
🌷mengandung adegan dewasa, silahkan menyingkir untuk yang belum cukup umur ya🌷
*Cinta itu sepi, yang membuat aku selalu kesepian saat tak bersama mu. * Romeo
Jantung Aira berdetak tak karuan saat polisi membuka gembok jeruji besi yang telah mengurung dirinya, dan membuatnya kini terbebas dari kurungan tersebut.
Pelakuan hangat langsung menerpa tubuh Aira, sesaat setelah tubuhnya keluar dari balik jeruji tersebut.
Aldi mendaratkan pelukan dan ciuman pada kening, pipi dan bibir Aira, ungkapan rasa rindu dan haru menyatu dalam hangatnya dekapan mesranya.
"Ayo sayang kita pulang," ucap Aldi sambil menggandeng Aira.
"Iya Mas, tapi bagaimana dengan bang Romeo?" tanya Aira.
"Sudah di urus sebentar lagi Romeo juga keluar dari sini sayang, sudah kita langsung pulang saja, Mas sudah kangen sama kamu, " pungkas nya.
Aira tersenyum lega, karna Romeo juga akan di bebaskan.
Aira mendekati Romeo," Terima kasih ya bang karna sudah menemani Aira selama di sini," ucap Aira tulus.
"Iya Aira, abang juga senang bisa menemani kamu disini." Romeo.
Mereka pun saling melempar senyum.
Aira melayang kan telapak tanganya untuk toss dengan Romeo ,seketika itu Romeo langsung menyambutnya.
"Toss, dulu bang," ucap Aira.
"Ok, hati-hati ya," ucap Romeo ,menyambut tamparan tangan Aira.
"Dah bang," ucapan terakhir Aira, sambil melambaikan tangan sebelum Aldi membawanya pergi menjauh dan menghilang dari pandangan Romeo.
Romeo mengulas senyum simpul saat melihat Aldi yang begitu bahagia karna meliliki Aira.
"Seandainya saja_" guman Romeo, tapi ia tak melanjutkan kata-katanya karna tak ingin berandai-andai.
Romeo duduk sendiri di balik jeruji besi yang terasa semakin dingin. Dia tidak tahu harus berbuat apa lagi. Rasa sunyi menjadi teman baginya. kehampaan menjadi sebuah jawaban atas satu pertanyaan yang terus menerus menggema di hatinya. Pantaskah dia mengharapkan wanita yang telah menikah??
Romeo menyandarkan kepalanya di dinding penjara yang terasa dingin, sedingin perasaannya saat ini. Kadang dia merasa lelah dengan semua yang telah dirasakannya. Namun ini bukanlah keinginannya... Ribuan kali dia mencoba melupakan dan menghapus rasa itu, namun tetap dia tak mampu, ia bisa menjadi orang yang begitu peduli pada satu orang, tapi melupakan seribu orang yang peduli terhadapnya, namun tak sedikit pun ia menyesali perbuatanya, meski ia sangat sadar, jika ini adalah sebuah kebodohan.
***
Heru dan Hilman menunggu kehadiran Aira untuk membubuhkan tanda tangan pada surat pernyataan bebas bersyarat dari kepolisian.
Setelah menandatangani berkas, mereka pun bergegas menuju pintu keluar, Aira sudah tak sabar untuk menghirup udara segar, meski baru sehari ia terkurung dalam bilik pengap tersebut, tapi rasanya sudah berminggu-minggu ia tak menghirup udara bebas.
"Mas Heru! mas Heru langsung ke kantor saja, aku sama Aira mau ke bidan, turunkan saja kami di klinik yang ada di ujung jalan," pinta Aldi.
Heru menyeritkan dahinya, tapi ia juga tak mau ikut campur urusan rumah tangga Aldi dan Aira.
"Ada apa ? kenapa kita kebidan?" tanya Aira heran.
"Kamu harus pakai kontrasepsi dulu biar ngak hamil selama tiga bulan kedepan," bisik Aldi di telinga Aira, namun masih terdengar di telinga Heru.
Heru tersenyum simpul mendengar bisikan Aldi, tanpa banyak komentar ia pun menurunkan Aldi di depan klinik.
Aira mengkerucutkan bibirnya ketika keluar dari mobil.
"Kamu kenapa sayang, ngambek ya?"
"Ngak kok, Aira ngak mau di suntik Mas, " sahutnya ketus.
