
Arsel menghampiri Arsyad, kebetulan mereka satu sekolah.Karna Arsel tinggal bersama Omanya untuk menemani sang Oma.
"Hey Syad selamat ya, team loh menang di pertandingan basket antar sekolah se Indonesia," ucap Arsel sambil menyodorkan tangannya ke Arsyad.
"Terima kasih," sahut Arsyad dengan senyum simpulnya.
Arsyad tertunduk untuk menghindari melihat ke arah gadis cantik dan manis yang ada di hadapannya saat ini.
Ayahnya dan Ayah Dinda sendiri pernah memperkenalkan mereka, dan berencana untuk menjodohkan mereka.Sejak itu Arsyad mulai menanam benih cinta untuk Dinda. Padahal sebelumnya ia tak punya perasaan istimewa pada seorang gadis pun meski banyak gadis yang mengidolakannya.
Mereka semua terdiam dengan pikiran masing-masing. Padahal Arsel sendiri tahu jika Dinda dan Arsyad telah di jodohkan kedua orang tua mereka, meski perjodohan tersebut belum resmi, karna menunggu mereka tamat sekolah yang akan terjadi beberapa bulan lagi.
Tari mendekat kearah Romeo " Rom anak kamu Bagaimana sih, kenapa harus Dinda juga yang jadi pacarnya. Kan gue ngak enak sama Aldi dan Aira. "
"Mana gue tahu Tar. Kita kan baru juga datang. "
Begitupun Alia dan Ghael mereka saling melirik.
Suasana yang awalnya ceria, mendadak jadi sepi.
Meski di tatap aneh oleh keluarganya Arsel seolah tak perduli.
"Ya sudah Ma, Pa .Aku mau ke kamar kakaknya Dinda yang juga di rawat di rumah sakit ini. "
"Uncle-aunty, Arsel pamit dulu ya, "ucapnya sambil mencium punggung tangan keduanya.
Aldi dan Aira tersenyum simpul.
Setelah melihat dan berbicara pada keluarganya, Arsel dan Dinda menuju kamar perawatan Alita yang ada di seberang kamar Alia.
Mendadak suasana terasa canggung.
Tari dan Romeo benar-benar merasa tak enak hati pada kedua saudara mereka.
Sementara Arsyad terlihat sangat murung. Padahal benih benih cinta baru saja tumbuh di hatinya pada Dinda.
Kini perasaan cinta yang baru saja tumbuh tersebut terpaksa ia kubur dalam-dalam olehnya. Jatuh cinta untuk pertama kalinya tapi langsung patah hati.
Aldi dan Aira merasa kasihan pada putranya yang terlihat kecewa
Arsel dan Dinda masuk ke dalam ruang perawatan Alita.
"Assalamualikum," ucap keduanya.
"Waalaikum sallam." mereka semua menjawab dan menoleh ke arah keduanya.
Saat itu keluarga Edo juga ada di sana.Namun, Doni tak curiga jika putrinya dan Arsel ada hubungan khusus.
Arsel dan Dinda menghampiri Alita dan Bagas.
"Mas Bagas dan mbak Alita selamat ya atas kelahiran si kembar. Nih aku dan Arsel bawa beberapa perlengkapan bayi. " Dinda.
"Oh terima kasih ya Dinda- Arsel. Mbak memang belum ada persiapan apa-apa karna menurut mama setelah acara tujuh bulanan baru boleh berbelanja."
"Iya Mbak. Makanya aku sempatin singgah ke toko, untuk belanja pakaian si kembar. "
"Kalian dari mana?" tanya Alita.
__ADS_1
"Dari kamar mbak Alia, "sahut Dinda.
"Ehm, kamu sudah bertemu keluarga Arsyad? "
"Sudah Mbak," jawab Dinda dengan anggukan lirih.
Alita menatap adiknya tersebut dengan lekat.
Membuat Dinda merasa insecure.
Ia tahu jika semua ini akan terjadi. Tapi mau bagaimana lagi ia dan Arsel saling menyukai.
Dan mereka juga berencana akan memberi tahu kepada kedua keluarganya tentang hubungan ia dan Arsel.
"Ya sudah Mbak kami berdua pamit dulu. "
Dinda.
"Iya hati-hati ya. Jangan kemana-mana lagi setelah dari sini. " nasehat Alita pada adiknya.
Mereka pun menghampiri otang tuanya dan orang tua Bagas.
Saat itu Edo dan Nina terlihat senang menimang kedua cucunya.
"Hebat kamu Gas,Sekali bikin bisa dua anak sekaligus. Gimana caranya? Ayah juga pingin punya anak kembar," tanya Edo sambil menimang salah satu cucunya.
