
Suster membawa Alita ke ruang perawatan setelah keadaannya membaik,sementara bayi mereka masih di inkubator dan sedang dalam penangan dan perawatan bayi baru lahir.
Alita mulai menerjab-nerjabkan matanya, tiba-tiba ia merasa sebuah kecupan mendarat di sertai senyum manis sang suami.
"Sudah sadar sayang? " tanya Bagas seraya mengusap wajah istrinya.
Alita tersenyum." Mas aku di mana sekarang?" tanyanya lirih.
"Kamu di ruang perawatan, setelah operasi," ucap Bagas sambil mengusap kepala Alita dengan lembut.
Ehm.
Alita meraba perutnya yang tak lagi buncit ia pun merasakan pedih pada luka sayatan operasinya.
"Lalu sekarang di mana anak kita Mas?" tanya Alita dengan sedikit panik. Karna tak menemukan bayi mereka.
"Tenang Sayang! bayi perempuan kita Untuk sementara mereka harus berada di ruang inkubator setidaknya satu hari ini. "
"Jadi anak kita kembar perempuan Mas? " tanya Alita.
"Iya Sayang, "ucap Bagas masih membelai rambut panjang Alita.
"Hm, Tapi aku ingin melihat mereka Mas. "
"Sabar ya, aku baru saja melihat keadaan mereka. Anak kita cantik-cantik mirip seperti kamu," ucap Bagas sambil mengenggam tangan Alita kemudian menciumnya.
Alita tersenyum, "Itu karna ayahnya yang juga ganteng Mas. " cetus Alita.
" Hm, Bisa saja merayunya, aku gigit mau?" tanya Bagas sambil mencubit pelan pipi Alita.
"Ehm, gigit saja. Aku bisa balas kok ha ha ha," Alita.
"Aku ngak akan pernah menyakiti kamu Sayang. Aku bahagia karna kini kita memiliki dua putri yang cantik cantik. Aku jadi semakin semangat dalam menjalankan hidup ini. " Bagas.
"Aku juga semakin semangat dan bahagia dengan hadirnya dua bidari kita. "
"Kita beri nama siapa yah Mas?" tanya Alita.
"Entahlah Sayang. kita belum siap sama sekali dia sudah lahir. Bahkan harusnya malam ini selamatan tujuh bulanannya. Sehelai pakaiannya pun belum ada kita beli ya. " Bagas.
"Ehm. Seperti mereka sudah tak sabar lahir ke dunia, Karna selalu di jenguk ayahnya kali ya? ha ha. " Alita.
"Ehm mungkin juga. "
Alita meringis merasakan sakit pada bagian perutnya.
"Kenapa sayang? sakit Ya? "
"Ngak Kok Mas, kalau lihat senyum kamu, rasa sakit ku hilang, ucap Alita menatap suaminya dengan mata yang berembun. Tatapan yang menyiratkan perasaan cinta yang besar terhadap suaminya.
"Istriku memang pandai merayu, "ucap Bagas sambil mendekatkan wajahnya untuk mencium Alita.
Keduanya pun saling menatap dengan tatapan mata yang berembun
Tiba -tiba terdengar suara pintu yang di buka dari luar.
"Assalamualikum, " ucap Dasti dan Doni yang baru saja tiba.
"Waa'laikum salam ", serempak keduanya menjawab dan menoleh kearah mereka dengan senyum bahagia.
"Alita, Alhamdulilah kamu sudah sadar Nak? "
Dasti langsung memeluk dan mencium pipi putrinya.
Begitu pun Doni yang masih terlihat khawatir " Bagaimana keadaan kamu Nak?
"Baik Pa, "jawab Alita lirih.
__ADS_1
"Lalu di mana bayi kalian? " tanya Dasti sambil mengedar pandangannya.
"Masih di ruang perawatan bayi baru lahir Ma. " Bagas
"Ehm, padahal Mama ingin sekali melihat nya Gas." Dasti.
"Lihat saja Ma, ngak apa-apa Kok. " Bagas.
"Mas, aku juga ingin lihat, "ucap Alita.
"Kamu sabar dulu ya. Besok susternya akan bawa kesini. "
"Ayo Pa kita, temui cucu kita." Dasti.
Ehm.
Mereka pun keluar dari ruangangan di mana Alita di rawat.
Mereka pun berpapasan dengan Romeo.
"Eh Don. Kok loh di sini. " Romeo.
"Alita habis di operasi cesar di ruangan ini. Loh sendiri? "tanya Doni.
"Wah kebetulan sekali, Alia dan Aira juga baru saja melahirkan tadi pagi. " Romeo.
"Oh Ya. Alhamdulilah. Bearti kita sama-sama punya cucu dong."
"Ma, kita lihat anak Alia dulu yuk, " ajak Doni kepada istrinya.
"Ayo Pa." Dasti pun menyambut baik.
Mereka pun menuju ruanga perawatan Alia
"Assalammualaikum, "sapa Dasti dan Doni.
"Waalaikum sallam, "sahut mereka serempak.
Tari pun menyambut Dasti, mereka pun cupika-cupiki. Memang sudah lama mereka tak bertemu.
