
Aldi melingkarkan kedua lengannya pada perut ramping Aira, seketika Aira merasakan pelukan hangat Aldi yang bertahu-tahun tak pernah lagi ia rasakan.
Ego nya tak mampu melawan perasaannya saat itu, apalagi bisikan Aldi terdengar mesra di telinganya.
"Sayang apa kau tak merindukan saat-saat seperti ini," ucap Aldi seraya mengecup ceruk leher Aira, membuat Aira bergidik merinding.
Aira memalingkan wajahnya menatap mata Aldi yang berembun, saat kedua netra bening tersebut beradu, tersirat rasa rindu yang tak mampu lagi di tahan olehnya.
"Aku hanya mencintaimu," ucap Aldi seraya menatap manik mata indah lawan jenisnya tersebut, kemudian Aldi mendekatkan wajahnya untuk menjangkau bibir sensual yang sudah lama tak ia cicipi tersebut, bagai terhipnotis Aira tak mampu menolak ketika bibir Aldi mencoba menyentuh bibirnya, ia pun memejamkan mata, menepis rasa angkuhnya mencoba menikmati sesuatu yang sudah lama tak pernah ia rasakan.
Baru saja kedua bibir tersebut menyentuh dengan lembut, teriakan Alia mengagetkan mereka.
"Ayah! Bunda!Alia malu," seru Alia seraya menutup matanya.
Keduanya pun melepaskan pelukan, hampir saja mereka kebablasan mempertontonkan adegan yang seharusnya tak di lihat oleh anak seumur Alia.
Aldi dan Aira melepas pelukannya, Aira menunduk dengan wajah yang merona.
Aldi langsung mengangkat tubuh sang putri, dan menggendongnya, kemudian mencium perut Alia hingga ia merasa geli.
Ha ha ha ha tawa Alia.
Aila pun tertawa dan meminta di lepaskan, tapi Aldi justru semakin jadi, ia ingin mengalihkan perhatian Alia, agar tak lagi mengingat apa yang baru saja di lihat olehnya.
"Udah ayah, Alia geli, ha ha ha,"tawanya seraya membuka wajahnya yang ia tutupi.
"Abisnya kamu bikin ayah gemes," ucap Aldi seraya mencium pipi Alia
"Ayo sayang kita berfoto seperti yang ada di lukisan Alia," ucap Aldi kemudian ia menggendongnya.
Mereka pun melakukan foto close up.
Setelah memperagakan beberapa gaya di depan kamera, hasil foto langsung keluar dalam hitungan detik.
Aldi menunjukan ke Aira hasil foto mereka, "Lihatlah sayang, gambaran keluarga kecil kita yang bahagia."Aldi
Aira melihat foto mereka bertiga, bulir bening pun perlahan menetes di pipinya.
"Aku ingin kita bisa selalu bersama seperti ini, kamu, aku ,dan anak-anak kita," imbuhnya kembali.
Aira menatap wajah Aldi, Tak di pungkiri lagi, ia memang merasa bahagia jika bersamanya.
"Entahlah mas untuk sementara aku ingin sendiri," ucapnya seraya menitikan air mata di pipi.
Sejenak mereka terdiam, Aldi mencoba untuk mengerti ia pun tak mau mendesak Aira, mungkin Aira butuh waktu untuk memikirkan semuanya.
"Iya sayang, pikirkan lah yang yang terbaik untuk kita dan anak kita, aku berjanji akan setia menanti jawaban dari mu," ucap Aldi sambil menepuk pundak Aira.
Mereka pun terdiam untuk beberapa saat lamanya, sebelum mereka memutuskan untuk keluar dari tempat tersebut.
Aldi menyimpan hasil fotonya di dalam dompet.
Mereka pun keluar dari tempat tersebut kemudian menuju escalator untuk turun di lantai sebelumnya.
"Sekarang kita ke toko mainan, Alia boleh beli apa saja yang Alia mau," ucap Aldi.
" Yey asik!" Ayah ayah, Alia mau sekolah, boleh ngak beli tas baru dan sepatu baru?"tanyanya.
__ADS_1
"Boleh sayang, apa saja yang Alia inginkan Alia boleh beli," ucap Aldi.
"Bunda juga Bun, sudah lama Ayah ngak beli sesuatu untuk Bunda,"
"Ngak usah repot-repot," sahut Aira ketus.
"Tuh kan, kalau di tanya jawabannya ketus."Aldi.
"Udah kebiasaan," sahut Aira seraya tersenyum.
"Kalau dengan laki-laki lain ngak apa ketus sayang, kalau dengan ayah jangan dong, kalau perlu nyahutnya dengan suara yang mende*sah-de*sah, biar Ayah gemes, Ayah gigit nanti," ucap Aldi seraya tersenyum mesum kearah Aira.
Tapi di balas lirikan sinis dari Aira.
"Ih Ayah jahat, kok bunda di gigit, kasihan kan Bunda."sahut Alia.
"Ngak kok, gigitnya nya ngak kuat, seperti ini," ucap Aldi seraya menggigit pelan lengan kecil Alia.
hi hi hi, Alia tertawa,
Satu lagi yang membuat Alia senang di mana ia bisa memilih main sesuka hatinya.