"Ayah juga kalau di ajari juga ngak akan bisa Kok, alasan aja ah, pasti mau kawin lagi"sahut Bagas.
"He he, kalau boleh sih," sahut Edo asal.
"Hus, Gas.Malu di depan besan. " Nina.
"Bu kalau Bagas dan Alita kerja, kita saja yang asuh anak mereka.Masing-masing asuh satu anak," usul Dasti.
"Saya sih mau saja. Anak-anak juga sudah dewasa. "Nina.
Dinda menghampiri Dasti.
"Ma Dinda pulang dulu. " Dinda.
Dinda pun berjabat tangan dengan Nina dan Dinda kemudian mencium punggung tangan keduanya.
"Iya hati-hati, "
"Tante aku pamit juga ya," ucap. Arsel sambil mencium punggung tangan keduanya.
Mereka pun menghampiri Doni dan Edo dan melakukan hal yang sama.
"Pa aku pulang, " ucap Dinda.
"Ehm kamu di antar Arsel?" Tanya Doni heran.
"Iya Pa. "
"Aku pamit dulu Om, "ucap Arsel dengan sopan pada Doni dan Edo.
"Iya hati-hati," sahut keduanya.
__ADS_1
Doni menatap curiga kearah dua remaja tersebut, dari bahasa tubuh mereka hubungan mereka bukan sebatas teman.
Arsel dan Dinda keluar kebetulan saat itu Arsyad juga sedang di luar tengah mengkutak katik handphonenya.
Arsyad masih mencoba untuk menerima kenyataannya jika Dinda lebih memilih saudaranya dari pada dirinya.
Untuk menghilang kan perasaan sakit tersebut ia mencoba untuk menyendiri bermain game on line.
Niat hati menghindari. Namun justru kembali bertemu keduanya yang terlihat mesra.
Arsel dan Dinda kembali menghampiri Arsyad.
"Syad, kami pulang dulu ya. " Arsel.
"Iya, Hati-hati ya, " ucap Arsyad dengan hati yang berat.
Arsel dan Dinda tersenyum simpul.
Sebenarnya mereka juga tak enak hati melihat Arsyad.
Kedunya pun pergi berlalu dari Arsyad yang hanya tertunduk menahan perasaannya.
'Ternyata sakit hati itu rasanya seperti ini,' batin Arsyad ia kembali menatap sedih ke arah kedua orang yang baru saja berlalu di hadapanya.
Dinda dan Arsel berjalan melewati koridor.
"Sel, kamu yakin jika hubungan kita akan di restui kedua orang kita. Aku ngak berani bilang pada orang tua ku. " Dinda.
"Emang kenapa, aku sudah bilang kan pada orang tua ku?"
"Iya tapi sepertinya mereka syok. "
"Ngak apa, biar saja yang penting mereka sekarang sudah tahu kan. Kata abang ku segala sesuatu yang kita inginkan itu harus di perjuangakan.Kalau kamu ngak berani biar aku yang bilang pada orang tua mu, agar mereka tak lagi menjodohkan kamu dan Arsyad. " Arsel.
"Tapi apa kamu yakin lebih milih aku dari pada Arsyad?" tanya Arsel lagi.
"Emang kenapa? " Dinda melirik ke arah Arsel.
"Arsyad itu lebih segala-galanya dari pada aku. Lebih ganteng, bokapnya lebih kaya. Atlet basket lagi, " ucap Arsel lirih.
"Hm, emang kenapa? aku justru takut jika punya pacar atau calon suami yang mendekati perfect seperti Arsyad,"cetus Dinda.
"Ehm, emang kenapa? bukannya harusnya kamu bangga ya, punya pacaryang di idolakan banyak wanita."Arsel.
"Ehm, justru itu banyak yang mau itu, aku juga ngak pede. Aku juga ngak merasa pantas bersamanya, karna aku juga ngak sempurna." Dinda.
"Aku juga ngerasa ngak sempurna, makanya milih yang juga ngak sempurna biar jadi sempurna."
Arsel merangkul Dinda dengan lengannya.
Dinda tersenyum, melihat Arsel yang terlihat serius ingin memperjuangkan hubungan mereka."Kalau gitu kapan kamu mau bilang sama orang tua ku? " tanya Dinda.
"Secepatnya dong!" seru Arsel sambil mencubit mesra pipi Dinda.
Arsyad mematikan layar handphonenya ada rasa sakit yang masih membuat ia tak berkonsentrasi meski hanya untuk bermain game.
"Bulir bening menetes perlahan di pipinya, Apa rasanya emang sesakit ini, hiks."
__ADS_1
Arsyad buru-buru menghapus air matanya.
Bersambung dulu guys.