"Apa kabarnya Nih Oma Tari? " tanya Dasti.
"Baik oma Dasti." sambut Tari.
"Mana cucu ku? " tanya Doni saraya menghampiri box bayi.
"Itu bukan cucu kamu Don. Itu keponakan," tutur Tari.
"Oh jadi ini anaknya Aldi. Pantes mirip muka Aldi. " Doni.
"Ya harus lah mirup Aldi.kan lucu kalau mirip muka loh. Ntar di kirain anak selingkuhan he he. "
"Its loh ada-ada saja Tar. " Dasti.
Alia meringis merasakan sakit karna terlalu lama duduk pasca operasi.
"Kamu kenapa Sayang? " tanya Ghael.
"Perut ku dan seluruh anggota tubuh ku sakit Bang." ringis Alia.
Dasti melihat ke arah Alia yang terlihat sedih dan lelah.Ia pun menghampiri ke arah Alia.
"Alia kenapa kamu Nak? " tanya Dasti sambil mengusap kepala Alia.
"Ngak Ma.Alia sedih Karna bunda sempat koma setelah melahirkan dedek. "
"Ehm jadi bagaimana keadaan bunda kamu saat ini? " tanya Dasti.
__ADS_1
"Alhamdulilah sudah siuman Ma. mungjin besok akan di pindahkan keruangan ini. "Alia.
"Aliata sendiri Bagaimana Ma? "
"Alhamdulilah sudah baikan, Nak" Dasti.
Doni menghampiri Romeo sambil menggedong anak Aldi.
"Jadi cucu loh kembar Don? " tanya Romeo.
"Iya dua-duanya cewek, tapi gue belum melihatnya. "
"Wah kebetulan. Ya sudah Don. Bagaimana jika kita jodohin cucu-cucu kita saja. Masih penasaran gue pingin besan sama loh."
"He he, tanya mak bapaknya aja Rom. "
Ghael tersenyum." Ini bukan jaman Siti Nurbaya. Aku ngak mau anak aku jadi korban perasaan, "sahut Ghael.
"Tuh dengar sendiri loh Rom. "Doni.
"Ya sudah gue permisi dulu, mau lihat cucu gue Rom. " Doni.
"Ya sudah Nanti gue lihat Alita dan cucu loh Don." Romeo.
"Alia Papa permisi ya Nak. " Doni.
"Iya Pa. Terima kasih ya. " Alia.
Mereka pun keluar dari ruangan perawatan Alia.
Karna keadaan Alia yang tak memungkin untuk mengurusi kedua bayi tersebut. Tari dan Romeo rela bergadang menjaga cucu dan keponakan mereka.
Keesokan harinya.
Setelah keadaan Aira membaik ia pun akan segera di bawa keruangan perawatan yang sama dengan Alia.
Mereka tinggal menunggu sustervyang akan membawa Alita.
Aldi duduk di samping Aira sambil menggenggam erat tangan Aira yang terlihat melamun.
"Bunda, "sapa Aldi.
Ehm, Aira mengguman.
Ia pun menatap Aldi yang sedang menatapnya mesra.
"Bunda, sudah ngak sabarkan melihat anak dan cucu kita? " tanya Aldi lieih.
"Iya ayah. Bunda juga lagi mikirin Arsyad. "
"Duh Bunda. Jangan pikirkan yang lain dulu, pikirkan saja diri Bunda." Aldi.
"Ngak di pikirin juga kepikiran Yah. Namanya ibu dengan anak-anaknya. " Aira.
Aldi mencium kening Aira." Tenang saja Bun, kita akan selalu bersama setelah ini. Terima kasih atas perjuangan Bunda dalam melahirkan buah hati kita. Terima kasih karna telah memberi ayah tiga anak yang tampan dan cantik. Hidup ayah terasa sempurna sekali, tutur Aldi.
"Iya Yah. Bunda juga merasa bahagia. sampai saat ini Ayah tetap setia,"ucap Aldi sambil meraba wajah suaminya.
Aldi menggenggam erat tangan Aira. dan menciumnya.
"Bukan kah kita dulu pernah berjanji akan melewati masa tua bersama. Kini tak terasa waktu begitu cepat berlalu Bunda. Dan di usia yang tak lagi muda Tuhan tetap mempercayakan menitipkan buah hatinya pada kita. Itu adalah buktj jika dari dulu hingga sekarang kadar cinta ayah tak pernah berubah sedikit pun. Ayah akan mencintai kamu sampai mati," ucap Aldi dengan bulir bening yang menetes.
Aira tersenyum sambil menyapu air mata Aldi.
"Bunda juga Yah. Ayah adalah semangat bagi Bunda. Bunda juga akan selalu mencintai Ayah sampai mati. " Aira.
Keduanya pun saling melempar senyum bahagia.
__ADS_1
Suster pun datang untuk membawa Aira bertemu dengan anggota keluarganya yang lain.
Bersambung dulu ya reader.Terima kasih karna tetap setia membaca karya ini. Terima kasih atas dukungannya. love u All.