Aira merasa semakin canggung ketika Aldi menggenggam tangannya mesra, sementara tangan yang lain menuntun Alia menuju toko mainan, mereka pun berjalan dengan saling menggenggam mesra.
Sesampainya di toko main, Aldi melepas tangan Alia, " Alia pilih saja mainan yang Alia mau ya, minta Bunda temani, Ayah ada perlu sebentar dan jangan kemana-mana sebelum Ayah kembali." Aldi.
"Iya Ayah," ucap Alia.
"Sayang, kamu jaga Alia sebentar ya, sebentar lagi aku kembali," ucap Aldi kepada Aira.
"Iya mas,"sahut Aira singkat.
Tak ketinggakab, Alia juga memilih berbagai peralatan sekolah seperti tas dan sepatu bergambar princess kesayangannya, semua ia yang memilih sendiri,sementara Aira hanya menuntun tangannya.
Aldi keluar dari toko mainan menuju toko perhiasan, ia bermaksud memesan cincin yang akan di gunakanya untuk melamar Aira kembali.
"Permisi saya ingin memesan cincin tunangan dan sepasang cincin untuk pernikahan, "ucap Aldi kepada pelayan toko.
"Baik pak, silah anda pilih modelnya, harga menyesuaikan dari kadar emas dan permata yang akan gunakan," ucap pelayan toko tersebut seraya menyodorkan gambar dari contoh bentuk cincin.
"Saya pilih yang ini," ucap Aldi, seraya menunjuk sebuah model cincin yang ada di gambar.
"Baiklah, apa anda akan menambah berlian sebagai mata cincinnya?"
"Ngak usah, biarkan saja polos karna, calon istri saya tak menyukai barang-barang mewah," ucap Aldi.
Petugas tersebut pun mencatat pesanan Aldi.
"Oh oya, saya harap cincin tunanganya bisa jadi dalam dua hari karna saya akan melamar calon istri saya dalam waktu dua hari lagi."Aldi.
"Tapi ada penambahan biaya jika anda meminta mempercepatnya," pelayan toko.
"Tidak masalah." Aldi pun langsung membayar dpnya.
Puas berkeleling bebelanja main Alia pun kelelahan.
"Bunda setelah ini kita pulang ya Alia capek, " ucapnya seraya menguap.
__ADS_1
"Iya sayang tunggu ayah ya ,belajaan sebanyak ini Bunda ngak bisa bawa sendiri, apalagi bonekanya gede-gede gini." Alia.
Hampir setengah jam pergi, Aldi pun kembali, melihat Alia yang kelihatan lelah ia pun mengangkat tubuh gadis kecilnya tersebut.
"Alia kenapa sayang?"tanya Aldi.
"Alia capek Yah, " ia pun menguap.
"Ya sudah, kita pulang ya," ucapnya seraya mencium pipi Alia.
Alia beberbelanja hingga satu trolley penuh, Aldi meminta penjaga tokoh untuk membawa belanjaan mereka hingga ke mobil.
Beberapa kali menguap, Alia pun tertidur dalan gendongan Aldi.
Sesampainya di mobil, Aira masuk mobil terlebih dahulu agar bisa memangguku Alia yang tertidur.
Kemudian Aldi mengambil kemudi mobil mereka pun perlahan meluncur keluar dari basement.
Melihat wajah lelah putrinya, Aldi tersenyum seraya mengusap rambutnya.
"Mungkin dia kelelahan karna ngak sempat tidur siang."Aldi.
Aira memeluk erat tubuh putrinya seraya mencium pucuk kepala Alia.
Sesampainya di rumah Alia masih terlelap, Aira pun menggendongnya dan meletakannya di atas tempat tidur.
Setelah menyelimutinya, Aira mencium putrinya kemudian membiarkan Alia tidur sendiri.
Ia pun menutup pintu kamar nereka.
Aira kaget karna Aldi sudah berada di belakangnya.
Dengan senyum mesumnya ia pun memeluk Aira.
"Mas lepasin," Aira berontak.
"Kita lanjutkan yang sempat tertunda," ucap Aldi seraya kembali menyambar bibir Aira.
"Ops mas, aku ngak mau melakukannya tanpa status."Aira mendorong pelan tubuh Aldi.
"Kalau gitu kita resmikan segera," ucap Aldi seraya mempererat pelukannya.
"Ngak Mas, aku belum siap untuk membangun komitmen kembali," ucap Aira seraya melepaskan pelukan Aldi.
"Aku tahu sayang,aku akan selalu menanti sampai kau siap menerima ku," ucap Aldi seraya mencium pucuk kepala Aira.
Ada rasa damai yang Aira rasakan saat hembusan napas Aldi hangat menyentuh kulitnya.
.
"Mas sekarang mas pulang, aku ngak enak bawa laki-laki kerumah ini." Aira.
Aldi tersenyum, ia sangat mengerti tentang status Aira saat ini, ia juga tak ingin Aira sampai terkena masalah akibat ulahnya.
"Kalau gitu mas pulang, jaga diri dan putri kita baik-baik, "ucapnya seraya mencium kening Aira lekat selama beberapa detik.
Aira tersenyum kearah Aldi seraya menggangguk.
__ADS_1
Bersambung.