"Ngak mesti disuntik kok sayang, pakai pil aja ya, biar aman dan bisa di gempur setiap hari," imbuhnya.
__ADS_1
"Oh jadi alasan mas Aldi bebaskan Aira agar bisa di gempur setiap hari,"ketusnya dengan bibir manyun.
"Hehehe, salah satunya ya itu," sahutnya sambil nyengir.
"Ish, Aira pikir mas Aldi sayang sama Aira, jadi cuma karna itu aja." Aira mencibir.
"Ngaklah, mas Aldi sayang sekali sama kamu Aira, dan karna rasa sayang itu, mas Aldi ngak mau kamu sampai hamil untuk saat ini."sangah Aldi.
"Karna dokter menyarankan agar kamu ngak hamil dulu selama tiga bulan," imbuhnya kembali.
Aira menarik nafas panjang dan menghempaskanya, tubuhnya benar-benar merasa lelah, tapi sepertinya ia tak kan bisa beristirahat setelah sampai di rumah nantinya.
Aira sudah bisa membayangkan apa yang akan di lakukan suaminya itu terhadapnya setelah sampai dirumah.
Setelah mendaftar di bagian pendaftaran, beberapa menit kemudian nama Aira di panggil ke ruangan bidan untuk berkonsultasi.
"Selamat siang bu bidan,"sapa Aira ramah ketika ia mulai memasuki ruangan tersebut.
"Selamat siang juga ibu," sahut bidan tersebut tak kalah ramah sembari menyuruh keduanya untuk duduk, dengan isyarat jempol yang di tunjuk kearah kursi di hadapanya.
Aira dan Aldi duduk di hadapan bidan tersebut.
"Ada keluhan apa ibu?" tanya sang bidan, meski Aira terlihat masih belia, namun di pendaftaran status Aira adalah nyonya, yang berarti wanita yang sudah menikah.
"Saya ingin konsultasi tentang alat kontrasepsi yang tepat untuk saya," jawab Aira.
"Bisa, anda mau yang seperti apa, dan bagaimana, biar saya jelaskan," ucap bidan tersebut dengan ramah, ia pun menjelaskan macam-macam alat kontrasepsi, cara penggunaanya, manfaatnya, dan efek samping dari masing-masing produk.
Setelah berdiskusi bersama Aldi sang suami, mereka pun memilih pil sebagai pilihan alat kontrasepsi Mereka, selain praktis, produk tersebut gampang di gunakan dan gampang untuk di dapat, karna selalu tersedia di apotik.
Setelah mendapatkan infomasi yang lengkap dari bidan tentang cara meminumnya dan efek samping dari pil tersebut, mereka pun bergegas untuk undur diri.
Aldi menelpon mang ujang untuk menjemput mereka, di dalam mobil saja, Aira sudah bisa menebak apa yang di ingin kan Aldi terhadapnya.
Tanganya menggapai tangan Aira dengan lembut, kemudian mencium punggung tangan mungil istrinya tersebut berulang kali.
Aira melemparkan senyum bahagianya, tak ada yang membuatnya lebih bahagia selain berada dalam dekapan hangat dari orang yang ia cintai.
Begitu pun Aldi yang merasa bahagia, karna kini rumah tangga mereka bisa kembali utuh, karna hampir saja runtuh oleh amuk badai yang memutus ikatan suci mereka.
Sesampainya di rumah, Aldi langsung menarik lembut tangan Aira menuju kamar, tak ada yang menyadari kedatangan mereka saat itu, Aldi tak ingin momen pertama Aira kembali kerumah ini terganggu, sekarang waktunya merajut kembali tali kasih dengan sang istri, sebagai ikrar jika mereka kini saling memilik.
Aldi menarik tangan Aira dan menuntunya menuju ranjang cinta mereka, seulas senyum dan kecupan mesra pada bibir dan kening Aira, mengawali hangatnya penyatuan mereka saat ini.
"Sayang, kamu ngak lelah kan?"bisik Aldi, ketika tanganya mulai menyusup di balik kain yang menutupi tubuh sang istri.
"Ngak sayang."
"Aira siap kapan saja," sahut Aira dengan seulas senyum yang mengakhiri ucapanya.
Mendengar sahutan sang istri, Aldi menjadi lebih semangat.
Hanya dalam beberapa detik saja, tubuh Aira sudah polos tanpa busana, setelah Aldi melucuti pakaian penutupnya.
