
Setelah acara pertunangan mereka, Bagas dan Alita segera mempersiapkan acara pernikahan mereka.
Kali ini mereka sedang menuju sebuah butik untuk fitting baju.
Keduanya masih terlihat canggung, sepanjang perjalanan hanya diam, tak ada pembicaraan apa pun di antara mereka
Memang begitu kebiasaan Bagas dan Alia, jika bukan urusan pekerjaan mereka tak akan bicara.
Keduanya pun memasuki butik tersebut.
Alita melihat-lihat beberapa model kebaya yang terpasang pada manaken.
Tiba-tiba ia tertarik pada kebaya berwarna cream dengan design yang elegan.
"Kalau yang ini bagaimana Mas ?"tanya Alita pada Bagas seraya menunjuk kebaya putih brokat yang elegan.
"Ehm bagus," jawabnya singkat.
Melihat reaksi Bagas yang tak begitu antusias membuat Alita merasa kecewa bahkan ketika hari pernikahan mereka semakin dekat, Bagas tak pernah mengajaknya berkencan atau sekedar makan malam di luar.
'Huh tak terbayang bagaimana nasib pernikahan nanti' keluh Alita.
"Ya sudah mbak saya mau coba yang ini saja," ucap Alita pada penjaga butik.
"Oke mbak sekarang dicoba saja di kamar pas." penjaga butik
Alita pun membawa pakaian tersebut menuju kamar Pass.
Sementara Bagas masih duduk di kursi tunggu.
Beberapa saat kemudian, Alita keluar dengan menggunakan kebaya yang di pilihnya.
"Mas bagaimana dengan yang ini?" tanyanya dengan menggunakan kebaya pilihannya.
Seketika Bagas menoleh dan tersenyum, "Bagus! kamu cantik memakainya, " puji Bagas, karna memang Alita terlihat sangat cantik dan pas.
"Ehm, Ya sudah mbak saya pilih yang ini dengan stelan rok batiknya sekalian.
"Mas, kamu sudah pilih baju untuk akad nikahnya?"tanya Alita.
"Belum, kamu saja yang pilihkan untuk ku," sahut Bagas.
Setelah selesai dengan kebaya untuknya, Alita Bagas pun mencari pakain untuk acara ijab qabul yang akan di gunakan Bagas.
Setelah memilih-milih ada sebuah jas yang menarik hati Alita.
"Kalau yang ini bagaimana Mas?" tanya Alita seraya menunjuk jas bescab berwarna cream.
"Ehm boleh," sahut Bagas tanpa protes.
Akhirnya mereka pun setuju dengan kebaya dan stelan jasnya.
Setelah memilih kebaya, keduanya menuju lokasi pemotretan untuk pre wedd mereka.
__ADS_1
Sebenarnya Bagas tak ingin mengadakan sesi foto, namun lagi-lagi ia harus memenuhi tuntutan pak gubernur, mau tak mau ia pun mengikuti permintaan ayahnya yang selalu konyal tersebut.
Sesampai di studio foto mereka mengadakan prepare untuk mengarahkan keduanya dengan berbagai fose-fose mesra.
Alita tersenyum karna sekian lana baru kali ini mereka begitu dekat.
Setelah mengganti pakaian merela dengan pakaian pantai yang cauple berupa selana pendek dengan kemeja over size bewarna biru dengan motif pohon kelapa serta backgrounds pantai pasir yang putih.
Sang fotografer pun mengarahkan ke Bagas untuk menggendong Alita dengan gaya ala di pantainya dengan kipas angin fokus ke arah wajah mereka hingga rambut mereka seperti melayang tersapu angin begitu natural.
Jantung Alita berdetak karna inilah pertama kalinya ia meneluk Bagas.
Bebera gambar pun diambil, sebelum keduanya menggunakan kebaya dan berfoto saling memandang dan rersenyum di sini Bagas benar-benar di buat grogi, karna harus menatap Alia dan tersenyum sedang kedua tangan mereka saling menggenggam.
Baru kali ini Alita melihat senyum dari seorang Bagas, dan pertama kalinya juga ia merasakan hangatnya pelukan calon suaminya itu.
Tatapan mata yang teduh menyiratkan kelembutan di hatinya di balik sikaf dingin dan acu tak acu.
Beberapa fose dengan adegan mesra mereka lakoni dan yang terakhir dan yang paling berkesan ketika sang fotografer mengarahkan Bagas untuk memeluknya dari belakang .Alita benar-benar merasakan hangatnya pelukan dan harum nya hembusan napas Bagas saat itu, tanpa senvaja ia pun melirik ke arah Bagas dan seketika mata mereka bertentangan kembali.
