil mengucek matanya.
"Alia muntah-muntah Yah, Abang jadi khawatir," ucap Ghael.
"Lalu di mana Alia sekarang?"tanya Aldi.
__ADS_1
"Di kamar Yah, rencananya Abang mau bawa Alia kerumah sakit." Ghael.
"Iya Bang, terserah Abang saja. " Aldi.
Tiba-tiba mereka di kejutkan dengan suara Aira yang juga muntah-muntah di kamar mandi.
"Bunda, " guman Aldi.
"Ya Sudah Bang, kamu bawa saja Alia. Nanti Ayah Nyusul.Ayah lihat keadaan bunda dulu ya. Dari kemarin katanya ngak enak badan," ucap Aldi kemudian menutup pintu kamar mereka.
Arsyad menoleh kearah Ghael.
"Ya sudah Bang kita bawa kakak ke rumah sakit. "Arsyad.
"Kamu yang bawa mobil ya?" Ghael.
"Iya Bang, Arsyad siap-siap dulu. "
"Ehm, Abang juga mau ganti baju dulu. " Ghael.
***
Sementara itu di kamar Aldi.
Aldi menghampiri istrinya yang sedang muntah-muntah.
"Aduh Bun, Ayah jadi kasihan sama kamu," ucapnya seraya menyapu keringat yang membasahi wajah Aira.
"Ehm,katanya Sayang tapi Ayah hajar terus setiap malam, Bundakan malu Yah, kalau ketahuan Anak anak, kalau Bunda juga sedang hamil hua hua." Aira hampir menangis.
Ia tak tahu bagaimana caranya memberi tahu anak menantunya jika dirinya juga sedang ngidam.
"He he he, Ya ngak apa dong. Kita kan juga pasangan muda. Itu bearti ayah dan bunda masih produktif he he," cetus Aldi.
Aldi menuntun Aira menuju kamar mereka dan menuntun sang istri menuju tempat tidur.
"Sudah Bunda istirahat saja. Jangan di pikirkan. Bunda punya suami dan suami Bunda terlalu sayang sama bunda, makanya Bunda sampai hamil, he he." bujuk Aldi.
Aira duduk di atas tempat tidur sementara Aldi menata bantal untuk menahan tubuh sang istri.
"Bunda jadi kasihan sama kakak Yah. Harusnya saat dia ngidam begini, Bunda harus selalu ada di sampingnya," sesal Aira.
"Ya sudah Bun, Alia sudah ada yang mengurusnya. Dan tugas ayah juga mengurusi Bunda. " Aldi.
"Ehm, tapi tadi abang gedor-gedor pintu kenapa Yah? " tanya Aira.
"Ngak apa-apa, Katanya kakak muntah-muntah, Yah Ayah bilang ngak apa-apa."
Aldi sengaja berbohong agar Aira tak Khawatir.
"Bunda istirahat saja. Biar Ayah yang melihat Alia. " Aldi.
Aldi berjalan menuju pintu keluar kemudian membuka dan menutupnya kembali.
Ia langsung menuju kamar Alia.
Ghael memakaikan Alia jaket agar tak merasa dingin.
Ia pun sudah menyiapkan satu tas pakaian ganti untuk ia dan dirinya.
__ADS_1
Aldi menghampiri Alia kemudian menarik Alia dalam pelukannya.
"Kak, yang sabar ya Nak. Ini hanya ujian untuk kebahagian kalian yang sebentar lagi akan hadir."Aldi.
"Maaf Ayah ngak bisa mengantarkan kamu kerumah sakit, karna Ayah juga harus menjaga bunda," ucap Aldi mengusap kepala Alia dan mencium pucuk kepala sang putri.
"Iya Yah, ada Abang kok yang jagain Alia. Ayah ngak usah khawatir. Jaga saja Bunda." ucap Alia lirih.
"Iya Nak, pagi kami akan datang menjenguk kamu." Aldi.
Aldi pun melirik ke arah Ghael.
"Abang, Ayah titip Ali ya." Aldi.
"Iya Yah."Ghael.
Arsyad masuk ke kamar Alia.
"Mana barang-barang yang akan di bawa?" Biar Arsyad yang bawa, Abang bantu Kakak saja." Arsyad.
"Iya. Kamu bawa tas yang ada di atas tempat tidur!"Ghael.
Ghael pun menuntun Alia menuju mobil.
Aldi merasa sedih namun juga bahagia, karna sebentar lagi ia tak hanya memiliki cucu, tapi juga buah hati kembali.
Kebahagiaan keluarganya akan semakin bertambah.
Setelah keluar dari kamar Alia, ia kembali menuju kamarnya.
Disana ia juga melihat Aira yang kembali muntah-muntah di kamar mandi.
"Kasihan istri ku, semoga ia kuat menjalani semua ini, hingga keluarga kami akan mendapatkan kebahagiaan yang berlipat ganda," gumannya.
Aldi menghampiri istrinya kembali.
Sebagai suami ia senantiasa menjaga istrinya, baginya keluarga adalah hal yang paling penting, meski berhari-hari ini ia tak pernah ke kantor semenjak Aira sakit.
***
Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Alia terus menyandarkan kepalanya pada pundak Ghael.
"Masih mual Sayang? "tanya Ghael sambil mengusap kepala istrinya.
"Masih Bang. Pusing juga, rasanya aku pingin marah-marah saja Bang. Tapi mau marah sama siapa? Abang sudah sangat baik dan sabar dalam menghadapi ku, yang suka ngomel ngomel setiap saat," ucapnya lirih.
Ghael tersenyum seraya mengusap lembut kepala istrinya.
"Ya harus sabar dong. Abang tahu kok apa yang kamu lalui saat ini tidak mudah, Ya kalau kamu marah marah, Abang ngak masukin ke dalam hati kok. Anggap angin lalu."Ghael.
"Malahan Abang bahagia, karna sebentar lagi kita akan punya anak. Sungguh kebahagian tiada taranya,"ucap Ghael kemudian mencium pucuk kepala Alia dengan lekat.
"Aku juga bahagia Bang. Karna Abang selalu berada di samping aku. Aku jadi merasa ngak sendiri ngidamnya. Karena aku selalu merepotin Abang. "Alia pun tersenyum.
"Tentu saja. Bukannya kita bikinnya berdua, merasakan sakit-nyamannya harus berdua juga dong, "ucap Ghael sambil mencolek hidung Alia.
Shut Alia meletakkan jari telunjuk nya secara vertikal pada bibirnya.
"Jangan keras-keras ngomongnya Bang. Ada bocil di sini, "ucapnya menyindir ke arah Arsyad.
__ADS_1
Sementara Arsyad hanya tersenyum mendengar kedua orang tersebut ngobrol.
Bersambung. mumpung hari senin bagi votenya dong