Kini giliran Aira yang memanjakan Aldi, Aira membuka penutup tubuh suaminya, sambil mendaratkan kecupan hangat di bibir tapi langsung di sambar buas oleh Aldi.
Keduanya mengerang nikmat saat senjata Aldi perlahan memasuki medan magnetnya dengan gerakan lembut mendorong dan menarik. kedua bibir tersebut menyapu lembut dan saling menyesap seirama dengan gerakan tubuh Aldi yang bugil diatas tubuh bugil istrinya.
Keadaan begitu panas meski nyala AC berada di batas maximal, peluh bercururan membasahi tubuh kedua insan yang saling beradu memburu puncak kenikmatan.
Hentakan demi hentakan membuat keduanya menjerit tertahan diselingi lengkuhan lirih yang menambah gairah dan hasrat mereka.
Dan satu dorongan terakhir mampu menuntaskan perburuan keduanya menuju telaga kenikmatan.
__ADS_1
Bruk, tubuh mulus Aldi ambruk menimpa sang istri, kecupan mendarat di kening dan bibir sang istri, pertanda kepuasan atas pelayanan sang istri terhadapnya,
Seulas senyum pun mekar di wajah tampan namun terlihat sangat lelah tersebut.
"I love you sayang,"ucap Aldi yang kembali merangkul dan menarik sang istri untuk berada dalam dekapanya kembali.
"I love you too," ucap Aira sambil menyapu tetesan keringat yang membasahi wajah Aldi.
Aira dan Aldi saling mengucap kata cinta yang bersaut-sahutan dan saling berbalas hingga keduanya merasa lelah dan tertidur dengan lelap.
***
Romeo melihat seorang yang berseragam polisi berjalan perlahan mendekatinya, setelah berada di depan pintu penjara, polisi tersebut membuka kunci gembok dan menyuruhnya untuk keluar.
"Kamu sudah bebas sekarang," ujar polisi tersebut.
Romeo mendongkak kan kepalanya dan melihat orang yang sedang bicara padanya.
Kemudian ia bangkit dari duduknya, meraih tas ransel, mengendongnya dan keluar dari ruangan yang memenjarakan tubuhnya.
Romeo berjalan melewati lorong yang sempit dan remang remang dari bilik jeruji besi menuju koridor, kemudian menghampiri Doni yang telah menunggunya di bangku tunggu, di depan ruang administrasi.
Sementara Aldi dan Aira sudah tak tampak lagi disana.
"Eh Rom, kok muka loh kusut kayak gitu sih?" tanya Doni yang melihat Romeo seperti kehilangan gairahnya.
"Ngak kok, ayo kita pulang," ucap Romeo yang terus saja berlalu.
"Rom, loh bawa mobil sendiri kan?" tanya Doni.
"Iya tuh mobilnya," tunjuk Romeo ke sebuah mobil HRV berwarna silver yang terparkir rapi.
"Rom, menurut gue lo harus bisa move on lagi, agar lo ngak merasa tersiksa dengan perasaan loh saat ini," ucap Doni sambil menepak pelan pundak Romeo.
"Andai saja gue bisa Don,"sahutnya datar.
"Harus bisa Rom, jangan biarkan perasaan itu menguasai loh, gue jadi khawatir terhadap loh."
"Udah gue baik-baik saja, thanks ya, maaf gue selalu menyusahkan loh."
"Santai bro," sahut Doni sambil menepuk pundak Romeo kembali.
"Ya sudah gue duluan ya,"ucap Romeo kepada Doni.
"Iya, jangan nyasar lagi ya!!" seru Doni.
Romeo menoleh dan mengacungkan jempolnya.
Bersambung guys, jangan lupa like, komen dan vote atau hadiahnya.
Eh jangan skip dulu ya, ada referensi novel bagus nih mampir dulu ya baru tahu.
Genks gimana sih rasanya kalo takdir baik tidak pernah mengikuti kita?
Sedih? Pasti. Kecewa? Iya.
Gintani, gadis cantik yg bertubi-tubi memiliki takdir yg menurutnya buruk setelah bertemu dgn pria arogan bernama Argha.
Dibalut dengan cerita romansa yang pasti bikin baper and gregetan.
Akankah angkuhnya hati Argha bisa diluluhkan oleh ketulusan seorang Gintani?
__ADS_1
Yuk mampir