
Cahaya mentari mengintip di balik tirai yang masih tertutup rapat.
Aira menerjab-nerjabkan matanya takkala merasakan sesuatu yang menindih tanganya, Aira mengalihkan pandangan kearah samping dan melihat Aldi yang memeluknya dengan erat.
Dengan hati-hati ia melepaskan rangkulan Aldi, agar Aldi tetap terlelap.
Meski merasa masih mengantuk, tapi Aira memutuskan untuk segera melakukan ritual mandi paginya.
Saat akan menuju kamar mandi, ia malah berpapasan dengan Romeo.
"Eh Bang, masih pagi udah siap aja?"tanya Aira berbasa-basi.
"Hari ini hari pertama abang masuk kerja," sahut Romeo.
"Oh, pantesan aja jam segini udah siap aja," sahut Aira,ia pun melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi.
Sementara Romeo sudah siap dengan pakain resminya.
Romeo menghampiri Tari yang masih tidur di atas sofa.
"Tar, bangun Tar, gue mau berangkat kerja. "ucap Romeo sambil mengguncang pelan tubuh Tari.
Ehm, Tari membuka matanya perlahan, seketika ia melihat Romeo yang sudah bersiap dengan pakaian dinasnya.
"Ehm, lo kok ngak bangunin gue sih?"tanyanya spontan.
Setelah mengucek-ngucem matanya, Tari bangkit dan segera menuju wastafel untuk mencuci wajahnya.
Tari pun menyempatkan diri untuk melihat keadaan Aldi, ia meraba kening Aldi dan merasakan denyut nadinya.
Sementara itu setelah menuntaskan ritual mandinya, Aira langsung mengganti pakaianya di dalam kamar mandi.
Setelah siap, ia pun keluar dengan memakai pakaian rapi.
Aira berjalan keluar dari kamar mandi menuju tempat tidur Aldi sambil mengusap rambut basahnya.
"Eh Aira bagaimana keadaan Aldi?"tanya Tari ketika dirinya melihat Aira melintas didepan nya.
Aira berhenti sejenak," Alhamdullilah, mas Aldi sudah siuman mbak dan baru terlelap lagi mendekati subuh," jawab Aira.
"Syukurlah kalau begitu, jadi nanti malam mbak bisa tidur dengan tenang di rumah," ujarnya dengam mengulas senyum liciknya.
"Iya, nanti malam mbak Tari ngak usah nginep di sini, Aira sendiri juga bisa kok jaga mas Aldi," sahut Aira yang mengerti maksud Tari.
"Ih, kamu memang pengertian, " ucapnya sambil mencolek hidung Aira.
Sementara Aira membalas dengan mengkerucutkan bibirnya.
Tari pun kembali menghapiri Romeo, yang sedang mempersiap kan dirinya," Kamu mau di sini saja, atau aku antar pulang kerumah?"tanya Romeo sambil menyimpul dasinya.
"Gue disini saja Rom, nemani Aira dan Aldi, ntar kalau loh udah pulang dari kantor, loh jemput gue, kita pulang sama-sama," usul Tari sambil menyunggingkan senyum mesumnya kearah Romeo.
Romeo hanya mengulas senyum simpulnya.
"Ya sudah kita cari sarapan dulu, yuk," ajak Romeo.
"Iya gue tanya Aldi sama Aira dulu, mereka mau sarapan apa."
"Aira tirip bubur ayam saja mbak, untuk mas Aldi, sedangkan untuk mas Heru dan Aira kami berdua pesan sate ayam ya!" sahut Aira yang langsung menyahut karna mendengar percakapan mereka.
"Ok," Tari mengacungkan jempolnya kearah Aira.
"Ayo beb, kita pergi cari sarapan," ujar Tari sambil mengandeng mesra tangan Romeo.
__ADS_1
Mereka pun keluar dari ruangan tersebut.
Heru menghampiri Aira yang sedang melipat selimut tebal yang mereka gunakan semalam.
Tiba-tiba saja hidung Aira di tarik oleh Heru."Kamu nakal ya," ucap Heru sambil menarik hidung Aira hingga merah.
"Akh sakit mas," keluh Aira sambil memukul lengan Heru.
"Nakal kenapa sih mas?tanya Aira tak mengerti ia tetap menyelesaikan lipatanya.
"Kamu sama Aldi tega-tega bermesraan di depan mas Heru, udah tahu mas Heru jomblo,"paparnya sambil duduk di kursi di samping Aira.
"He he, Salah sendiri, makanya jangan jadi jomblo akut, sakit maag aja kalau udah akut susah ngobatinya, apalagi jomblo, ntar mas Heru jadi bujang lapuk loh, karna kebanyakan pilah-pilih," ujar Aira sambil meletakan selimut pada tempat semestinya.