Ser, walau sekejap tapi terasa desir aneh di hati Bagas saat menatap Alia, gerakan taknsengaja tersebut justru diambil kesempatan oleh sang fotografer .
Klik, lampu flas mengujutkan keduanya seketika mereka tersentak dari lamunan masing-masing.
Mereka berdua pun hanya bisa tersenyu.
Hari panjang dan melelahkan bagi mereka setelah sesi foto, Bagas langsung mengantar Alita pulang.
***
Waktu berlalu dengan cepat, sudah sebulan ini Alia dan Ghael bidup sebagai pasangan suami istri yang bucin.
Setiap harinya mereka melewatinya dengan mesra dan bermanja-manja bahkan dalam sebulan tak satu malam merek lewatkan tanpa bercinta.
Alia tengah mengancing kemeja untuk suaminya sementara Ghael terus memandanginya dengan lekat.
Alia tersenyum jengah, "Ih Abang jangan di pandang seperti itu Ah. " ucap Alia seraya menundukan wajahnya sesekali melirik Ghael yang terus menatap ke arahnya.
"Abang sayang sama kamu Alia, ucap Ghael spontan, sambil mengusap beberapa lembar rambut Alia dengan jarinya.
"Ih Abang, bukannya sudah setiap hari Abang menhatakannya, " ucap Alita sambil menyimpul dasi Ghael.
Ehm benar, tapi semakin hari semakin sayang dan semakin cinta sama kamu, tambanya lagi, hingga membuat pipi Alia kembali merona.
Ghael terus menatapnya penuh cinta dan mesra.
" Sudahlah Bang, berhenti memandangi Alia seperti itu, Alia malu," ucapnya jengah.
Ghael tersenyum kemudian mendekatkan bibirnya hendak mencium bibir Alia, namun tiba tiba Alia menolak karna ia merasa mual dan hendak muntah.
Alia berlari ke kamar Mandi dan muntah di sana.
Ghael pun binggung, dengan sikaf Alia.
__ADS_1
Ehm apa yang salah?"ia pun menghembuskan nafasnya pada telapak tanggan, takut-takut jika napas yang membuat Alia muntah.
Uek, Uek, terdengar suara di kamar mandi, Ghael pun menghampiri istrinya.
"Alia kamu kenapa sayang?"tanya Ghael sambil meraba kening sang istri yang tak terasa panas sedikit pun.
Uek..Uek.
Alia memuntahkan semua makanannya.
Setelah itu perutnya tersa sakit seperti kram.
"Alia sayang kamu kenapa?"tanya Ghael khawatir ia pun menuntun istrinya untuk kembali ke tempat tidur.
Alia merasa lemas , seketika tubuhnya menggibil.
"Alia kamu baring dulu ya, Abang panggil ayah dan Bunda dulu, ucap Ghael sedikit panik.
Ghael keluar dari kamar mereka dan sedikit berlari menuju anak tangga yang menghampiri Aldi dan Aira kebetulan Rasyad juga ada di sana.
"Ayah- Bunda,! Alia sakit Bunda!" cetus Ghael dengan nada panik.
Ehm, keduanya menoleh Ghael sebentar kemudian beranjak karna kaget.
"Sakit? sakit apa Bang, perasaan tadi subuh biasa saja, ngak kenapa-kenapa?"tanya Alia.
"Ngak tahu Bunda, Abang juga heran padahal kani baru saja ngobrol Bunda.
Mereka pun menaiki anak tangga dengan sedikitt berlari menuju kamar Ghael dan Alia.
Keempat orang tersebut masuk tapi tak menemukan Alia di tempat tidur, tiba-tiba terdengar suara Alia yang muntah muntah di kamar mandi.
Uek Uek,
"Ayah denger ngak?"tanya Aira senang.
"Dengar Bun," sahut Aldi, keduanya pun saling berpelukan dengan mata yang berbinar.
"Loh kok malah seneng sih Bun?"tanya Ghael heran.
Uek Uek.
Terdengar lagi suara tersebut, barulah mereka semua menghampiri Alia.
Aira memijit lembut tengkuk putrinya.
Sembari tersenyum, begitupun Aldi.
Ghael yang heran pun tak tahan bertanya tentang apa yang membuat keduanya terlihat bahagia padahal Alia sedang sakit.
"Ayah dan Bunda kok senag melihat Alia sakit?" tanya
Ayo apa reader? bersambung. maaf banyak typo
__ADS_1