"Bukannya pilah pilih Aira, tapi memang ngak ada yang mau sama mas Heru," cetusnya sambil menyerup minuman yang di suguhkan oleh Aira.
Dalam keadaan apa pun Aira tetap perhatian terhadap Heru, setiap harinya ia yang selalu mengurusi sarapan untuk Heru dan Aldi.
"Abisnya muka mas Heru itu kelihatan jutek, sama seperti mbak Tari, jadinya cewek-cewek takut untuk mendekati mas Heru, di tambah mas Heru pendiam lagi, ya jadi susah dapatin pasangan."cetus Aira
"Abisnya mas Heru harus gimana? jadi ngenes sendiri lihat kalian semua, adik-adik mas Heru sudah punya pasangan sementara mas Heru, pacar aja ngak punya." keluh Heru.
"Cie curhat nih ye," ejek Aira, baru kali ini Aira mendengar keluh kesah Heru, biasanya Heru yang selalu jadi pendengar setia keluh kesahnya.
"Is, kamu di ajakin serius malah bercanda, malas ah," guman Heru sambil kembali menyerup susu coklat buatan Aira tersebut.
"Bukanya bercanda Mas, tapi kalau mas Heru terus bersikaf dingin seperti itu mana ada gadis yang mau dekat-deket," nasihat Aira.
"Padahal mbak Sinta sekertaris mas Aldi itu kayaknya suka sama mas Heru, tapi emang dasar mas Heru saja ngak peka," timpal Aira lagi.
"Ngak peka gimana? nanti kalau terlalu peka ntar di bilang baperan,"sanggahnya.
"Ya susah emang berurusan sama orang kudate, kuper dan kutang," seloroh Aira sambil tertawa cengengesan.
"Kutang itu singkatan dari kurang tangguh mas, kurang tangguh dalam memperjuangkan cinta mas Heru, lihat tuh mbak Tari, dia perjuangin cintanya tanpa menyerah, akhirnya ia juga bisa menikahi pria yang dia cintai, ingat mas, kalau menginginkan sesuatu harus di perjuangkan bukan hanya sekedar menunggu jodoh turun dari langit,"papar Aira sambil tertawa terkekeh.
Hm, Heru mengguman, benar juga kata Aira, selama ini dirinya selalu sibuk bekerja, tanpa terpikir untuk membina rumah tangga, namun setelah melihat kebahagian adik-adiknya ketika memiliki pendamping hidup, timbul hasrat bagi Heru untuk membina rumah tangga yang selama ini belum terpikir olehnya.
***
Waktu menunjukan pukul tujuh pagi, saat ini Satria sedang menikmati secangkir kopi yang di sediakan oleh sang istri.
"Bagaiman Pa keadaan Aldi?"tanya Maya sambil memoles selai pada sepotong roti untuk sarapan Satria.
"Udah siuman Ma, papa jadi merasa lega," jawabnya dengan tatapan mata yang kosong.
"Syukurlah kalau begitu, tapi kenapa sepertinya ada sesuatu yang masih mengganjal di hati papa?"tanya Maya sambil menyodorkan piring yang berisi dua potong roti dengan selai srikaya.
"Papa kasihan melihat Rita, Ma."Satria mengalihkan pandangannya kearah Maya.
"Mama mau ikut papa jengunguk Rita di rumah sakit?"tanya Satria.
"Ehm gimana ya Pah, mbak Rita bisa ngamuk kalau melihat mama, dari pada terjadi sesuatu yang tak diinginkan, mending mama di rumah saja, nanti siang baru kita jenguk Aldi bersama," usul Maya.
"Ehm, iya juga Ma, ya sudah papa berangkat dulu, setelah itu papa langsung kekantor menggantikan Aldi, nanti siang papa jemput mama."
"Iya Pa, hati-hati ya," ucap Maya.
Mobil Satria melaju menuju rumah sakit jiwa, sesampainya di sana ia pun langsung menuju meja informasi, untuk menanyakan dan mengisi daftar pengunjung.
Setelah selesai dengan administrasinya, Satria pun diantar menuju kamar perawatan isolasi.
Satria merasa heran kenapa Rita harus di rawat dalam ruang isolasi, biasanya ruang tersebut adalah ruangan dengan tingkat pengamanan yang tinggi dengan kondisi pasien yang agrsif
__ADS_1
Benar saja, Satria melihat sendiri saat Rita di regang oleh oleh dua petugas wanita.
"Kembalikan!! teriak Rita, ia meronta dan meminta sesuatu kepada seorang petugas.
Sementara kedua petugas lainya berusaha memborgol kakinya agar tak menyerang.
"Ada apa ini? kenapa dengan pasien tersebut?" tanya petugas yang baru tiba bersama Satria , saat keduanya menghampiri Rita.
"Pasien ini rebutan boneka dengan pasien yang lainya, dia bilang jika boneka tersebut adalah anaknya, sedangkan pasien yang lainya juga mengaku jika boneka tersebut juga anaknya."papar seorang petugas yang memegang sebuah boneka yang menyerupai bayi.
Sementara ada seorang pasien wanita, yang juga menangis meminta boneka tersebut di kembalikan kepadanya, pasien tersebut juga merasa jika boneka tersebut adalah anaknya.
Keributan terjadi, karna Rita merampas boneka milik pasien lainya.
"Kembalikan anak ku Maya! kau sudah merebut suami ku, sekarang kau juga ingin merebut Aldi dari ku!"teriak Rita kembali kearah pasien yang lainya.
Petugas terlihat kewalahan melerai kedua pasien yang mengalami gangguan jiwa tersebut.
Satria tergaman mendengar teriakan Rita, ternyata sampai saat ini Rita masih memiliki dendam dan mengira jika Maya telah merebut dirinya dan Aldi.
Suasana semakin ricuh, meski telah di borgol, namun Rita tetap agresif, kemudian seorang perawat datang membawa boneka yang sama, dan memberikanya kepada Rita.
"Tenang, tenangkan dirimu, ini anak mu, ucap perawat tersebut seraya menyerahkan boneka yang menyerupai bayi yang baru lahir.
Rita masih mengerang, nafasnya turun naik dengan rambut yang berantakan.
Rita menurunkan pandanganya, ia pun tersenyum melihat boneka tersebut.
Dengan tangan gemetarnya, ia coba meraih boneka tersebut, kemudian menggendongnya seolah menggendong bayi.
Rita masih tak memperhatikan Satria, sementara Satria terus memperhatikan gerak gerik Rita dari kehauhan.
"Nang..ning..nang ning nung, cup cup, anak mama tersayang kamu bobo ya," ucap Rita menimang bayi tersebut.
Tangan Rita menyilang dan membekab boneka tersebut, seolah-olah ia sedang menidurkan anaknya.
"Aldi bobo, oh Aldi bobo, kalau tidak bobok di digigit nyamuk, hi hi hi," Rita tertawa bahagia sambil mencium boneka tersebut.
Tanpa terasa air mata Satria jatuh luruh meluncur begitu saja melihat pemandangan yang menyayat hati, seorang wanita yang tegar dan terlihat begitu kuat, ternyata memiliki kerapuhan di dalam hatinya.
Satria mendekat kearah Rita, namun langkahnya tercekal, karna petugas menahan pundaknya.
"Biarkan pasien tenang dulu, anda bisa lihat dari kejauhan saja, pasien terlalu agresif hingga kami harus menahan kakinya." papar petugas tersebut.
Satria mendekat perlahan namun dengan jarak yang tak bisa di jangkau oleh Rita, karna terhalang oleh tralis besi.
"Gantengnya putra ku, gantengnya putra ku, tak jemu-jemu aku memandang mu."Rita bernyanyi.
"Kamu ganteng sekali Aldi mirip dengan papa kamu, kita pasti jadi keluarga yang bahagia jika saja perempuan sun*dal itu tak masuk di kehidupan kita hiks, hiks hiks.." Rita mulai menunjukan keberingasanya.
Iya pun melempar bayi tersebut kelantai, kemudian ia kembali berteriak.
"Akhhh !akhhh ! Maya !kau lah penyebab keluaga ku hancur!!" teriak Rita ia pun mulai meronta-ronta ingin mengamuk serta mencoba menarik borgol yang menahan kakinya, hingga kakinya berdarah akibat gesekan dengan besi tersebut.
Petugas pun sudah siaga, mereka menyuntikan obat penenang dosis rendah untuk melemahkan Rita, dan dalam beberapa menit setelah di suntik Rita pun menjadi tenang kembali.
Rita yang tak berdaya karna obat tersebut perlahan merebahkan tubuhnya ke atas lantai, kemudian dengan sedikit mengesot ia mencoba meraih boneka yang di buangnya.
"Nang ning nang ning nung, Aldi sayang sudah malam, waktunya kita tidur, jangan tunggu papa kamu, karna papa kamu sudah punya istrii baru, "hiks hiks, Rita pun menangis sambil memeluk boneka yang di sangkanya Aldi tersebut.
Tubuh Satria tersandar, ia seolah tak punya kekuatan setelah melihat penderitaan Rita.
Air mata terus mengalir membasahi pipinya, ia pun memutuskan untuk pergi dari tempat itu karna tak sanggup melihat mantan istrinya tersebut.
__ADS_1
Bersambung, selalu dukung author ya.